TABE

SELAMAT DATANG DI KAMPUNG BETAWI.COM

GOTONG ROYONG BETAWI

Dalam bahasa Betawi, gotong royong padanan katanya  paketan. Paketan arti harfiahnya berkumpul dan bermusyawarah untuk melakukan kerja bakti atau gotong royong. Secara metafor artinya bekerja bersama-sama secara sukarela untuk menyelesaikan semua persoalan yang terjadi. Berkaitan dengan paketan, dalam kehidupan sehari-hari  masyarakat Betawi, terdapat bermacam bentuk ungkapan dan peribahasa yang mengkemas makna penting kegiatan kemasyarakatan.  Misalnya, “kalo mao samè-samè, semut bisa mindain gunung”. Jika dikerjakan bersama-sama, semut mampu memimndahkan gunung. Peribahasa ini masih efektif sampai saat ini. Maknanya, seberat apapu sebuah pekerjaan, jika dikerjakan bersama-sama, secara bergotong royong, pasti dapat diselesaikan dengan baik. Peribahasa ini sering diucapkan untuk menasehati atau memperingati seseorang yang tak memiliki rasa persatuan, sehingga pekerjaan yang sebenarnya dapat diselesaikan ternyata terbengkalai. Mereka dinasehati agar mau bekrja sama dan bersatu dalam melakukan pekerjaan.

Seperti diketahui semut adalah binatang yang sangat kecil dan gunung merupakan onggokan tanah besar menjulang tinggi. Rasanya tidaklah mungkin bagi seekor semut kecil  memindahkan gunung. Kalau ada persatuan, semua pekerjaan berat menjadi ringan. Secara sendiri-sendiri tak mungkin seseorang mampu mengerjakan pekrjaan besar, kalau bersama-sama tentu mudah. Peribahasa ini jelas berkait erat dengan gotong-royong atau persatuan. Ini merupakan pengejawantahan sila ketiga pancasila, persatuan Indonesia.

Banyak jenis paketan, baik terkait dengan kepentingan umum maupun kepentingan pribadi. Termasuk paketan untuk kepentingan individu, misalnya : paketan membangun rumah (buka tanah/retain tanah atau bikin baturan, naekin genteng, pindah rumah); paketan perkawinan (malem mangkat, ngerudat, perispan pulang tige ari); paketan tahlilan (kematian, haul, dan lain-lain); paketan tani (nandur, matun, panen).

Termasuk paketan untuk kepentingan publik, misalnya : paketan bersih lingkungan; paketan bersih tanah wakaf kober; paketan tunggu kober; paketan jaga lingkungan/ronda/siskamling; paketan bersih tempat ibadah; paketan bangun rumah ibadah; paketan bikin jalan atau jembatan baru, dan lain-lain.

Secara tradisional, masyarakat Betawi sudah memiliki nyambat atau forum warga, meski sifatnya temporer saja. Artinya jika ada kebutuhan untuk paketan, maka nambat atau forum warga itu barulah aktif. Sejatinya, nyambat memang domain atau ruang lingkup perhatian tetua kampung atau tokoh masyarakat. Sebab semua usaha nyambat untuk paketan bermuara pada tetua kampung.

Tahap nyambat untuk paketan, pertama keluar dari tetua kampung atau bisa juga muncul dari usulan warga atau lantaran ada kondisi yang mendesak untuk antisipasi. Cara tetua kampung menghubungi warga untuk paketan ada dua model. Pertama, membuat surat undangan yang disamaikan kepala tetua kampung yang lingkunya lebih kecil. Nanti tetua kampung akan mengajak beberapa warga menghadiri forum warga itu. Kedua, mengumungkannya melalui media bantu suara (beduk, tongtog, atau speaker di masjid/musholla).

Pada nyambat itulah dibeberkan kondisi kampung dan semua persoalan yang ada. Peserta paketan diajak berdiskusi mencari solusi. Jika hanya paketan bersih tanah waaf kober, maka hanya membahas penentuan waktu pelaksanaan dan pembagian tugas. Setelah hari dan waktu pelaksanaan ditentukan, dilanjutkan dengan pembagian tugas dan meminta kesedian peserta menyumbang pengetean atau konsumsi. Yaitu pengetean kecil dan pengetean besar, artinya konsumsi sarapan pagi dan makan siang. Diminta secara sukarela tiap tetua kampung menentukan apa saja sumbangan pengeteannya. Ada yang kopi, the, rokok, kue, buah-buahan, sayur, lauk-pauk, nasi, dan sebagainya. Semua sumbangan dicatat.

Keadaan lebih kompleks manakala paketan untuk membangun fasilitas umum, seperti rumah ibadah atau membuat jalan baru. Pada paketan ini bukan hanya biaya yang besar, tapi juga mempertimbangkan durasi pengerjaannya. Terutama jika itu menyangkut pembuatn jalan baru, maka akan lebih rumit lagi. Warga yang tanahnya digunakan untuk jalan dengan serta-merta keberatan dan meminta konpensasi atas terpakainya tanah miliknya itu.

Itu sebabnya, seorang tetua kampung bebanr-benar orang terpercaya, arif, adil, sabar, dan memiliki kharisma tersendiri. Memang, biasanya tetua kampung selain sebagai tokoh adat, juga tokoh agama (ulama, kyai, guru, muallim) yang mampu memberikan pengertian untuk membuka wawasan peserta paketan atau warga yang tanahnya digunakan itu. Dia dapat menjelaskan manfaat jalan yang akan dibangun serta dampaknya bagi kehidupan seluruh warga yang memanfaatkan akses jalan itu.

Dalam kasus-kasus kecil, terjadi pengkucilan terhadap warga yang tak ikut paketan. Misalnya, jika ia megundang tahlilan, warga enggan datang. Itu semacam hukuman masyarakat terhadap warganya yang tak ikut kegiatan kemasyarakatan. Namun apa pun penjelasannya, paketan menumbuhkan kekompakan dan persatuan dalam masyarakat Betawi. Sebagaimana dikatakan peribahasa Betawi, kalo mao sam?-sam?, semut bisa mindain gunung.

Azas musyawarah, begitulah masyarakat Betawi membangun kearifannya. Azas ini sudah mendarah daging sehingga berdampak pada kuatnya solidaritas dan keramahtamahan. Solidaritas dan keramahan itu pada gilirannya menjadi perekat utama antar entik yang hidup dan mendiami Jakarta. Orang Betawi pasti akan lebih dulu menegur tiap bertemu orang lain. Bagi orang Betawi, seperti diungkap peribahasa “Bahasa nggak beli” mengutamakan silaturrahmi, bukan “Kaya kedebong ayut”.

Ada lagi tradisi andilan. Sebuah tradisi menyambut hari raya, khususnya lebaran atau hari raya Idul Fitri. Kata ini mungkin berasal dari Bahasa Belanda, aandeel. Dalam masyarakat Betawi, andilan maksudnya adalah usaha urun-rembuk atau gotong-royong warga kampung mengumpulkan uang untuk membeli beberapa ekor kerbau. Kerbau yang dibeli dengan uang andilan disebut kebo andilan. Jumlah kerbau yang dibeli tergantung dari jumlah peserta andilan.

Tujuan andilan memberikan kemudahan kepada warga memperoleh daging segar untuk memeriahkan lebaran. Di beberapa kampung disebut juga matung atau patungan. Dua hari menjelang lebaran kerbau ini dipotong dan dagingnya dibagikan sama besar kepada anggota andilan. Orang Betawi lebih memilih daging kerbau ketimbang dagig sapi. Mungkin karena serat daging kerbau lebih kasar, sehingga untuk beberapa olahan, seperti dendeng, lebih dapat bertahan lama.

Minimal tiga bulan menjelang bulan puasa, tetua kampung, tokoh masyarakat atau orang yang dipercaya dan kompeten, sudah mewartakan kepada seluruh masyarakat kampung bahwa akan diadakan andilan. Dalam pertemuan informal maupun formal, rencana andilan pun sudah diumumkan. Dalam pengumuman itu, disebutkan batas akhir pendaftaran dan biayanya. Peminat mendaftarkan diri kepada tetua kampung. Atau tetua kampung berkeliling dari rumah ke rumah menawarkan keikusertaaan warga untuk andilan.

Setelah jangka waktu pendaftaran ditutup, diketahui jumlah peserta andilan. Biasanya sebuah keluarga besar, akan mendaftarkan namanya dua atau bahkan lebih. Atas dasar jumlah itu dihitung berapa ekor kerbau yang dibutuhkan untuk dapat mencukupi keseluruhan anggota. Biasanya seekor kerbau untuk 15 sampai 20 orang. Apabila jumlah peserta andilan 80 orang, maka jumlah kerbau yang harus dibeli dan dipelihara sebanyak empat ekor. Sementara itu cara pembayaran dengan mencicil atau kontan. Jika dicicil, ditentukan mingguan atau harian dan tidak memberatkan peserta andilan. Tetua kampung yang mengkoordinir andilan tentunya sudah memperhitungkan jika banyak peserta yang mencicil. Oleh sebab itu ia telah mempersiapkan dana kontan untuk membeli kerbau.

Ukuran berat daging yang didapat peserta andilan relative, tergantung beratnya kerbau yang bersangkutan. Biasanya tiap pendaftar dapat satu tanding. Kalau mendaftar dua, tentu saja mendapat dua tanding. Tanding artinya ukuran pembagian daging. Satu kerbau dibagi rata kepada sejumlah anggota andilan, lengkap mendapat seluuh bagian kerbau. Porsi terbesar tentu saja dagingnya, barulah kemudian isi perut, tulang-elulang dan kulit.

Jika semua telah jelas dan sepakat, maka tetua kampung akan pergi mencari dan membeli kerbau. Tentu saja dia pandai dan memahami jenis kerbau yang sehat. Kerbau-kerbau itu dibeli dan dibawa pulang dan dipelihara oleh tukang piara.

Tukang piara adalah orang yang profesinya memelihara ternak atau memang pekerjaan sehari-harinya peternak. Dialah yang bertugas merawat kerbau sebaik-baiknya sehingga menjadi gemuk dan sehat. Bertanggung jawab penuh atas kerbau yang dipeliharanya, mulai ngangon (menggembala), merawat kesehatan sampai menjaga keamanannya. Untuk semua tugas dan tanggung jawabnya, tukang piara mendapat imbalan uang dan bagian tertentu dari kerbau yang nanti dipotong, sebagai tanda terima kasih. Tugas tukang piara berakhir pada hari pemotongan, biasanya dua hari atau sehari menjelang lebaran.

Di hari pemotongan, orang atau petugas yang bertanggung jawab adalah tukang potong. Tukang potong mengatur dan menjelaskan tugas kepada semua anak buahnya atau orang-orang yang datang sekadar membantu. Dia menjelaskan bagaimana memeprlakukan kerbau ketiak digiring dan diikat untuk disembelih. Seyogyanya tidak ada unsure menyakiti kerbau. Tukang potong yang sudah mahir tentu memiliki kiat bagaimana menggorok leher kerbau dengan sekali gerakan saja. Selain golok yang digunakan memiliki ketajaman lar biasa, ia pun membaca doa-doa khusus untuk memotong hewan. Salah satu bacaannya adalah “Bismillahi allahu akbar (3X). Bismillahi la haula walaa quwwata illa billahil aliyyil adzim”. Sambil membaca doa itu dan menyiram kerbau dengan air kembang tujuh rupa, tangannya bergerak tangkas menggorok leher kerbau. Singkat saja dan kerbau sudah tak bernyawa.

Setelah kerbau dipotong langsung dibawa ke tempat untuk menguliti. Nyeset atau menguliti kerbau jangan sampai kulitnya tergores sampai bolong. Itu tandanya kurang mahir. Sebab kulit yang utuh, jika dijual kemungkinan harganya jauh lebih mahal ketimbang yang sobek. Setelah nyeset selesai, kerbau bedah dan masing-masing bagian tubuhnya dipisahkan sesuai jenis. Daging dikumpulkan dengan daging. Isi perut dikumpulkan sesamanya. Tulang-belulang pun dikumpulkan menjadi satu.

Seluruh daging, isi perut, tulang-belulang, dan kulit dipecah atau dibagi sama beratnya menjadi 20 tanding. Karena satu kerbau umumnya untuk 20 peserta andilan. Sementara kepala dan kaki biasanya menjadi jatah tukang potong. Tukang piara akan memperoleh daging yang terdapat di leher, kulit dan tulang kaki. Tapi jika tukang potong dan tukang piara sudah menerima upah berupa uang, maka tak lagi memperoleh pembagian daging.

Andilan hingga kini masih efektif, meski hanya di kampung-kampung tertentu, kampung yang penduduk Betawi masih besar dominan. Bahkan andilan menginspirasi masyarakat untuk menyelenggarakan ariasan kebutuhan lebaran, seperti kue, beras, dan lain sebagainya. Memang, andilan menumbuhkan sifat dan sikap positif bagi masyarakat Betawi. Ia terbukti mempererat tali silaturrahmi antar warga, memperkuat persaudaraan, dan member kemudahan kepada warga.

Redaksi kampungbetawi,

Yahya Andi Saputra

Email : Yahya.2003@yahoo.com

 

 

 Anugerah Betawi

BETAWI 100 PERSEN

BETAWI DAN PROKLAMASI

BULAN BETAWI ?

LEBARAN BETAWI

MENJADI JURNAL ILMIAH

 HAJI BETAWI

Anugerah Betawi

 

 

 

 

Comments are closed.