KELUARGA BATIK BETAWI

DSC_0018

1. Batik atau jika boleh disebut, seni batik, di Indonesia telah berkembang sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan-kerajaan setelahnya. Meluas dan eksis sehingga kesenian batik benar-benar tak dapat dipisahkan dari kehidupan rakyat Indonesia dan khususnya masyarakat Jawa. Sejak awal hingga masuk abad ke-20, semua batik yang dihasilkan ialah batik tulis. Sementara batik cap – orang Betawi menyebutnya batik ceplok – dikenal setelah perang dunia kesatu sekitar tahun 1920.

Batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.

Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

IMG_20150120_114927

2. Batik Betawi berkembang di Batavia, kini Jakarta, sejak abad ke 19. Motifnya mengikuti gaya batik pesisiran (Gresik, Surabaya, Madura, Banyumas, Pekalongan, Tegal, dan Cirebon). Daerah pembatikan yang dikenal di Jakarta tersebar di dekat Tanah Abang yaitu: Karet Tengsin, Karet Semanggi, Bendungan Ilir, Bendungan Udik, Sukabumi Ilir, Pelmerah, Petunduan, Kebayoran Lama, dan daerah Mampang Prapatan serta Tebet. Salah satu nama motif batik Betawi yang cukup masyhur adalah Bambu Kuning. Sayang memang, generasi terakhir pembatik batik Bambu Kuning meninggal tahun 1990-an. Meski begitu, koperasinya masih ada, yakni Koperasi Pembatik Bersama Djakarta (KPBD) berinduk kepada GKBI (sekarang gedungnya berdiri kokoh di sebelah jembatan Semanggi).

Jakarta sejak zaman sebelum perang dunia kesatu telah menjadi pusat perdagangan antar daerah Indonesia dengan pelabuhannya Pasar Ikan sekarang. Setelah perang dunia kesatu selesai, proses pembatikan cap mulai dikenal, produksi batik meningkat dan pedagang-pedagang batik mencari daerah pemasaran baru. Daerah pasaran untuk tekstil dan batik di Jakarta yang terkenal ialah: Tanah Abang, Jatinegara dan Jakarta Kota, yang terbesar ialah Pasar Tanah Abang sejak dari dahulu sampai sekarang. Batik-batik produksi daerah Solo, Yogya, Banyumas, Ponorogo, Tulungagung, Pekalongan, Tasikmalaya, Ciamis dan Cirebon serta lain-lain daerah, bertemu di Pasar Tanah Abang dan dari sini baru dikirim ke daerah-daerah di luar Jawa. Pedagang-pedagang batik pada umumnya Cina dan Arab, bangsa Indonesia masih minoritas.

Oleh karena pusat pemasaran batik sebagian besar di Jakarta, khususnya Tanah Abang, dan juga bahan-bahan baku batik diperdagangkan di tempat yang sama, maka timbul pemikiran dari pedagang-pedagang batik itu untuk membuka perusahaan batik di Jakarta dan tempatnya berdekatan dengan Tanah Abang. Pengusaha-pengusaha batik yang muncul sesudah perang dunia kesatu, terdiri dari bangsa cina, dan buruh-buruh batiknya didatangkan dari daerah-daerah seperti Pekalongan, Yogya, Solo, Crebon, dan lain-lain. Selain dari buruh batik luar Jakarta itu, diambil pula tenaga-tenaga setempat di sekitar daerah pembatikan. Berikutnya, melihat perkembangan pembatikan ini membawa lapangan kerja baru, maka penduduk asli daerah tersebut juga membuka perusahaan-perusahaan batik.

Bahan-bahan baku batik yang dipergunakan ialah hasil tenunan sendiri dan obat-obatnya hasil ramuan sendiri dari babakan kayu, secang, mengkudu, kunyit, jengkol, dan sebagainya. Batik Betawi sebelum perang, memang terkenal dengan batik kasarnya dan warnanya sama dengan batik Banyumas. Sebelum perang dunia kesatu bahan-bahan baku  sudah dikenal dan pemasaran hasil produksinya di Pasar Tanah Abang dan daerah sekitar Jakarta.

 

DSC_0183

3. Saat ini beberapa pegiat perbatikan Betawi berusaha menggali kembali warisan leluhurnya. Dimulai dari perempuan muda bernama Ernawati, yang berusaha belajar nyanting atas bimbingan encingnya, Umi Adi Susilo. Umi adalah perempuan Betawi yang berhasil mengemangkan batik Semarang dengan merek Batik Semarang Enambelas. Sudah lebih dari 100 motif diciptakannya telah beredar di pasaran.

Keberhasilan Ernawati dengan batik Betawi bermerek “Seraci”, ternyata menjadi virus positif yang menularkan semangat membatik kepada perempuan muda lainnya di beberapa kampung tersebar di Jakarta dan sekitarnya. Masih dengan bimbingan Umi Adi Susilo, lahirlah pembatik lain seperti Fitri Suwandati, Nur Yaum, Siti Laela, Hj. Nanan Rumida, Hj. Annisa D. Sitawati, Maya, dan Vivi. Perempuan ini pun telah memiliki merek dagangnya sendiri. Fitri Swandati mendirikan Batik Betawi Muara Tawar; Nur Yaum mendirikan Batik Betawi Gandaria; Siti Laela membangun Batik Betawi Terogong; Hj. Nanan Rumida mendirikan Batik Bani Said; Hj. Annisah mendirikan Batik Betawi Kebon Kosong; Maya  mendirikan Batik Betawi Rusun Marunda dan Vivi mendirikan Batik  Betawi Kebon Bawang.

Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) memberikan dukungan cukup besar atas perkembangan kegiatan perbatikan Betawi ini. Sejak 1 April 2012, atas dorongan LKB, para pegiat batik Betawi mendirikan organisasi Keluarga Batik Betawi (KBB).  KBB merupakan himpunan para pengrajin batik Betawi yang bertekad menghidupkan dan mengenalkan kembali batik Betawi ke masyarakat. Untuk mencapai target itu, KBB membuka pelatihan kepada masyarakat dan aktif mengikuti berbagai pameran.

Kini KBB telah memiliki dua tempat workshop dan pelatihan, yang terletak di daerah Marunda dan Setu Babakan. Alhamdulillah KBB juga sudah berhasil melahirkan 12 sanggar binaan yang tersebar di JABODETABEK. KBB bertekad, ke depan akan semakin banyak masyarakat yang mengenal dan mau mengembangkan batik Betawi, sehingga batik Betawi semakin jaya dan lestari (YAS-1214).

 

Tagged with:

(The Author)

View all articles by
Social Links: →

Leave a Comment