SYAIR BUAH – BUAHAN HAL 3 – 10

SYAIR BUAH-BUAHAN

KARYA

MUHAMMAD BAQIR SYAFI’AN USMAN FADLI

PECENONGAN LANGGAR TENGAH

Halaman 3

Santaplah sirih di Puan

Siapa yang suka memakan dia

Sedap juga rupanya Tuan

Jikalau tawa menyatukan dia

Dengarlah Tuan  karangan fakir

Yang hina miskin alfakir hakir

Yaitu disebut namanya Muhamad Baqir

Di kampung Pecenongan tempatnya hadir

Kisah dikarang buah-buahan

Dalam kebun berapa rupa warnahan

Ajaib sekali kuasa Tuhan

Buah anggur menanggung kecintaan

Mengarang syairlah bua(h)-bua(han)

Buat menghiburkan kau jua

Menanggung rindu tiada kewawa

Takut menurut nafsu dan hawa

Jadi pengarang tiada keruan

Mengarang syair bua(h)-bua(han)

dalam kebun berhati rawan

menannggung rindu tiada tertahan

Halaman 4

Tersebut ada suatu kebun

Dalam taman ada berhimpun

Pohon-pohonan ada bertumbuhan

Daunnya hijau tersiram embun

Taman kebun namanya Sukasari

Airnya mengalir sana kemari

Di situ tempat anggur Jauhari

Di atas kolam ada berseri

Terlalu indah akan tempatnya

Di sisi kolam ada kawannya

Air mawar jambu itu namanya

Sangat majeliskan rupanya

Anggur itu seorang perempuan

Rupanya bagus tiada terlawan

Banyak bua(h)-bua(han) menaruh rawan

Pada anggur muda hartawan

Anggur itu muda yang manis

Banyak kawannya berbagai jenis

Kawan perempuan sangat majelis

Anggur seperti gambar ditulis

Sekalipun banyak buah-buah itu

Tiada sama anggur yang nomor satu

Banyak pewarna ada di situ

Rambutan dan Duku tiada begitu

Anggur itu anak perawan

rupanya tiada lagi terlawan

Sekalipun banyak buah-buahan

Anggur jua yang rupawan

Karena anggur buah setiawan

Sudah rupawan lagi dermawan

Halaman 5

Lemah lembut tingkah kelakuan

Pangkat tinggi lagi bangsawan

Buah anggur orang(nya) kaya

Ibu bapanya orang mulia

Anggur banyak hamba dan sahaya

Jadi buah-buahan hormatkan dia

Cempedak langsat menjadi hamba

Ke bawah dulikan memperhamba

Barang perintah tiada berubah

Tiada boleh dibuat gegabah

Sebab ia jadi hambanya

Air mawar Serikaya duku kawannya

Sekalian buah-buah lain rupanya

Anggur jua manis rasanya

Sekalian buah-buahan berlainan rupa

Sebab lain ibu dan bapa

Sekalian pembaca jangan salah tampa

Masing-masing lain ia siapa

Tetapi masing-masing bersahabat kawan

Kepada anggur lila rupawan

Masing-masing akan masih perawan

Masih remaja sudah ketahuan

Ada jua buah cermai

Di taman itu sangatlah ramai

Sekalian masing-masing belon bersuami

Perhiasan taman amat permai

Anggur banyak handai sahabat

Sekalian perawan yang kami lihat

Buah duku mulutnya kiwat

Pandai berpantu hikayat

Halaman 6

Jikalau duku berbuat riwayat

Buah-buahan sekalian suka melihat

Buah Sirikaya pandai bertambat

Buah cempedak perangainya jahat

Kalau apa kawannya suru

Suka sekali mengharu biru

Jikalau anggur yang menyuru

Dibikin kerjanya terburu-buru

Hanya anggur yang ia takut

Apa perintahlah dia turut

Apa di suruh tiadalah lentut

Jikalau yang lain tiada diikut

Cempedak orangnya bopeng

Lakunya candal mulutnya bengkeng

Kelakuannya seperti perempuan hungkeng

Yang suka dengan main dipangkeng

Sungguh cempedak menjadi hamba

Di hadapan anggur sangat teraba-raba

Dilain tempat lakunya diuba(h)

Pantas suami nangka di rimba

Maka diceriterakannya itu

Perempuan sekalian yang ada di situ

Anggur jua jadi peratu

Suka hikayat sudahlah tentu

Perempuan sekalian suka hikayat

Membaca syair segala riwayat

Tiap-tiap waktu setiap saat

Karena masing mengerti surat

Masing-masing suka dengar cerita

Pada suatu hari duduklah rata

Halaman 7

Duku rambutan adalah serta

Dihadap anggur mahkota

Kokosan cempedak itu hambanya

Jambu air mawar duduk sekaliannya

Anggur membaca sedap lagunya

Nyaring suaranya asik rasanya

Sekalian masing-masing mendengarkan

Hikayat dibaca anggur mulakan

Hikayat Sultan taburat yang dibacakan

Sangat asyiknyalah bukan-bukan

Hikayat cerita orang rindu

Ada juga cerita orang dulu-dulu

Suaranya anggur sangat merdu

Barang yang menengar berhati pilu

Maka yang dikisahkan ini cerita

Buah-buahan sekalian suka berwarta

Suka hikayat sekalian rata

Hikayat dibaca berduka cita

Membacanya berganti-ganti

Dengan lagunya amat setiti

Barang yang menengar rusak dihati

Bacanya pandai sangat mengerti

Setelah sudah dibacanya

Kepada rambutan minta digantikannya

Rambutan ada malu rupanya

Lalu duku menyambutinya

Hikayat diusungkan pada rambutan

Rambutan malu pada penglihatan

Duku mebaca seperti sikatan

Suara keras berpatutan

Halaman 8

Hikayat dibaca oleh duku

Duku tiada lagi malu-malu

Suara keras sedikit kaku

Cempedak ada sedikit pilu

Lalu cempedak akan berkata

Hatiku ini berduka cita

Kawanku tiada ada serta

Serikaya itu yang aku cinta

Apakah sebab tiada ia kemari

Kalaukan ia takut dan ngeri

Takut oleh Anggur Jauhari

Jadi ia tahankan diri

Cempedak berkata sambil bersenda

Rambutan itu berhati gunda

Rasanya gondok di dalam dada

Selaku dijura oleh sipenggoda

Rambutan itu salah tampanya

Di kira dia disindirkannya

Rambutan tiada apa katanya

Berdiam diri dendam di hatinya

Rambutan itu orang pemalu (an)

Berdiam diri tiada melawan

Takut rusuh jadi ketahuan

Tetapi dinanti tempat sepian

Setelah anggur menengar kata

Kata cempedak didengar serta

Serikaya tiada mengadap nyata

Baharu anggur berduka cita

Halaman 9

Serikaya tiada apa sebabnya

Lalu disuruh cempedak susulkannya

Hati anggur tiada sedap

Sebab kelupaan sangatlah hilap

Serikaya tiada datang mengadap

Barang kelupaan mintalah maaf

Lalu menyahut jambu air mawar

Baik cempedak susul keluar

Pantas cempedak menjadi laskar

Pada serikaya mengasih khabar

Supaya serikaya jangan mara (h)

Baik disusul dengan segera

Bilang dinanti lama antara

Hilang  budi dengan bicara

Segera kamu jalan lekas-lekasan

Berjalan kamu dengan kokosan

Kokosan itu orangnya malasan

Hatinya itu gemas-gemasan

Sedang asik dengar cerita

Bangun berdiri berduka cita

Kokosan tiada berkata-kata

Berjalan ia dengan serta

Cempedak orangnya rajin

Tetapi suaranya jadi menyakitin

Sudah adatnya bukan dibikin

Tetapi barang perintahlah dia yakin

Kokosan orang pemalas

Hatinya ngeruwak adatnya culas

Barang kerjanya kurang ikhlas

Berdendam di hati tiada dilepas

Halaman 10

Maka itu menjadi kurus

Karena adatnya tiada tulus

Pikiran ngeruwak tiada hapus

Berdendam di hati tiada putus

Maka tiada tersebut itu perkataan

Bangun kedua berjalan perlahan

Meninggalkan sekalian buah-buahan

Yang membaca hikayat belon sudahan

Buah berjalanlah keduanya

Dalam berjalan tiada berhentinya

Bicara serikaya dimana rumahnya

Belon bertemu belon sudahnya

Kokosan sudah mara (h)-mara (h)

Mengerinding-menegrinding dia punya suara

Sebab cempedak empunya jura

Jadi kita dapat sengsara

Kokosan sangat sakit hati

Sementara berjalan sementara berhenti

Jalannya di lambatkan sudah pasti

Cempedak itu sudah mengerti

Cempedak itu akan mengerti

Kokosan ampun budi pekerti

Disuruh lekas-lekas jangan berhenti

Kokosan marah sudahlah pasti

Sebab disuruh cari buah serikaya

Sampai berjalan dijalan raya

Di pinggir kebun yang amat mulia

Tiada bertemulah pada dia

Tiada bertemu pada serkaya

Kakinya kokosan sudah merasa payah

Leave a Comment