LANDASAN APRESIASI SENI BUDAYA DI MADRASAH

SEPTEMBER-3 028 - Copy

Yahya Andi Saputra (LKB)

 I

Bismilah itu awalnya kata

Rohman dan rohim turut serenta

Izinin saya menyusun kata

Buat meriahin acara kita

 

Kalo ada kalimatnya kurang

Atawa salah kurang terang

Lantaran bukan ahli mengarang

mohon betulin tiada dilarang

 

Bersyukur kepada Allah Rabbul Izzati, shalawat dan salam kepada Muhammad SAW sang nabi. Syukran katsieran saya uluk tinggi-tinggi kepada panitia kegiatan ini, lantaran memberikan ruang dan kesempatan kepada saya untuk tampil di mahjana yang mulia ini. Terus terang saya hanyalah praktisi pelipurlara alias seni cerita yang disebut sohibul hikayat. Maka sungguhlah berat bagi saya, manakala forum ini menginginkan ada pemikiran strategis taktis terkait tema kegiatan, mbrojol dari saya. Kiranya maklumilah, maafkanlah.

 

II

Amma ba’du. Berawal dari definisi sederhana, kebudayaan dapat ditelusur dari segi etimologis yang berasal dari kata Sansekerta budhayah, yang merupakan bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal[1]. Pakar yang mengkaji budaya dan kebudayaan menggulirkan definsi sesuai dengan proses kerja ilmiah mereka. Koentjaraningrat mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar[2].

Terdapat beberapa elemen penting dalam pengertian di atas, bahwa kebudayaan adalah nilai yang dinamik dari elemen-elemen pembelajaran yang berisi asumsi, kesepakatan, keyakinan dan aturan-aturan yang memperbolehkan anggota kelompok untuk berhubungan dengan yang lain. Pengertian kebudayaan ini termasuk dalam pengertian kebudayaan sebagai sistem nilai, yaitu kebudayaan sebagai sistem normatif yang mengatur kehidupan bermasyarakat.

Dua pengertian di atas merujuk kepada pandangan kaum evolusionistik yang memberikan pengertian kebudayaan sebagai bentuk cipta, rasa, dan karsa atau kelakuan dan hasil kelakuan manusia. Kebudayaan mengandung tiga hal utama, yaitu sebagai sistem budaya, aktivitas, dan kebudayaan yang berwujud benda-benda (fisik).

Dengan demikian, harus diakui bahwa tata atur yang kemudian dikenal dengan nama kebudayaan tak lain sebagai pengejawantahan kasil kemampuan, kreativitas, dan penemuan leluhur atas persinggungannya dengan alam.  Dengan itu, manusia berproses menjadi santun, saling menghragai, dan menghormati. Inilah landasan utama ketika manusia memperoleh titel makhluk berakal yang mengemban peran sebagai khalifah di bumi.

 

III

Namanya madrasah. Lembaga pendidikan. Di dalamnya penuh dengan orang yang mendidik dan peserta didik; memberi materi pendidikan dan menerima semua materi pendidikan sesuai jenjang. Tugas utama peserta didik adalah belajar. Dengan belajar, ia memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman tentang suatu ilmu. Seringkali dalam belajar peserta didik klabakan (susah payah) membaca buku dan hasilnya kurang maksimal. Di sisi lain ada peserta didik yang tampaknya santai tetapi justru mendapat hasil yang memuaskan. Penentu keberhasilan peserta didik dipengaruhi faktor internal (bakat, minat dan cita-cita) berkaitan dengan diri pribadi peserta didik yang bersangkutan dan faktor eksternal (lingkungan belajar, sarana prasarana, orangtua, guru, tman, dan masyarakat secara luas).

Dalam proses siklus hidup manusia, madrasah sebenarnya kelanjutan suasana kehidupan peserta didik di keluarganya yang menerapkan nilai-nilai. Hampir dapat dipastikan, peserta didik dari latar belakang keluarga yang memperhatikan pendidikan, mendidiknya lebih mudah, di samping gairah belajarnya tinggi. Peserta didik yang nakal atau aneh, biasanya berasal dari lingkungan – salah satunya – yang kurang mementingkan pendidikan. Peran guru, di sekolah tentunya, akan menentukan corak peserta didik dalam belajar. Guru yang disenangi, berwibawa, dan menarik perhatian peserta didik  akan lebih mudah mengarahkan peserta didik daripada guru yang tidak simpatik dan dibenci peserta didik.

Posisi guru yang strategis dalam melahirkan peserta didik yang berkualitas, amat bijaksana bila guru selalu memperhatikan dan memberikan pembimbingan maksimal. Guru ibarat orang tua kedua, yang sehari-harinya berada di sekolah. Berpredikat orang tua kedua, guru seharusnya mampu membaca suasana batin peserta didik yang diajarnya. Guru yang cuek, yang penting mengajar tanpa memperhatikan psikologis peserta didik, tidak akan memaksimalkan potensi peserta didik dalam belajar.

Madrasah, kini, merupakan lembaga pendidikan formal. Tentu pada lembaga ini mengandung pemahaman dan pengejawantahan norma keilmuan. Seharusnya madrasah bertekad menjadikan dirinya sebagai pusat kebudayaan yang menjadi acuan praktik hidup yang berkepatutan (akidah). Pengertian sebagai pusat kebudayaan tidaklah dapat dipersempit artinya sebagai lembaga dengan fasilitas kebudyaan dan kesenian. Ditabalkanlah sebagai sebuah lembaga kebudayaan dimana isinya menjunjung dan memuliakan nilai-nilai agama, moral, dan etika.

Madrasah tidak dengan sendirinya dapat disebut lembaga kebudayaan karena misalnya membangun fasilitas berkesenian megah dan modern. Tapi harus juga mengacu pada perilaku aktivisnya yang berbudaya dalam arti menjunjung tinggi nilai-nilai agama, moral, dan etika.

Di luar madrasah, pada kehidupan masa kini, merujuk pada berita di berbagai media, simbol keagamaan remuk redam, angka kriminalitas kian meningkat menjadi indikasi lemahnya komitmen terhadap nilai-nilai agama, moral, dan etika. Fenomena begal atau kejahatan dengan kekerasan saban menit begitu mudah terjadi yang mengambil korban jiwa. Penggunaan obat-obat terlarang kian masip berlangsung. Perjudian gelap terjadi di sejumlah tempat. Praktek prostitusi, pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur, perilaku seks menyimpang, nilep dan korupsi menjadi berita yang dihidangkan setiap saat oleh media.

Masyarakat yang sadar agama, moral, dan etika bereaksi dengan menyiksa bahkan membakar hidup-hidup pelaku kejahatan (begal), yang sesungguhnya masih dapat dipersoalkan apakah reaksi semacam ini dari segi agama, moral, dan etika dapat dibenarkan? Kecuali keluarga pelaku yang ditewaskan, boleh dikatakan mayoritas masyarakat terkesan dapat memahami bentuk reaksi semacam itu. Maka ditelanjangin dan dipukulin ampe setengah mati bahkan hukum bakar hidup-hidup terhadap pelaku kejahatan yang tertangkap tangan seolah-olah dianggap sebagai “hukum materiil”. Padahal persoalannya tentu tak demikian. Menegakkan hukum pun memiliki peran penting.

Untuk pencegahan penyakit masyarakat, tentu perlu kerjasama yang serasi antara lembaga pendidikan, majelis agama, LSM, aparat penegak hukum dan kepolisian, serta masyarakat sendiri. Betapa pun benarnya dari segi motivasi, tetapi dari segi hukum main hakim sendiri sulit untuk dibenarkan.

Membangun madasah sebagai lembaga kebudayaan berarti juga mensosialisasikan hukum secara tegas dan konsekuen. Madarasah bagaimanapun juga bagian yang tak terpisahkan dari nation kulture Indonesia. Madrasah harus menjadi contoh hidup arif berkebudayaan yang dilengkapi dengan pemahaman arti serta posisi hukum dalam dinamika kehidupan bermasyarakat. Karena itu dari madrasah harus ditumbuhkan kesadaran bahwa menjunjung dan mepraktekkah hidup berbudaya berarti bahwa kita semua hidup dalam aturan. Aturan harus ditaati oleh seluruh warga tanpa kecuali. Tak boleh ada sekelompok warga, atas nama apa pun, yang hidup di luar aturan yang telah ditetapkan dan diberlakukan di persada Indonesia.

Madrasah di era modern ini adalah lembaga yang dihuni oleh peserta didik dari pelbagai latar belakang etnis. Ia sejatinya memang sebuah lembaga majemuk sejak zaman dahulu kala. Hendaknya dapat dikembangkan kerukunan hidup antar penghuni dengan saling menghormati mengasihi.

Itulah dalam garis besarnya pengertian madrasah sebagai lembaga kebudayaan dalam arti sistem nilai. Dalam pengertian phisikal madrasah sebagai ruang publik adalah madrasah yang tertata indah dan dapat mengemban multifungsi sebagai lembaga pendidikan multidimensional. Ia harus menguarkan aroma dan penyajian ‘makanan’ yang mengenyangkan lahir batin, rahmat bagi lingkungnnya.

Di sinilah berlaku prinsip yang diajarkan Rosulullah dalam Shahih Muslim, “Allah itu jamil, Ia pencinta jamal”. Jamil jamal yang keluar atas hasil proses di madrasah akan terlihat dari tingkah laku yang diajarkan oleh Quran dan Sunnah (jujur, amanah, menjaga kehormatan, malu, berani, murah hati, setia, sabar, santun,  menjauhkan diri dari semua yang diharamkan Allah, baik kepada tetangga, membantu orang yang membutuhkan sesuai kemampuan). Senantiasa amanu, amilushshalihat, zakarullaha katsieran, bukan kazibun – pendusta, ghowun – sesat, yantihun – retorika/sajak ngawur, yakuluna mala tafalun (quran, 26 : 224-227).

 

IV

Jika madrasah telah merumuskan visi misi menjadi tungku kebudayaan berdasarkan jamil jamal, maka apresiasi ke arah itu menjadi langkah berikutnya. Program peningkatan apresiasi  seni budaya menjadi tumpuan. Program ini diselenggarakan bertujuan menciptakan sinergi antara guru (pembina seni budaya) dengan pelajar dalam meningkatkan minat dan motivasi serta mengembangkan kreativitas terhadap seni budaya. Program apresiasi seni budaya ini misalnya workshop dan pementasan karya dari pesarta workshop. Workshop bermaterikan pemahaman kembali seni budaya keagamaan atau dapat pula reposisi. Ini dikaitkan dengan kondisi kehidupan terkini yang kian dijejali budaya barat bergaya hidup bebas.

Program itu adalah bentuk kepedulian dan tanggung jawab madrasah dalam mengenalkan, melestarikan, serta pembinaan potensi seni budaya yang ada di madrasah. Dengan apresiasi ini mendorong kreativitas pelajar dalam memperkaya kreativitasnya di bidang seni budaya yang bersumber pada seni keagamaan dan menciptakan iklim kebersamaan para pelajar untuk saling menumbuhkan pemahaman seni budaya keagamaan. Selain itu, juga membangun jati diri dan integritas bangsa, menumbuhkan kreativitas, dan menciptakan ruang bagi berkembangnya kegiatan berbasis seni  budaya di kalangan pelajar madrasah.

Dengan kata lain, seni budaya keagamaan (Islam) di madrasah menjadi representasi identitas yang merupakan sesuatu yang dibentuk oleh pengaruh tekanan eksternal. Representasi identitas ini dimunculkan melalui penataan kembali seni budaya keagamaan yang dirancang agar dapat menampilkan sebuah citra seni budaya keagamaan yang luhur dan menjadi rujukan berbagai pihak sebagaimana terjadi pada kehidupan masa lalu. Selain itu, identitas seni budaya keagamaan di madrasah juga dimunculkan dengan cara mempertunjukan berbagai jenis kesenian.

Bagaimanakah budaya rekonstruksi dapat merepresentasikan pendukungnya? Jawabannya adalah kebudayaan sebagai strategi manusia dalam menghadapi lingkungkungannya memang bersifat dinamis, terus menerus berubah dimana perubahan ini bukan cuma berasal dari dalam, tetapi justru terutama berasal dari luar kelompok.

 

V

Madrasah sebagai komunitas tentu haruslah merumuskan dan memiliki sistem budaya dengan sejumlah nilai dan norma budaya (keagamaan) yang menjadi acuan dalam berbagai tindakannya.

Unsur-unsur kemajemukan di dalamnya, ditanggapi dengan sikap toleransi yang tinggi, konkritnya keramahtamahan (rahmatan lilalamin). Keramahan itu terarah kepada siapa saja termasuk kepada lembaga baru orang yang belum dikenalnya. Madrasah juga mewujudkan gaya hidup sederhana, tidak berlebihan, dan dengan sabar menerima keadaan serta kemudahan yang diberikan lingkungan sekitarnya.

Solidaritas terhadap lingkungan sosialnya juga tinggi, baik dalam suka dan duka. Mereka mengamalkan asas mufakat untuk berbagai pengambilan keputusan dalam lingkungan kehidupan dan lingkungan sosial lebih luas. Semua itu langsung atau tidak langsung terkait dengan nilai ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan ajaran agama Islam.

Madrasah seyogyanya memiliki kelenturan dalam menanggapi berbagai pengaruh dari luar dan dari dalam. Karena bukankah keadaan yang selalu berubah dan berkembang itu mereka alami sejak berabad-abad lalu.

Semua itu menjadi landasan atas pentingnya apresiasi seni budaya keagamaan di komunitasnya, madrasah.

 

Kupas kelapa jangan dibelah

Kalo dibelah tumpah aernya

Kalo ada tingkah dan ucapan salah

Mohon maklumin dan maafin saya

 

Sajadah jatoh kotor separoh

Dipungut pagi sudah berembun

Saya doif lagilah bodoh

Kepada Tuhan memohon ampun



[1] Eko Endarmoko, Teasurus Bahasa Indonesia, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006. Juga Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Kedua), Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Balai Pustaka, 1993.

[2] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta, 1999.

(The Author)

View all articles by
Social Links: →

Leave a Comment