LAUT DALAM EKSPRESI SASTRA BETAWI ( 2 )

MEI-3 063

Ariah

Ariah, Cerita Rakyat Betawi, hal. 120 (Dinas Kebudayaan dan Permseuman  Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, 2004). Latar belakang laut menggambarkan kesederhanaan Aria. Ariah manusia pantai yang akrab dengan laut, meski hidupnya berakhir tragis.

Ariah berjalan menuju  Ancol dengan langkah yang enteng. Ia melihat-lihat pekerja yang sedang membuat jalan kereta api. Langkah dilanjutkan menuju utara. Setibanya di sebuah tempat yang bernama Bendungan Melayu, Aria membuka timbelnya. Ia makan dengan lahap. Aria duduk termangu sambil merapihkan bekas makannya. Dari kejauhan ia mulai mendengar debur ombak. Hari telah sore.

Ariah bangkit melanjutkan perjalanannya. Bendungan Melayu ditinggalkannya. Ia tiba di Ancol. Hari semakin gelap. Laut terhampar di hadapannya. Ia tak ingin kembali pulang, tapi juga tak tahu kemana lagi harus melangkah. Angan-angannya berlayar, tapi kemana?

“Hey, anak perawan dari mane lu?”

Tiba-tiba dari sela-sela pokok kayu muncul dua sosok laki-laki berbaju hitam-hitam. Ariah terdiam.

“Ikut gua, lu”

Seorang yang tubuhnya kekar menggamit tangan Ariah.

“Saya mau dibawa kemana, Bang?”

Ariah berusaha mengelak.

“Ah diem,lu. Pendeknya lu bakal idup enak di Bintang Mas”

Yang seorang lagi  berkata sambil mengibas-ngibas goloknya.

“Kagak mau, kagak mau”

Ariah meronta-ronta.

“Banyak omong lu, dasar orang miskin, mau dikasi senang lu kagak mau.”

Tubuh Ariah di hempaskan ke tanah.

“Abisin aja, Bang, ni bocah”

Dan dua sabetan golok mengakhiri hidup Ariah.

Kedua laki-laki itu yang ternyata Pi’un dan Sura  setelah membunuh Ariah menggotong jenasah Ariah ke pinggir laut. Jenasah gadis malang itu dilemparkannya.

Kematian Ariah memang akhirnya menjadi dongeng. Banyak orang Betawi pesisir yakin bahwa Ariah,  yang diberi nama julukan  si Manis,  itu menjadi penguasa laut Utara. Dan banyak orang Betawi pesisir yang tidak menyebut nama aslinya, melainkan si Manis saja. Diyakini si Manis mempunyai pengawal yang gagah berani. Pengawal itu adalah makhluk dari alam lain. Mereka adalah si Kondor, si Gempor, si Gagu, dan Tuan Item, yaitu siluman monyet.

 

Si Bener

Dikutip dari buku Cerita Rakyat Betawi, hal. 10-13 (Dinas Kebudayaan dan Permseuman  Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, 2004). Lautmenjadi sumber mata pencaharian. Laut pula dijadikan sebagai simbol kesabaran mencari rejeki. Kehidupan laut yang tidak teruga, memberikan pengharapan kepada manusia.

Tersebutlah seorang laki-laki, Si Bener namanya.  Tiada lain kerja Si Bener hanyalah pengail. Setiap hari ia mengail di laut. Mata kailnya jarum, sedang umpannya bekatul. Karena itu ia tak pernah berhasil mendapatkan ikan. Malah ikan-ikan di laut menjadi kian banyak, sebab setiap hari memakan bekatul umpan kail Si Bener.

Raja ikan di dasar lautan mengetahui itu. Maka sang raja mengumpulkan seluruh rakyatnya. Kepada para ikan raja berkata, “Hai rakyatku, kita harus menyayangi Si Bener, sebab setiap hari kita diberinya makan”.

“Akur…” seru ikan-ikan.

“Hai raja”, ujar cucut, “Umurku sudah amat tua. Tak guna lagi hidup. Akuingin membuktikan nyawaku kepada Si Bener”.

“Bagus jika begitu”, sahut raja. “Ini telahlah”. Raja ikan memerikan intan sebesar kepala.

Cucu menelan intan itu lalu berenang ke pantai. Kail Si Bener yang terapung-apung digigit oleh ccut. Tentu saja Si Bener terkejut, bertahn-tahun baru kali ini kailnya mengena.  Makin terkejut karena melihat cucut yang amat besarnya. Senang bukan main.

Dari kejauhan tampak sebuah kapal. Segera Si Bener berseru-seru memanggil. Seruannya terdengar oleh matros. Nakhoda memerintahkan juru mudi menghentikan kapalnya. Nakhod trun dengan sekoci dan menanyai Si Bener, “Hai nelayan, apa hajatmu hingga menghentikan kami?”

“Wahai tuan nakhoda, sudilah tuan menyampaikan ikan ini sebagai petsembahan hamba kepada raja negeri seberang”, pinta Si Bener.

“Baiklah akan aku sampaikan persembahan ini”, jawab nakhoda.

Nakhda pun meneruskan perjalanannya. Sampai singgah di negeri seberang, ia menghadap baginda raja. Ikan cucut pemberian Si Bener dipersembahkannya.

“Hmm, hanya seekor ikan”, sabda baginda setelah nakhoda pergi, “sudah bau pula”.

Baginda menekan perut ikan itu dengan tongkatnya. Keluarlah sebutir intan sebesar kepala. Sungguh terkejut baginda. Lekas intan itu diambilnya.

Nakhoda yang baru saja bertolak seger dipanggil. Kepadanya baginda menitipkan sejumlah uang mas untuk diberikan kepada Si Bener.

Nakhoda pun kembali berlayar. Saat ia singgah di dusun Si Bener, diserahkannya uang mas pemberian baginda raja. Bukan main sukacitanya Si Bener. Dengan uang pemberan baginda raja itu, Si Bener pun membangun rumah, membeli sawah, ternak, dan kebun. Ia pun menjadi kaya.

 

Si Entong

Kisah Si Entong : Man Jadda Wajada, Saduran dan Dokumentasi Yahya AS berdasarkan cerita H. Muchtar Sum (konon cerita rakyat ini beredar di kampung Tanah Abang, Jakarta Pusat). Laut dijadikan latar belakang cerita. Laut yang mustahil dapat ditimba dan dikeringkan oleh seorang manusia, merupakan simbol kesabaran, kesungguan, dan cita-cita. Kesungguhan menghasilkan berkah.

Sudah tujuh belas hari, Si Entong melakukan aktivitas yang tak lazim. Akhirnya orang-orang di kampung sepakat mengatakan bahwa Si Entong memang sudah sinting. Betapa tidak, ia menimba air laut, siang dan malam. Ia hanya berhenti manakala kebutuhan primer alamiahnya muncul, yaitu makan, buang air, atau melakukan ibadah wajib. Selebihnya, terus-menerus dari jam ke jam dari hari ke hari tanpa henti, menimba air laut.

“Tong, kenapa kamu tak henti-hentinya menimba air laut, apa sudah tak ada pekerjaan lain?” Tanya Haji Imron, sesepuh kampung itu.

Man jadda wajada.” Jawab Si Entong singkat tanpa menoleh kepada orang yang mengajaknya bicara.

“Mungkin kamu sedang mengalami tekanan bathin yang dahsyat sehingga stres? Ayolah berbicara kepada saya. Jangan menyakiti badan seperti itu.” Haji Tohir berusaha menyadarkan Si Entong.

Man jadda wajada.” Jawab Si Entong lagi. Man jadda wajada adalah pepatah bahasa Arab yang artinya, siapa yang sungguh-sungguh pasti berhasil.

Begitulah Si Entong. Setiap orang yang bertanya, ia jawab “Man jadda wajada.” Bahkan ketika perbuatannya terdengar sampai kampung lain dan orang-orang berdatangan, tidak peduli apakah yang datang dan bertanya pejabat penting, ulama, bupati, gubernur, atau raja, ia selalu menjawab singkat: “Man jadda wajada.”

Maka Si Entong dicap gila. Namun si Entong tidak peduli ocehan mereka, ia terus menimba air laut siang malam, dengan sungguh-sungguh dan penuh keyakinan.

Konon, menurut kisah yang punya cerita, kegiatan Si Entong menimba air laut menimbulkan gejolak dan kegelisahan kehidupan di Kerajaan Dasar Laut. Raja Ikan, Maharaja Nun Bilmubarok, yang bersemayam di istana dasar laut merasa sangat terganggu dengan suara gedebar-gedebur yang ditimbulkan akibat kegiatan Si Entong. Maka Maharaja Nun Bilmubarok memanggil seluruh pembantu dan seluruh punggawa kerajaan untuk rapat khusus ketertiban dan keamanan.

“Hai, lumba-lumba! Ada apa gerangan di atas? Siang malam aku tiada bisa tenang, tiada bisa tidur. Suara apa yang begitu berisik?” Tanya Maharaja Nun Bilmubarok.

“Ampun Paduka Yang Mulia, hamba telah menyelidikinya dan ternyata ada seorang manusia, siang malam menimba air laut tanpa henti.”

“Apa? Manusia menimba air laut? Siang malam? Tanpa berhenti?”

“Ampun Paduka Yang Mulia, benar. Benar sekali, siang malam tanpa berhenti”

“O… Sangat berbahaya! Berbahaya!”

“Ampun Paduka, hamba tidak mengerti maksud Paduka.”

“Apa kamu tidak berpikir, hah! Laut bisa kering. Lebih celaka lagi, kita bisa mati. Cepat kau pergi ke sana dan tanyakan, apa maksud dan keinginan manusia itu!”

“Ba… baik, Paduka Yang Mulia. Hamba berangkat sekarang juga.”

“Iya, cepat!!!” Perintah Maharaja Nun Bilmubarok seraya menggemeretakkan girinya.

Sepeninggal lumba-lumba, Maharaja Nun Bilmubarok mengeluarkan perintah kepada seluruh pembantu dan punggawanya agar mempersiapkan semua kekuatan masyarakat dan berjaga-jaga 24 jam. Pasukan pengintai ditugaskan memberi laporan perkembangan menit per menitnya.

“Jika ada yang terliwat dari pantauan kalian, awas! Jangan harap kalian bisa selamat!” Begitu ancam Maharaja Nun Bilmubarok.

Lumba-lumba yang mengemban tugas menemui Si Entong pun muncul dipermukaan laut. Ia menghampiri si Entong.

“Hai manusia! Manusia! Manusia …!” Lumba-lumba berteriak memanggil Si Entong.

Si Entong berhenti menimba dan celingukan mencari-cari sumber suara yang memanggil-manggilnya. Tapi ia tidak melihat ada mahluk lain di sekitarnya.

“Hei Manusia!” Lumba-lumba kembali memanggil.

Karena jarak antara lumba-lumba dengan Si Entong tidak terlalu jauh lagi, Si Entong terkejut heran melihat ikan lumba-lumba menghampirinya.

“O … Tuan ikan lumba-lumba memanggil saya?” Tanya Si Entong dengan takjub dan tidak percaya.

“Iya.”

“Kamu kan ikan, kok bisa ngomong?” Tanya Si Entong masih dengan takjub.

“Jangan kau heran, kita mahluk Tuhan Yang Maha Kuasa, apa saja yang dikehendaki Tuhan bisa terjadi.” Jawab lumba-lumba.

“Benar, benar. Lalu kenapa Tuan lumba-lumba mendatangi saya?”

“Aku diperintahkan oleh Paduka Yang Mulia Raja Ikan, Maharaja Nun Bilmubarok, menanyakan mengapa kamu siang malam menimba air laut?”

“O … Man jadda wajada.” Jawab Si Entong.

“Apa maksud Man jadda wajada? Aku tidak mengerti. Coba jelaskan.” Pinta lumba-lumba.

“Maksudnya siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil.” Jawan Si Entong.

“Sudahlah, jangan bertele-tele, to the point saja.” Kata lumba-lumba tidak sabar.

To the point bagaimana? Saya kan bersungguh-sungguh.”

“Terus terang, apa yang kamu kerjakan sangat berbahaya dan mengancam keselamatan  kami. Kalau sampai air laut kering, semua mahluk laut bakalan mati. Apa itu yang kamu mau?”

Engtong kemudian menceritakan keinginannya. Mendengar  keinginan Entong, lumba-lumba cepat kembali ke dasar laut dan melaporkan kepada baginda.

“Paduka Yang Mulia, hamba sudah berhasil menemui manusia yang menimba air laut. Namanya Si Entong, Paduka.”

“Apa katanya? Apa maunya Si Entong?”

“Ampun Yang Mulia, Si Entong cuma ingin memiliki mutiara yang bagus, yang gede.”

“Ah, konyol sekali Si Entong itu. Kalau begitu cepat kau ambil di kantor pebendaharaan harta kerajaan dan langsung berikan pada manusia itu. Aku ingin tenang, ingin tidur nyenyak. Mengerti kamu?”

“Hamba Paduka Yang Mulia.”

Lumba-limba itu pun pergi mengambil mutiara yang paling bagus dan paling besar. Tanpa banyak upacara ia kembali muncul ke permukaan laut menghampiri si Entong.

“Hei, Entong! Ini mutiara yang kau inginkan. Rajaku, Paduka Yang Mulia Maharaja Nun Bilmubarok memberikan hadiah ini khusus untukmu. Mulai sekarang berhentilah menimba air laut. Jangan lagi kau rusak keseimbangan alam kami.”

“Te… te… terima kasih, terima kasih.” Ucap Si Entong benar-benar tidak menyangka apa yang sudah diterimanya. Mutiara. Mutiara yang sungguh indah sebesar buah kelapa yang selama ini tak terbayangkan dalam pikirannya.

“Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Subhanallah.” Begitu ucap Si Entong berkali-kali. Bahkan ia tak mendengar suara lumba-lumba yang pamit memohon diri. Si Entong sangat gembira mendapat hadiah mutiara yang sangat indah dan besar. Sudah pasti harganya sangat mahal. Terlalu amat gembiranya, Si Entong berjingkrak-jingkrakan sambil berteriak sekeras-kerasnya.

“Saya berhasil! Saya dapat mutiara… dapat mutiara… Hoiii, dapat mutiara…!”

Mendengar teriakan keras yang memecah senja itu, orang-orang ramai mendatangi Si Entong. Mata mereka terbelalak melihat mutiara yang begitu indah dan besar. Mereka berpikir  sudah tentu mutiara itu sangat mahal harganya. Mereka iri dan ingin pula mendapatkan mutiara seperti itu. Mereka bertanya bagaimana cara mendapatkannya, Si Entong menjawab, “Man jadda wajada!” Lalu pergi meninggalkan kerumunan membawa mutiaranya. Siapa yang sungguh-sungguh pasti berhasil.

 

Hikayat Seribu Dongeng

Di bawah ini dikutip kisah dari Hikayat Seribu Dongeng, hal. 113 – 114. Laut sebagai arena mencari penghidupan.

Sebermula,  maka adalah seorang laki-laki namanya itu Tasbil, pekerjaannya itu jadi tukang pancing. Sehari-hari ia memancing ikan karena ia tidak tau bekerja pekerjaan lain dari mulai kecil sampai ada pada masa ini ,dan ia pun ada membunyai anak dan istri, dan ada juga ia mempunyai mertua.

Maka adatnya tasbil siang hari malam tiada ada di rumah-rumah melainkan memancing ikan jua. Tiap-tiap tujuh hari sekali barulah ia kembali pulang pada istana rumahnya sendiri dengan membawa seekor ikan – belon pernah seumur hidupnya jadi tukang memancing membawa banyak ikan. Maka sebanyak-banyaknya tiga ekor, lalu  bertemukan pada istrinya.

Maka semakin hari semakin lama dan semakin jua ia memancing itu. Maka istrinya sangat herannya dan bertambah-tambah dukacitanya tiada seberapa hasilnya buat isi rumah.  Maka semakin hari semakin sangat miskinnya, hidup dengan mudharat dan sengsaranya.  Maka kata istrinya,  hai kakanda, sudahlah janganlah kakanda pergi memancing karena ikan pancingan tiada seberapa kanda beroleh sebanyak-banyaknya tiga ekor,  kanda pergi sampai empat lima hari baru pulang.  Maka beberapa dilarangkan tiada jua Tasbil dengarkan larangan istrinya itu. Lalu ia pergi jauh akan memancing, jalan di tepi-tepi kali hingga di lautan, beberapa malam ia sini dan sana hingga bertahun pekerjaannya demikian.

Maka istrinya bertambah-tambah masgul hatinya dan hitamkan mukanya karena suaminya tiada membawa ikan itu melainkan seekor jua. Maka tiada jua tasbil mengambil peduli, lalu berjalan mengambil pancing jua. maka masa itu heranlah istrinya lalu dimakinya dan dinistakan, katanya,  “dasaran bengal, laki-laki tiada harus diambil turunannya, terlebih baik segala bujang cina yang rajin bekerja, buka seperti kakanda, pemalas belum pernah bekerja. janganlah kakanda kembali pulang pada tempat ini!” maka habis dinistanya. Maka istrinya pun menista pula serta dimaki-makinya tiada habis-habisnya karena lebih-lebih miskinnya. Harta yang sedikit habis dijualnya. Demikianlah sehari-hari baik juga ada mertuanya. Jika tiada niscaya istrinya dan anaknya mati kelaparan.

Hatta tersebut Tasbil itu hidup dengan mudharat. Maka sambil ia memancing  sambil dengan menarik napasnya panjang dan pendek sebab dimaki-maki sehari-hari seperti hujan dan angin oleh istrinya itu.

 

Penutup

Sastra Betawi yang mengekspresikan kelautan sebagaimana diuraikan di atas, baru sebagian kecil saja. Masih banyak pantun, syair, cerita rakyat, puisi, prosa maupun karya-karay modern yang ditulis oleh sastrawan Betawi. Ketekunan dalam membaca dan meneliti teks-teks sastra itu menjadi kunci keberhasilan memahaminya.

 

Gandaria Selatan, 29 November 2014.

 

(The Author)

View all articles by
Social Links: →

Leave a Comment