DUKUN BETAWI

Oleh Yahya Andi Saputra

Mukaddimah

Pertama, tulisan ini melulu deskripsi tentang dunia perdukunan atau tradisi perdukunan dalam masyarakat Betawi. Tak sedikit pun ia dihubung-hubungkan dengan alam religi dan religiusitas orang Betawi. Sebab orang Betawi pada umumnya pemeluk Islam yang taat, sehinga tak mau urusan tata atur yang di luar Islam dihubung-hubungkan dengan perilaku kesehariannya. Meski dalam bebagai hal kerap begitu kental bauran berbagai unsur tradis dan religi menjadi pakaian keseharian dan menjadi topangan pijakan keetnikannya. Tak soal. Itu kita singkirin aja dari upaya telusur ini.

Kedua, tulisan ini merupakan penelusuran atau wawancara saya kepada beberapa praktisi perdukunan Betawi, baik yang masih berpraktik sebagai dukun ataupun yang sudah ’pensiun’ dari profesi perdukunan. Tersebab itu, tulisan ini merupakan deskripsi tuturan para dukun ditambah dengan hasil interaksi dengan folklore perdukunan yang masih kental di masyarakat Betawi. Janganlah tulisan ini dijadikan rujukan ilmiah, tapi jadikanlah ia sebagai salah satu pintu gerbang untuk membuka, memahami lika-liku dan sisik-melik dunia perdukunan Betawi.

Menyadari tulisan ini hanya kulit tipis dari ratusan kulit tipis tebal yang belum terungkap, maka kiranya siapapun yang membaca tulisan ini ikhlas hati memberikan sumbang saran.

Perdukunan Betawi

Zaman dulu orang tidak mengenal rumah sakit, dokter, bidan, dan obat-obatan, sebagaimana dikenal lazim dan lumrah pada saat ini. Orang hanya mengenal dukun kampung atau disebut juga orang pinter. Sekarang sering juga disebut pengobatan alternatif. Sedangkan obat-obatan yang digunakan dapat berupa daun-daunan, bunga-bungaan, buah-bahan, biji-bijian, kayu-kayuan, akar-akaran, dan sebagainya yang didapat darilingkungan sekitarnya dan diramu dengan intuisi atau tepanya kemampuan gaibiyah serta jampe-jampe. Obat semacam ini tergolong dalam sebutan obat tradisional.

Terdapat beberapa jenis keahlian perdukunan dalam masyarakat Betawi, yang pada umumnya dibagi dalam dua aliran besar, yaitu dukun hitam dan dukun putih. Dukun hitam tentu saja dukun yang menggunakan segala macam cara untuk meneguhkan eksistensi kedukunannya. Dia tak perduli dengan tatanan moral masyarakat, yang dipentingkan tujuannya mengemban ilmu perdukunan terpenuhi. Sebaliknya dengan dukun putih. Umumnya dukun putih berangkat dari nilai dan tradisi leluhur yang bertopang pada local genius serta dibungkus nilai-nilai relijiusitas sesuai akidah islamiyah.

Dalam folklore, tata cara pengobatan yang dilakukan oleh dukun untuk menolong orang sakit dalam lingkungan masyarakat sudah dikenal dan berakar turun temurun sampai pada saat sekarang. Hal ini menggambarkan bahwa dukun merupakan orang pinter (sakti) yang tahu tentang keadaan penyakit yang datang dari alus, roh gaib atau perbuatan-perbuatan jahat manusia. Penyakit dan perbuatan jahat itu seperti santet, yang memanfaatkan media berupa jarum, panah, golok, api, pecahan kaca, rambut, paku, dan segala macan media yang dapat merusak syaraf atau fungsi hidup dalam tubuh manusia. Dapat pula dukun menggunakan ilmu gaib berupa ilmnu pencabut nyawa dan ilmu-ilmu angin yang tidak diketahui oleh manusia biasa. Dan banyak lagi cara orang-orang untuk memikirkan keadaan hidupnya di mana saat ada kelengahan, kelalaian, dan hilang konsentrasi, di situlah orang menyantet atau melakukan perbuatan negatif lainnya.

Tentu saja perbuatan itu sangat merugikan dan membahayakan bagi orang yang dituju. Bukan hanya sakit yang tak dapat dideteksi oleh media teknologi kedokteran moderen, bahkan korban sampai menemui ajal, tanpa diketahui jenis penyakit yang merongrongnya. Ini sungguh mengerikan.

Umunya orang awam tidak tahu tentang keadaan orang dan kelebihan ilmu gaib yang miliki. Lantaran kebersahajaannya itulah, dia bisa binasa atau tidak tahu ada orang yang bersifat jahat dan mengancam keselamatannya. Begitu juga dengan ilmu kunci-mengunci, buka-membuka, dan ilmu-ilmu yang belum diketahui, sehingga dia mendapat malapetaka, mendapat ancaman bahaya, hilang, dan mati seketika. Hal semacam ini sulit dihindari, apalagi kalau itu dikatagorikan sebagai musibah, rintangan, halangan, dan cobaan.

Dalam lingkungan orang pintar alias dukun, seberat apapun rintangan itu harus dihadapi. Walaupun demikian, mereka juga perlu melihat keadaan apakah bisa melawan, membalas, menyerang balik dengan kemampuan yang dia miliki, atau sebaliknya mengalah, karena risikonya adalah bagaikan memakan buah simalakama.

Keahlian utama dukun pada zaman dulu adalah menyembuhkan orang sakit karena santet dan berbagai penyakit baik itu penyakit luar maupun penyakit dalam, apakah datang dari alam gaib dan dari alam manusia. Berdasarkan sumber penyakit tersebut, maka dukun tahu apa yang harus dilakukan. Dia meramu obat, merapal jampe, dan yang penting dia memanfaatkan ilmu falak atau petang-petangan untuk mengukur apakah dia bisa mengobatinya atau meminta bantuan dukun lain yang lebih tinggi tingkat keahlian dan kesaktiannya.

Ilmu Perdukunan

Cara-cara yang dilakukan oleh dukun pada zaman itu adalah melihat dan memeriksa orang yang sakit, terutama apakah penyakit itu bisa diobati atau tidak. Yang jelas, kalau ia sanggup, maka dia mengobatinya tetapi kalau memang penyakit itu sulit dan tak bisa diobati, maka dia menyuruh orang lain yang bisa mengobatinya. Berarti dia sudah tidak mampu dan menyerah. Ini sebenarnya standar saja. Sama dengan dokter umum memeriksa dan mendiagnosa pasiennya. Yang berbahaya adalah ketika hasil terawangan atau diagnosa bertolak belakang dengan kondisi yang sebenarnya. Dampaknya dahsyat.

Kemampuan seorang dukun tergantung pada keadaan dan penguasaan sisik melik keparipurnaan ilmu perdukunan. Tingkat dara ilmu yang dipelajarinya adalah bagaimana supaya tidak mencelakakan diri sendiri. Sepiawai apapun juga, dukun punya batas kemampuan sebagai dukun. Hal ini dapat dilihat dari tingkat ilmu yang dielajarinya melalui seorang guru dan melakukan tapa atau ngumbara menangkap dan mengelola enerji gaib yang berseliweran di alam raya. Jika belajar dari guru, ia harus mempelajari ilmu mulai tingkat dasar atau tingkat yang terendah berlanjut sampai tingkat yang tertinggi.

Sebagaimana lazimnya seseorang menuntut ilmu, banyak pula dari peserta didik perdukunan tak berhasil menamatkan pelajarannya. Banyak penyebabnya. Tak mempunyai bakat dapat dikatagorikan sebagai salah satu penyebab seseorang tak mampu meneruskan pelajaran lmu perdukunan. Atau si pelajar berada di luar koridor mainstream dan tak ada tetesan darah dukun dalam dirinya. Ada yang hanya sampai pada tingkat kesatu atau terendah, sudah terkapar tak mampu menyerap pelajaran.

Proses dan peningkatan untuk mencapai dan mempelajari ilmu perdukunan mempunyai syarat standar dan elementer. Syarat standar dan elementer menjadi dukun harus melalui tata cara seperti berpuasa, tidak boleh buang air kecil dalam air, tidak boleh melewati jemuran pakaian, tidak boleh makan nasi dalam piring, tidak boleh berzina, tidak boleh berbohong atau berdusta, tidak boleh mencuri, tidak boleh durhaka, tidak boleh iri atau dengki terhadap orang lain. Banyak lagi pantangan dalam menjalankan atau mengamalkan pelajaran yang harus di tekuni, ditaati, dan dipahami secara benar dengan disiplin tinggi. Semua tata cara seperti itu harus dipelajari dan ditekuni sesuai dengan ajaran guru, dan tidak boleh melanggar larangan yang dipesankan dan dijanjikan. Jika peserta didik melanggar peraturan, maka ia mendapat hukuman kualat pada sumpah sang guru yang mengajarkannya.

Seseorang yang dinyatakan tamat atau diijazahkan adalah murid yang mampu menyelesaikan tahap demi tahap. Tahap tertinggi adalah tingkat ketujuh atau tingkat yang terakhir. Pada tahap tertinggi ini biasanya semua pelajaran perdukunan telah dapat diserap dengan baik. Bahkan ilmu kebathinan dan persayaratan lain telah dijalankan. Misalnya telah melakukan puasa mutih 40 hari dalam keadaan suci dan menuntaskan ilmu kenaat yaitu ujian penyiksaan secara jasadiah. Pada tahap akhir inilah guru mengajar dan mengajak untuk bersama-sama menghafal dan mempelajari jampe-jampe, mantra-mantra, lagu-lagu sajian dukun atau tata cara memanggil, tata cara mengobati, tata cara mengenal kayu-kayuan, tata cara mengenal minyak-minyak untuk penyembuhan, serta tata cara lain agar dapat berlanjut ke tingkat ilmu-ilmu kesempurnaan.

Ilmu dan pelajaran seperti ini, sangat sulit dipelajari, sebab memerlukan waktu, kesabaran, keuletan, ketekunan, keahlian untuk mencapai keberhasilan dengan waktu yang cukup lama selain sangat membosankan. Ketentuan untuk mencapai tingkat yang diharapkan sangatlah sulit dan berat sekali, karena proses untuk mengembangkan ilmu dan pelajaran itu memerlukan kesabaran, kerja keras, waktu, dan tempat.

Pengajaran ilmu-ilmu dan jampe-jampe seharusnya dipelajari satu-persatu menurut aturan dukun, terutama ayat demi ayat, bait demi bait supaya tidak keliru dan salah mengunakannya. Bait-bait jampe harus dikusai dengan menghafalnya sesuai petunjuk sang guru. Begitu juga dengan akar-akaran, kayu-kayuan, dan minyak-minyak, semuanya harus diteliti, dan tidak boleh dicampuradukan. Jika dicampuradukan bisa membuat peserta didik menjadi gila. Gila atau hilang ingatan ini sering disebut ”gak kuat pegang atau nagamalin ilmu”, karena mungkin sejak awal (sejak niat) ia sudah salah pasang, salah guna, dan salah menginterpretasika isi jampe yang dipelajarinya. Jika sudah begini, akan berakibat fatal baginya atau bagi orang yang nanti akan disembuhkannya. Peserta didik yang mengalami gangguan jiwa seperti itu, disebut sebagai dukun bantet atau dukun urung.

Semua jenis ilmu perdukunan harus meliwati tujuh etape. Untuk meliwati tujuh etape atau mencapai tingkat-tingkat dukun itu, tentunya tidaklah mudah. Karena harus mempelajari perkembangan dasarnya, terutama menekuni menghafal jampe-jampe atau ayat-ayat ilmu perdukunan tingkat pertama, setelah itu baru tingkat yang selanjutnya, itu pun melalui ketekunan dan keahlian serta tak pernah lelah belajar. Untuk menekuni segala ilmu yang diturunkan itu, maka peserta didik harus melengkapi diri dengan tiga dasar, yaitu syarat, syariat, dan ma’rifat. Syarat berarti memenuhi semua ketentuan persyaratan yan diwajibkan. Syariat yaitu melazimkan melakukan perbuatan yang menjadi kepatutan lmu perdukunan. Ma’rifat artinya memahami benar posisi ilmu perdukunan dan posisi dukun sebagaimana seharusnya. Kemampuan ilmu perdukunan didapatkannya secara berjenjang, tingkat demi tingkat.

Ketiga unsur dasar ini harus diamalkan dan diyakini dengan sebaik-baiknya sehingga tidak ada halangan dan rintangan yang menghalangi segala rencana dan keinginan calon dukun, baik saat menerima ilmu, jampe-jampe, minyak-minyak, dan akar kayu-kayuan lainnya maupun pada saat dianggap sudah selesai atau tamat menerima dan mempelajarinya.

Dari hasil mempelajari ilmu, jampe, minyak, dan akar kayu, semuanya melalui dasar terutama mengenali, mengingatkan, menghafali, dan memeliharanya dengan baik. Perlenkapan itu lalu ditempatkan masing-masing pada suatu tempat yang telah dibuat khusus untuk itu, seperti wadah dari kayu dan bambu, botol-botol kecil, piiring kecil dan sebagainya sebagai tempat untuk menyimpan minyak, akar kayu-kayuan (babakan) yang kesemuanya disimpan dengan serapi, baik, dan aman.

Tugas dan pekerjaan dukun yang harus dijalani adalah mengobati orang sakit dengan berbagai macam cara agar tidak keliru, salah guna, dan salah mengobatinya. Begitu juga dengan akar kayu-kayuan semuanya dikenali dan harus dipahami jenis dan bentuknya. Jika seseorang sakit dan ia yakin akar kayu itu adalah obatnya, maka diobati dengan akar kayu itu. Tapi kalau penyakitnya lain, maka diobati dengan kayu yang lain atau mungkin dengan mengolesi minyak.

Begitulah, minyak akar kayu-kayuan dan jampe-jampe harus dipelajari lebih dulu supaya tidak salah guna, agar tidak mendapat celaka yang membawa apes atau mengakibatkan binasa. Setelah mengenali lebih luas dan memahami semua jenis, bentuk, rupa, dan tata cara, baru peserta didik belajar mempelajari dan mengenali jenis penyakit yang diderita oleh orang-orang yang sakit. Dan setelah itu baru mengobatinya dengan jampe-jampe, dengan minyak-minyak, dengan akar kayu-kayuan, dan obat-obatan tadisional. Semua itu diupayakannya demi kesembuhan orangyang sakit.

Pada zaman dulu seorang dukun mengenali orang yang sakit kadang dengan bantuan kekuatan lain atau harus melalui cara dukun hadiran untuk dapat mengetahui apakah penyakit seseorang itu bisa diobati atau setidaknya ada solusi yang dikeluarkan atau dianjurkannya. Dukun pun harus mampu melihat jenis penyakit.

Singkatnya, prosesi penyembuhan penyakit yang dilakukan seorang dukun dimulai dengan diagnosa, menyediakan sesajen, dan pembersihan atau proses penyembuhan. Prosesi itu dapat diselenggarakan atas persetujuan dari keraban dekat si sakit. Hal itu berkaitan sangat erat dengan penyediaan semua perlengkapan kebutuhan prosesi, mulai penyediaan sesajen sampai kepada kesediaan menjalankan amanat (pantangan) dukun untuk kesembuhan si sakit.

Seluruh perlengkapan itu disiapkan jangan sampai ada yang ketinggalan, dan itu harus dijalani dengan sebaik-baiknya sesuai pesan dan janji dukun. Atau jika nanti si sakit sudah sembuh, maka ada kewajiban yang disebut mulangin syarat, yaitu menyerahkan hadiah khusus kepad dukun yang menyembuhkannya. Jika lupa mulangin syarat, bisa saja dalam beberapa hari si sakit kembali mengalami sakit bahkan lebih akut dari sebelumnya (YAS).

Leave a Comment