PELANTIKAN BADAN PENGURUS LEMBAGA KEBUDAYAAN BETAWI TAHUN 2015 – 2018

Foto Bersama sesaat setelah pelantikan

Foto Bersama sesaat setelah pelantikan

Ketua Badan Pendiri LKB Babe  H. Efendy Yusuf SH melantik Badan Pengurus Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) Periode 2015-2018.

Dalam sambutannya Babe H. Efendy Yusuf  mengatakan, budaya adalah sesuatu yang dinamis, menjadi bagian dalam kehidupan suatu masyarakat, termasuk masyarakat Betawi dan Jakarta umumnya.

“Karena itu dalam pelestarian dan pengembangan budaya Betawi tidak boleh terhenti”, kata Efendi usai melakukan Pelantikan Badan Pengurus Lembaga Kebudayaan Betawi Masa Bakti 2015-2018 di Gd Nyi Ageng Serang, Jakarta, Sabtu (14/03).

Efendi menuturkan, waktu 39 tahun bagi organisasi termasuk LKB, untuk berkiprah, memang masih terlalu sedikit, untuk itu LKB diminta terus berbuat bagi pelestarian budaya Betawi.

“39 tahun memang masih terlalu muda, namun harus tetap bisa memberi pengaruh besar dalam membangun budaya Betawi yang egaliter, toleran dan agamais. Membangun budaya itu membangun sebagian bangsa”, jelas Efendy.

Dewan Kurator LKB, Mayjen. (Purn) H. Nachrowi Ramli menambahkan, LKB harus pro aktif dalam melestarikan dan mengembangkan budaya Betawi.

“Manfaatkan teknologi semaksimal mungkin. Untuk itu, orang Betawi harus luas cakrawalanya, dapat berjalan sesuai perkembangan teknologi dan budaya lain. Namun jangan apriori, harus dapat menyerap yang baik-baik, karena Betawi itu budaya besar, yang juga terbingkai dlan NKRI”, paparnya.

“Semoga saudara dapat melaksanakan tugas dalam pelestarian, pemeliharaan, dan pengembangan kebudayaan Betawi”, pungkas Efendy.

“Mewujudkan karakter Jakarta yang berbudaya menjadi misi utama lembaga kebudayaan betawi (LKB-). Dengan berbudaya mereka akan punya sikap toleran, moderat  dan mampu menumbuhkan rasa saling pengertian, hingga Jakarta menjadi kota yang teduh, damai dan aman “.Demikian diungkapkan ketua umum LKB, Bang H. Tatang Hidayat saat pelantikan badan pengurus lembaga kebudayaan betawi masa bakti 2015-2018, Sabtu (14/3).

“Pendekatan budaya menjadi landasan dalam membangun Jakarta demi mewujudkan karakter Jakarta yang berbudaya, baik warganya, pemerintah daerah dan lainnya. Dengan berbudaya mereka akan punya sikap toleran, moderat  dan mampu menumbuhkan rasa saling pengertian, hingga Jakarta menjadi kota yang teduh, damai dan aman untuk dimasuki siapapun,” ujar Bang H. Tatang.

Menurut mantan komandan nasional Banser NU ini, tanggung jawab LKB, yakni pelestarian, pembinaan dan pemanfaatan. Pemanfaatan di sini dalam arti semua pelaku seni bisa diberdayakan dengan berbagai kreativitasnya.

Sementara itu, Bang H. Ahmad Syarofi, sekretaris umum LKB mengatakan semua gubernur yang memimpin Jakarta, sudah seharusnya memperhatikan budaya Betawi.

Pertama, karena budaya itu merupakan kebudayaan inti kota Jakarta. Kedua, sesuai dengan amanat dengan UU nomor 29 tahun 2007 tentang ibukota dimana Pemprov DKI memiliki kewajiban untuk pelestarian dan pengembangan budaya Betawi sebagaimana budaya nusantara lainnya. Kemudian, kebudayaan Betawi merupakan bukti kebhinekaan Indonesia.

“Karena negara ini dibangun atas etnis-etnis yang ada seperti wong Java, wong Celebes, wong Ambon. Jadi, kalo betawi dihilangkan bubar negara,” ujarnya.

Bang H. Ahmad Syarofi juga mengungkapkan program prioritas diperiode ini antara lain melakukan pemberdayaan sanggar-sanggar dan komunikasi budaya lintas etnik.

“Diplomasi budaya jadi sarana yang baik untuk mencairkan kebuntuan komunikasi politik. Kebudayaan berperan aktif dalam menciptakan harmoni ditengah-tengah masyarakat,”bebernya .

Hadir dalam acara tersebut tokoh-tokoh senior Betawi antara lain Babe H. Effendi Yusuf, Babe H. Edi M Nalapraya, Babe H. Husin Sani, Babe H.  Rusdi Saleh, Babe H. Nachrowi Ramli, Babe H. Irwan Sjafi’i, Kemudian Kadis pariwisata, Purba Hutapea, kepala badan Kesbangpol DKI, Ratiyono, kadis pendidikan Arie Budiman.

(The Author)

View all articles by
Social Links: →

Leave a Comment