TABE | LANGKAN | TAMPANG | PLAMPANG | NANGGAP | GEROBOG
    Juma'at, 10 Sep 2010
     
Adonan
SOHIBUL HIKAYAT
BEBULAN
PITUAH
SISIK MELIK
DEDENGKOT
PENGULEKAN
BODOR




Longok


 
Seluk-Beluk Rumah Betawi (Bagian I) Oleh Yahya Andi Saputra


Bagi orang Betawi niat untuk mengawinkan anaknya berarti mengandung beberapa konsekwensi.Upacara akad nikah saja sudah menghabiskan banyak enerji dan biaya. Setelah pernikahan harus pula disiapkan rumah untuk rumah tangga anaknya. Orang Betawi yang kaya biasanya sudah mempersiapkan rumah buat anaknya yang akan dikawinkan. Jika belum dibuatkan rumah, anaknya yang berkeluarga akan terus menerus tinggal bersama dalam keluarga besar. Hal ini tentu mempunyai dampak negatif bagi perkembangan keluarga si anak. Jika sudah disiapkan rumah, maka pindah rumah merupakan keharusan dan dilakukan menurut kebiasaan turun temurun.

Untuk sampai pada tahap pindah rumah tentu harus lebih dahulu melewati tahap pembuatan atau pembangunan rumah. Membangun rumah bagi orang Betawi adalah pekerjaan yang amat penting. Itulah sebabnya dibutuhkan beberapa persyaratan agar niat itu dapat terpenuhi. Syarat itu antara lain tersedianya biaya, tersedianya material bangunan, dan tersedianya lahan terpat didirikannya bangunan. Selain itu ada syarat yang juga amat penting namun bukan material, yaitu perhitungan yang berporos kepada alam gaib.

Perhitungan ini dilakukan oleh orang pintar yaitu seorang kyai yang salah satu bidang keahliannya adalah ilmu falak. Dengan ilmu yang dimilikinya itu, kyai akan memberi nasihat. Hal-hal yang dihitung adalah lahan tempat pembangunan, arah rumah, dan mulainya pembangunan. Arah rumah di beberapa daerah Betawi lain biasanya dihubungkan dengan keberadaan naga besar. Pada dasarnya bagi orang Betawi rumah dapat dibangun dimana saja asal lahan itu miliknya. Namun ada tradisi untuk menghindari membangun pada lahan tertentu. Tidak boleh membangun rumah di atas tanah yang dikeramatkan dan jangan membangun rumah untuk anak di sebelah kiri rumah orang tua. Kalau tradisi ini dilanggar, maka keluarga yang menempati rumah itu akan terus-menerus kekeringan atau susah rejeki dan sakit-sakitan.

Jika perhitungan selesai maka direncanakan dan dilaksanakan upacara pra-pembangunan. Pertama-tama mengumpulkan sanak saudara untuk bermusyawarah membicarakan pembangunan dan jenis rumah yang akan dibangun. Tradisi Betawi mengenal tiga jenis rumah yaitu Gudang, Joglo dan Bapang. Sanak-saudara diharap dapat membantu meringankan beban biaya. Dengan pertemuan itu diketahui apa saja yang sudah ada dan apa saja yang harus dipersiapkan.

Andilan
Dahulu pertemuan seperti itu disebut andilan dan di antara mereka akan menyanggupi membantu sesuai dengan kemampuannya. Andilan bagi masyarakat tidak hanya dikenal dalam rangka kumpul seturuan keluarga untuk membangun rumah saja, namun kata inipun digunakan dalam pengertian atau konsep lebih luas lagi berupa gotong-royong dan berswadaya untuk mencapai hal-hal yang diinginkan. Dalam andilan keluarga untuk membangun rumah, ada yang memberikan pohon yang ada di kebunnya yang akan dijadikan tiang atau papan. Artinya pohon itu nantinya akan ditebang dan dijadikan bahan bangunan. Ada pula yang membantu menyediakan genteng dan lain sebagainya. Ini menunjukkan bahwa sifat musyawarah dan gotong royong sudah sangat mendarah daging bagi masyarakat Betawi.

Setelah hari pembangunan ditentukan diundanglah tetangga untuk merowahan (tahlilan) sebagai ungkapan permohonan kepada Allah agar pembangunan rumah mendapat kebaikan. Pada saat itu diumumkan pula agar para tetangga dengan rela hati membantu bergotong-royong menebang pohon-pohon dan meratakan lahan tempat akan dibangunnya rumah. Orang Betawi menyebut kegiatan ini dengan nyambat atau sambatan.

Pada hari yang telah ditentukan maka lahan itu diukur lalu diuruk untuk menambah ketinggiannya. Kegiatan ini disebut membuat batur atau baturan. Sementara itu ahli bangunan yang disebut tukang sudah memulai kerjanya membuat tiang guru, pondasi, kuda-kuda, pengeret, penglari, papan nok, kaso, ander, siku, ragam hias dan lain sebagainya. Beberapa jenis pohon atau kayu yang digunakan sebagai bahan bangunan dalam tradisi Betawi telah dimaknai atau ditamsilkan sesuai dengan hubungan timbal balik manusia dengan alam.

Material Bangunan
Bahan bangunan dari jenis kayu biasanya dari pohon buah-buahan yang sudah tua dan tidak produktif lagi. Pohon itu antara lain nangka, duren, kecapi, jamblang, cempaka, jengkol, dan sebagainya. Jenis pohon itu memang banyak tumbuh di Betawi. Jenis kayu nangka karena warnanya kuning tidak boleh digunakan membuat drompol (bagian bawah kusen pintu atau bagian bawah lainnya). Jika kayu ini dilangkahi akan mengakibatkan sakit kuning. Kayu nangka utamanya digunakan sebagai tiang guru, dinding rumah, dan pintu panel berukir. Komposisi kayu nangka dan kayu jamblang akan jauh lebih indah jika diambil bagian paling tengahnya. Jenis kayu cempaka seyogyanya dipakai untuk kusen pintu bagian atas. Ini mempunyai makna tertentu yaitu agar pemilik rumah senantiasa dihormati dan disenangi tetangga. Sedangkan jenis kayu asem dipantang digunakan sebagai bahan bangunan. Sifat asem ditafsirkan akan mempengaruhi harmonisasi antara pemilik rumah dengan tetangganya. Dapat terjadi rumah mempunyai kesan kumal, gersang dan tidak berwibawa.

Agar kayu yang digunakan dapat awet atau tahan lama maka kebiasaan orang Betawi merendam kayu-kayu itu di empang atau di comberan. Perendaman kayu-kayu itu paling cepat satu bulan dan jika direndam lebih lama akan lebih baik kualitasnya. Tehnik kontemporer menyebutnya dioven. Kebiasaan merendam kayu ini sudah dimulai jauh sebelumnya bahkan ketika rencana membikin atau membangun rumah belum diniatkan. Begitu pula dengan mengumpulkan bahan bangunan lainnya seperti genteng, batu bata merah dan sebagainya. Kebiasan mengumpulkan bahan bangunan ini disebut nyicil atau nabung.

Setelah selesai membuat baturan disiapkan 5 bate (batang) garam. Garam-garam itu di letakkan di tiap pojok tanah dan yang sebate lagi diletakkan di tengah-tengah. Menurut adat Betawi garam itu ditakuti oleh orang alus baik berupa jin, setan, kuntilanak, longga-longga, kolong wewe, dan sejenisnya. Pada saat memasang umpak batu sebagai alas tiang guru, sebelum tiang guru didirikan, di atas umpak batu diletakkan uang ringggitan, perakan, atau gobangan. Ini dimaksudkan agar kehidupan pemilik rumah nantinya akan murah rejeki dan makmur. Dan nanti setelah rangka bangunan berdiri sebelum memasang kaso di tiang ander diikatkan sepandan pisang raja, sepandan kelapa, sedapur tebu, dan dikibarkan bendera merah putih. Di wilayah tertentu ada pula yang selamatan dengan membuat bubur merah putih dan bubur itu diplengsong (dibungkus) kemudian diletakkan di tiap tiang guru. Ini diyakini sebagai sesajen agar orang alus tidak mengganggu penghuni rumah.
,br> Dahulu kala membuat rumah bagi orang Betawi sangat simpel. Bahan bangunannya didominasi dari bambu. Karena simpelnya maka jika bangunan rumah hendak dipindahkan ke lahan yang lain, cukup digotong oleh beberapa orang tetangga yang dengan sukarela membantu. Rumah yang dibuat dari bahan kayu pun dapat dipindahkan dengan cara yang sama, namun harus nyambat (meminta bantuan) tetangga lebih banyak lagi. Pembagian ruangnya pun tidak berbelit-belit yaitu ruang tamu, kamar tidur, dan dapur. Ruang tamu sering pula cuma di beranda. Ruang keluarga sama dengan ruang tengah. Kamar tidur yang disebut pangkeng terdiri dari dua sampai tiga kamar sebagai kamar tidur orang tua, anak perempuan dan anak laki-laki. Kalau ada tamu laki-laki yang menginap biasanya disiapkan alat tidur dari tikar pandan di ruang tengah dan ditemani oleh pihak laki-laki. Jika yang datang menginap adalah perempuan, maka ia dipersilahkan tidur di kamar tidur dengan ditemani pihak perempuan.




Copyright ©2006 kampungbetawi.Com. AllRights Reserved. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. Dilarang meng-copy seluruh atau bagian dari isi situs ini tanpa seijin kampungbetawi.com