Kumpulan Puisi Tertua di Indonesia:

Headline Kabar Betawi
Sapardi Djoko Damono dan Prof Ibnu Wahyudi
Sapardi Djoko Damono dan Prof Ibnu Wahyudi

 

Syair dan Pantun dalam Persaingan

Ibnu Wahyudi

Kumpulan syair tertua dalam konteks apa yang disebut sebagai khazanah sastra Indonesia modern, sejauh ini, adalah himpunan syair berjudul Boek Saier Oetawa Terseboet Pantoen yang ditulis oleh Sa-Orang jang Bangsjawan pada tahun 1857, lebih dari seratus lima puluh tahun yang lalu. Secara lengkap, buku ini berjudul Boek Saier Oetawa Terseboet Pantoen, aken Anak-anak Ampoenja Perbatja-an dan Pengadjaran Soepaija Dija Boleh Mengatahwie aken Ampoenja Perdjalanan ijang Baek dan ijang Tida Adanja, diterbitkan oleh Penerbit Lange & Co di Batavia. Penetapan buku ini sebagai yang tertua dalam konteks Indonesia didasarkan atas empat kriteria utama yaitu bahwa karya ini tidak lagi anonim, berbahasa Melayu, dicetak dengan alat reproduksi mekanis, dan dirangkai dengan aksara atau huruf Latin atau Rumi.
Buku ini bisa jadi memang bukan benar-benar yang tertua karena menurut penjelasan samar-samar Edwina Satmoko Tanojo dalam kajiannya yang berjudul Dari Djalanan Kereta Api sampai Kembang: Suatu Studi Atas Syair-syair Tan Teng Kie, sebelumnya pernah terbit buku berjudul Syair Bunian pada tahun 1850. Sayang sekali buku ini belum atau tidak dapat diperoleh.

SYAIR-3 - Copy

Hakikat Syair: Tradisi Tulis

Merujuk pendapat Hamka, melalui tulisannya berjudul “Mengarang Roman” dalam majalah Pedoman Masjarakat tahun 1938, dikatakan bahwa syair sudah dikenal oleh bangsa Arab sebelum agama Islam tersiar. Orang Arab masa itu yang tersohor sebagai penyair adalah Antarah dengan syair-syair perwiranya dan Amaroel Qijs dengan syair-syair remajanya. Jika penjelasan Hamka ini sahih, maka jelas bahwa syair sudah memunyai tradisi yang sangat tua. Akan tetapi, apakah syair yang ditulis oleh orang-orang Arab itu sama dengan syair-syair masa kini dilihat dari pola dan kaidahnya, Hamka tidak menjelaskan secara rinci. Sementara, dalam hubungannya dengan syair sebagai ragam sastra di dunia Melayu, menurut A. Teeuw, belum setua yang dikemukakan Hamka sebab syair ini diciptakan pertama kali sekira tahun 1600-an oleh Hamzah Fansuri.

Namun demikian, yang lebih jelas adalah kenyataan bahwa sejak dahulu kala, syair sudah dibuat dan merupakan hasil dari tradisi tulis, bukan lisan. Bahwa syair berasal dari Arab, dibenarkan oleh Dick Hartoko dan B. Rahmanto. Dikatakannya bahwa syair adalah “jenis puisi Melayu yang berasal dari Arab. […] Syair banyak dipakai untuk bercerita yang mengandung unsur mitos ataupun sejarah ….” di samping ada pula yang mengandung “unsur agama, atau rekaan belaka. Sifatnya menghibur dan mendidik.” Hooykaas pun menegaskan perihal fungsi syair yang berhubungan dengan aspek pengajaran ini. Dikatakannya, “bentuk ini sering sekali dipakai untuk mengajarkan sesuatu, sebab lebih mudah untuk murid mengingatnya. Lebih mudah menghafal syair-syair demikian daripada mengingat prosa, sebab mendapat bantuan kata-kata sajak.”

Secara konvensi, syair terdiri atas empat larik yang berima dengan sebuah huruf hidup atau vokal ditambah dengan huruf mati atau konsonan, atau sebaliknya, konsonan dengan vokal. Dalam pengertian sederhananya, pola syair dikatakan sebagai mempunyai rima a-a-a-a. Setiap baris, menurut Hooykaas, sekurang-kurangnya harus berjumlah delapan sukukata, “mendapat empat kali tekanan suara, dan biasanya tidak lebih dari sebelas sukukata”. Namun demikian, seperti dijelaskan Hooykaas, aturan yang seperti itu banyak perkecualiannya.

Antara bait satu dengan bait lainnya, secara semantik pada syair saling berkait, mengingat bahwa syair pada hakikatnya adalah suatu cerita atau kisah yang dibentuk dengan pola atau formula tertentu sehingga sering juga disebut sebagai puisi panjang. Berbentuk demikian, berupa puisi panjang, sebab sifat syair pada intinya memang adalah suatu epik atau bersifat naratif. Demikian pula dengan syair dalam Boek Saier Oetawa Terseboet Pantoen ini, dapat dikatakan cukup panjang karena terdiri atas 80 bait syair. Sekadar contoh, berikut ini akan dicuplikkan lima bait yang merupakan bait-bait pembuka dari kumpulan ini untuk menunjukkan kualitas dan sekaligus untuk melihat sekilas kecenderungan syair dalam kumpulan ini. Melalui kelima bait syair ini juga, ingin ditunjukkan tiadanya pola pantun yang “mencemari” syair-syair ini, baik yang berupa perwujudan sampiran pada larik pertama dan kedua, maupun pada persajakan yang bukan a-b-a-b dan bukan a-a-a-a.

 

1. Bismillah itoe moela dikata

Rahman dan rahim kedoewanja serta

Mengarang sair soewatoe tjeritta

Dengen pitoeloeng Toehan kitta.

 

2. Djikaloe membatja lagoe lagoeken

Njaringken soewara djangan tahanken

Hoeroepnja djangan dipatoekerken

Soepaija birahie ijang mendengerken.

 

3. Membatja djangan sambiel bitjara

Pasehken lidah njaringken soewara

Segala ijang mendenger soepaija goembira

Kedalem hatinja soepaija misra.

 

4. Membatja hendak amat amattie

Sahingga selse maka berhantie

Didalem sepatah kata beberapa artie

Den ijang mendenger simpoel dihatie

 

5. Membatja dia hendak pahamken

Segala lapalnja angkao ingetken

Hoebaija hoebaija akoe pesenken

Djikalo salah djangan diijemken

 

Ditilik dari isi, syair dalam buku ini ternyata tidak sepenuhnya dapat secara persis dimasukkan ke dalam penggolongan sebagai pernah dilakukan oleh Hooykaas beberapa puluh tahun lampau melalui bukunya yang sempat menjadi pegangan para guru di sekolah, yaitu ada yang disebut dengan syair Panji, syair Romantis, syair Simbolik, syair Sejarah, syair Agama, dan syair Saduran, sebab syair dalam buku ini lebih tepat dikatakan sebagai syair “didaktis” meskipun memang bersinggungan secara erat dengan persoalan agama atau kepercayaan, atau secara khusus berkaitan dengan permasalahan ajaran moral yang dilandaskan atas aspek baik dan tidak. Mengenai isi, akan dibahas pada subbab 4.1.2 di belakang.

 

Hakikat Pantun: Tradisi Lisan

Apabila syair pada hakikatnya adalah salah satu bentuk karya puisi dalam tradisi tulis maka sebaliknya, pantun, sesungguhnya berasal dari suatu komunikasi bersastra dalam tradisi lisan. Bentuk pantun yang lazimnya terdiri atas sampiran (larik pertama dan kedua) dan isi (larik ketiga dan keempat) dengan pola persajakan a-b-a-b tentu tidak hanya mengindikasikan bahwa pantun adalah “jenis puisi lama” sebagaimana secara simplistis sering dipakai oleh para penyusun kamus istilah sastra untuk mendefinisikan pantun, melainkan pada hakikatnya menggambarkan atau merepresentasikan suatu bentuk komunikasi lisan yang saling berbalas atau bersahut, atau juga mengarah kepada suatu penerusan ujaran yang manasuka tetapi berjalinan. Dengan pengertian lain, pantun yang mewadahi suatu komunikasi bersahutan atau berbalasan akan mengekspresikan suatu pola yang mengulang beberapa larik, biasanya dua larik, dari pantun yang sudah diujarkan terlebih dahulu.

Di pihak lain, pantun yang dimungkinkan untuk diteruskan larik-lariknya akan mengarah kepada pola persajakan yang rimanya telah dilesatkan melalui vokal atau konsonan pada larik pertama dan kedua. Lazimnya, pantun yang segera dapat diduga arah terusannya adalah khazanah pantun yang sudah sangat dikenal, sehingga kalaupun tidak diteruskan, atau hanya dilisankan dalam hati saja lanjutannya itu, komunikasi sebetulnya telah terbangun atau terbina dan makna yang diharapkan pun sudah disampaikan meskipun tidak ada jaminan terbalas dengan setimpal secara verbal. Penggalan pantun—biasanya berupa sampiran—yang dapat diteruskan dengan cukup mudah akan memicu lahirnya baris ketiga dan keempat, tanpa perlu merasa takut salah dalam melahirkan baris-baris itu. Kenyataan seperti ini jelas berbeda dengan syair yang hampir tidak memungkinkan adanya penerusan baris-baris lantaran payung utama yang berupa mitos, sejarah, ataupun juga ide-ide tertentu, adalah bukan milik kolektif melainkan lebih menjadi milik individual. Berikut adalah pantun yang dengan mudah dapat diteruskan, termasuk dengan plesetannya, yang cenderung sudah diketahui awam.

Sebagai contoh, ketika seseorang mengujarkan pantun yang larik pertama dan keduanya berbunyi //Kalau ada sumur di ladang/ Bolehlah kita menumpang mandi/, maka lawan bicaranya pun dengan cepat dapat merespon larik-larik pantun tersebut atau mendiamkannya saja dengan kemakluman atas pesan yang tersirat dari lanjutan pantun tersebut. Amir Hamzah memberi contoh lain dengan pantun yang hanya terdiri atas dua baris yang menurutnya memang ada. Dijelaskannya, ketika dalam percakapan sehari-hari ada orang mengucapkan larik yang berbunyi //Sayangkan kain buangkan baju/, orang atau lawan bicaranya “telah mengerti apa yang dimaksud dan bagaimana suara kalimat yang datang. (Sayangkan lain buangkan daku)”. Demikian pula apabila seseorang di zaman sekarang—biasanya anak muda—mengucapkan larik-larik pantun kilat atau karmina yang berbunyi //Jaka Sembung/ bawa golok/ maka lawan bicara atau yang mendengar sudah mafhum akan lanjutannya, meskipun tidak perlu diucapkan, yaitu tidak-jauh-jauh dari /nggak nyambung/ goblok!//.

Baru saja dinyatakan akan lanjutan larik-larik karmina tadi yang “tidak jauh-jauh dari”, untuk menegaskan bahwa penerusan akan larik-larik yang berbunyi //Jaka Sembung/ bawa golok/ itu tidak harus /nggak nyambung/ goblok!// itu, tapi bisa saja berbunyi /kalau pengung/ jangan lagi goblok// atau yang setara lainnya, asalkan ada rima yang padu. Begitu pun dengan lanjutan dari contoh larik-larik pantun //Kalau ada sumur di ladang/ Bolehlah kita menumpang mandi/, pada galibnya tidak harus dilanjutkan dengan /kalau ada umurku panjang/ bolehlah kita bertemu lagi//, melainkan dengan ungkapan yang lain. Malahan dalam situasi nonformal atau penuh canda, lanjutan tadi bisa saja menjadi /kalau ada umurku panjang/ bolehlah kita menumpang mandi/. Lanjutan seperti ini dapat diduga tidak akan menimbulkan rasa kesal atau bahkan rasa marah sebab kembali ke hakikat pantun itu yang tidak lebih hanya sebagai sarana berkomunikasi. Sudah barang tentu, lanjutan yang sedemikian ini jelas tidak elok jika diucapkan dalam situasi formal atau saat berhadapan dengan orang atau kenalan baru.

Sementara itu, contoh pantun yang memperlihatkan adanya situasi berbalasan dapat disimak pada pantun berkait berikut ini. Dalam kenyataannya, kuantitas berbalasan ini sangat tergantung pula dari situasi yang ada.

 

Bunga melur cempaka biru,

Bunga rampai di dalam puan,

Tujuh malam semalam rindu,

Belum sampai padamu tuan.

 

Bunga rampai di dalam puan,

Ruku-ruku dari Peringit,

Belum sampai padamu tuan,

Rindu sahaya bukan sedikit.

 

Ruku-ruku dari Peringit,

Tras jati bertalam-talam,

Rindu sahaya bukan sedikit,

Nyaris mati semalam-malam.
Contoh lain, yaitu pantun yang memperlihatkan adanya repetisi pada larik di dalam pantun yang mengindikasikan keterjalinan antarbait, dapat disimak di bawah ini.

 

Kalau tuan pergi ke laut

Pesan sahaya ketam jantan

Kalau tuan menjadi pulut

Sahaya menjadi kepala santan.

 

Kalau tuan pergi ke laut

Carilah sahaya ketam betina

Kalau tuan menjadi rambut

Sahaya menjadi bunga cina

 

Kalau tuan pergi ke laut

Carilah saya ketam bertelur

Kalau tuan menjadi rambut

Sahaya menjadi bunga melur.

 

Antara kelompok pantun yang pertama dengan yang kedua ini ada perbedaan yang secara pola cukup signifikan. Pada kelompok pantun pertama, larik-larik yang berkait adalah larik kedua bait pertama menjadi larik pertama bait kedua, dan larik keempatnya menjadi larik ketiga. Selanjutnya, sama, yaitu larik kedua bait kedua menjadi larik pertama bait ketiga dan latrik keempat bait kedua menjadi larik ketiga bait ketiga. Sedangkan pada kelompok pantun yang kedua, terlihat bahwa ada perulangan pada larik pertama pada setiap bait, sementara larik-larik lainnya hanya memperlihatkan kesamaan yang tidak penuh, kecuali pada larik ketiga bait kedua yang diulang persis pada larik ketiga bait ketiga.

Dengan kenyataan seperti ini, yang dapat dinyatakan atau disimpulkan di sini mengenai, paling tidak, pembentukan pantun berkait ini adalah bahwa upaya untuk melakukan repetisi larik itu ada tetapi kekakuan pola juga tidak sepenuhnya dipegang. Hal semacam ini kian menegaskan bahwa bagaimanapun atau apapun pola yang akan dipilih, pantun tetaplah representasi dari situasi kelisanan yang tidak akan mampu selalu menjaga kekonsistenan. Sebab, yang terpenting dalam ranah lisan ini bukan pada pola yang tetap dan pasti melainkan pada stimulus yang terjaga untuk merangsang hadirnya larik-larik lainnya, asal secara bunyi atau rima menunjukkan keserasian dan keselarasan. Inilah, paling tidak, dimensi kelisanan yang tetap menyeruak dari bentuk puisi yang bernama pantun.

Kemudian, kalau kembali kepada buku puisi yang dibicarakan dalam disertasi ini, jelas bahwa bait-bait yang terkumpul dalam buku ini sama sekali bukan pantun, melainkan syair. Oleh karena itu, judul kumpulan puisi yang mengisyaratkan adanya pantun di dalamnya, agaknya, sekali lagi, bukan bertolak dari kata “pantun” sebagai konsep sastra tetapi lebih pada pengertian umum atau bahkan mungkin semacam etimologi rakyat. Contoh pantun dalam buku ini, dengan demikian, tidak mungkn disebutkan di sini sebab yang ada memang kesemuanya adalah syair.

 

Kecenderungan Tematik: Didaktis

Seperti telah disebutkan dalam subbab sebelumnya, syair yang terhimpun dalam buku ini lebih tepat disebut sebagai “syair didaktis” atau boleh juga masuk kelompok “syair agama” mengingat bahwa tema yang ada di dalam kumpulan syair ini berisi suatu ajaran atau arahan moralitas yang bertolak dari keharusan bagi berbagai pihak, seperti keharusan bagi seorang anak untuk berbakti dan menurut kepada orangtuanya, petunjuk kepada para murid untuk selalu menghormati dan menghargai gurunya, anjuran kepada para bangsawan dan hartawan agar tidak takabur dan tinggi hati, awas-awas kepada siapa saja untuk menghindari berjudi, main perempuan, berdusta, berhutang sana-sini, boros, serta melakukan kebiasaan kawin-cerai. Dapat dijumpai di dalam bait-bait syair ini, pada akhirnya, suatu ajakan untuk menghindari semua perbuatan buruk dan tercela ini dengan cara selalu memohon petunjuk Sang Pencipta agar selamat di dunia dan akhirat nanti.

Apa-apa yang dipesankan melalui syair tersebut merupakan hal-hal yang sangat sehari-hari, manusiawi, dan bukan sesuatu yang luar biasa. Berkenaan dengan tema yang sedemikian ini, maka jelas bahwa syair dalam buku ini berbeda dengan syair-syair sebelumnya yang biasanya ditulis dengan huruf Jawi dan cenderung berisi hal-hal yang bersinggungan dengan mitos, sejarah, serta melukiskan dunia antah berantah. Kenyataan ini setidak-tidaknya menunjukkan bahwa kumpulan syair ini telah berhasil keluar dari konvensi penulisan sastra lama, baik dari sisi tema maupun stilistikanya. Oleh sebab itu, tidak ada kesangsian lagi di sini untuk menyatakan bahwa buku kumpulan puisi yang berupa syair ini adalah khazanah sastra modern atau lebih tepatnya disebut sebagai pemula khazanah sastra Indonesia modern.

Secara tematik, keseluruhan bait syair ini dapat dipilah ke dalam beberapa topik utama, yaitu topik yang berkaitan dengan ajakan untuk berbuat kebajikan dalam hidup keseharian, topik yang berhubungan dengan sikap yang selayaknya ditunjukkan oleh murid terhadap gurunya atau topik yang berhubungan dengan dunia pendidikan, dan topik yang berhubungan dengan persoalan spiritualitas atau religiositas. Ketiga topik ini akan diuraikan dalam sub-subbab berikut.

 

Ajakan untuk Berbuat Kebajikan

Secara umum, buku syair ini berisi sejumlah besar bait yang bertema semacam
awas-awas, rambu, atau ajakan kepada siapa saja, pembaca khususnya, untuk mengetahui akan mana-mana perbuatan baik serta yang mana tindakan atau perbuatan yang seharusnya dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Tema seperti ini bukan sesuatu yang biasa untuk kategori sastra lama, yang biasanya, seperti telah disebutkan, berisi kisah sejarah, kehidupan atau proses inisiasi para calon raja, atau berkenaan dengan mitos atau dunia bukan-manusia.

Bait-bait yang di dalamnya mengandung aspek moralitas, dalam arti memberi ajaran moral kehidupan yang selayaknya dipahami dan sedapat mungkin diikuti oleh pembaca sasaran, pada intinya menegaskan akan bahayanya enam kebiasaan buruk yang biasanya ada pada manusia. Keenam perilaku negatif yang harus dijauhi atau dihindari ini, karena berakibat buruk untuk diri sendiri di dalam pergaulan dan di masa depan, adalah mengonsumsi candu, bermain judi, suka berbohong, suka berhutang, suka melancong tak berketentuan, dan punya kebiasaan kawin-cerai. Kesemua tabiat atau pola hidup manusia yang harus dijauhi ini terekspresikan dalam bait-bait berikut ini.

 

40. Katahwie poella tabeat menoesiija

Yang terlebieh soesa aken pertjaija

Yang soeda galib itoe di doenija

Soedala njatta itoe nistjahija
41. Pertama madat kedoewa maen

Sentiijasa lakoenja soedalah aën

Ahirnja itoe mentjoerie kaen

Modalnja abis tiijada laen
42. Larangan sara larangan polisie

Masok kadalem prekara justisie

Masok dilandrat dengen bersaksie

Goepermen melarang sanget trakasie
43. Katiga orang soeka berdoesta

Apa lah segala ampoenja kata

Terboleh pertjaija semata-mata

Ketieganja itoe bersama serta
44. Kaämpat soeka beroetang oetangan

Yang tiijada kira dengen itoengan

Kelima orang soeka pelantjong ngan

Lawan nja itoe bersama timbangan.
45. Kaanemnja orang serieng bebinie

Sabentar bertjerë sabentar bebinie

Pikier moe tratetep kesana kesinie

Soesah dipertjaija orang beginie

 

Keenam bait syair ini secara cukup terang mengemukakan perihal sisi buruk dari tabiat atau kebiasaan manusia, tetapi kesemuanya itu baru berupa pengetahuan atau hal-hal yang perlu diindahkan, sementara alasan yang mendasari kenegatifan kebiasaan-kebiasaan tersebut belum secara langsung disebutkan. Dasar argumen yang menyebabkan keenam perilaku itu buruk, baru disebutkan pada bait-bait selanjutnya yang dikutip berikut ini dengan gambaran akibat yang menyertainya.

 

46. Yang mendjadie galib soeda bertentoe

Orang ijang seroepa doemekiijan itoe

Tiijdabaek salah soewatoe

Soesah pertjaija orang begitoe.

 

47. Bahlanja meminoem madat itoe

Nistjahija binasa dirie moe tentoe

Banjak penjakit tiijada berwaktoe

Dengen pemales orang begitoe.

 

48. Badanmoe koeroes tertinggal toelang

Diriemoe lemes koewatnja illang

Roepamoe kottor tiijada terbilang

Batoek dan bengëk tiijada terselang.

 

49. Dari penjakit soeda tersempet

Roepamoe poetjet laijoe dan sepet

Bibiermoe leket bagë dirapet

Badanmoe menanggoeng trabole dapet.

 

50. Roepamoe merengked sebagë diengien

Badanmoe trakoewat tinggal di angien

Pembawanja madat trabole diprangien

Tegah moe soedah trabole monoeloengngien.

 

51. Djikaloe bertinggal djadi penjakit

Soeda bersettiija djadi berakiet

Sedikit sakit trabole bangkiet

Bahlanja madat boekan sedikiet.

 

52. Orang hiijanat poela nistjahija

Sentiijasa orang tiijada ijang pertjaija

Mendjadie koetjiwa selamanja diija

Istimiwa poella mendjaie moelija.

 

53. Soenggoeh poen orang ijang soeka berdoesta

Apalah sekaliijan ampoenja katta

Tiijada ijang pertjaija semata-mata

Ditetawaken orang mendjadie katta.

 

54. Bahlanja orang oetang oetangan

Yang tiijada kira dengan itoengan

Bertamba miskien lebieh kakoerangan

Selamanja soesa tiijada kesenangan.

 

55. Koemediijan ahirnja djadi perkara

Masok di landrad djadie bitjara

Tiijada ijang bertoeloeng sanak soedara

Masok diboewie djadi sengsara

 

56. Adapoen orang pelantjongan itoe

Tiijada tetep hatinja tentoe

Hendak kesini hendak kesitoe

Selamanja melakoeken doemikiijan itoe.

 

57. Artinja melantjong tiijada berkeroewan

Siijang dan malem mendjadi ketentoewan

Soeda biijasa mendjadie kelakoewan

Barang ijang dimaksoed tiijada berkeroewan.

 

58. Berolang-olang djalan pertjoema

Soeda biijasa meninggalken roema

Sanentiijasa selama lama

Kelak mendjadie keroesakan nama.

 

59. Betoellan malem tertangkap didjalan

Oleh poelisie dapat kabetoelan

Soeda terlampoe poekoel sambilan

Laloe di arest tiäda bertaolan.

 

60. Doemikiijan poella ka anemnja

Yang srieng beristrie itoe bahlanja

Nistjahija salse kapoenja anja

Barang ijang ada sekaliijan hartanja.

 

61. Itoelah pastie mendjadie binasa

Harta moe abies tiijada merasa

Mentjarie akal soeda trabisa

 

62. Mengambiel oetang tiijada ijang pertjaija

Derimoe kendirie kena perdaija

Tiijada daija dengan oepaija

Tinggal terkenang selamanja diija.

 

63. Hattimoe tratetep maksoednja koerang

Pemales moe boekan lah barang barang

Sangat berbanta itoelah orang

Hatinja kelem tiijada terang.

 

64. Djika dikoerniijae pakerdjahan

Siggra lah djemoe tralama tahan

Kabanjakan poella djadie kaloepahan

Hattinja bingbang tiijada karoewan.

 

65. Telah mendjadie soewatoe tanda

Melihat adat ijang soeda soeda

Terpilie toewa terpilie moeda

Orang begitoe banjak lah ada.

 

Pendidikan dan Dimensinya

Dipraktikkan atau munculnya perilaku serta tabiat buruk seperti telah ditunjukkan oleh baik-bait syair tadi tentu dapat disebabkan oleh beberapa faktor, bisa akibat dari pergaulan yang tidak baik, bisa dari akibat ketidaktahuan akan bahaya dari keenam faktor negatif tadi karena lingkungan yang tidak sehat, namun bisa pula diakibatkan oleh faktor pendidikan. Dengan penjelasan lain, perilaku atau tabiat seperti itu barangkali bukan sesuatu yang disengaja atau “dicita-citakan”, melainkan akibat tingkat pendidikan yang rendah atau akibat dari tidak adanya atmosfir didaktis yang mengitarinya.

Secara tersurat, bair-bait syair ini menyatakan bahwa aspek pendidikan itu sangat penting dan memegang peran utama dalam pembentukan kepribadian manusia. Namun yang tidak kalah utamanya adalah diperhatikannya dimensi pendidikan itu yang bisa saja berkenaan dengan cara belajar yang benar, pentingnya seseorang mempunyai ilmu atau pengetahuan agar hidupnya bermakna untuk orang lain atau bahkan untuk bangsa dan negara, atau juga ketekunan di dalam menuntut ilmu agar berhasil menyelesaikan tahapan pendidikan.

Bait-bait yang berhubungan dengan proses atau langkah belajar yang seharusnya, terutama dalam membaca, atau juga dengan keharusan anak muda untuk selalu bersikap hormat, patuh dan menurut kepada guru ketika tengah menuntut ilmu atau pelajaran, terlihat pada bait-bait berikut ini.

 

2. Djikaloe membatja lagoe lagoeken

Njaringken soewara djangan tahanken

Hoeroepnja djangan dipatoekerken

Soepaija birahie ijang mendengerken

 

3. Membatja djangan sambiel bitjara

Pasehken lidah njaringken soewara

Segala ijang mendenger soepaija goembira

Kedalem hatinja soepaija misra.

 

4. Membatja hendak amat amatie

Sahingga selse maka berhantie

Didalem sepatah kata beberapa artie

Den ijang mendenger simpoel dihatie

 

5. Membatja dia hendak pahamken

Segala lapalnja angkao ingetken

Hoebaija hoebaija akoe pesenken

Djikalo salah jangan diijemken

 

6. Dengerken hë segala orang moeda

Inilah pengajar darie pada aijahenda

Wajib die toeroet olleh anenda

Sekeliijan itoe simpen didalem dada

 

18 Kepada Goeroemoe djangan dahraka

Soepaija djangan mendapet moerka

Djangan koekira angkao tersangka

Nistjahija balesnja mendapet doeka

 

19. Apabila moerid berboewat dahraka

Hatinja tiijada bole terboeka

Sentiijasa harie menanggoeng doeka

Itoelah tanda orang tjilaka

 

20. Barang siijapa meringanken Goeroenja

Diloepoetken Allah barang pengadjarnja

Die pitjiken poela atas redjkinja

Die mattiken tiijada dengen imannja

 

21. Sabda rasoel penghoeloe kitta

Goeroe itoepoen toean kitta

Goeroe itoe tamsil pellitta

Manerangken hattie ijang gelap goelitta

 

Kemudian, bait-bait yang berkenaan dengan pentingnya memiliki ilmu agar di dalam hidup ini berguna, baik kepada diri sendiri, keluarga, lingkungan, maupun negara, tersurat dari bait-bait syair di bawah ini.

 

10. Mendjadi binasa kepada ëlmoe

Meroesak poela kepada bangsamoe

Meroesak poela kepada kapinteran moe

Berboewat binasa kepada dirimoe

 

11. Hë anakoe hendak djaohken

Katjelaän itoe ijang menbinasaken

Djanganlah angkao kelak melakoeken

Napsoemoe itoe hendak laloehken

 

14. Wadjiblah anakoe beladjar ëlmoe

Djanganlah tida pengatahoewan moe

Siijang den malem djangan koedjemoe

Wadjib beladjaraken artimoe

 

15. Beladjar elmoe djangan bersellang

Soepaija artimoe djangan kepalang

Djika tra elmoe tiijada terbilang

Dimisilken prahoe ijang soeda tergalang

 

22. Yang ber ëlmoe itoepoen sekarangnja

Sampelah djoewa kira hisabnja

Aken menagah hawa napsoenja

Darie pada atas itoe ëlmoenja

 

23. Doenija aheratpoen sekalijan nja

Djangan tertingal salah soewatoenja

Soepaija mahirmoe atas ëlmoenja

Bidjaksana lebih pengatahoewannja

 

24. Telah sampe dengen sentosa

Elmoenja lebih lagie perkasa

Mendjadie moelija sanentiijasa

Angkao terpoedjie ampoenja bisa

 

31 Istimiwa poella asal bangsawan

Bertamba poella dengen

Djikall tiijada pengngatahoewan

Mendjadie orang tiijada berkaroewan

 

Keislaman sebagai Landasan Spiritualitas

Selama ini, karya-karya sastra yang terbit pada awal keberadaan sastra Indonesia modern, lazimnya ditulis oleh peranakan Cina, Indo-Eropa, atau juga pribumi, yang hampir semuanya tidak beragama Islam; bahkan beberapa di antaranya memperlihatkan nada yang merendahkan terhadap Islam, misalnya pada Tjerita Njai Dasima yang di belakang nanti akan diulas lebih mendalam. Hampir tiadanya karya sastra di masa itu yang menyiratkan atau juga menyuratkan keislaman, sesungguhnya dapat dipahami dengan baik, dengan dasar pemahaman bahwa orang-orang non-Islam yang umumnya berpendidikan Eropa atau bersekolah secara formal dalam format sekolah modern yang bukan pesantren-lah yang banyak berkiprah dalam dunia penulisan. Berdasarkan realitas yang sedemikian itu maka cukup mengherankan ketika membaca buku kumpulan syair ini, dan lebih-lebih sebagai karya yang sementara ini disebut sebagai yang pertama dalam peta sastra Indonesia modern, ternyata kental dengan keislaman atau ungkapan-ungkapan yang khas agama Islam. Bukti mengenai hal ini terlihat pada kutipan bait-bait berikut ini yang menunjukkan keislaman dalam dimensinya yang beraneka ragam, bukan karena menyebut “Allah” saja misalnya, melainkan juga karena berhubungan dengan hal-hal dogmatis.

 

1. Bismillah itoe moela dikata

Rahman den rahim kedoewanja serta

Mengarang sair soewatoe tjerita

Dengen pitoeloeng Toehan kitta.

 

20. Barang siijapa meringanken Goeroenja

Diloepoetken Allah barang pengadjarnja

Die pitjiken poela atas redjkinja

Die mattiken tiijada dengen imannja

 

21. Sabda rasoel penghoeloe kitta

Goeroe itoepoen toean kitta

Goeroe itoe tamsil pellitta

Manerangken hattie ijang gelap goelitta

 

34. Boekanlah pakir boekan kapala

Tiijada kerana lilla hita alla

Dikataken orang pastie tertjella

Djadi pikirmoe bermala mala

 

69. Maka dipermoehoenken hal itoe lah

Siijapa ijang membatja kerana Allah

Toeloeng betoelken barang ijang salah

Siijapa ijang bertoeloeng alhamdoelilah.

 

73. Soenggoeh perboewatankoe ijang trabisa

Tiijada sekalie sangka atas perasa

Saolah olah beladjar bahasa

Dengan pitoeloeng Toehan ijang esja.

 

78. Kepada Allah moehoenken selamet

Bertambah poella moehoenken rahmat

Karangan sair soedah lah tamat

Mengarang nja soesah terlaloe amat.

 

Kecenderungan Stilistika

Karya sastra Indonesia yang tercetak dengan aksara Latin yang terbit pada masa ketika perubahan besar dari huruf Jawi ke huruf Latin tengah berlangsung, yaitu pertengahan abad ke-19, tentu tidak mungkin diharapkan adanya suatu bentuk sastra tertulis yang terhindar atau terbebas dari kesalahan teknis yang berkaitan dengan penulisan, khususnya penulisan ejaan. Terbitan yang muncul pada zaman ketika percetakan masih merupakan suatu bentuk teknologi baru, jelas akan memperlihatkan kebelummantapan dalam segala aspeknya. Demikian pula dengan buku kumpulan puisi berjudul Boek Saier Oetawa Terseboet Pantoen ini, masih memperlihatkan ketidakkonsistenan dalam penulisan sejumlah kata yang sama maksudnya. Secara stilistik, hal semacam ini merupakan sesuatu yang alami.

Kata “syair” yang di dalam judul ditulis dengan “saier”, beberapa kali di dalam bait-bait syair ditulis secara tidak konsisten, yaitu dengan “sair” (bait 66 dan 78) dan juga “saier” itu, misalnya pada bait 68 dan 79. Demikian pula dengan sejumlah kata lainnya. Beberapa kata yang ditulis secara tidak konsisten itu, misalnya adalah kata “ilmu” yang kadang-kadang ditulis “elmoe” (antara lain pada bait 15, 17, 24, dan 38) dan kadang-kadang pula ditulis ëlmoe (contohnya pada bait 14, 22, 23, dan 26). Kata “yang” dalam posisinya sebagai partikel produktif dalam bahasa Indonesia menunjukkan frekuensi pemunculan yang tinggi juga dalam bahasa Melayu ketika itu, sering ditulis dengan “ijang” (misalnya pada bait 21, 60, dan 66) tetapi juga ditulis “yang” terutama jika berada di awal baris syair (terlihat pada bait 22, 44, 60, dan 68). Untuk kata “polisi” terdapat variasi penulisan, yaitu ada yang ditulis dengan “poelisie” (bait 59, misalnya) dan “polisie” (bait 42). Demikian pula dengan kata “senantiasa” yang beberapa kali ditulis “sentiijasa” (bait 19, 41, 52) atau ditulis “sanentiijasa (bait 24, 58). Kemudian kata “sebentar” memperlihatkan kasus yang cukup unik sebab dalam sebuah bait (45) kata ini ditulis dengan “sabentar” dan “sebentar”: /Sebentar bertjerë sabentar bebinie/. Selanjutnya, kata “tiada” ditulis “tiäda” (bait 59) dan lebih banyak lagi ditulis sebagai “tiijada” (misalnya bait 52 dan 54). Sementara itu, ada sebuah kata, yakni “jikalau” yang ditulis dengan tiga varian, yaitu “djikaloe” (bait ), “djikalao” (bait 72), dan “djikallo” (bait 31 dan 51).

Itulah penulisan sejumlah kata yang konsistensi penulisannya cukup rendah dibandingkan dengan penulisan kata yang lain. Penyebab cara penulisan yang sedemikian itu, agaknya bukan bertolak dari suatu kehendak bereksperimen atau untuk memenuhi keinginan ber-licentia poetica melainkan karena belum terwujudnya kaidah penulisan yang disarankan.

 

Telaah Konteks: Ketidakanoniman sebagai Kesadaran Baru

Keanoniman sering dikaitkan dengan apa yang disebut sebagai sastra lama, yang menunjukkan corak kolektivitas alih-alih individualitas. Dengan kata lain, sebuah karya pada masa “dulu” merupakan pengejawantahan atas kerja atau olah rasa bersama yang dengan demikian tidak mungkin ada seseorang yang berhak mengklaim sesebuah karya sebagai karyanya. Tiadanya keanoniman atau dengan dicantumkannya nama—alias, samaran, ataupun nama jelas—pada gilirannya kemudian menandakan adanya sebuah tanggung jawab kreatif yang merupakan milik individu, milik sang penulis itu sendiri.

Kumpulan syair yang ditulis oleh seseorang yang menyatakan dirinya sebagai “Sa-Orang Bangsjawan” ini secara nyata telah menunjukkan mampu meretas konvensi dan membuka cakrawala baru dalam dunia penulisan di Indonesia pada pertengahan abad ke-19 itu. Kendati kelihatannya masih bersembunyi di balik identitas yang tidak secara langsung mengacu pada sebuah sosok, pemakaian nama “Sa-Orang Bangsjawan” ini jelas telah memperlihatkan suatu corak kesadaran akan pentingnya kedirian. Ditilik dari perspektif zaman sekarang, permasalahan pencantuman nama ini sangat mungkin bukan sesuatu yang penting dan istimewa, namun jika kita segera menyadari bahwa hal itu terjadi pada tahun 1850-an, ketika kemelekhurufan dan tradisi bersastra-tulis masih sangat minim, maka yang ada kemudian tidak lain adalah suatu penghargaan terhadap munculnya era baru yang dapat disebut sebagai “modern”.
Kumpulan puisi ini dapat disebut modern karena (1) apa yang diungkapkan adalah persoalan manusia sehari-hari yang bertumpu pada persoalan biasa dan bukan persoalan yang di awang-awang, (2) diungkapkan dengan bahasa Melayu yang alami dan lugas sehingga siapapun juga akan mengerti dengan baik pesan yang ingin disampaikan, (3) ditulis dengan aksara latin sehingga cakupan pembacanya menjadi luas dan akhirnya mampu melewati waktu lebih dari seabad hingga kini sebab aksara yang dipakai adalah aksara yang sama dengan aksara sekarang, dan (4) ditulis oleh seseorang yang berani menyatakan dirinya secara terang yang berarti mewakili kedirian yang jelas.

 

Puisi Mendahului Prosa: Aspek Kemelekhurufan

Bukan sesuatu yang perlu diherankan apabila keberadaan puisi akan mendahului prosa mengingat secara sosiologis pun puisi telah lebih akrab dengan khalayak dibandingkan dengan prosa, utamanya dalam bentuknya yang lisan, yang secara tradisi telah dipraktikkan orang dalam kegiatan berbalas pantun, mabasan, atau kegiatan kesenian lain yang memanfaatkan bentuk semacam puisi sebagai sarana berkomunikasi. Apalagi dalam hubungannya dengan dunia penciptaan, pembuatan puisi sangat mungkin akan mendahului prosa mengingat bahwa proses kreatif dalam penciptaan puisi sudah lebih dikenal sebelumnya dalam bentuk lisan, sementara penulisan prosa tentu lebih mensyaratkan suatu kemampuan dan energi kreatif yang berbeda, lebih-lebih pada masa ketika prosa dalam bentuk yang bernama hikayat hanya merupakan sesuatu yang didengar dan bukan sesuatu yang telah diselami atau didalami dalam praktik berkesenian umum untuk beberapa lama.

Prakondisi semacam inilah yang antara lain menyebabkan penulisan prosa memunyai sejumlah kendala dibandingkan dengan penulisan puisi selain situasi reproduksi, baik berupa koran, majalah, atau penerbitan lepas, pada masa itu yang belum menawarkan kondisi atau memberi peluang untuk penulisan prosa ini. Setiap aktivitas kreatif, bagaimanapun, tentu berada di tengah kondisi atau atmosfir yang mendukung, baik itu berupa komunitas kesenian atau sastra dalam hal ini, media yang bersedia menampung hasil kreativitas itu seperti koran atau majalah, maupun juga pembaca yang siap menjadi sasaran dari dunia penulisan ini. Kenyataannya, situasi intelektual yang bersinggungan dengan permasalahan kehidupan yang berbasis pada sistem reproduksi atau penerbitan pada pertengahan abad ke-19 itu masih memperlihatkan suatu keterbelakangan dalam semua seginya. Orang yang sudah mampu baca-tulis masih sangat sedikit. Bahasa yang mampu mengatasi perbedaan budaya maupun bahasa-ibu yang berbagai-bagai itu belum mengada; yang ada baru berupa lingua franca yang rentan terhadap ketidakkonsistenan. Ditambah lagi dengan aspek kebutuhan, yang belum menganggap aktivitas membaca sebagai bagian dari keseharian, lagi-lagi bersebab dari masih rendahnya kemelekhurufan pada masa itu, serta aspek-aspek sosio-budaya lain menjadikan kualitas atau wujud karya sastra yang muncul tidak jauh dari sejumlah permasalahan tersebut. Dan puisi yang secara alami memang kemudian yang sangat mungkin dipublikasi.

 

Terbitan Tertua dan Pola yang Gamang

Sebagai terbitan tertua—sejauh data yang diperoleh—syair-syair dalam buku ini mungkin saja akan dinilai sebagai bentuk yang belum begitu mantap. Akan tetapi, cukup mengherankan pula bahwa sebagai karya yang paling awal, yang terbit tahun 1857, hanya selang setahun setelah surat kabar berbahasa Melayu yang pertama terbit, yaitu tahun 1856 (Soerat Kabar Bahasa Melaijoe) kerapihan dan keketatan sebagai syair maupun dalam mengungkapkan isi sudah dapat dikatakan memadai. Pola rima yang a-a-a-a tampak jelas dipertahankan dengan baik dengan menampilkan sejumlah kosakata yang mampu mewakili bunyi yang dikehendaki.

Seandainya kemudian ada penilaian bahwa ada kegamangan, hal itu sesungguhnya hanya terletak pada penulisan judul buku ini yang sepintas lalu menunjukkan adanya ketidakyakinan akan apa yang disebut dengan “pantun” dan “syair” itu. Akan tetapi, boleh jadi pula, kata “pantun” di sini tidak merujuk kepada suatu bentuk puisi yang bersajak a-b-a-b melainkan pada ungkapan yang nyastra atau yang memberi kesan puitis, seperti telah diungkapkan di depan. Justru apabila tidak ada kegamangan semacam itu, perlu ada sederet keheranan atau pertanyaan yang menyelidik akan kemantapan yang ada itu ditinjau dari dimensi kreativitas: jangan-jangan karya yang ada itu hanya sebuah saduran, boleh jadi juga sekadar terjemahan dari khazanah sastra dari belahan dunia lain, siapa tahu karya yang ada tersebut ternyata bukan yang terawal melainkan adalah karya yang kesekian yang untungnya telah terselamatkan sementara karya yang lebih dahulu ada sudah hilang tak berbekas dan tak terdata, atau pertanyaan serupa lainnya yang lebih diakibatkan oleh ketidaknaturalan proses genetis ini.

Menetapkan sesuatu karya sebagai yang tertua, pada akhirnya seperti sebuah ekspedisi, sebuah pencarian dan pelacakan akan jejak masa lalu yang hilang. Oleh karena itu, jika kemudian ternyata ada karya yang lebih tua usianya dalam genre yang sama, maka karya ini pun juga harus siap untuk dibatalkan kepionerannya. Ini sesuatu yang wajar dan alami saja, sebagaimana telah dibatalkannya kumpulan Sair Kadatangan Sri Maharaja Siam di Betawi dalam konteks ini gara-gara kumpulan syair Boek Saier oetawa Terseboet Pantoen ini diketemukan. Begitu seterusnya. Demikian pun dengan soal kegamangan yang ada, merupakan suatu realitas yang wajar-wajar saja sekiranya dipahami dengan baik prakondisi yang melingkupinya itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *