|
|
Lebaran Di Betawi Oleh Yahya Andi Saputra
Dodol dan Kebo Andilan
Orang Betawi menjadikan lebaran Idul Fitri sebagai salah satu saat paling istimewa. Oleh karena itu persiapan menyambutnya dilakukan jauh-jauh hari. Namun aktivitas menyambut lebaran akan lebih terlihat seminggu sebelum lebaran. Semua kegiatan difokuskan untuk menyambut hari Idul Fitri. Aktivitas membuat dodol sudah terdengar. Proses pembuatan dodol memakan waktu cukup lama, dua hari dua malam. Pekerjaan pertama adalah belanja membeli bahan mentah dodol. Selanjutnmya mencari tukang ngaduk dan nyambat kaum ibu. Sampai waktunya barulah kativitas menumbuk beras, memarut kelapa untuk santan, membuat minyak kelapa, memasak gula merah, dan membuat adonan dodol. Waktu numbuk beras biasanya dimulai ampir siang berbarengan dengan waktu sahur. Keluarga yang gaduk dodol dapat diketahui dari bunyi tumbukan beras. Karena saat menumbuk beras merupakan waktu yang relatif sepi maka bunyi alu beradu dengan lesung akan menciptakan suara amat ganjil. Dari bunyi itu orang tahu bahwa keluarga si fulan sedang membuat dodol.
Tidak semua orang – laki-laki dan perempuan – mahir membuat adonan dodol. Seorang ahli membuat dodol instingnya sangat kuat disamping memang pengalaman dan jam terbangnya menangani dodol cukup tinggi. Perbandingan antara jumlah beras, kelapa, gula, dan sebagainya benar-benar telah ditekuni puluhan tahun meski ia tak mencatatnya. Semuanya hanya disimpan dalam ingatannya. Lagi pula membuat dodol dari beras ketan akan lain cara penanganannya dibandingkan dengan beras biasa. Selain itu ia pun mengerti jampe-jampe pengusir makhluk halus. Kegiatan sejak nampihin beras, menurunkan adonan ke kawa (wajan besar) sampai menjadi setengah masak masih ditangani oleh kaum perempuan. Jika adonan dodol sampai setengah masak atau sampai koleh, maka pekerjaan dilanjutkan oleh kaum laki-laki sampai dodol matang dan diangkat.
Tukang ngaduk dodol adalah laki-laki yang memiliki fisik kuat, sebab membalik-balik dodol yang menggunakan gelo (pengaduk dodol) di kawa memerlukan tenaga yang besar. Tukang ngaduk adalah orang yang mengerti jenis arang. Sebab bila arang yang digunakan mengeluarkan asap, maka dodol yang dihasilkan bau sangit dan rasanya bercampur asap. Ia pun mengerti berapa tingkat kepanasan bara arang di bawah kawa. Jika tingkat kepanasan bara tidak konstan, artinya terlalu panas atau kurang panas, atau tidak rata antara sisi kanan dan sisi kiri, dodol menjadi bantet dan warnanya hitam gosong mengeras bagai batu. Untuk kemahirannya, tukang ngaduk memperoleh bayaran yang lumayan. Pokoknya, ngga lebaran kalo ngga ada dodol.
Kue lain yang dibuat beberapa hari sebelum lebaran adalah tape uli, rengkambang, geplak bakar, manisan kering pepaya, manisan buah bruluk (kolangkaling), manisan cereme, dan kue-kue kering (sumping, satu, biji asem, biji ketapang, telor gabus, sagon). Dua hari menjelang lebaran ada kegiatan motong kebo andilan. Kerbau andilan biasanya dibeli sebulan menjelang puasa dengan uang andilan yang tiap orang membayar sesuai harga yang ditentukan. Kerbau ini dipelihara oleh tukang piara agar sehat dan gemuk. Tukang piara dan tukang potong memperoleh bagian yang ditentukan atau dibayar dengan uang saja. Kesibukan lainnya adalah membikin ketupat. Dulu umumnya orang Betawi membuat ketupat dari daun pandan. Daun ini membuat bau dan rasa ketupat lebih legit dan khas.
Ngapur Rumah dan Baju Baru
Berbarengan dengan itu dilakukan pula membersihkan rumah. Sabang yang berupa sarang gonggo dibersihkan. Tanah gejogan dipoles dan ditaburi tai gergajian. Pekerjaan ini sering disebut ngapur rumah. Selain itu anak-anak sudah ramai mengambil pakaian barunya yang dijahit di tukang-tukang jahit. Mantu sudah nganter kebutuhan lebaran kepada mertuanya. Bagi mereka yang baru sampai tahap ngelamar, sang calon mantu akan semakin mempererat kekeluargaan dengan saling mengantar makanan dan masakan. Makanan yang diantar antara lain korma, roti tawar, sirop, kue lopis, dan putu. Nanti sehari menjelang lebaran calon mantu laki-laki akan mengajak calon istrinya ke pasar membeli kembang sedep malem untuk hiasan di rumah calon pengantin perempuan.
Hari terkahir puasa suasana lebih meriah lagi. Anak-anak sudah menabuh bedug di masjid atau musholla sejak pagi. Suara petasan sudah bersahut-sahutan. Harum aroma semur, gulai, sayur sambel godog dan masakan-masakan lain sudah tercium. Olahan masakan yang sudah matang nanti sekitar pukul lima sore akan diantarkan kepada orang tua, saudara-saudara, dan tetangga. Begitulah suasana antar mengantar makanan menjadi kebiasaan yang bersifat sangat kekeluargaan. Itu sebabnya pada hari terakhir puasa, orang Betawi tidak menyiapkan masakan untuk berbuka puasa. Mereka buka puasa dengan ketupat sayur sambel godog dan opor ayam yang diantar oleh famili atau tetangganya.
Pakaian baru juga menjadi tradisi lebaran. Tahun-tahun 1950 atau 1960-an, saat pasar apalagi mal belum dikenal, baju lebaran biasanya dibikin dsi tukang jahit. Tukang jahit yang handal biasanya kualahan menerima order jahitan. Oleh karena itu banyak orang yang sudah menyerahkan cit atau bahan pakaian kepada tukang jahit jauh-jauh hari sebelum lebaran. Tentu saja naka-anak yang paling diutamakan. Sebab anak-anaklah yang amat mencolok pada hari lebaran. Semua yang dipakainya, mulai topi sampai sepatu, baru semuanya. Pokoknya, lebaran berari pakaian baru. Begitu tradisi lebaran bagi anak Betawi.
Malem Tekebiran
Tibalah malem ketebiran. Jalan yang gelap, persimpangan jalan, pertigaan, dan perempatan jalan dipasangi penerangan, biasanya obor. Pada malam ini tidak boleh ada tempat yang gelap, karena malam inilah setan-setan kebali dilepas dari kerangkengnya. Udara Betawi dipenuhi gema takbir yang terdengar dari berbagai masjid dan musholla yang menggunakan pengeras suara. Takbir hanya berhenti sebentar untuk shalat subuh dan setelah itu dimulai lagi sampai shalat Iedul fitri. Agar takbiran tidak terputus, pelaksanaannya dilakukan berganti-gantian tiap satu atau dua jam.
Sementara takbir terus dikumandangkan, panitia zakat fitrah yang posnya di masjid menjadi sangat sibuk. Panitia ini melayani para pembayar zakat fitrah, membungkus beras, memasukkan sejumlah uang ke amplop dan menyalurkannya kepada mustahik.
Zakat fitrah hukumnya wajib. Sebenarnya bagi orang Betawi membayar zakat fitrah sudah dimulai sejak hari pertama puasa. Namun zakat fitrah dikeluarkan paling afdal pada malem tekebiran sampai menjelang pelaksanaan shalat ied. Mereka membayar zakat fitrah dengan mengutamakan keluarga terdekat yang bukan tanggungan mereka dan mereka sudah kenal siapa saja yang berhak menerima. Mereka biasanya membayar zakat dengan mencicil karena besarnya jumlah keluarga. Yang penting tidak ada anggota keluarga yang luput dari membayar zakat fitrah. Orang Betawi memahami bahwa sebelum zakat fitrah dibayar, pahala puasa akan melayang-layang antara bumi dan langit dan belum menjadi amal yang diterima atau sempurna.
Setelah selesai shalat Iedul Fitri jamaah masjid saling bersalam-salaman sambil mengucapkan: “Minal ‘aaidin wal faizin, takabbalallohi minna waminkum, maapin segale sale kate nyang disengaja atawa yang kagak”. Selesai bersalaman di masjid jamaah segera pulang ke rumah dan yang paling ditunggu biasanya orang tua. Anak-anaknya berebut bersalaman meminta maaf. Ada yang berpelukan sambil menangis sesegukan karena merasa pernah menyakiti ibu-bapaknya. Selesai bersalaman minta maaf dilanjutkan dengan makan bersama. Hidangan utamanya adalah ketupat, sayur sambel godog, semur daging, opor ayam, kerupuk udang, dan acar. Di meja tamu sudah dihidangkan aneka kue lebaran.
Selesai makan bersama biasanya langsung mengunjungi keluarga atau tetangga sekitar. Rumah orang yang paling dituakan biasa yang paling ramai didatangi. Pada saat kujung-mengunjungi inilah orang-orang tua akan dikerubungi anak-cucunya yang nadang minta uang lebaran. Karena sudah tradisi maka orang-orang tua selalu mempersiapkan uang recehan jauh-jauh hari sebelum lebaran. Bagi anak-anak lebaran memang saat mendapatkan dan mengumpulkan uang dengan mudah tanpa ada pertanyaan macam-macam.
Minta Maaf: Ngegeloso
Masa kunjung-mengunjungi ini dilakukan sampai sebulan penuh tergantung dari intensitas kunjungan dan pertemuannya. Haru biru akan sangat terlihat kalau kita menyaksikan orang-orang tua bersalaman saling minta maaf. “Maapin gue, ye, ude kagak keitung sale gue.” Dijawab oleh yang lain, “Aye nyang sebenernye lebih banyak sale, aye nyang kudu minta maap.” Dijawab oleh yang pertama, “Kite abisin deh kesalahan kite. Alhamdulillah kite masing ade umur, doain taun depan kite masing bisa ketemu dan kumpul lagi.” Begitu kira-kira percakapan disaat bersalaman. Bahkan tidak sedikit seorang abang menangis sampai ngegeloso di depan adiknya atau seorang anak di depan babenye, lantaran ingat kesalahan-kesalanhan yang dibuatnya.
Dalam kunjung-mengunjungi itu dibawa sebagai kue-kue lebaran (dodol, uli, wajik, geplak, manisan, dan lain-lain). Kue-kue ini bahkan dapat kembali lagi kepada keluarga yang mengantar. Misalnya kue yang diantar oleh satu keluarga kepada keluarga lain dan keluarga ini akan menggunakan kue yang sama sebagai kue antarannya. Begitu seterusnya sehingga tanpa disadari kue itu kembali kepada pengantar pertama.
Hari kedua lebaran digunakan untuk ziarah kubur. Semua orang – kecuali perempuan – akan melakukan ziarah kubur. Di kuburan – biasanya tanah wakaf kuburan – tiap keluarga berkumpul di makam orang tua atau familinya untuk membaca surat Yasin dan tahlil. Orang tua yang paling banyak anak-cucunya biasanya paling ramai. Dulu ada kebiasaan membakar petasan di atas kubur, tapi kebiasaan ini sudah ditinggalkan meski masih ada bebera individu yang masih melakukannya. Waktu ziarah kubur ini dimanfaatkan pula untuk silaturrahmi dan berlebaran antarv sesama peziarah karena memang kebetulan bertemunya justru di lokasi tanah wakaf kuburan.
Anak-anak menjadikan lebaran untuk berpuas-puasan makan enak. Tapi bagi orang tua justru sebaliknya. Mereka sudah mulai puasa bulan Syawal pada hari ketiga lebaran atau bahkan hari kedua. Puasa Syawal ini dikerjakan selama tujuh hari. Itulah sebabnya orang tua lebih mengutamakan lebaran Syawal. Lebaran Syawal biasanya tanggal 10 bulan Syawal, karena mulai puasa pada hari ke-3 Syawal. Keluarga tertentu biasanya menyediakan tangkar sebagai salah satu masakan lebaran Syawal.
Ada satu kebiasaan yang cukup baik yaitu ketika berlebaran kepada guru atau kyai. Kebiasaan ini dilakukan baik oleh kaum laki-laki, kaum perempuan maupun remaja dengan mengambil waktu secara bergiliran. Jika kaum leki-laki Jum’at malam, maka remajanya Sabtu malam, sedangkan kaum perempuan biasanya siang hari. Orang yang paling tua akan mengundang warga atau jamaah berkumpul di rumahnya. Pada kesempatan itu ia mengumpulkan uang, disebut duit selawat, dari jamaah dan nanti uang itu diberikan kepada guru atau ulama. Sebab guru atau ulama adalah tokoh masyarakat yang sehari-harinya mengajar, membimbing, dan menasehati masyarakat.
Begitulah lebaran di Betawi. Lebaran memililki dimensi beragam yang muaranya adalah tercapainya rasa persaudaraan dalam keimanan dan ketakwaan.
|
|
|
Copyright ©2006 kampungbetawi.Com. AllRights Reserved. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.
Dilarang meng-copy seluruh atau bagian dari isi situs ini tanpa seijin kampungbetawi.com
|