NGERAHUL : RUANG PUBLIK BETAWI?

YAS.BEK1

Oleh  Yahya Andi Saputra

Pembuka

Ingin saya mulai menulis artikel ini dengan mengutip sebuah cerita ringan yang saya dapat dari sebuah milis. Sebab cerita-cerita ringan seperti ini kerap kali muncul di tengah-tengah masyarakat, saat mereka asik bercengkrama di berbagai kesempatan di ruang publik. Begini ceritanya.

Seorang laki-laki pergi ke pasar burung untuk membeli seekor burung kakatua. Tukang burung menunjukkan tiga ekor burung kakatua yang sedang bertengger berjejer di sangkarnya. “Burung yang paling kiri harganya dua juta.”

“Walah, mengapa mahal betul ?” Sang lelaki kaget mendengar harga yang disebutkan.

“Iye dong, burung ini pinter banget, bukan cuman bisa ngomong tapi juga ngarti komputer.” Jawab tukang burung.

Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala dan bertanya harga burung yang lain.

“Nyang itu, lebih mahal lagi, hargenye empat juta, sebab dia lebih pinter lagi, bisa segalanya, die penter ngomong dalam semua bahasa, die juga pinter main sinetron dan ngarti segala macam sistim komputer.”

Lelaki itu tambah menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nah kalau yang satu lagi berapa duit?” Sambil menunjuk ke arah burung kakatua ketiga yang kelihatannya sedang terkantuk-kantuk kekenyangan merem-melek .

“Kalau nyang itu delapan juta aje, De!” Jawab tukang burung

“Walah! Mahalnya kebangetan. Emangnye kelebihannye apa?” Tanya si lelaki.

“Terus terang aje, De, saya nggak pernah lihat kelebihannye, tapi burung kakatua yang lainnye panggil dia, boss!”

Berbagai cara dilakukan orang untuk ‘membunuh’ rasa jenuh, rasa lelah, stress setelah seharian mengenban tugas rutin yang seolah tak pernah ada ujungnya. Maka ketika ada waktu luang, mereka berkumpul atau setelah pulang kerja mereka bersama ngobrol ngalor-ngidul sekadar membuang kejenuhan rutinitas. Secara tradisional, ruang-ruang seperti itu sudah ada, sudah menjadi kebiasaan.

Dalam masyarakat Betawi, misalnya, kegiatan membuang kejenuhan rutinitas dinamakan ngerahul. Ngerahul biasanya dilakukan di pos kamling atau warung-warung kopi. Di tempat inilah mereka menghilangkan kejenuhan. Setelah saling bercerita ringan, lucu, dan terkadang memaki keadaan, mereka pulang dengan rasa plong. Beban di pundak yang menggelayut seolah runtuh berhamburan tertinggal di pos kamling atau warung kopi. Tentu kumpulan lelaki pos kamling atau warung kopi itu dapat dikatakan sebuah entitas, yaitu entitas kaum ngerahul. Maka pertanyaannya, apakah selain ngerahul, entitas lelaki pos kamling ini memiliki topik-topik pembahasan terkini, terkait dengan kondisi sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya dalam rangka merespons rumor negara yang bangkrut? Agaknya tidak, lantaran kebutuhan lelaki pos kamling sebatas santai belaka.

Jika demikian, ruang publik yang disebut pos kamling dan warung kopi, hanya bermakna  secara harfiah, yaitu ruang publik biasa tempat bertemu yang tidak memiliki perspektif pendobrakan. Ia sama saja dengan taman terbuka hijau, aula masjid, terminal, ruang tunggu di bandara, lapangan bermain, dan sebagainya, yang difungsikan secara sadar oleh pemerintah untuk keperluan warganya yang membutuhkan ruang bersantai. Meski ruang public ini memungkinkan atau mengharuskan tatap muka, namun tidak menghasilkan apa-apa. Tentu ini berbeda dengan ruang publik yang diinginkan oleh Jurgen Habermas (JH).

JH amat mendambakan terciptanya sebuah public sphere (ruang publik), tempat silaturrahim dilakukan dalam wilayah sosial yang bebas dari sensor dan dominasi. Semua warga masyarakat pada prinsipnya boleh memasuki dunia macam itu. Ruang publik atau public sphere ini merujuk pada seluruh realitas kehidupan sosial yang memungkinkan masyarakat bertukar pikiran, berdiskusi serta membangun opini publik secara bersama. Ruang ini bukan sekadar tempat tatap muka, namun menjadi sarana yang memungkinkan publik dapat menyalurkan opini atau pendapatnya secara bebas tanpa  tekanan dari mana pun, termasuk negara.

JANUARI-3 005Public Sphere

JH menegaskan bahwa ruang publik memberikan peran yang penting dalam proses demokrasi. Ruang publik merupakan ruang demokratis atau wahana diskursus masyarakat untuk dengan lantang menyatakan opini-opini, kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan mereka secara diskursif. Ruang publik harus bersifat otonom, tanpa intervensi dari pemerintah. Ruang publik merupakan sarana warga berkomunikasi, berdiskusi, berargumen, dan menyatakan sikap terhadap problematika politik. Ruang publik tidak hanya sebagai institusi atau organisasi yang legal, melainkan adalah komunikasi antar warga itu sendiri.

Berangkat dari pendapat JH di atas, saya ingin melihat satu kegiatan masyarakat, yang mungkin dapat dimasukan ke dalam public sphere sesuai rumusan JH. Kegiatan itu adalah Kenduri Cinta.

Kenduri Cinta (KC) hanyalah salah satu gerakan pengajian interaktif. Awalnya adalah pengajian Padhang Bulan di Jombang, Jawa Timur. Lalu pengajian serupa digelar diberbagai kota disesuaikan dengan ‘muatan lokal’ setempat, antara lain: Jombang (Padhang Mbulan), Surabaya (BangBang Wetan), Semarang (Gambang Syafaat), Jogjakarta (Mocopat Syafaat), Malang (Obor Ilahi) dan Makassar (Paparandang Ate). Pengajian yang di Jakarta diberi nama KC.

Menurut salah seorang aktivisnya, Uki Bayu Sejati (saya ngobrol dengan Uki Bayu Sejati, 15 Desember 2012. Selanjutnya penjelasan tentang Kenduri Cinta didasarkan atas hasil obrolan ini), kata kenduri arti harfiahnya perjamuan makan untuk memperingati peristiwa atau meminta berkat. Namun kata kenduri dalam KC tidak diartikan secara harfiah, tapi secara kias, yaitu laboratorium. Digabungkan dengan kata cinta, maka dimaknai sebagai laboratorium penuh cinta, arena tempat menumpahtuangkan rasa cinta terhadap segala hal yang patut memperoleh cinta dan kecintaan dari tiap individu.

Penggagas dan aktor utama KC adalah Emha Ainun Nadjib (Cak Nun).  Sejak awal KC digelar tiap hari Jumat,  minggu kedua, tiap bulan. Pernah tidak mempunyai tempat dan berpindah-pindah, akhirnya pengelola Taman Ismail Marzuki (TIM), memberikan izin kepada KC untuk melaksanakan kegiatannya di tempat parkir halaman depan TIM. Maka tiap hari Jumat, minggu kedua, sudah secara rutin KC menggelar pengajian yang berdurasi sekitar tujuh jam tanpa jeda.  Jamaah berdatangan dari segala penjuru, tidak terkecuali para pecinta Cak Nun dari berbagai daerah.

Maka KC yang didanai secara sukarela dan atas sumbangan jamaah, kian mendapat tempat di hati penggiat dan pencari ilmu yang mencerahkan. Kemudian tanpa diundang, tokoh nasional dan pakar dari berbagai didiplin ilmu dan latar belakang sosial, paham politik, budaya, etnik, agama, dan sebagainya, dengan rela hati datang menghangatkan dikusi. Begitu pula dengan seniman dan selebritis lokal dan nasional tidak segan bergabung meramaikan acara dengan kemampuannya masing-masing. Tentu tanpa mendapatkan honorarium.

Dalam salah satu kesempatan, Cak Nun mengungkap di tengah jamaah KC, bahwa KC ini adalah salah satu laboratorium bahwa Indonesia tetap Indonesia dan kita akan terus menjadi Indonesia! Anda semua ini yang akan mengurusi Indonesia, Andalah pemilik masa depan Indonesia. Anda ke sini saja sudah menunjukkan bahwa tidak ada yang mampu membunuh Indonesia. Kita adalah salik, pelaku hidup dengan keberanian yang luas biasa. Dan seluruh informasi yang Anda dapatkan dari sini, tak perlu Anda langsung proses semuanya. Masukkan saja secara acak; nanti akan punya metabolisme sendiri sehingga muncul bahwa Anda adalah orang yang teguh. Pelaku KC bukanlah para pengurusnya saja; melainkan semua orang yang menerapkannya dalam bentuk apa saja. Cara berpikirnya ruhiah dan kualitatif; walaupun dalam pengertian dan batasan tertentu diperlukan juga cara berpikir kuantitatif.

KC memberikan suasana iklim yang sehat. Panggung dalam forum KC bukan suatu pementasan tetapi suatu gerak bersama sehingga pada akhirnya tdak ada penonton dan yang ditonton, bukan wadah show of force perorangan atau golongan, melainkan sebuah forum yang mengedepankan interaksi dan komunikasi yang jernih, pikiran obyektif dan hati nurani yang diliputi kasih.

Cak Nun menamakan juga kegiatannya dengan maiyah. Maiyah artinya kebersamaan. Ia ingin menciptakan manusia maiyah, yaitu manusia masa depan yang secara sadar dan berkonsep merealisasikan hidup lebih baik atas nama cinta.

Menjelang digelarnya KC, 30 Agustus 2012, diedarkan selebaran berjudul “Manusia Maiyah = Manusia Masa Depan”.  Dalam selebaran itu dibeberkan bahwa, dahulu acara televisi hanya kenal dengan sinetron dan telenovela. Konsep melingkar dan egaliter tidak pernah dikenal dalam pertunjukan apapun dalam acara-acara televisi kita lebih dari satu dasawarsa. Dan baru akhir-akhir ini saja konsep tersebut diadopsi oleh industri. Bagi jamaah maiyah, tidak kaget dan terkagum-kagum melihat acara TV seperti Kick Andy, Indonesia Lawyer Club, Diskusi Metro TV, Opera Van Java (OVJ), Siraman Rohani, Indonesia Damai, dan lain sebagainya.

Maiyah adalah konsep masa depan yang tidak mungkin lahir oleh fenomena industri kapitalistik seperti saat ini. Industri saat ini telah dengan sukses menyelenggarakan dehumanisasi, kemunduran moral.

Dalam maiyah, ditanamkan nilai-nilai kesejatian hidup yang diselilingi dengan guyonan-guyonan segar. Semua lapisan masyarakat duduk melingkar bersama tidak ada rendah tidak ada tinggi, berdempet-dempetan dengan kondisi yang tidak cukup baik namun anehnya mampu duduk bertahan dari jam 8 malam sampai jam 4 pagi. Entah energi apa yang membuat para hadirin betah?

Pencarian mereka akan kesejatian hidup, spiritual, ketulusan persaudaraan, kenikmatan berjuang, suasana yang egaliter, cair, penuh canda, dan kecintaan kepada Allah dan Rasullah merupakan magnet yang membuat mereka betah duduk berjam-jam. Yang mereka tidak mendapatkannya di acara yang lain.

Dalam maiyah segala ilmu, wisdom, dengan tema tema politik, sosial, budaya, agama dibahas dengan lugas dan memberikan pencerahan. Tidak seperti yang sekarang ini, hanya melulu diisi oleh khotbah surga dan neraka. Sehingga doktrinasi oleh para ulama itu membuat kehampaan spiritual bagi para umat untuk berpaling kepada alternatif lain untuk mendapatkan jawaban yang solutif atas permasalahan-permasalahan hidup mereka. Maiyah tidak ada doktrinisasi, yang ada adalah bersama-sama berendah hati untuk menguak rahasia langit untuk dijadikan ilmu bersama. Sehingga struktur mental dan fungsi-fungsi otak yang dahulu mampet oleh informasi teknologi, pendidikan, politik, korupsi, kecurangan-kecurangan perlahan-lahan menemukan keseimbangan sesuai dengan konsep khalifah seperti yang dimandatkan Tuhan.

Jamaah Maiyah terlebih dahulu mengenal, bersabahat dan bersaudara. Ketika mata Indonesia terbelalak dan terkagum-kagum, sesungguhnya itu juga adalah bagian dari masa depan manusia maiyah untuk menjadi manusia masa depan Indonesia.

KC terus menggeliat dan bergelinjang. Topik bahasannya kian menarik dan menukik. Sebut saja misalnya beberapa topik yang diangkat pada tahun 2012, antara lain : “Sumuk” (13 April 2012), “Menghisab Tuhan” (11 Mei 2012), “Melukis Masa Dean” (8 Juni 2012), “Mendirikan Indonesia” (13 juli 2012), “Puasa Pause?” (10 Agustus 2012), “Peradaban Akuwarium” (14 September 2012), “Indonesia Pulanglah” (12 Oktober 2012), “Bangsa Pemuja Ampas” (9 November 2012), “Kiyamu Lali…” (14 Desember 2012).

Konsistensi dan kontinuitas KC melahirkan Komunitas Kenduri Cinta yang dibentuk tahun 2000. Komunitas ini adalah jamaah fanatik KC dari berbagai daerah. Komunitas KC merupakan wadah silaturahmi yang tidak hanya berisikan kesenian namun juga mengedepankan pencerahan pada segi pendidikan politik, kebudayaan dan kemanusiaan yang multikultur. Gerakan Cinta dalam forum Maiyah KC menjembatani kebaikan antar manusia, kemesraan dan cinta kasih agar nila-nilai cinta yang hakiki tidak diabaikan apalagi ditinggalkan. Maka jika ada maiyah digelar, komunitas ini berjibaku memburu tempat it, meski jaraknya jauh atau diselengarakan di daerah lain.

Penutup

JH dengan konsep public sphere atau ruang publiknya, menginginkan terciptanya ruang diskursif yang memungkinkan individu dan kelompoknya mendiskusikan masalah bersama untuk mencapai kesepakatan. Di dalamnya ada rasio dan rasionalitas yang menopang segala pendapat dan argument. Rasio merupakan alat ampuh melawan adanya perbedaan kelas social dan ketimpangan dalam kehidupan social. Pentingnya rasio, karena dalam diskusi yang rasional, tidak melibatkan urusan-urusan pribadi, diskusi untuk kepentingan bersama.

KC dalam pandangan saya, jelas tidak dibuat untuk kepentingan pribadi. Diskusi dibuka dan kepada siapa saja yang ada di ruang KC, bebas berpendapat dan berargumen atas topik yang dibicarakan. Silaturrahim dan tatap muka menjadi pemandangan yang kentel. KC bukan forum yang memutuskan sesuatu, melainkan forum untuk membuka wacana dan sudut pandang sehingga kita terus mendapat ilmu baru.

KC yang diadakan dalam arena terbuka dan dihadiri oleh beragam tipe jamaah serta dalam rentang waktu berbeda (ada yang ikut setahun, dua tahun, atau tiga tahun tapi nyicil tiga bulan sekali, dan ada pula yang sekadar numpang lewat). KC juga memilih untuk tidak melakukan publikasi yang lebih luas dari yang biasanya dilakukan dalam bentuk baliho dan pemberitahuan melalui media-media sosial. Karena tingkat kesuksesan acara ditandai dengan semakin sedikit publikasi tapi banyak yang datang.

Dengan adanya forum KC ini masyarakat bisa menyerap hal-hal yang tak terpikir. Sepulang dari KC diharapkan mereka menjadi pendekar-pendekar di masyarakat, di tempat kerja, dan di lingkaran manapun mereka terlibat. Sebagai feedback atas itu, KC mempersilahkan masyarakat semua untuk urun rembug karena nanti kita akan berubah format lagi.

Untuk memperjelas apakah KC relevan dengan konsep public sphere yang digelontorkan JH, makalah ini dilengkapi dengan sebuah lampiran laporan pandangan mata aktivitas KC beberapa waktu lalu.

Lalu apakah ngerahul dapat dikatakan penciptaan public spheresebagaimana digagas JH? Agaknya sangat diragukan. Ngerahul hanya sebatas kongko tanpa memiliki topik bahasan tententu, sehingga sulit memiliki dampak lahirnya pemikiran positif. Bahwa ngerahul dapat meregangkan ketegangan syaraf setelah seharian membanting tulang, itulah mungkin tujuannya

Referensi

Hebermans, Jurgen, Ruang Publik Sebuah Kajian Tentang Kategori Masyarakat Borjuis (terjemahan dari The Structural Transformation of the Public Sphere : An Inquiry into a Category of Bourgeois Society, 1989). Yogyakarta : Kreasi Wacana, 2007.

 

(The Author)

View all articles by
Social Links: →

Leave a Comment