SYAIR BUAH – BUAHAN HAL 11 – 20

SYAIR BUAH-BUAHAN

KARYA

MUHAMMAD BAQIR SYAFI’AN USMAN FADLI

PECENONGAN LANGGAR TENGAH

Halaman 11

Lalu bertemu buah pepaya

Kokosan menegurlah sama dia

Pepaya itu tiada mendengar

Sebab pepaya mau ke pasar

Hatinya cempedak menjadi ingar

Kokosan pula bertambah gusar

Demikian orang tiada berilmu

Mencari serikaya susah bertemu

Pada pepaya rasa tersemu

Berjalan ia rasanya jemu

Pikiran hendak minta hantarkan

Dirumah serikaya minta tunjukan

Tetapi pepaya tiada menyahutkan

Kepada cempedak didongkolkan

Kokosan masygul dua tiga perkara

Maka jadi ia mara (h)-mara (h)

Dimarahkan cempedak dengan segera

Dasaran gerangan yang makan dara (h)

Dasaran durhaka yang aku ikut

Kakak cempedak yang aku turut

Jadi dengar cerita hikayat aku luput

Dasaran cilaka bukannya patut

Dasaran kakaklah tua bangka

Kakak cempedak sangat cilaka

Mukanya bopeng sangat durhaka

Yang memberi hati kita duka

Maka berapa pula kata-kata

Kokosan berkata dengan nista

Di tengah jalan jadi beranta (h)

Jadi berkelahi sudah nyata

Halaman 12

Lalu berkata buah cempedak

Kami ini bukan aku yang ajak

Dasaran kokosan harus diujak

Barang pekerti seperti turunan budak

Mengapa aku dikata cilaka

Cinta kamu yang sangat durhaka

Lihat mukamu tiada kusuka

Aku yang disuru (h) kamu ikut juga

Karena aku jua yang disuru (h)

Mengapa kamu meng(h)aru biru

Kamu ini sangat kemaru

Ingin jalan segenap penjuru

Kalaukan kamu ingin berlaki

Tiada bertemu dengan lelaki

Jadi disengaja capai di kaki

Mulutmu ribut memaki-maki

Barang yang kamu cari tiada bertemu

Jadi serikaya hatimu  jemu

Jikalau orang mengadu pada tuanmu

Kita kedua jadi tersemu

Lalu berkelahi sangatlah ribut

Cempedak berkata sambut menyambut

Rahasia dahululah dia  sebut

Berkelahi itu sahut menyahut

Sebab keduanya sama-sama perempuan

Saling kata suda(h) ketahuan

Lakunya seperti perempuan cemburuan

Belon berhenti lawan melawan

Berkelahi mulut satu persatu

Seorang tiada ada yang bantu

Halaman 13

Mujur tiada yang jalan di situ

Jadi rahasialah masi(h) utuh(h)

Maka tiada berapa lamanya

Tersebut lain kisa(h)nya

Tersebut serikaya jalan sendirinya

Hendak pergi di rumah sahabatnya

Serikaya berjalan seorang diri

Menuju ruma(h) anggur bestari

Dalam berjalan hati pikiri

Sebab terdengar suara orang setori

Lalu serikaya hampir ke sana

Di tenga(h) jalan ketemu laki-laki durjana

Yang disebut namanya buah Nona

Hatinya serikaya takut bencana

Serikaya jalan terburu-buru

Seperti ada setan mengharu

tiada lama dekat penjuru

bertemu cempedak yang disuru(h)

pada cempedaklah hampiri

tetapi hatinya takut dan ngeri

pada bua(h) Nona takut jadi setori

janganlah cepat seperti lari

Halaman 14

Setelah cempedak lihat serikaya

Berhenti berkelahi menyambut dia

Sebab serikaya orang mulia

Bukan turunan yang sia-sia

Kokosan demikian memberi hormat

Cempedak terlalu sukanya amat

Sebab tuannya empunya sahabat

Berhenti berkelahi jadi sepakat

Buah-buah kedua suka hatinya

Sebab bertemu yang dicarinya

Tiada tahu dimana rumahnya

Masa ini senang di hatinya

Kokosan itu segera menegur

Titah dipengadilan bua(h) anggur

Berapa persembahan yang ditegur

Serikaya jua tuan kita tegur

Karena banyak sudah bua(h)-bua(h)an

Hanya tinggal tuanku jua

Hamba ini disuruh kedua

Membaca hikayat Raja Pandawa

Berapa hikayat ada semua

Sekalian itu anggur bole(h) sewa

Ada hikayat Raja Bermadewa

Maka diharap baca tuanku

Empat puluh hikayat ada semuanya

Raden Cekel ada hikayatnya

Di rumah anggur disediakannya

Tuan jua ditunggukannya

Setelah sudah berkata-kata

Berjalan ketiganya serta

Halaman 15

Dengan hati yang suka cita

Menuju di rumah sahabat yang nyata

Maka tiada lama antara

Sebab berjalan dengan segera

Sampai di rumah anggur anggara

Didengar ramai orang bersuara

Terdengar banyak orang baca hikayat

Orang tertawa dengar riwayat

Yang membaca duku yang kewat

Suaranya keras amat kewat

Suara terdengar sampai keluar

Orang tertawa sangatlah gempar

Buah cempedak memberi khabar

Suara itu dia tukar

Supaya disangka suara laki-laki

Keluar rambutan berjalan pergi

Duku melihat mulut memaki

Di lihat serikayalah ada lagi

Duku mengomel pada cempedak

Dipalunya dia punya pundak

Cilaka sungguh perempuan geladak

Kita sangka laki-laki mau mengudak

Aku sangka laki-laki bersuara

Hatiku takut tida terkira

Tiada tawa kamu berjura

Panteslah kamu mati kolera

Jikalau ku tahu suaramu

Buka pintu hatiku jemu

Aku kenal banyak akalmu

Suka goda sahabat kawanmu

Halaman 16

Baiknya kamu bawa kakak serikaya

Jika tiada tentu aku kena perdaya

Aku bukanya pintu dengan sia-sia

Karena muati orang yang paya

Maka serikaya pun disambut

Kakak serikaya mari mengikut

Dari tadi disebut-sebut

Kakak ini dimana tersangkut

Kalau ada juga setikkannya

Maka tiada tentu tempatnya

Serikaya tiada apa katanya

Tersenyum masuk bertemukan sahabat

Maka serikaya pun masuk

Bertemu anggur disuru duduk

Diusungkan hikayat akan dibujuk

Bacalah kakak jangan kikuk

Hikayat itu segera disambutnya

Di atas bantal diletakkannya

Dibuka-buka betul tandanya

Segera hikayatlah dibacanya

Hikayat dibacalah dengan hati-hati

serta dengan lagi setiati

lagunya sedap lagi pasti

sampai waktunya ia berhenti

membaca hikayat sampai waktunya

sampai malam itu masanya

masing-masing kembali pulang ke rumahnya

membawa hati dengan masygulnya

membaca hikayat sampaikan malam

matahari pun sudah jadi muram

Halaman 17

Semua perempuan berindu dendam

Ada yang tiada bisa tidur di tilam

Sebab menengarkan cerita

Sampai hatinya berduka cita

Bukan pembawa dari bibir mata

Bibir hati juga suka jadi cinta

Ada juga yang terkenang ceritanya

Cerita hikayat terikat hatinya

Dengan tersangkut jadi masygulnya

Teringat anak raja tadi dibacanya

Dengan tuan puteri bekasih-kasihan

Dibaca anak raja bercinta(h)an

Dengan tuan puteri berkasih-kasihan

Sekalian buah-buahan jadi keduka(h)an

Ada yang duka dengan ceritanya

Ada yang teringat pada kekasihnya

Semua tiada tentu hatinya

Ada yang terbayang dengan orangnya

Membaca hikayat setiap hari

Seperti orang gila sendiri

Tun kokosan tiada lain dipikiri

Pada si Langsat empunya turi

Kokosan sebab dengar hikayat

Pada abang Langsat jadi teringat

Rasa terbayang rasa terlihat

Ketika dahulu pada abang Langsat

Pada Langsat dia punya setikakan

Cerita hikayat yang bukan-bukan

Kepada diri yang dirasakan

Rasanya betul yang disungguhkan

Halaman 18

Maka itu tiada bisa tidur

Sementar-sementar pergi ke sumur

Hatinya jua akan dilibur

Padahal pikiran sudah melantur

Demikian hikayat dibaca saja

Sampai tiadaingatkan kerja

Lakunya sekalian perempuan remaja

Kurang tidur kurang belanja

Hikayat jadi penawar

Sampai tiada keluar-luar

Datang pikiran seperti layur lawar

Bagai-bagai masing-masing sedap dan tawar

Demikian akan sehari-hari

Membaca hikayat pagi sore

Sampai tiada ingat kanan kiri

Selaku gila mabuk sendiri

Pada hal masing-masing masing remaja

Membaca hikayat kaya sengaja

Sudah peruntungan sudah disahaja

Sampai jadi pucatnya durja

Sebabnya siang akan bergadang

Membaca ia sepanjang-panjang

Banyak kumpul sahabat kadang

Demikian lagu perempuan bujang

Maka tiada disambut itu

Hati orang tiada yang tentu

Sementar begini sementar begitu

Bertukar jua setiap waktu

Ini cerita tiada disebutkan

Keesokkan hari ia pula sambungkan

Halaman 19

Baca hikayat lagi di mulakan

Sambungan yang kemarin ia dengarkan

Hanya waktu sore ia pulang

Waktu pagi datang berulang

Di rumah anggur yang terbilang

Berdatang tegur tiada berselang

Demikianlah sehari-hari

Kembali ia jika sore

Jikalau pada wktu dinihari

Ke rumah anggur dihampiri

Ini cerita tiada disebutkan

Cerita delima saya kisahkan

Cerita lain saya wartakan

Sekalian pembaca baik dengarkan

Kisah tersebut satu cerita

Tersebut delima berduka cita

Anak perjaka sudah nyata

Dalam kebun duduk bertahta

Nama kebun dukasari

Kebun bersinar cahaya matahari

Daun-daun hijau tiada terperi

Di situ tempat delima jauhari

Halaman 20

Delima banyak handai dan sahabat

Semuanya laki-lakiyang kami lihat

Buah nangka manggis dan langsat

Semua itu delima punya kerabat

Sebab dinamakan kebun dukasari

Sebab perhiasan tiada berperi

Bersinar-sinar cahaya matahari

Terlampau di kebun seperti biduri

Siapa masuk dalam kebun itu

Hatinya bimbang sudahlah tentu

Yang berhati masuk di situ

Seperti terpegang jin dan hantu

Siapa masuk di kebun jadi duka

Teratur buah-buahan tiap-tiap ketika

Durian manggis ada juga

Semuanya itu buah yang berharga

Berhati duka berhati bimbang

Karena banyak pohon bercabang

Teratur dengan sepanjang-panjang

Seperti perhiasan jin dan mambang

Tiada lagi ingatkan pulang

Banyak pohon tiada berselang

bagusnya bukan alang kepalang

jasad serasa bagaikan hilang

perhiasan bagus sekali

banyak buah-buahan tiada terpilih

sekalian buah-buahan asal asli

bukan daripada bangsa kuli-kuli

bagus sekali gilang – gemilang

daun bersinar tiada dapat dibilang

Leave a Comment