TABE | LANGKAN | TAMPANG | PLAMPANG | NANGGAP | GEROBOG
    Juma'at, 10 Sep 2010
     
Adonan
SOHIBUL HIKAYAT
BEBULAN
PITUAH
SISIK MELIK
DEDENGKOT
PENGULEKAN
BODOR




Longok


 
Betawi, Arab, dan Kwitang


I

Pukul 04.00 dinihari. Angin mendesir pelahan. Langit terang abu-abu dengan gemintang berkelipan. Alunan merdu mendayu pembacaan tarhim dari pengeras suara langgar Al-Furqon terdengar menyayat. Sebentar lagi subuh. Langgar Al-Furqon memang salah satu langgar yang “hidup” tiap sembahyang wajib. Tidak terkecuali sembahyang subuh. Tarhim biasanya dibawakan oleh Haji Daam. Haji Marjuki keluar dari rumahnya berangkat menuju langgar untuk sembahyang subuh berjamaah. Di langgar sudah ada Guru Haji Minan, Haji Ihsan, Haji Rahmat, Haji Amja, Haji Tabronih, Haji Ahmad, Haji M. Noor, Hamzah, Asmat, Munirih, Zakwanih, Sa’amin dan beberapa anak muda. Ketika bedug ditabuh dan azan subuh berkumandang, semakin banyak jamaah berdatangan untuk sembahyang berjamaah. Begitulah aktivitas keagamaan masyarakat Betawi kampung Terogong, Cilandak, Jakarta Selatan dari hari ke hari sampai saat ini.

Jika hari biasa selesai sembahyang subuh, jamaah pulang ke rumah untuk kerja rutin. Tapi jika hari Minggu dilanjutkan dengan pergi ke Kwitang. Seperti biasa, Guru Haji Minan mengepalai rombongan. Sebelum berangkat mereka mampir di warung Bang Brohim untuk sarapan nasi uduk. Karena untuk bisa sampai di Kwitang harus berganti kendaraan umum atau sewa mobil omprengan. Begitulah, setelah sembahyang subuh di hari Minggu, orang Betawi – bukan saja yang dari Kampung Terogong – berbondong-bondong menuju Kwitang.

Orang Betawi mengenal Kwitang bukan sebagai nama kampung, tapi sebagai majlis taklim. Di sinilah Habib Ali Al-Habsyi mendirikan Islamic Center Indonesia pada 1887 yang menjadi salah satu basis dakwah Islam terkemuka di Jakarta. Habib kharismatik dan rendah hati ini sangat dihormati oleh orang Betawi. Di majlis taklim ini Habib Ali – diteruskan oleh Habib Muhammad kemudian Habib Abdul Rahman – mengajarkan perukunan yaitu fikih, tauhid, hadis, dan lain-lain kepada orang Betawi.

Orang Betawi (di kampung-kampung) memanggil semua keturunan Arab dengan sebutan habib. Jika mereka bertemu habib langsung berebut cium tangan, minta didoain, dan minta diobatin. Orang Betawi yang fanatik meyakini bahwa habib adalah keturunan Nabi Muhammad dan tingkat pengetahuan keislamannya jauh lebih tinggi. Dengan keyakinan dan fanatisme seperti itu, doa dan obat yang diberikan habib dianggap lebih manjur dan cepat dikabulkan oleh Tuhan. Pada peringatan muludan, isro mi’raj dan hari-hari besar lainnya, habib selalu diundang untuk ceramah atau membaca hikayat nabi. Dengan hadirnya habib, peringatan atau pengajian dan tablig akbar penuh sesak dibanjiri massa.

II

Dalam seminar bertajuk “Peran Keturunan Arab dalam Sejarah Masuk dan Perkembangan Islam di Indonesia” yang diselenggarakan oleh PP Muhammadiyah beberapa waktu lalu, Azyumardi Azra, memberi gambaran agak jelas tentang keturunan Arab. Tak seluruhnya benar jika keturunan Arab memiliki pengetahuan keagamaan yang mumpuni. Warga keturunan Arab tak monolitik, sebaliknya plural; mereka beragam bahkan tak hanya dalam pandangan dan praksis keagamaan, tapi juga dalam stratifikasi sosial, yang pada gilirannya mempengaruhi sikap dan interaksi mereka dengan kaum muslimin pribumi Islam.

Jika diklasifikasi sikap keagamaan yang terdapat di kalangan warga keturunan Arab, ditemukan tiga kelompok. Pertama, kelompok moderat yang pemahaman dan praktek keagamaannya sama dengan mayoritas muslim Indonesia. Kelompok ini diwakili oleh Jami’at Khair dan Al-Irsyad. Kedua, kelompok sekuler, yang tak memiliki perhatian dan kepedulian khusus kepada hal-hal yang berbau Islam. Ketiga, kelompok “salafi radikal” yang aktivitasnya sangat menonjol akhir-akhir ini.

Keragaman keturunan Arab di Indonesia berkaitan dengan asal daerah mereka di Timur Tengah. Di Indonesia terdapat warga keturunan Arab yang berasal dari Mesir, Arab saudi, Iraq, dan Yaman. Mayoritas keturunan Arab di Indonesia berasal dari kawasan Hadramaut, Yaman Selatan. Imigrasi orang-orang Hadramaut ke Indonesia dalam jumlah besar dan masif terjadi sejak abad 19. Kemudian mereka membentuk enklave-enklave di berbagai kota di Indonesia, Petamburan dan Kwitang (Batavia), Pekalongan, Surakarta, Surabaya, Pontianak, Palembang, dan lain-lain. Enklave-enklave ini sebagiannya masih bertahan, sebagiannya lagi, karena urbanisasi, telah bercampur dengan warga-warga lainnya.

Secara sosiologis, warga keturunan Hadramaut di Indonesia mewarisi stratifikasi sosial yang rumit sebagaimana terdapat di tanah leluhur mereka. Secara garis besar stratifikasi sosial itu sebagai berikut : Pertama, sayyid (perempuan, syarifah), yakni mereka yang merupakan keturunan Nabi Muhammad. Sayyid ini dapat dibagi dua : sayyid relijius yang berorientasi pada Islam, yang kemudian menggunakan gelar habib. Kedua, sayyid yang tak secara khusus berorientasi Islam. Sayyid pada dasarnya hanya melakukan perkawinan di antara mereka sendiri dengan alasan kafa’ah (sederajat). Kedua, qaba’il, yang merupakan kepala-kepala atau kalangan pemuka kabilah, suku, atau klan. Ketiga, masyayikh atau syekh-syekh, ulama yang merupakan ahli-ahli agama, yang tak merupakan sayyid. Mereka bisa juga datang dari kalangan qaba’il. Keempat, muwallad, yakni golongan peranakan, yang darahnya tak lagi murni Hadrami, sudah tercampur melalui perkawinan dengan etnis lain.

Kontes dan pertarungan terjadi di antara kelompok ini. Di Indonesia, misalnya, dapat dilihat dari terjadinya konflik antara kelompok sayyid dan non-sayyid dalam organisasi Jami’at Khair pada awal abad 20, yang berakhir dengan keluarnya kelompok non-sayyid dari Jami’at Khair untuk selanjutnya mendirikan Al-Irsyad.

Kontes, persaingan, dan perebutan pengaruh sebenarnya juga terjadi di antara kepemimpinan warga keturunan Arab dengan kepemimpinan muslim pribumi, meski ini lebih terselubung. Dengan berbagai pretensi yang mereka miliki, terdapat kecenderungan dan gejala di kalangan kepemimpinan warga keturunan Arab dengan orientasi “salafi radikal” untuk tak terlalu mempercayai kepemimpinan muslim pribumi. Bagi mereka terdapat kesan, bahwa kepemimpinan muslim pribumi terlalu “kompromistis” dan “akomodatif” baik terhadap kepemimpinan politik Indonesia maupun situasi sosial-budaya Indonesia yang menghadapi berbagai “penyakit” berat.

III

Guru Haji Minan dan jamaah langgar Al-Furqon atau umumnya orang Betawi sekitar Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, secara rutin mengikuti majlis taklim Minggu pagi di Kwitang. Mereka khusyuk mendengarkan uraian kitab Sifat duapuluh, Irsyadul Anam, Tafsir Jalalain atau Arbain Nawawi. Mereka tak tahu persaingan dan perebutan pengaruh yang terjadi di internal keturunan Arab. Mereka juga tak peduli dengan “pertarungan” antara Jami’at Khair dengan Al-Irsyad. Bagi mereka orang Arab adalah habib yang tak henti-hentinya berdakwah dan mengajar agama Islam. Itu sebabnya habib (kata jamaknya habaib) mesti dihormati karena selain pendakwah yang gigih juga keturunan Nabi Muhammad (Yahya Andi Saputra).




Copyright ©2006 kampungbetawi.Com. AllRights Reserved. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. Dilarang meng-copy seluruh atau bagian dari isi situs ini tanpa seijin kampungbetawi.com