YAHYA ANDI SAPUTRA: ‘JAIT’ MASAKINI

_DSC0024

Oleh Heryus Saputro

(1)
Sohibul Hikayat merupakan sebentuk tradisi lisan khas Betawi, etnik budaya lokal yang tumbuh di wilayah administratif Jakarta dan wilayah pinggiran Bodetabek (Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi) yang mengelilinginya.
Dalam tradisi Betawi, kata Sohibul (dikutip dari khasanah bahasa Arab) mengandung arti sebagai si (atau sang) empunya atau yang punya atau pemilik. . Sedangkan Hikayat merupakan sebentuk karya sastra lama atau cerita-cerita lama yang hidup di masyarakat dan tak diketahui lagi siapa pengarangnya. Jadi, Sohibul Hikayat adalah seni bercerita oleh seorang pembawa hikayat. Dalam khasana bahasa Betawi, kata sohibul juga digunakan dalam istilah sohibul bait yang berarti si pemilik (atau yang punya) rumah; dan sohibul hajat yang berarti si pemilik hajat
Sebagaimana kata ‘sohibul’ yang dikutip dari khasanah bahasa Arab, pembawa hikayat atau pe’sohibulhikayat’ biasa tampil di panggung atau di tengah kalangan, untuk mengisahkan cerita-cerita atau hikayat berbasis sastra Arab. Hikayat atau kisah-kisah islami dari timur tengah atau parsi itu biasanya dibawahan si penceritera sebagai hiburan di pesta atau hajat pengantin, atau saat seorang anak dikhitan (disunat). Si pencerita atau si pendongeng atau si pe’sohibulhikayat’ duduk atau berdiri di panggung atau mimbar khusus, membawakan sebuah ceritera yang mengandung nasihat dan kebaikan hidup bagi pendengarnya. Satu hal, saat-saat berkisah, untuk menegaskan asal-usul materi kisah atau nasihat yang terkandung didalamnya, tak jarang si pencerita mengucap kata: “Menurut sohibul hikayat…” yang berarti “Menurut Yang Punya Hikayat…”. Dari situ (rasanya) seni bercerita khas Betawi ini lantas disebut : Sohibul Hikayat.
Di Jakarta, awal dekade 1960-an, ada seorang pe-sohibulhikayat beken bernama Muhamad Zaid atau Si Zaid, yang dalam bahasa gaul antarteman sehari-hari nama Zaid biasa ter’pleset dengan sebutan: Jait. Sebagai pembawa sohibul hikayat, Si Jait amat populer. Amat lumrah bila di masa itu, bila seorang anak (laki-laki) hendak dikhitan atau disunat, merajuk pada orangtuanya bahwa ia baru mau dikhitan kalau saja “Nyak Babe ngedatangin Si Jait sebagai hiburan…”

(2)
Tak cuma manggung di hajat perkawinan atau sunatan, Si Jait juga kerap tampil di keramaian pasar malem ataupun panggung perayaan Tujuhbelasagustusan. Bahkan di masa jayanya siaran radio swasta niaga di udara di Jakarta, Si Jait atau Bang Jait atau Babe Jait ataupun Ngkong Jait, rutin mengisi acara sohibul hikayat di satu stasiun radio swasta terkenal di Jakarta. Tiap kali acara itu mengudara, biasanya selepas pukul 21 malam, dimana-mana di sudut Jakarta dan daerah radius yang menjadi jangkauan siaran tersebut, orang (nggak orang tua nggak anak-anak) rame-rame ngedengerin Si Jait berhikayat sambil sesekali menegaskan kata: “Menurut sohibul hikayat…!”
Begitu populernya nama Si Jait, sampai-sampai orang seperti lupa bahwa acara mendongeng khas Betawi itu bernama Sohibul Hikayat. Anak Betawi di era itu umumnya lebih menyebut tontonan atau bentuk pertunjukan seni bercerita ini sebagai JAIT, sebagaimana menyebut Lenong, Cokek, Banjidor, Topeng, dan lainnya. Dimana-mana orang selalu bilang, “Jangan lupa, ye…ntar malem, setel radio, kita dengerin Jait.” Atau bila sesekali ada life-show di tempat terbuka, selalu saja ada sohib yang nyeeletuk: “Kite nonton Jait, nyoook…!”
Jait yang anak Tenabang, wafat tahun 1970-an. Salah seorang putranya, Sofyan bin Zaid, melanjutkan seni tradisi lisan satu ini di panggung-panggung serupa. Tentu, banyak orang faham bahwa Sofyan adalah anak Pak Jait. Namun orang kadung menyebut seni mendongeng satu ini sebagai seni jait. Teknis membawakannya atau pertunjukannya disebut nge-jait, dan si pendongengnya disebut pe-jait. Alhasil, acara mendongeng yang dibawakan oleh Muhamad Sofjan bin Muhamad Zaid itu tetap saja orang ramai sebagai seni Jait.

(3)
Sebagaimana terjadi di tradisi daerah Nusantara lainnya, sejalan dengan munculnya bentuk-bentuk hiburan baru, stasiun televisi bermunculan dengan ragam bentuk tayangan, seni nge-jait yang monolog jadi terasa kurang gregetnya. Seni jait mulai ditinggalkan penonton atau pendengarnya. Bukan zamannya lagi anak-anak merengek minta dihadirkan seni Jait sebagai hiburan hajat khitannya. Para pe-jait tua silam ditelan zaman. Bahkan ketika kemudian Muhamad Sofjan bin Muhamad Zaid wafat, tak seorang pun anak-anaknya melanjutkan hajat berkesenian itu. Namun begitu, sohibul hikayat atau seni Nge’jait’ tak benar-benar mati. Beberapa orang muda terus berupaya menghidupkan seni tradisi lisan khas Betawi ini. Salah satunya Yahya Andi Saputra atau Yahya, sejarawan Universitas Indonesia, aktivis Lembaga Kebudayaan Betawi, dan kini dipercaya Ketua ATL Jakarta.
Yang menarik, Yahya si Jait Masakini, tak cuma tampil di hajat manten atau sunatan, tapi juga di berbagai panggung seni di kampus-kampus, di panggung Jakarta Fair di Kemayoran, dan panggung-panggung lainnya. Tak kalah menarik, dengan tetap berpatok pada kaidah seni tutur sohibul hikayat, Yahya nge’jait’ dengan format baru. Ia tak ‘solo karir’ dengan hanya membawakan sebuah hikayat, tapi juga mengangkut ragam bentuk seni pertunjukan Betawi lainnya ke atas panggung tempatnya Nge’jait’, menjadi satu-kesatuan repertoar.
Yahya lahir di Terogong, Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan, persis di pinggir aliran Kali Grogol yang memisahkan kampungnya itu dengan kawasan mewah Pondok Indah di Pondok Pinang. Lahir di kampung yang hingga tahun 1990 belum dialiri listrik, hiburan umum lebih banyak dikenal Yahya lewat siaran radio transistor. Dari siaran radio pula ia kenal seni Nge-Jait, “Saya udah nggak ngalamin masa Ngkong Jait. Zaman saya udah digantiin anaknya, Muhamad Sofjan bin Muhamad Zaid, yang ama temen-temen sekampung tetap aja dikenali sebagai Si Jait,” ungkap Yahya.
‘Profesi’nya sebagai jait atau pesohibulhikayat atau pembawa hikayat tak hadir dengan mendadak. Yahya menjadi pe-jait melalui proses budaya yang panjang. Sejak kecil ia sudah menyerap potensi budaya yang ada di sekitarnya. Ibunya, Hj. Halifah, misalnya, adalah perajin batik sekaligus seorang peraji alias dukun beranak. Tumbuh di tengah keluarga yang kental dengan nilai-nilai agama, Yahya menyelesaikan pendidikan dasarnya di madrasah ibtidaiyah (sekolah nasional berbasis Islam: setingkat SD) dan madrasah stanawiyah yang setara SMP dan SMA.
Sejak remaja, Yahya menyukai dunia tulis-menulis. Sajak dan cerita pendek karyanya biasa mengiasi mading atau majalah-dinding sekolahnya. Tak jarang sajak atau cerpen tersebut ia bawakan di depan kelas atau saat-saat ada perayaan sekolah. Bakatnya sebagai pembawa acara, “…dengan meniru-niru gaya berhikayat Pak Jait…”, sudah mulai tampak di masa itu. Potensi kreatif ini dilihat oleh guru bahasanya di Masrasah Stanawiyah di Pondok Pinang, yang mendorong Yahya untuk kelak bisa melanjutkan kuliah di fakultas sastra.
“Alhamdulillah, saya diterima kuliah di Jurusan Sastra Indonesia – Fakultas Sastra Unibersitas Indonesia (FS-UI, kini FIB UI). Kemudian saya pindah ke Jurusan Sejarah,” ungkap Yahya.
Hobinya berkesenian pun kian meningkat. Ia tak cuma aktif bersastra dan berteater di kampus, tapi juga di luar kampus. Antara lain ia aktif berkesenian di Gelanggang Bulungan, Jakarta Selatan. Bersama kelompok Teater Tetas pimpinan (almarhum) Ags Arya Dipayana misalnya, Yahya tampil sebagai aktor, membawakan naskah-naskah drama modern di berbagai ruang seni. Bahkan Yahya Andi Saputra pernah ditabalkan sebagai Aktor Terbaik pada festival seni drama yang digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

(4)
Sebagai anak Betawi, Yahya tak lupa pada akarnya. Sebagai mahasiswa jurusan sejarah misalnya, sejak awal ia punya ketertarikan besar untuk memahami seluk-beluk budaya Betawi. Minat ini tak saja membuatnya ingin lebih faham sejarah kota Jakarta dan kawasan sekitarnya, tapi juga menjadikannya hobi blusukan ke kantong-kantong budaya Betawi yang masih bertahan dari gerusan zaman. Nyaris tak ada puak budaya atau tokoh Betawi yang masih eksis yang tak pernah ditemuinya, “Termasuk juga beberapa kali ketemu dan ngobrol panjang lebar dengan Babe Muhamad Sofyan bin Muhamad Zaid,” ungkap yahya.
Nyaris semua bentuk dan produk seni dalam khasanah budaya Betawi dikenal Yahya dengan baik. Tapi sejujurnya, Yahya mengaku punya minat lebih untuk mempelajari seluk-beluk Sohibul Hikayat yang kadung beken disebut seni Jait. Bukan sekadar untuk tetap mengembangan seni nge-Jait yang de facto kian ditinggalkan penonton dan pendengarnya, tapi juga karena Yahya melihat, “Seni nge-Jait bisa berguna untuk menambah kemampuan seseorang aktor saat harus tampil sendiri di pangung, saat-saat harus berpidato atau ngemsi,” ucap Yahya yang kerap dapat order ngemsi, bahasa gaul anak Betawi masakini untuk menyebut pekerjaan sebagai Master of Ceremony atau pembawa acara.
Yahya memang anak kampus. Tapi dalam hal berkesenian, kemampuan dan pengetahuan justru banyak ia pacul dari lahan-lahan budaya di luar kampus. Tentang seni nge-Jait misalnya, ia amat berterima kasih pada almarhum SM Ardan, seniman dan sastrawan kelahiran Medan yang banyak berjasa mengangkat produk kesenian Betawi ke pentas nasional, Lenong misalnya.
“Suatu kali, Bang Ardan menggelar lokakarya berkait bentuk-bentuk seni pertunjukan Betawi. Ada banyak anak muda ikut, tak cuma anak Betawi,” kenang Yahya. Di situ antara lain Yahya untuk pertama kalinya berkenalan langsung dengan ujud pertunjukan seni nge-Jait, dibawakan langsung oleh Muhamad Sofyan bin Muhamad Zaid yang (sekali lagi) kadung beken sebagai Bang Jait.
Lokakarya yang digelar Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dan dimotori SM Ardan iru amat sangat bermanfaat. Paling tidak sejak itu seni nge-Jait mulai mengeliat lagi. Beberapa anak muda mulai tampil sebagai jait-jait muda, menggantikan posisi Sofyan bin Zaid yang wafat. Satu jait muda itu adalah Yahya Andi Saputra, sejarawan yang juga aktivis LKB atau Lembaga Kebudayaan Betawi.

(5)
Pada dasarnya, nge-Jait adalah sebuah monolog. Sebagaimana Wayang Jemblung di Jawa Tengah, atau seni bercerita PM Toh di Aceh, seorang pe-Jait tampil sendiri membawakan cerita atau hikayat, berdasar kemampuan artistik yang ada dalam dirinya. “Almarhum Sofyan Muhamad Zaid itu aktor mumpuni, yang khabarnya mewarisi semua kemampuan babenya. Sulit bagi saya untuk bisa mencapai kemampuan nge-Jait sebagaimana Jait-Jair senior itu,” ungkap Yahya.
Di lain pihak, zaman pun terus berobah. Kini tak ada lagi orang yang secara khusus memanggil seorang pejait untuk menjadi pengisi tunggal pada hajatan atau pesta yang digelarnya. “Mending panggil pemusik organ tunggal…!” Stasiun radio, apalagi televisi, tak ada yang memberi jam tayang siarannya, hanya untuk menghadirkan seorang pejait. Bahkan seorang komika Stand Up Comedy pun biasanya hanya tampil sebagai selipan dari sebuah repertoar seni.pertunjukan.
Repertoar seni pertunjukan. Itulah yang kemudian menjadi pemikiran Tahya. Artinya, bagaimana aktivitas nge-Jait yang dilakoninya bisa tampil utuh sebagai sebuah pertunjukan berdurasi cukup panjang. Atau, bagaimana sosok pejait bisa tetap hadir sebagai ‘roh’ dari sebuah repertiar atau rangkaian pertunjukan seni. Tak bisa tidak, “Harus ada semacam terobosan dalam cara nge-Jait. Sebentuk hikayat tak harus dibawakan sekaligus A to Z. Ini akan sangat menguras tenaga, dan bisa-bisa penampilan pejait akan jadi monoton, hilang greget-nya,” ucap Yahya.
Yahya bukan tipe anak Betawi yang skeptis dalam berkesenian. Sebagai aktivis, ia tak melulu nguprek di dapur budaya sendiri. Sebagai seniman ia juga terbuka pada pengaruh positif dari dapur budaya lain di ranah Nusantara. Saat berkesempatan berkeliling ke berbagai kota dan kawasan budaya Indonesia, ia juga selalu belajar dari apa yang dilihatnya. Bersama Teater Tetas dan para sohibnya di Komunitas Seni Bulungan misalnya, ia pernah bertamu ke padepokan almarhum Slamet Gundhono yang populer sebagai Dalang Wayang Suket asal Jawa Tengah.
“Almarhum Slamet Gundhono itu contoh sosok aktor panggung tradisional-modern Indonesia yang hebat. Berpuluh menit ia bisa tampil di panggung dengan stamina dan performance yang utuh. Kadang ia mendalang, memukai penonton dengan kisah-kisah pewayangan yang amat imajinatif dan sarat pesan. Kadang ia tampil sebagai seorang pemusik dengan gitar kecilnya. Kadang ia tampil seperti pembawa acara yang mengatur penampilan urut-urutan pertunjukan. Uniknya, ia juga bisa tampil sebagai bagian dari pertunjukan yang sedang ditampilkannya itu,” papar Yahya.
Sejujurnya, terinspirasi almarhum Slamet Gundhono itulah, Yahya lantas menemukan format baru dalam menghidupkan seni nge-Jait. Dalam format lokakarya atau tampil sebagai pengisi tunggal forum-forum seni, ia memang tampil utuh sebagai pe-Jait yang membawakan sebuah hikayat dalam durasi beberapa menit. Tapi dalam panggung ‘besar’ yang menampilkan ragam budaya Betawi, ia mengakali teknis nge-Jait dengan cara memenggal-menggal bagian hikayat yang dibawakannya, sebagai jeda, sekaligus memberi kesempatan bagi bentuk kesenian lain untuk tampil mengisi acara. Pada akhir pertunjukan tersebut, Yahya tampil lagi sebagai pembawa acara sekaligus pe-Jait, untuk melanjutkan kisahnya. Demikian pertunjukan seni budaya Betawi dihadirkan sebagai repertoar komplet, dengan seni jait sebagai pengikatnya. “Demikian kata Sohibul Hikayat, eh…Jait.”
Salam budaya!

Pamulang, 24 Agustus 2014
Makalah disampaikan pada Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan (LISAN IX), Manado, 21 – 24 September 2014.

Heryus Saputro
Wartawan, Penyair, Pemerhati dan Peminat Budaya Nusantara.
Anggota Pengurus ATL Jakarta.
HP: 0812-8156-3702, E-mail: heryussaputro@yahoo.com

(The Author)

View all articles by
Social Links: →

Leave a Comment