SPIRITUALISME PASIR ANGIN DAN GUNUNG PUTRI

Oleh : Ridwan Saidi

Dalam bahasa Sunda pasir adalah bukit, maka Pasir Angin adalah bukit yang ber”angin”. Lokasinya di Cibungbulang, Bogor, di tepi kali Aruteun. Ini adalah kompleks keagamaan yang dibangun abad ke-6 SM. Penemu tempat ini adalah seorang pensiunan pamen Polri pada sekitar tahun 1950-an. “Metode” penelitian yang dilakukannya di luar sains. Dari sebuah menhir yang ditemukannya, akhirnya puluhan artefak purbakala berhasil diselamatkan setelah  instansi pemerintah propinsi Jawa Barat  turun tangan.

Pada kompleks keagamaan ini ditemukan bandul, semacam leontin, batu persegi tiga dengan ragam hias mandala, dan sejumlah menhir dan patung. Penemuan Pasir Angin mempunyai arti penting karena kita mendapatkan petunjuk bahwa di jaman lampau kompleks keagamaan lebih dulu ada sebelum kerajaan. Dengan kata lain, manusia jaman lampau lebih dahulu bergumul dalam pemikiran tentang kekuasaan eternal (ketuhanan), sebelum memikirkan konsep kekuasaan profan (kerajaan). Karena diketahui kerajaan pertama Nusantara adalah Salakanagara yang berdiri pada tahun 130 (lihat Wangsakerta), maka ini berarti pemimpin spiritual di jaman itu mempunyai kedudukan yang amat penting dalam masyarakat. Walaupun kemudian kita mengenal  fenomena kekuasaan, namun itu tidak mengurangi kedudukan resi selaku pemimpin spiritual.

Dari temuan itu diduga bahwa sistem kepercayaan masa lampu berintikan pemujaan kepada arwah nenek-moyang. Konsep dewa-dewi kemudian hari nenek moyang mengenalnya lewat agama Hindu. Pilihan Pasir Angin sebagai kompleks keagamaan tampaknya karena lokasinya di daerah aliran sungai (DAS). Seperti diketahui manusia jaman lampau hidup di DAS. Begitu pula halnya dengan kompleks keagamaan Batu Jaya, Karawang. Kompleks yang terakhir ini diduga berasal dari jaman Tarumanagara (abad ke-5M), atau mungkin sebelumnya.

Seperti halnya Pasir Angin, Batu Jaya juga berdiri di tempat ketinggian. Hanya saja bangunan dibuat dari batu bata. Pilihan lokasi yang mendekati langit menjelaskan persepsi masyarakat ketika itu  tentang tempat suci. Semakin tinggi kedudukan suatu tempat, maka semakin luhur nilai tempat itu. Suku bangsa Inca di Meksiko juga membangun tempat suci di atas bukit.

Berbeda halnya dengan Pasir Angin yang tidak banyak diketahui masyarakat, Gunung Putri cukup dikenal masyarakat. Masyarakat setempat yakin bahwa di jaman lampau tempat ini sering dipakai raja-raja Pakuan  Pajajaran bertapa. Karena di tempat ini terdapat makam nenek Prabu Siliwangi, yaitu Nyi Kentring. Menurut Olot Entam yang merupakan tokoh spiritual masyarakat Kranggan Gunung Putri, setiap bulan Maulud makam Nyi Kentring banyak yang menjiarahinya hingga mencapai ribuan orang yang berasal dari pelbagai pelosok. Para penjiarah Muslim, Khonghucu, dan Buddha berbaur jadi satu. Meski pun banyak juga yang mempercayai kesaktian makam Mbah Jago yang berlokasi di atas  gunung, namun menurut Olot Entam yang lebih bertuah adalah makam Nyi Kentring, karena Mbah Jago itu pengawal Nyi Kentring belaka.

Masyarakat Kranggan Gunung Putri dianggap komunitas dalem, sedangkan Krangan Cibubur dianggap sebagai komunitas luar. Baik di Kranggan Gunung Putri maupun di Kranggan Cibubur, pemimpin spiritual bergelar olot, dari kata kolot (tua). Olot memimpin upacara spiritual di pemakaman, dan pada setiap malam Jum’at olot memberikan pituah. Dalam acara pituah, pengunjung memakai iket. Menurut Olot Entam, dengan memakai iket kepala yang terbuat dari stangan batik itu berarti sudah teriket. Olot di Kranggan dewasa sekarang adalah Olot Gucong dan Olot Lame. Jabatan olot itu diwariskan berdasarkan keturunan darah.

Di jaman lampau, olot dapat dipersamakan dengan resi. Sebagai pemimpin spiritual baik resi maupun olot menjalankan aktivitas produksi, misalnya bertani. Di bawah olot terdapat struktur yang bernama kuncen. Kuncen adalah orang yang memimpin jiarah. Perkataan jiarah itu merupakan sinkretisme, kata itu berasal dari bahasa Arab ziarah. Tapi dalam keseharian sering diucapkan jarah saja. Di jaman lampau digunakan kata nenamu untuk jiarah.

Dalam sistem kepercayaan masa lampau, nenamu adalah bentuk hubungan manusia kini dengan arwah masa lampau. Agar arwah si jenat, anggota keluarga yang meninggal, tetap berada dalam lingkungan keluarganya yang masih hidup, maka makam keluarga biasanya berlokasi di pekarangan rumah.

Sumber kepercayaan seperti ini diduga kuat berasal dari Pasir Angin. Terdapat petunjuk bahwa di Pasir Angin juga terdapat kompleks pemakaman. Karena biasanya orang-orang yang dimuliakan dimakamkan di dekat menhir. Tradisi pemakaman seperti ini juga terdapat di Sumatera.

Bandul yang ditemukan di Pasir Angin berfungsi sebagai piranti upacara keagamaan, meskipun bandul tersebut dikalungkan laksana perhiasan wanita. Bandul serupa Pasir Angin juga menjadi salah satu ornamen penari Topeng Betawi. Hal ini menguatkan dugaan bahwa tari-tari tradisional itu pada mulanya adalah bagian dari ritualisme.

Sayang sekali arkeolog Indonesia tidak (dapat) memberikan interpretasi lebih jauh terhadap temuan Pasir Angin, sehingga Pasir Angin “berhenti” sebagai museum purbakala belaka. (RS)

Leave a Comment