ANGPAU BANG JALI

Oleh Yahya Andi Saputra

Bang Jalil senyum sumringah menyambut kedatangan tamu-tamunya. Bertegur sapa ramah seraya mempersilahkan duduk para tamu yang terus berdatangan. Maklum Bang Jalil tengah menyelenggarakan resepsi pernikahan putrinya. Tiap tamu yang pulang, terlebih dahulu menghampirimya untuk mengucapkan selamat disertai ’salam tempel’. ’Salam tempel’ biasanya menggunakan media angpau atau amplop warna merah putih. Di dalam angpau itu dimasukkan sejumlah uang sebagai tanda ucapan selamat atas pelaksanaan resepsi pernikahan (dan keriaan hajatan lainnya) yang diselenggarakan.

Masyarakat Betawi sangat mempertahankan kearifan nilai gotong royong dalam melakoni berbagai kegiatan kemasyarakatan. Jika ada warga melaksanakan resepsi pernikahan, misalnya, segenap tetangga menyingsingkan lengan baju membantu dengan berbagai cara. Entah membantu dengan beras, sayur-mayur, daging, buah-buahan, dan sebagainya. Hebatnya, semua bantuan itu dicatat oleh penerima yang pada gilirannya akan dikembalikan kepada penyumbang manakala yang bersangkutan menyelenggarakan hajat. Begitu seterusnya.

Sementara tradisi angpau yang dilembagakan masyarakat Betawi, menjadi menarik lantaran banyak pihak yang semula memandang sinis, justru  di kemudian hari meng-copy-paste secara vulgar. Dulu masyarakat non Betawi menyelenggarakan resepsi di gedung yang disewa. Undangan umumnya datang membawa hadiah berupa kado atau karangan bunga. Kedua jenis ucapan selamat itu justru merepotkan karena memerlukan space cukup luas untuk menyimpannya. Belum lagi jika harus diangkut dibawa pulang, pasti memerlukan biaya tambahan.

Itu sebabnya angpau sebagai ucapan selamat model masyarakat Betawi, membawa pencerahan dan inspiring selain tentunya efektif dan efisien. Mulailah undangan resepsi pernikah mencantumkan keterangan ”Ungkapan simpatik dan ucapan selamat sebaiknya tidak berupa karangan bunga atau kado”. Artinya, ucapkanlah dengan uang! Tak seperti masyarakat Betawi, yang menerima angpau ’salam tempel’ dan bersentuhan secara langsung, angpau orang non Betawi dimasukkan ke dalam kotak khusus yang disediakan di dekat meja penerima tamu atau di samping pelaminan.

Kini kado dan karangan bunga sudah tak lazim beredar pada pesta resepsi perkawinan. Kedudukannya tergantikan oleh angpau ala Betawi. Bukankah ini adopsi yang sangat menguntungkan?

Sesungguhnya tak sedikit kebiasaan dan kearifan masyarakat lokal Nusantara yang mencerahkan ditengarai dari sisi ekonomi. Namun, semburan gaya hidup global yang instan menghimpit kearifan dan karakter lokal serta membunuh dengan kejam. Maka bangunan ekonomi kerakyatan yang dirangkai dengan simpul silaturrahim, kandas dalam dinamika masyarakat yang individualis dan serakah.

Berangkat dari angpau, kita masih punya waktu menemukan jalan pulang ke rumah yang sejati, kepada tradisi. Mari kembali ke mata air. Wallahu’alam.

Leave a Comment