MENANTU – MENANTU BETAWI

Lima besar etnis yang mendiami Jakarta saat ini adalah Jawa, Betawi, Sunda, Cina, dan Batak. Setidaknya itulah fakta yang disodorkan sensus penduduk tahun 2000. Tak bisa dipungkiri bahwa etnis Betawi di Jakarta bukan mayoritas. Tak masuk akal jika etnis Betawi menuntut perlakuan istimewa seperti yang selama ini mereka kehendaki dengan berbagai argumen. Sebagai orang Betawi asli saya tak merisaukan fakta sensus itu. Sampai saat ini saya termasuk salah seorang yang paling bangga menjadi etnis Betawi. Sebab hanya etnis Betawilah yang sejak negeri ini ada bahkan sebelumnya telah menerima kehadiran etnis lain dan hidup rukun. Bahkan mereka tak mengharamkan etnis lain masuk dalam keluarganya. Dalam keluarga Betawi tercermin bhineka tunggal ika alias multikultural yang begitu harmonis.

Ingin saya ceritakan interen keluarga saya. Engkong atau kakek saya baik dari pihak babe maupun enyak adalah guru (kyai). Tapi babe (H. Rahmat) atau enyak (Hj. Halifah) tak menurunkan keahlian atau status kakek. Babe jadi petani dan enyak jadi dukun bayi. Sebagai orang Betawi keluarga saya termasuk keluarga besar. Bayangkan, enyak saya melahirkan lima belas anak dan yang hidup sebelas. Saya anak ketujuh. Yang sangat saya kagumi dari babe dan enyak adalah keterbukaan, keikhlasan, dan kelapangandada dalam menerima sesuatu dari luar. Maksud saya, babe dan enyak tidak mempersoalkan mendapat memantu dari etnis lain. Akan jadi persoalan ketika calon menantunya bukan muslim. Itu yang paling pokok.

Bayangkan dari sebelas menantu, lima bukan orang Betawi. Maka saya mempunyai saudara ipar dari Jogyakarta, Sunda, Cirebon, Padang, dan Sragen. Sejak awal saya memang sudah wanti-wanti ingin mempunyai bini orang Betawi asli. Alhamdulillah keinginan saya dikabulkan Tuhan. Lebih hebat lagi sebenarnya martua saya (H. Pidin/Hj. Hindun). Menantunya yang Betawi asli hanya dua orang, saya dan istri abang ipar saya. Menantu lainnya berasal dari Manado, Cina, Padang, dan Palembang.

Sampai saat ini saya mempunyai 46 keponakan. Dari jumlah itu yang sudah menikah delapan orang. Dua menikah dengan Betawi asli. Lainnya dengan orang Solo, Jogyakarta, Cirebon, Pariaman, dan Tapanuli Selatan. Masih sederetan panjang menantu-menantu Betawi yang bukan Betawi asli. Kakak atau adik babe dan enyak pun tak berbeda dengan kondisi keluarga saya. Benar-benar luar biasa orang Betawi menempatkan diri dan menata bangunan multicultural yang kokoh. Keadaan itu berjalan terus tak dapat dibendung. Dengan apakah kiranya kita membendung cinta kasih yang bersemi begitu indah di hati anak cucu kita.

Dengan cerita di atas ingin saya katakan bahwa sudah terjadi proses kebhineka tunggal ikaan dalam etnis Betawi yang pada ujungnya lahir generasi baru. Generasi baru itu entah beretnis dan berkebudayaan apa. Apakah dapat dinamakan etnis dan kebudayaan metropolis, sebab ciri etnis Betawi atau etnis lain tak dominan dalam hidup keseharian mereka. Andai saya punya perangkat time tunnel, tentu saya ajak mereka berkelana ke masa lalu. Saya perkenalkan kerbau, kuntul, ayam-ayaman, tilil, atau metik daon uribang, sengganian, balo-balo sambil sesekali mandi di kali yang airnya amat jernih seraya nangkep julung-julung, cere, betok, sepat, sili, berod, mercoca, dan lain-lain. Karena tak ada perangkat itu, saya biarkan mereka menjadi diri sendiri.

Dengan lahirnya generasi baru itu saja merupakan indikasi bahwa terjadi proses pemudaran Betawi. Belum lagi kalau kita cermati angka-angka yang tersaji di mahjane sensus penduduk 2000, kemudian menguapnya regenerasi seni budaya Betawi, atau nihilnya petinggi yang diharapkan dapat menelorkan kebijakan pro Betawi.

Kita harus realistis dengan keadaan. Ada yang berpendapat bahwa dengan kemeriahan dan ritual tahunan di hari jadi kota Jakarta merupakan kebangkitan Betawi. Kemeriahan dan ritual-ritual itu bagi saya ibarat korek api atau bolpoin ketika isinya habis rangkanya langsung dibuang. Ia sangat artificial. Tak menyentuh persoalan inti sebagai perhelatan akbar yang seharusnya sarat refleksi untuk dijadikan term of reference melangkah kedepan. Banyak orang tertipu dengan kemeriahan dan ritual, seolah-olah itulah pertanda kebangkitan.

Saya ingin menyinggung sinetron Betawi di televisi karena jangan-jangan diartikan sebagai kebangkitan Betawi. Saya sangat hormat dan memberikan apresiasi tinggi kepada masyarakat yang telah bersusah payah memproduksi sinetron berlatar Betawi. Pekerjaan itu sangat berat direalisasi tanpa kerja keras, ketelitian, kesungguhan, dan kesabaran yang paripurna. Seperti diketahui, cakupan wilayah budaya Betawi tidak identik dengan batas wilayah administratif Propinsi DKI Jakarta. Wilayah budaya Betawi mencakup bagian-bagian Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang. Dan kenyataannya ragam seni budaya Betawi eksis di wilayah itu. Dari segi ini, seseorang yang belum memahami sisik melik dan karakter budaya Betawi tak dapat melihat dengan jernih ragam ciri khas dari sub wilayah-sub wilayah itu.

Menyaksikan sinetron Betawi di televisi berarti bukan menyaksikan Betawi secara utuh. Banyak aspek yang mengelilinginya. Aspek yang paling menonjol antara lain digemari pemirsa untuk menggaet perusahaan memasang advertensi. Pada bagian ini segala sesuatu yang berhubungan dengan kepatutan, dapat begitu saja tersisih. Sehingga apa yang kita tonton dalam sinetron itu sangat janggal, mengada-ada, dan sensasional. Lalu apakah itu dapat dikatagorikan sebagai salah satu kebangkitan Betawi? Rasanya kok belum tentu.

Ude dari sononye formulasi kebudayaan tak pernah sekali untuk selamanya. Dinamika kebudayaan pada dirinya mengandung kekuatan involutif dimana perobahan-perobahan yang dibutuhkan berlangsung dalam proses mencapai kebenaran hakiki.

Bagi saya masyarakat tidak taken for granted memahami kebudayaan Betawi, karena itu perlu sosialisasi kebudayaan Betawi di komunitas pekerja seni dan di masyarakat Jakarta umumnya. Proses transformasi nilai-nilai kebudayaan etnik (Betawi) semakin terasa keperluannya dalam rangka pembentukan identitas Jakarta mengacu pada pelaksanaan Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang mengatur otonomi daerah. Saya usulkan, dalam konteks ini perlu digalakkan kajian kebetawian atau rumusan dalam bentuk kurikulum untuk pengajaran di sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Kiranya dapat disepakati bahwa eksplorasi dan pengembangan kebudayaan Betawi mestilah dititikberatkan pada metode keilmuan yang benar. Metodologi semisal dari katanya ke katanya sudah semestinya dimasukan ke recycle bin. Kini sumber-sumber mengenai Betawi makin terkuak dan pada gilirannya siapa pun yang memiliki minat mengeksplorasi kebetawian dalam berbagai bentuk, sudah sepatutnya menggeluti sumber-sumber itu.

Betapa pun, saya sepakat bahwa value judgment yang menghakimi performance atau fenomena kebudayaan pada hakikatnya melawan semangat reformasi. Tapi bukan berarti siapa saja boleh sesuka hati mempermainkan kebetawian hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Cukuplah kesembronoan dan olok-olok itu (Yahya Andi Saputra).

Leave a Comment