TABE | LANGKAN | TAMPANG | PLAMPANG | NANGGAP | GEROBOG
    Juma'at, 10 Sep 2010
     
Adonan
SOHIBUL HIKAYAT
BEBULAN
PITUAH
SISIK MELIK
DEDENGKOT
PENGULEKAN
BODOR




Longok


 
Jakarta dan Sekitarnya Sebagai Wilayah Budaya Betawi


Image Pendahuluan, Umum memahamkan perkataan Betawi berasal dari Batavia, walau dalam ejaan Arab gundul naskah-naskah Betawi cara penulisan kedua perkataan itu berbeda.

Batavia adalah nama yang diberikan Belanda kepada kawasan bekas lokasi kraton Jayakarta yang ditaklukkannya pada tahun 1620-an, sebelumnya pada tahun 1619 tempat itu diberi nama Jacatra.

Batavia adalah binnenstad, sebuah kota tertutup untuk penduduk. Tidak dapat dipastikan bahwa pada ketika itu juga terjadi sosialisasi nama kota itu sehingga menjamah audience di luar binnenstad.

Tidak dapat dipastikan kapan Batavia sebagai nama kota diketahui secara luas oleh penduduk binnenstad dan pemakai jasa pelabuhan Kalapa. Orang Cina menyebut kota itu sebagai Ch’lopa (Kalapa).

Menurut kamus bahasa Brunei, kata betawi berarti anting-anting. Mengacu pada penggalian situs Babelan, Bekasi, ditemukan banyak anting-anting yang berasal dari abad ke-2. Dan ada beberapa nama tempat di sekitar ini: Karawang dan Subang yang mempunyai makna anting-anting. Penduduk di zaman ini dapatlah dikatakan sebagai “proto” Betawi. Ada pun orang-orang berbahasa Melayu yang menjadi pemukim di tempat yang sekarang disebut Jakarta paling tidak sejak abad ke-10 (Prof. Bern Nathofer, Prof. James T. Mc Collin, 1995).

Wilayah Nusa Kalapa, Syair Bujangga Manik menurut Prof. Noordhuijn ditulis pada akhir paruh abad ke-15. Syair tersebut menyebut beberapa nama tempat sekitar Jakarta Kota, labuan (pelabuhan Kalapa), Pabeyaan (sekitar Meseum Bahari), Mandi Rancan (Jl. Kakap dan sekitarnya), Ancol Temyang, berlokasi Dunia Fantasi adalah Ancol Kiji (kemungkinan daerah Rowa Malaka).

Berdasarkan syair tersebut tempat-tempat tersebut berpenduduk. Bahkan patut diduga Mandi Rancan adalah kawasan pemukiman. Seperti halnya Babelan yang merupakan kawasan pesisir, maka konsenterasi penduduk asli dapat diduga pada awalnya di kawasan pesisir. Kelana Cina Fa Hsien (414 M) mencatat adanya pemukiman di sekitar Ancol dan banyaknya penduduk yang hidup dari mencari ikan.

Peta Ciela yang dibuat Pangeran Panembong sekitar akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16 menyebut kawasan yang dibatasi sebelah wetan kali Cisadane dan sebelah timur kali Citarum Nusa Kalapa.

Jayakerta atau Kertajaya, dan Surakarta, adalah nama lain Nusa Kalapa yang sudah disebut oleh naskah Sunda abad ke-15. Nama Jayakerta pada tahun 1527 dipergunakan Fatahillah untuk menyebut entitas kekuasaan politiknya. Dari folklore yang masih hidup di sementara kalangan penduduk Bogor asli perang penaklukkan Nusa Kalapa oleh Fatahillah disebut sebagai perang Betawi.

Perang penaklukkan itu menelan korban yang tidak sedikit antara lain musnahnya 3000 rumah karena dirusak Fatahillah ( de Quoto 1531), tewasnya Xabandar (syahbandar) Wak Item, atau Betara Katong versi naskah Cirebon, beserta puluhan pengawal labuhan.

Serangan Fatahillah itu sulit dibendung karena berkekuatan 1546 pasukan koalisi Demak-Cirebon (Purwaka Caruban Nagari), sementara Labuan Kalapa hanya dijaga beberapa puluh pengawal Xabandar saja. Pasukan Pajajaran yang berkekuatan 100.000 orang tak mungkin digerakkan dalam waktu singkat.

Daerah Mandi Rancan dikosongkan dari penduduk asli dan menjadi tumpukan puing-puing reruntuhan belaka sampai Pangeran Jayakerta menjualnya kepada Belanda pada 1602.

Fatahillah mendirikan pusat kekuasaan di tepi barat Kali Besar (kemungkinan hotel Omni Batavia sekarang), dan di tepi timur didirikan perkampungan Aryan. Penduduk asli berada di luar kawasan kekuasaan yang melebarkan dominasinya sampai sekitar kali Angke.

Penduduk membangun pemukimannya kemungkinan besar di balik bukit yang disebut Gunung Biru atau Blauw Bergen (Topografi 1770). Bukit ini, seperti halnya bukit Gunung Sarie, telah rata dengan tanah ketika Belanda membangun Batavia dimana banyak anak-anak sungai yang diuruk. Terjadi pergeseran lokasi pemukiman ke arah selatan (tengah) dari pesisir.

Wilayah Budaya Betawi, Uraian di atas mengungkap pergerakan penduduk dari pesisir ke tengah. Kecuali mata pencahariannya, maka kebudayaan penduduk pesisir dan tengah sulit dibedakan, Penduduk kawasan pinggiran kota dan udik hidup dari pertanian. Orientasi kebudayannya cukup dekat dengan pusat kekuasaan Pajajaran di Bogor. Ini dapat kita bedakan dengan orientasi kebudayaan pesisir dan tengah yang cenderung serba arah mengingat fungsi labuan Kalapa sebagai pelabuhan internasional yang menjadi pusat kehidupan ekonomi.

Pengaruh kebudayaan Melayu cukup kuat pada masyarakat penduuk pesisir dan tengah, dan pengaruh kebudayaan Sunda cukup kental pada kebudayaan pinggiran dan udik. Namun keempat sub wilayah budaya itu diikat dalam bahasa yang sama: bahasa Melayu.

Persebaran bahasa Melayu ke selatan (pinggiran dan udik) karena kali Ciliwung. Pinggiran dan udik adalah buffer zone keperluan dasar pesisir dan tengah. Sehari-hari kali Ciliwung memediasi hubungan budaya dan bahasa keempat sub wilayah kebudayaan tersebut.

Lemahnya pengaruh bahasa Sunda pada penduduk pinggiran dan udik karena secara ekonomi mereka lebih banyak berurusan dengan orang-orang di ilir.

Adanya vassal-vassal kerajaan Sunda Pajajaran di Nusa Kalapa seperti Tanjung Jaya dan Cinagara (sebagaimana disebut naskah-naskah Sunda) lebih berfungsi sebagai pemungut bea, dari pada sebuah agen-agen kebudayaan.

Wilayah budaya Betawi kini berada pada wilayah administrasi Prop DKI Jakarta, kota dan kabupaten Tangerang, kota dan kabupaten Bekasi, kota Depok, dan beberapa kecamatan di kabupaten Bogor seperti Cibinong. Yang masih terasa kental pada ekspresi kebudayaan di tempat-tempat ini adalah bahasa dan perilaku.

Kebudayaan Betawi memang mendapatkan pengaruh dari kebudayaan Eropa, Cina, dan Arab, tetapi kebudayaan Betawi juga mempengaruhi mereka.





Copyright ©2006 kampungbetawi.Com. AllRights Reserved. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. Dilarang meng-copy seluruh atau bagian dari isi situs ini tanpa seijin kampungbetawi.com