LAUT DALAM EKSPRESI SASTRA BETAWI

MEI-3 064

Oleh Yahya Andi Saputra (Wakil Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi)

 

Mukaddimah

Pada era globalisasi, segala bentuk informasi dari luar bagai tidak terbendung.  Berbagai perkembangan dunia dapat diakses dengan mudahnya.  Demikian juga perkembangan sastra yang sedang ngetrend ikut mewarnai minat masyarakat Indonesia khususnya di kalangan generasi muda.

Masuknya berbagai jenis sastra dunia, di satu sisi dapat bernilai positif karena dapat menjadi motivator maupun inspirator bagi pesastra Indonesia untuk lebih kreatif berkarya. Namun dapat juga menjadi bumerang yang dapat menggusur dan melindas khasanah sastra dan budaya lokal yang seharusnya dipertahankan dan dilestarikan.

Sastra lokal yang seharusnya dikenal, disenangi, dan dikembangkan menjadi barang langka dan aneh di mata masyarakatnya.  Mereka lebih familiar dengan budaya modern tinimbang dengan milik leluhurnya. Tentu mereka tidak dapat disalahkan sepenuhnya karena pada kenyataannya memang belum ada lembaga yang serius menangani pensosialisasian sastra budaya lokal, khususnya sastra Betawi.

Memang tidak dapat disangkal bahwa keberadaan budaya global dari satu sisi dapat dijadikan sebagai materi pengayaan sastra lokal tanpa harus mengesampingkan nilai atau pakem budaya lokal itu sendiri.  Upaya untuk menciptakan harmonisasi di antara budaya-budaya yang ada menjadi suatu hal yang patut dipikirkan bersama.

Untuk sampai pada taraf itu rasanya masih harus melalui berbagai tahapan. Generasi muda harus terlebih dahulu tahu dan faham apa yang dimaksud dengan sastra Betawi yang sebenarnya memiliki keunikan dan keindahan.  Setelah itu barulah akan timbul rasa memiliki dan menyukainya.

Air atau laut pada khususnya, menjadi salah satu pilihan tema bagi sastrawan Betawi untuk mengekspresikan etika dan estetikanya. Kita ketahui, misalnya sastrawan klasik Betawi (sebelum ada percetakan, yang tidak menyebutkan nama dalam karya-karyanya) banyak mengkisahkan kehidupan kelautan. Syair-syair lagu gambang kromong, baik lagu dalem maupun lagu sayur, banyak mengkisahkan kehidupan atau simbolisasi laut.

Rancag, salah satu seni pertunjukan Betawi, memiliki lakon yang menceritakan kelautan. Misalnya Rancag Kampoeng Kleboe, Rancag Si Angkri Djago Pasar Ikan, Rancag Orang Derep Keleboe, dan lain sebagainya. Syair-syair lagu gambang kromong pun tidak sedikit mengambil laut sebagai salah satu penceritaannya. Dapat dilihat misalnya pada lagu : Kramat Karem, Gambang Semarang, Tandjoeng Boeroeng, dan sebagainya.

Folklore atau cerita rakyat Betawi, tidak kurang menceritakan perihal kelautan. Kita temi misalnya pada cerita : Buaya Buntung, Hikayat Si Entong, Mirah Singa Betina dari Marunda, Ariah atau Si Manis Jembatan Ancol, Pancoran pangeran, dan sebagainya.

Muhammad Bakir, seorang sastrawan Betawi asal kampung Pecenongan, mulai menlis atau menyalin karya-karya sastra klasik pada sekitar tahun 1870-an.  Pada hampir sebagian besar karyanya mengambil lautan sebagai latar belakang penceritaannya. Dapat diketahui dari kisah antara lain : Hikayat Nakhoda Asyik, Merpati Mas dan Merpati Perak, Seribu Dongeng, Hikayat Sultan Taburat, dan sebagainya.

Ketika mesin percetakan sudah menjadi alat yang lumrah digunakan, banyak sastrawan yang mencetak dan menerbitkan karyanya, meski belum dicantumkan namanya. Karya yang berkaitan dengan laut, misalnya dapat dibaca dalam karya berjudul Sair Kapal Roesak.

Namun pada kenyataannya, jangankan generasi muda dan masyarakat pada umumnya, para praktisi atau seniman Betawi sendiri pun kadang kurang memahaminya. Mungkin hanya sebagian sangat kecil saja masyarakat yang dapat mengetahui keberadaan sastra Betawi. Sehubungan dengan fenomena di atas, saya merasa terpanggil untuk ikut berpartisipasi memperkenalkan, mengembangkan, dan melestarikan sastra Betawi, khususnya sastra Betawi yang berkaitan dengan kehidupan kelautan. Berikut beberapa teks perihal laut yang dimaksud.

 

Sair Kapal Roesak

Syair ini tidak diketahui siapa yang menulisnya atau NN (Tertjitak dan terdjoeal oleh: Boekhandel & Loten-Debitan Kwee Seng Tjoan, Batavia, tanpa tahun. Laut dijadikan sebagai latar belakang kisahan syair atau pantun. Laut dijadikan sebagai simbol muncul dan merebaknya cinta kasih antara laki-laki dan perempuan.

Plesiran di kapal roesak hari Minggoe
Dengen menjanji roepa-roepa lagoe
Di pinggir laoet si nona menoenggoe
Dapet kesenangan tida terganggoe
 
Kapal roesak tempatnja sepi
Banjak toemboe poehoen api-api
Ada jang pake pet dan pake topi
Serta dandanannja sanget rapi
 
Kapal roesak tempatnja sepi
Banjak toemboe poehoen api-api
Ada jang pake pet dan pake topi
Serta dandanannja sanget rapi
 
Kapal roesak tempatnja tedoe
Sambil menjanji dengan merdoe
Pipi dan idoeng sampe bertemoe
Dirasa manis seperti madoe
 
Kapal roesak tempatnja dingin
Banjak jang dateng mentjari angin
Boeat dapetken apa jang diingin
Laen tempat tida bisa saingin
 
Di pinggir laloet doedoek berbaris
Peti renggang saja rapetin
Djika meliat si badjoe parijs
Rasanja hati pengen dapetin
 
Bli kole di Moeara Doewa
Makan siri memake pinang
Kaloe bole doedoek berdoewa
Soepaja diri mendjadi senang
 
Doedoek di pasir meliat pemandangan
Iseng-iseng batja boekoe tjerita
Ada jang plesir sama toendangan
Di sana marika bertjinta-tjinta
 
Tjinta ada sanget berpengaroe
Sebagi iblis dateng menjeroe
Tida inget perboeatan kliroe
Kelakoean djelek djangan ditiroe
 
Djait kaen depan pelita
Lagi mendjait djaroemnja pata
Djangan memaen sama tjinta
Meloekain hati sebagi sendjata
 
Tjinta itoe dikata boeta
Hingga tida menoeroet prenta
Haroes diinget ini pepata
Djangan sampe melanggar prenta
 
Tjinta itoe sanget getas
Bole dioempamaken sebagi kertas
Sedeng anget moemboel ke atas
Sorga dan noraka ia melintas
 
Gebiar-gebioer ombak berboenji
Seperti gadis lagi bertjanda
Doedoek di pangkoean sambil menjanji
Djantoeng hati jang masi moeda
 
Kapal roesak liwat djembatan poeter
Liwatin djoega djembatan gantoeng
Si nona djalan saja jang anter
Kita berdoewa merasa broentoeng
 
Di depan boom ketjil banjak praoe
Praoe ikan memake kemoedi
Di sini toeroet di sana maoe
Segala perkara tentoe mendjadi
 
Sampe di sana liwatin bentengan
Di pintoe aer ketemoe djembatan
Mari nona kita bergandengan
Djangan perdoeli diboeat seboetan
 
Bli kawat dari gang kentjil
Berasa tjape orang masak
Soeda liwat djembatan ketjil
Baroe sampe di kapal roesak
 
Toekang ikan memasang sero
Sero berdiri di tiang bamboe
Tjinta saja dimana taro
Diri nona soeda bertemoe
 
Toekang ikan orang Japan
Ada orang dari Farmosa
Kasi saja sedikit harepan
Soepaja hati tida bersoesa
 
Ada djoega si toekang poekat
Dapet kemboeng teroes di lelang
Kaloe nona soeda moefakat
Bole saja mengadjak poelang
 
Nona doedoek di atas pasir
Saja reba di mana tjabang
Kita berdoewa sedeng plesir
Seperti ombak dengen gloembang
 
Praoe derep blajar ka tjabang
Hendak pergi memotong padi
Tida terasa mendjadi bimbang
Saban pagi merasa sedi
 
Banjak praoe di Pasar ikan
Praoe blajar ka tenga laoetan
Djangan menampik berkata soengkan
Bikin hati kalangkaboetan
 
Di kapal roesak banjak binatoe
Adanja di lobang batoe
Djangan nona kata begitoe
Diri nonalah blon tentoe

Sair Tamsil Ikan di Laut

Penulisnya M. Sihabuddin Alwi dari kampung Pekojan Betawi tengah (Betawi Stad, Pekodjan). Laut sebagai latar belakang kisahan syair atau pantun. Laut dan kehidupan di dalamnya menjadi sumber uraian nasehat. Berbagai ikan yang hidup di laut menjadi tokoh yang dapat berbicata memberi nasihat kepada manusia.

Sair tamsil ikan dinamakannya
Laut sungai kumpul semuanya
Bersual jawab tanya menanya
Insya Allah asik mudah difahamkannya
 
Bersual jawab ilmu kebajikan
Tauhid fikih perangai kebajikan
Banyak nasihat juga disebutkan
Pepatah yang bagus banyak diadakan
 
Saudara-saudara yang sudah berkenalan
Pada bintang tersilan dan terbit bulan
Serta gerhana satu kumpulan
Tamsil ikan jangan ketinggalan
 
Sair tamsil ikan di laut
Ikan bersual sambut menyambut
Masalah tauhid fikih mengikut
Beberapa nasehat juga terkandut
 
Bukan sungguhnya ikan berkata
Cuma misal buat pepata
Saya terangkan ini cerita
Jangan dikata saya berjusta
 
Sual dan jawab tanya menanya
Bermacam ikan ada di dalamnya
Insya Allah asik bagi pembacanya
Bertambah asik yang mendengarnya
 
Harap yang baca dengan lagunya
Dengan lagu enak suaranya
Serta berkumpul sanak kawannya
Yang dengar cuma pasang kupingnya
 
Harap yang baca sambil artikan
Kepada yang dengar dia suarakan
Tiap-tiap masalah diulang-ulangkan
Supaja terang dapat pahamkan
 
Terang yang dengar dapat pahamnya
Ilmu fikih apa yang disebutnya
Beserta mengenal sifat Tuhannya
Dengan mengenal sifat rosulnya
 
Harap yang baca jangan terburu
Makhraj hurufnya jangan tersaru
Takut baru disebut biru
Takut nanti paham keliru
 
Bermula disebut si ikan kakap
Di hadapan majlis terlalu cakap
Rupa laksana macan menangkap
Di hadapan ikan terlalu sikap
 
Sekalian ikan ramai berhimpun
Mengadap kakap duduk berampun
Ikan sepat datang memohun ampun
Madanya halus beruntun-runtun
 
Sepat bermada berperi-peri
Mrngadap mereka sambil berdiri
Ayu hai sekalian sudara bestari
Apa bicara kepada diri
 
Ikan gurame permisi cerita
Cubalah timbang pikiran beta
Hendak berdagang kelontongan cita
Jika untung banyaklah harta
 

(The Author)

View all articles by
Social Links: →

Leave a Comment