BETAWI DAN PROKLAMASI

Betawi menjadi saksi pergantian kekuasaan dari jaman ke jaman. Orang Betawi menjadi rakyat kerajaan-kerajaan yang berdiri di sekitar Jakarta. Kemudian mengalami masa-masa pahit yang sangat panjang, yaitu penjajahan. Orang Betawilah yang mengalami penjahan sejak awal. Sejak penjajahan dalam arti yang sebenarnya dikenal dan dipraktikan oleh manusia.

Tanah Betawi amat strategis karena di muara Ciliwung ada pelabuhan Kalapa. Orang-orang Betawi sendiri bermukim di daerah selatan seperti Kelapa Dua, Condet, dan sebagainya. Mereka juga bermukim di tepi-tepi sungai Ciliwung, Bekasi, dan Krukut.

Di jaman Pajajaran (abad 12-16) orang Betawi adalah hulun, atau rakyat Pajajaran. Pada jaman ini orang Betawi telah berbahasa Melayu. Kerajaan Pajajaran berbahasa Sunda. Hubungan masyarakat Betawi dengan kerajaan Pajajaran sangat dekat. Hal ini disebabkan sejak abad ke-12 pelabuhan Kalapa dikuasai Pajajaran dan berganti nama menjadi Sunda Kalapa. Raja Pajajaran menempatkan seorang adipati  untuk mengurus pelabuhan Sunda Kalapa. Sedangkan ibukota kerajaan Pajajaran di Pakuan, Bogor.

Pertengahan abad ke-14 di Karawang berdiri pesantren Kuro. Karawang  termasuk wilayah Pajajaran. Yang memerintah  di  Pajajaran ketika itu Prabu Siliwangi. Syahdan Prabu Siliwangi mengunjungi pesantren Kuro. Sang Prabu jatuh hati pada seorang santri puteri bernama Nyai Subang Larang. Dari perkawinannya dengan Nyai Subang Larang, Sang Prabu dikarunia putera bernama Kyan Santang. Kyang Santang beragama Islam.

Orang Betawi banyak yang mengikuti agama Islam yang disebarkan Kyan Santang. Pendeta kerajaan Pajajaran menilai Kyan Santang melakukan penyimpangan, atau langgara. Karena itu tempat bersembahyang pengikut Kyan Santang dinamakan langar.

Pelabuhan Sunda Kalapa sejak dikuasai Pajajaran sangat makmur. Banyak sekali kapal dan prau yang singgah di Sunda Kalapa. Mereka menurunkan barang dan mengangkut perbekalan. Kerajaan Pajajaran menjadi makmur dengan adanya pelabuhan Sunda Kalapa.

Kesenian di jaman ini berkembang pesat, terutama tari dan gamelan. Orang  Betawi  banyak yang bergiat di bidang kesenian. Mereka memajukan kesenian Betawi seperti topeng, ubrug, ujungan, ondel-ondel, dan lain-ain.

Pada tahun 1521 kerajaan Pajajaran  membuat perjanjian dengan penguasa Portugis. Portugis baru saja menaklukkan kerajaan Malaka pada tahun 1511. Perjanjian Pajajaran dan Portugis tertulis dalam batu yang dinamakan padrao. Dalam perjanjian itu Portugis diberikan hak untuk membangun loji di Sunda Kalapa. Loji adalah perkantoran dan perumahan yang dilengkapi dengan Benteng. Perjanjian ini membuat marah kesultanan Islam di Demak. Kerajaan Pajajaran  medapatkan imbalan upeti dari Portugis.

Sultan Demak menugaskan Fatahillah memimpin pasukan menyerbu Sunda Kalapa. Pada suatu hari di bulan Juni 1527 pasukan Fatahillah bergerak dari darat dan laut. Puncak pertempuran terjadi pada suatu senja di sekitar pelabuhan Sunda Kalapa. Tentara Pajajaran menyerah. Adipati Sunda Kalapa menyerahkan kekuasaan pada Fatahillah. Hari penyerahan kekuasaan itu diyakini terjadi pada tanggal 22 Juni 1527. Karena itu tanggal tersebut dianggap sebagai lahirnya kota Jakarta. Pada hari itu Fatahillah memberi nama Jayakarta kepada kota yang baru direbutnya itu.

Fatahillah mendirikan kadipaten di tepi barat kali Ciliwung. Kadipaten  di bawah pengawasan Kesultanan Banten. Di sebelah timur kali Ciliwung, Fatahillah mendirikan aryan, perumahan untuk pejabat kadipaten dan keluarganya yang didatangkan dari Banten.

Setelah Fatahillah, pejabat tertinggi  kadipaten Jayakarta Tubagus Angke. Tubagus Angke  berganti dengan Pangeran Ahmad Jaketra.  Ahmad Jaketra adalah pangeran  terakhir di kadipaten Jayakarta.

Pejabat-pejabat kadipaten Jayakarta sibuk dengan mengurus pelabuhan Sunda Kalapa. Pelabuhan ini makin lama makin terkenal. Kapal dan prau yang singgah makin banyak. Cukai pelabuhan dan barang-barang masuk ke kas kadipaten. Pejabat tertinggi kadipaten Jayakarta menyewakan tanah di sekitar pelabuhan kepada pedagang Eropa. Dengan demikian kadipaten makin banyak menerima uang.

 

Betawi Di Jaman Hindia Belanda

Perkumpulan Dagang Belanda VOC semula tidak berminat membuat pangkalan di Sunda Kalapa. Mereka memilih Ambon. Pertimbangan mereka kemudian berubah. Letak Sunda Kalapa lebih dekat ke Eropa. Pada tahun 1619 VOC menyerbu Jayakarta yang menguasai Sunda Kalapa. Kadipaten Jayakarta dibakar habis. Orang Jayakarta sebagian lari ke Banten, dan sebagian lagi bersembunyi di sebuah desa di Jakarta Timur yang bernama Jatinegara Kaum.

VOC mengangkat Jan Pieterzon Coen sebagai Gubernur Jenderal. Jan Pieterzon Coen mengusir seluruh penduduk pribumi dari daerah pelabuhan. Penduduk asli Betawi tidak dibenarkan bertempat tinggal di muara kali Ciliwung. Pada jaman Jayakarta  daerah ini khusus hunian pejabat tinggi kadipaten Jayakarta.

Jaman VOC berlangsung sampai dengan tahun 1799. VOC bubar karena pejabat-pejabatnya korupsi dan hidup sangat mewah. Orang-orang Belanda yang bekerja untuk VOC moralnya banyak yang tidak baik. Jan Pieterzon Coen pada tahun 1629 melarang orang Betawi mengamen dari rumah ke rumah. Pengamen Betawi sering menyanyikan pantun yang berisi sindiran terhadap kerusakan moral orang Belanda.

VOC memungut pajak yang tinggi pada penduduk asli Betawi yang bertani. Pajak dipungut lewat  tukang pungut pajak yang diangkat  VOC. Mereka  orang pribumi. Sering terjadi perlawanan rakyat terhadap tukang pungut pajak itu. Kekuasaan VOC yang oleh orang Betawi disebut kumpeni berganti dengan pemerintah Hindia Belanda.

 

Jaman Kolonial

Jaman kolonial berlangsung dari 1799 sampai 1942. Dari tahun 1811 – 1816 terdapat kekuasaan selingan Inggeris.

Pergolakan politik di Eropa berpengaruh terhadap negeri-negeri jajahan Belanda. Bahkan pada tahun 1813 terjadi peperangan besar antara Inggeris dan Perancis di Jakarta, tepatnya di sepanjang Jalan Matraman sampai pasar Jatinegara. Orang Betawi tumbuh  dalam suasana pegolakan politik.

Pemerintah Hindia Belanda disebut pemerintah kolonial. Mereka memperlakukan penduduk asli Betawi sebagai warga negara kelas III, atau kelas  paling rendah. Sedikit sekali  anak-anak  Betawi yang  dibenarkan  masuk sekolah negeri. Kebanyakan anak-anak Betawi masuk  madrasah yang disebut  Sekolah Arab.

Kota Batavia melebar ke selatan pada awal abad ke-19. Lapangan Gambir dibuka. Gedung-gedung dibangun di sekitarnya. Maka muncullah bagian baru kota Batavia yang disebut Weltevreden. Setelah itu Belanda memekarkan Batavia ke arah timur yaitu Kampung Melayu, Jatinegara. Belanda menamakan daerah ini Meester Cornelis.

Kota benteng berakhir dengan hancurnya VOC. Muncul Batavia baru yang membawa pergaulan baru. Belanda Indo maupun totok ada yang bergaul dengan pendudukl Betawi asli. Terjadi pembaharuan di kalangan Betawi.

Pada awal abad ke-20 orang Betawi mengenal perkumpulan. Pada tahun 1905 di Pekojan berdiri perkumpulan amal Jami’atul Khair. Banyak orang Betawi yang menjadi anggota perkumpulan ini. Kemudian pada tahun 1918 Muhammad Husni Thamrin mendirikan Perkumpulan Kaum Betawi. Perkumpulan Kaum Betawi mempunyai bagian pemuda. Pemuda Kaum Betawi pada tanggal 28 Oktober 1928 ikut menandatangani Sumpah Pemuda.

 

Jaman  Kemerdekaan

Jaman kolonial berakhir tahun 1942. Pada tanggal 7 Maret 1942 serdadu Jepang masuk Jakarta. Mereka menggunakan macam-macam kendaraan. Dari pelabuhan Tanjung Priok menuju pusat kota. Ada yang bersepeda. Jaman Jepang hidup serba susah. Banyak orang terpaksa makan kiong racun dan biji sengon. Jaman sengsara ini berlangsung 3 tahun 6 bulan saja.

Kemerdekaan Indonesia dicetuskan tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta. Rakyat Jakarta menyambut dengan gembira kemerdekaan yang dicetuskan pada hari Jum’at di bulan Ramadhan itu. Dapatlah kita bayangkan, saat puasa, saat terik matahri, Soekarno – Hatta, atas nama Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia.

Tahun ini pun sama dengan saat proklamasi 17 agustus 1945. Persamaannya yaitu terjadi pada bulan Ramadhan. Proklamasi 1945, berlangsung di tengah kemuliaan bulan suci Ramadhan. Persiapan proklamasi telah berlangsung sejak malam hari, dan hari-hari sebelumnya melalui serangkaian rapat-rapat penting. Klimaksnya, usai makan sahur, segenap anak bangsa berjaga-jaga di kediaman Bung Karno.

Ketika pagi, para pemuda memasang tiang bendera, mempersiapkan ini dan itu menyambut momentum maha penting. Bung Karno sendiri baru kembali ke rumah saat shubuh. Demikian pula Hatta, Sjahrir, dan semua tokoh bangsa yang teribat pembahasan pada rapat-rapat Badan Persiapan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia di rumah Laksamana Maeda. Malam itu, agenda final yakni menyusun teks proklamasi.

Sata ingar-bingar kemerdekaaan, seorang anak Matraman, Muhamamad Ali Al Hamidy, mengadakan shalat Iedul Fitri di halaman Gedung Proklamasi. Tentara Jepang mencoba mengahalangi, tetapi pemuda maju terus. Pemuda Betawi, Mufreni Mu’min, pada tanggal 19 September 1945 menggelar rapat raksasa menyambut kemerdekaan di lapangan Ikada. Semua rakyat bersiap mempertahankan kemerdekaan. Karena itu jaman ini disebut Siap-Siapan.

Belanda melancarkan serangan pada tahun 1946. Jakarta diduduki Belanda. Banyak orang Betawi yang mengungsi ke Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pemuda-pemuda Betawi mengangkat senjata. Pemuda Kramat Sentiong, Ka’icang, dengan gagah berani menggempur  seorang diri markas Belanda di lapangan Banteng. Ia luka berat. Belanda merawatnya di rumah sakit Jalan Salemba. Pemuda Kramat Sentiong dengan berani membebaskan Ka’icang. Pemuda Kramat sentiong dipimpin oleh Imam Syafii.

Haji Darip melakukan perlawanan terhadap Belanda di front Kelender. Haji Darip sejak jaman kolonial terkenal berani menghadapi kaki tangan kolonial. Sebagian pemuda Betawi melakukan gerilya di Bekasi dan Karawang. KH. Noer Ali memimpin perlawanan di kawasan Bekasi dan sekitarnya. Ketika terjadi pertempuran di Karawang tewas seorang pemuda Betawi berpangkat letnan kolonel. Ia adalah Usman Sumantri, cucu sastrawan Betawi Muhamamad Bakir. Di bidang militer, ia seorang ahli intelejen. Nama Usman Sumantri diabadikan di Karawang sebagai nama jalan.

Puteri-puteri Betawi juga ikut bergerilya di front Bekasi. Seorang pemudi asal Tenabang bernama Nurjanah, sangat gagah berani di medan pertempuran. Perlawanan pemuda Indonesia menggagalkan niat Belanda untuk berkuasa kembali di Indoneia. Pada tanggal 27 Desember 1949 kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia.

Itulah Betawi, berjuang untuk negeri, sejak dahulu hingga kini.

 

Perbanyak tabe serta hormat,

Redaksi

 

Leave a Comment