SILANG PERADABAN DI NUSANTARA ERA SEBELUM MASEHI

Catatan dan pertanyaan tentang buku, Karya Ridwan Saidi

Oleh : Teguh Esha

Hari Kamis malam, 24 Februari 2012, di beranda rumahnya di Jalan Merak, Bintaro; Bang Ridwan Saidi memberi saya sejilid buku karyanya yang berjudul “ SILANG PERADABAN NUSANTARA ERA SEBELUM MASEHI”. “ Ini buku penglaris, Teguh,” kata Bang Ridwan sembari menandatangani buku tsb. Penglaris yang ia maksud adalah buku cetakan pertama. Di rumah saya buka dan baca sekilas buku tsb. Sampul depannya terdiri dari empat foto: fotoke satu adalah perempuan asing bergaun ‘you can see’ yang memakai ‘mahkota’ bermotiv kepala ular. Dua tangannya menangkup, menyoja di depan dadanya; foto ke dua adalah perempuan berparas Melayu berkebaya merah dan berkerudung biru, dua tangannya juga menangkup di depan dadanya; foto ketiga foto tampak samping sesosok karakter wayang kulit berkulit hitam, setengah badan (medium close up); dan foto ke empat adalah foto tampak samping perempuan asing juga yang bagian atas badannya telanjang, dan memakai konde yang bentuknya seperti lengkungan mahkota si wayang tadi..

Pada bagian bawah sampul buku itu, yang berwarna kelabu muda, tertulis “Perkumpulan Renaissance Indonesia”. Pada sampul belakang buku itu tertulis, bb.:

Silang Peradaban di Nusantara Era Sebelum Masehi oleh Ridwan Saidi menguraikan secara verbal dan visual persinggungan peradaban bangsa-bangsa Egypt dan Asia Barat, bangsa-bangsa Lautan Teduh dengan komunitas penduduk dan kerajaan lokal di Nusantara yang terjadi pada era sebelum Masehi.

Buku ini memberikan perbandingan dengan doktrin sejarah yang diajarkan, bahwa sejarah Indonesia dimulai dengan kedatangan penduduk India Utara yang beragama Hindu dan  Budha yang kemudian mendirikan ‘kerajaan’ Tarumanagara dan Sriwijaya yang sejatinya bukan system pemerintahan tapi satuan kekuatan phisik yang tidak kohesif dengan penduduk Sumatera dan Jawa, apalagi peradaban.

Tulisan di atas diberi ilustrasi empat foto juga. Foto ke satu seorang perempuan cantik memakai ‘sari’ yang bagian pundak kanannya dibiarkan terbuka. Foto kedua adalah reproduksi gambar perempuan memakai rok mini terusan yang bagian pundak kanannya pun terbuka. Foto ketiga foto suatu bangunan mirip piramida yang terpangkas pada bagian puncaknya, dan pada bagian puncak itu terdapat bangunan lainnya yang sekilas mirip kaabah (kubus; qubic, bhs. Englis—pen.). Bangunan itu adalah ‘Chich Peru’. Di samping ‘Chich Peru’ itu terdapat foto ke empat, yang mirip si ‘Chich’ itu, dan bertulis ‘Sukuh, Jateng’..

Naskah pendek dan foto-foto yang dijadikan ilustrasi sampul buku tsb., adalah semacam ‘premise, atau ‘primus’ atau ‘prime’, yaitu pendapat utama atau ‘pokok pemikiran’ Ridwan Saidi yang katanya ia ‘uraikan’ secara verbal dan visual calon ‘thesis’nya tentang persilangan dan atau persinggungan per-adab-an di kawasan yang sekarang dinamai “Indonesia”, di era “sebelum Masehi” ( mungkin, menurut si penulis buku adalah masa sebelum Almasih Isa Putra Maryam dilahirkan di bumi ini—pen.).

TENTANG ISI..

Pada halaman pertama sesudah sampul, yang tidak diberi nomer halaman, tertera judul buku ‘Silang Peradaban di (!—pen.)Nusantara Era Sebelum Masehi’. Pada judul yang tertulis pada sampul, kata ‘di’ tsb. tidak ada. Pada halaman ke 3 terdapat ‘Daftar Isi’, sbb.:

Pengantar, ( sebanyak 3 hlm.—pen.), halaman 4

Bagian I Bangsa Arya, ( sebanyak 10 hlm.-pen.),halaman 7

Bagian II Ramanea, ( sebanyak 16 hlm.—pen.), halaman 17

Bagian III Obelisk, ( sebanyak 6 hlm.—pen.),halaman 33

Bagian IV Busana dan Ornamen, ( sebanyak 8 hlm.—pen.),halaman 39

Bagian V Langgar lautan, ( sebanyak 2 hlm.—pen.), halaman 47

Bagian VI Proses pembentukan hukum zaman kemerdekaan dan sebelumnya,

( sebanyak 28 hlm.—pen.), halaman 49

Bagian VII Kisah-kisah perempuan, ( sebanyak 12 hlm.—pen.), halaman 77

Penutup: Sapi Banpres, ( sebanyak 1 hlm.—pen.), halaman 89

Tentang Ridwan Saidi, ( sebanyak 7 hlm.—pen.), halaman 90

Kepustakaan, ( sebanyak 6 ½ hlm.—pen.), halaman 97

Sesudah saya membaca Daftar Isi dan membuka-buka halaman-halamannya yang dihiasi banyak reproduksi foto dan gambar ( yang pada setiap foto dan gambar tidak dicantumkan nama atau sumbernya!, dan urusan tsb. tergolong pelanggaran dan bahkan penggelapan Hak Atas Kekayaan Intelektual milik para pemegang HAKI yang dicomot tanpa izin tertulis oleh Ridwan Saidi). Saya melihat Kepustakaan yang digunakan oleh si penulis buku untuk ‘menyokong’ karya tulisnya. Ada 110 ( seratus sepuluh ) buku dan 1(satu) tesis dan 1 (satu) artikel ilmiah dan 14 (empat belas) kamus dan ensiklopedi, dan 14 ( empat belas) koran, majalah dan materi lain; dan 12 ( dua belas) materi lain; yang menjadi ‘referensi’nya. Jumlah semua ‘benda’ pustakanya 152 (seratus lima puluh dua) halaman, lebih banyak dari jumlah halaman bukunya! Dan, dari 152 kepustakaan tersebut, tidak tercantum Al Quran, meski si penulis buku mencoba ‘menafsirkan’ beberapa tanda dari Buku Allah tsb., —-yang menurut pemikiran saya, ‘penafsirannya’ perlu dipertanyakan lagi ketepatannya—; di dalam tulisannya. ( Hlm. 26).

Dengan sokongan 152 (seratus lima puluh dua) buku-buku, tesis, artikel ‘ilmiah’, surat kabar, majalah dan materi lainnya, yang mungkin hanya bisa disamai jumlahnya oleh referensi ‘disertasi’ para kandidat Doktor Kefilosofian ‘plat Amrik’; atau daftar buku di toko buku; saya mengira buku ‘Silang Peradaban di Nusantara Era Sebelum Masehi; karya Ridwan Saidi akan dipenuhi kutipan-kutipan para penulis buku, tesis, artikel ilmiah, media massa dan materi lainnya yang ia pajang di daftar pustakanya. Ternyata memang benar kata Allah di dalam Al Quran, bahwa perkiraan tidak menyampaikan kita kepada kebenaran. Melihat tipisnya halaman bukunya, dan perbandingan 1 (satu) berbanding 2 (dua) antara halaman ‘naskah’ dengan halaman ‘ilustrasi’ foto-foto dan gambar-gambar; saya agak heran. Dan keheranan saya bertambah dengan pertanyaan, ketika saya baca naskah yang berjumlah sekitar 91 (Sembilan puluh satu) halaman dalam buku tsb.

Dari sekitar 91 ( Sembilan puluh satu) halaman naskah, ada sekitar 28 (dua puluh delapan) halaman naskah (atau hampir 30% dari naskah buku itu—pen.) pada Bagian VI (hlm. 49),tentang proses pembentukan hukum zaman kemerdekaan dan sebelumnya; berada di luar kontex ‘Silang Peradaban di Nusantara Era Sebelum  Masehi’ yang menjadi ‘premis’ si penulis buku. Jika dengan sekitar 30% naskah di luar kontex itu si penulis buku hendak memperbanyak halaman bukunya, persoalan itu adalah persoalan di luar kinerja kecerdik-pandaian, yang menimbulkan pertanyaan besar tentang keutuhan kualitas pemikiran si penulis buku terhadap ‘premis’nya sendiri. Karena jelas, bahwa ‘proses pembentukan hukum zaman kemerdekaan dan sebelumnya’ terjadi sesudah era ‘Masehi’, bukan sebelumnya…

Bersama persoalan itu, ada persoalan lainnya yang juga menimbulkan pertanyaan besar, yaitu tentang tidak fungsionalnya sikap korektiv si penulis buku terhadap naskah ‘proses pembentukan hukum zaman kemerdekaan dan sebelumnya’ yang ia ganjalkan ke dalam bukunya. Yaitu tentang penyebutan dan pengertian Islam di dalam naskah ‘pembentukan hukum zaman kemerdekaan dan sebelumnya’, yang ia jadikan bagian isi bukunya. Saya berpendapat, ada banyak penyebutan tentang Islam dalam naskah dimaksud yang perlu dipertanyakan kebenarannya, di antaranya adalah, sbb.( huruf kapital dari peresensi) : TEMPAT Islam dalam Negara Indonesia yang akan didirikan, pidato-pidato TOKOH Islam, NEGARA Islam, MANUSIA Islam ( hlm. 50); Negara-negara YANG BERSIFAT keislaman,UMAT Islam, HUKUM Islam, kaum Muslimin, AGAMA Islam ( hlm. 51); KEMENTRIAN Islam, SYARIAT Islam (hlm. 53); , malah orang Minangkabau mendapat nama (sebagai) PALING Islamnya di Indonesia ini, PIHAK Islam (hlm. 54), URUSAN ( si penulis buku menulisnya sebagai ‘uruan’, hlm. 55); Sebelum kedatangan orang Eropa di Nusantara, BAHKAN SEBELUM KEDATANGAN Islam (hlm. 56); Dr. J.J. Doormeier mengatakan, bahwa TIDAK ADA HUKUM BAGI SEORANG MANUSIA YANG DALAM KESENDIRIAN TINGGAL DI SUATU TEMPAT. KEADAAN BERUBAH KETIKA DATANG KE TEMPAT ITU ORANG LAIN. DUA ORANG MANUSIA DI SUATU TEMPAT TIDAK MENIMBULKAN HUKUM MELAINKAN PERJANJIAN. HUKUM BERFUNGSI SEBAGAI SARANA PENYELESAIAN KONFLIK. KONFLIK TIDAK DAPAT DISELESAIKAN OLEH KEDUA ORANG ITU SAJA. (hlm. 58); Kitab-agama tidak mengatur pidana penjara, atau kurungan. HAL INI DAPAT DIPERSAMAKAN DENGAN ISLAM YANG PADA MULAKALA JUGA TIDAK MENGENAL KONSEP KURUNGAN BADAN. (hlm. 59); d.l.l.

Meski naskah Bagian VI yang berada di luar judul ‘Silang Peradaban di Nusantara Era Sebelum Masehi’, namun karena naskah iu sampai kepada saya dan saya membacanya; maka saya sampaikan koreksi saya terhadap beberapa pernyataan yang saya nilai tidak benar, di antaranya sbb. :

AL ( SANG, bhs.Indonesia—pen.) ISLAM adalah penamaan ‘din’ (bhs. Arab) di sisi ALLAH. ‘Din’ –atau al din–itu  padanan katanya dalam bahasa Indonesia adalah ‘pembalasan’, yang lalu entah oleh siapa diterjemahkan sebagai ‘agama’. ALLAH mempunyai Nama-Nama Yang Baik. Di antara Nama-Nama Yang Baik itu adalah YANG AWAL dan YANG AKHIR, maka Sang Ilam di sisi Allah berarti juga Sang Islam di sisi Yang Awal dan Al Islam di sisi Yang Akhir. Apa yang di sisi ALLAH tetap, sedangkan apa yang di sisi kita akan sirna. Dengan demikian, Sang Islam itu tetap, di sisi Yang Awal dan di sisi Yang Akhir. Jelasnya, ‘patokan’ keberadaan Sang Islam itu ALLAH dan tidak ada ‘patokannya’ kecuali ALLAH! Maka, kalimat ‘ sebelum kedatangan orang Eropa di Nusantara, BAHKAN SEBELUM KEDATANGAN ISLAM (hlm. 56 dalam buku Ridwan Saidi tsb.) adalah disinformasi atau dusta yang tidak sesuai dengan fakta!

Nama Yang Baik lainnya dari Allah adalah Al Hakim ( Sang Hakim, Yang Menghukum). Maka kalimat ‘tidak ada hukum bagi seorang manusia yang dalam kesendirian tinggal di suatu tempat’ (hlm. 58 dalam buku Ridwan Saidi—pen.) juga disinformasi yang tidak sesuai dengan fakta. Allah Sang Hakim adalah Allah Yang Awal, maka sebelum Ia ciptakan manusia pun sudah ada HukumNya!

Kalimat ‘Kitab agama tidak mengatur pidana penjara, atau kurungan. Hal ini dapat dipersamakan dengan Islam yang pada mulakala juga tidak mengenal konsep kurungan badan (hlm. 59 dalam buku Ridwan Saidi—pen.) juga disinformatif dan menyesatkan, karena di dalam Al Quran dikisahkan tentang Yusuf dan dua orang lelaki lainnya berada di dalam penjara.

PENYUNTINGAN YANG TIDAK CERMAT

Dalam buku ini terdapat banyak penulisan kata-kata yang salah, dan ‘inkonsistensi’, yang bersebab ketidak-cermatan penyuntingan. Di antaranya, sbb.: Asia barat, Asia tengah(hlm.5). Pada halaman 12, India Utara tidak ditulis sebagai India utara.

‘sipa’ (hlm. 10), seharusnya ‘siapa’/‘dimulaikan’ (hlm. 32), seharusnya ‘dimuliakan’./‘Fathillah’ (hlm.13), seharusnya ‘Fatahillah’./‘feminime’)hlm.9), seharusnya feminin./Dan banyak lagi yang lainnya..

PENGGUNAAN YANG TIDAK TEPAT.

Ada beberapa kata yang berasal dari Bahasa Arab yang bergeser artinya, yang digunakan oleh si penulis buku di dalam buku ini, di antaranya adalah sbb.: pra sejarah (hlm.4), dan banyak kata ‘sejarah’ dalam buku ini, yang diartikan sebagai ‘histori’. Sedangkan kata ‘sejarah’ berasal dari bahasa Arab yang terjemah bahasa Indonesia-nya adalah ‘pohon’;

pemakaman (hlm.32), yang diarikan ‘kuburan’. Dua kata tersebut ‘makam’ dan ‘kubur’ berasal dari bahasa Arab. ‘maqom’ (bhs. Arab), terjemahannya di dalam bahasa Indonesia adalah ‘tempat berdiri’,bukan ‘kuburan’ atau  ‘graveyard’ (bahasa Englis). Sedangkan ‘kubur’ dibahasa-indonesiakan menjadi ‘kuburan’;

bahasa Al Qur’an (hlm.26). ‘Bahasa’ Al Quran itu tidak dikenal. Yang ada adalah Al Quran dalam bahasa Arab.Seumpama : tidak ada ‘bahasa’ silang peradaban di Nusantara era sebelum Masehi’. Yang ada adalah buku berjudul ‘Silang Peradaban di Nusantara Era Sebelum Masehi’ dalam bahasa Indonesia.

Kesalahan penulisan kata dan kesalahan pengertian kata yang digunakan si penulis buku ini penting disoroti, karena sekilas dalam pengantarnya, ia menyebut ‘lexycografi’ ( dari ‘lexycography’ yang menurut Kamus Inggris Indonesia oleh John M.Echols dan Hassan Shadily, terbitan PT Gramedia Jakarta, cetakan XXV, tahun 2003; adalah ‘perkamusan’), dan ‘lexical’ yaitu ‘yang berhubungan dengan bahasa’.

Pada halaman 86 buku ini, si penulis memberi keterangan reproduksi gambar Zenobia, Ratu Palmyra dari abad III SM, yang –menurut si penulis—dalam lidah Arabia Selatan Zabaniyah. Saya meragukan kebenaran pernyataan tersebut, bahwa Zenobia ( yang berkonsonan z-n-b) dalam lidah Arabia Selatan menjadi Zabaniyah ( yang berkonsonan z-b-n)! Sepanjang yang saya ketahui, perubahan pengucapan ( dalam vocal) suatu kata dari suatu bahasa ke dalam bahasa yang lainnya, terikat dengan anasir-anasir konsonannya. Contoh: kata ‘Shalom’ atau ‘Salom’ ( bahasa Ibrani) dan kata ‘Salam’ (bahasa Srab) dan kata ‘Solemnis’ (bahasa Latin) dan kata ‘Selamat’ (bahasa Indonesia) dan kata ‘Slamet’ (bahasa Jawa) dan kata ‘Silom’ (bahasa Batak); semuanya beranasir konsonan ‘s-l-m’. Demikian pula kata ‘Islam”, berkonsonan ‘s-l-m’. Saya sering mengatakan kepada sahabat-sahabat saya yang beragama Nasrani tentang kenyataan tersebut. “Lu tiap hari ngucapin Salom, Salom..yang artinya Islam, Islam; tapi agama lu Kresten, gimane, bro?,” kata saya. “ Jesus itu, Almasih Jesus Putra Maryam itu beragama Islam, bukan Kresten.” Hampir semua sahabat saya itu kaget dan terkesima. Sebagian mikir, sebagian acuh tak acuh.

Pada halaman 8 Ridwan Saidi menulis ‘Ras Yahudi’. Yahudi itu penamaan untuk suatu agama, bukan bangsa; seangan ‘ras’ terhubung dengan ‘bangsa’. Seharusnya ditulis ‘Ras Semit’, jika yang dimaksud adalah Anak-anak Israel.

9 ½ HALAMAN NASKAH ISI??

Buku ‘ Silang Peradaban di Nusantara Era Sebelum Masehi’ karya Ridwan Saidi berjumlah 104 halaman. Sekitar 50 halaman berisi reproduksi foto dan gambar tanpa kredit para fotografer dan para pelukisnya. Bagian VI ‘ Proses pembentukan hukum zaman kemerdekaan dan sebelumnya’ yang berada di luar kontex sebanyak 28 halaman. Tentang Ridwan Saidi berjumlah 7 halaman. Penutup 1 halaman. Kepustakaan sebanyak 7 halaman ( yang tidak menyebutkan Al Quran sebagai referensi, walau ybs menyebut Al Qur’an itu..—pen.). Maka, isi buku hanya berjumlah 9 ½ halaman!, karena ‘pengantar’ yang berjumlah 3 halaman nyaris tak berhubungan dengan ‘isi’.

Gegap gempita daftar kepustakaan yang mencapai 152 (seratus lima puluh dua) judul materi —yang tanpa menyebut Al Quran itu—, cukup mengherankan dan patut dipertanyakan jika hanya menghasilkan 9 ½ halaman ‘isi’ buku yang judulnya cukup fantastik dan ‘spektakuler’ : “ Silang Peradaban di Nusantara Era Sebelum Masehi”! Keheranan dan pertanyaan saya tersebut terhubung dengan tidak ada penjelasan yang cukup dari si penulis buku tsb., tentang apa yang ia artikan sebagai ‘Silang Peradaban di Nusantara Era Sebelum Masehi’, sehingga para pembaca sungguh-sungguh dapat ‘tercerahi’ ( merujuk kepada nama penerbit ‘ Perhimpunan Renaissance Indonesia—pen.) dan dapat ‘memberdayakan bangsa’ yang ia sebut dalam pengantarnya. Dan bukan sebaliknya..

SENSASIONAL DAN SPEKULATIV?

Sebatas pengetahuan yang saya peroleh, saya ingin membahas judul buku ‘Silang Peradaban di Nusantara Era Sebelum Masehi’ yang sensasional, tapi tidak dijelaskan dengan rinci oleh si penulis buku : apa yang ia artikan dengan judul ( yang merupakan quint-essence atau sari pati dari isi buku).

Saya mulai dengan ‘Nusantara’. Saya mendapat informasi dari Sdr. Sulaiman, peneliti lulusan Universitas Indonesia, bahwa ‘sumber’ tertua mengenai nama ‘Nusantara’ terdapat di dalam kidung Sunda, yang artinya ‘pulau-pulau di luar Jawadwipa’. Jika penjelasan tersebut benar, faktual, maka semua ‘urusan’ yang mengenai ‘Nusantara’, adalah terbatas pada ‘pulau-pulau di luar pulau Jawa’. Pulau Jawa dan segala sesuatu di dalamnya, tidak termasuk di dalam apa yang disebut sebagai ‘Nusantara”.

Pendapat Ridwan Saidi yang terungkap dalam buku ‘Silang Peradaban di Nusantara Era Sebelum Masehi’ memasukkan Jawa di dalamnya.

Dan banyak orang lainnya yang menganggap ‘Nusantara’ adalah nama asli dari ‘Indonesia’. Sepanjang yang saya ketahui, wilayah atau kawasan yang sekarang menjadi wilayah Republik Indonesia, yaitu dari Merauke di Papua sampai ke Sabang di Nanggroe Aceh Dar al Salam, sejak dulu tidak bernama, atau tidak diketahui namanya. Karena kawasan tersebut, pada masa sebelum pemerintahan penjajahan Netherland Indie, dan kemudian sekarang menjadi Republik Indonesia; bukanlah suatu kawasan yang secara administrasi-pemerintahan bersatu dan terpadu. Artinya, tidak ada batas yang jelas mengenai apa yang disebut sebagai Nusantara itu. Dari pengertian tersebut, penyebutan ‘Nusantara’ oleh Ridwan Saidi sebagai tempat atau wilayah ‘persilangan peradaban era sebelum Masehi’ patut dipertanyakan. Karena, bagi ‘berita’ apapun yang factual mengandung anasir-anasir Siapa, Apa, Mengapa, Kapan, Di mana dan Bagaimana; dengan jelas dan akurat.

Dan tentang  ‘Era Sebelum Masehi’

Di dalam Al Quran, Isa Putra Maryam, yaitu Nabi dan Rasul Allah; disebut juga dengan nama Almasih. Dari nama Almasih itu banyak orang, khasnya orang-orang muslimun, menganggap perhitungan tahun ‘modern’ itu ( sebutan ‘modern’ dari peresensi) dimulai sejak kelahiran Almasih Isa Putra Maryam. Sedangkan pengertian umum tentang tahun Masehi, utamanya oleh mayoritas penulis Eropa dan Amerika Serikat disebut sebagai ‘Christ’. ‘Era sebelum Masehi’ adalah ‘era Before Christ.” Sedangkan Almasih itu sejatinya bukanlah Christ atawa Kristus. Orang-orang muminun dan perempuan-perempuan muminah atau orang-orang yang beriman, tidak percaya Isa Putra Maryam disalib ) kata salib dari kata ’sholibah’, bahasa Arab). Yang disalib itu adalah orang yang diserupakan dengan Isa Putra Maryam, oleh Allah.

Hj. Irena Handono, dalam bukunya yang berjudul “Serial Kristologi. Penyelewengan Ayat-Ayat Ilahi ( Gerbang Publishing, Cetakan 1, Oktober 2011; halaman 42), mengutip pendapat Prof. Alvar Ellegard, penulis buku “Jesus 100 Years After Christ” ( 1999), sbb.:

Tujuan mereka adalah untuk menyebarkan cerita tentang Jesus yang dikemas sesuai dengan ajaran yang telah ditetapkan Gereja mereka, yang dipungut dari berbagai sumber yang cocok dengan keinginan mereka, baik sumber histori, cerita dongeng, maupun khayalan./ Sebagian besar isi Bibel adalah dongeng, mitos, cerita-cerita yang memutar-balikkan histori dan tulisan-tulisan fitnah yang melecehkan berbagai pihak.

Setahu saya, Ridwan Saidi tidak mempercayai dusta tentang pensaliban Isa Putra Maryam, tapi mengapa ia menggunakan judul tulisannya “ Silang Peradaban di Nusantara Era Sebelum Masehi”? Dan kapan sih sesungguhnya Almasih Isa Putra Maryam lahir? Tanggal berapa, bulan apa, tahun berapa ( catatan: dan tahun berapa itu dimulai sejak kapan?–pen.). “Era Sebelum Masehi” itu sepanjang apa waktunya? Dan sebelum Almasih Isa Putra Maryam dilahirkan, perhitungan tahun dimulai sejak kapan? Sekali lagi, Ridwan Saidi tidak memberi penjelasan tentang jangka waktu “Era Sebelum Masehi” itu di dalam bukunya! Tanpa ada batasan waktu tersebut, maka “Era Sebelum Masehi” adalah “era yang tidak jelas batasan waktunya”…

Pada bukunya, Ridwan Saidi menulis sebagai ‘informasi’ untuk tiga gambar yang tidak ia jelaskan sumbernya:

Peti jenazah raja-raja Babylon dari emas, atas, ornament busana adat Minangkabau dari emas, bawah kiri, headstatue Dewi Alata, atau Alah, yang dipuja di Arabia selatan, dari emas. Emas, atau donok dalam bahasa Semitik, kemudian diJawakan menjadi denok, datang dari Rejang, Bengkulu. Inilah salah satu sebab yang mengeratkan hubungan Nusantara dengan Egypt dan Asia barat sehingga merangsang terjadinya silang peradaban. (hlm. 29). Dari tulisan di atas dapat saya simpulkan, bahwa “Era Sebelum Masehi” yang dimaksud Ridwan di dalam judul bukunya adalah dimulai sejak era raja-raja Babylon.

SUMBER KE TIGA, SUMBER KE EMPAT, DAN..?

Kecuali situs di Batu Jaya dan di Telaga Jaya yang terletak di Kabupaten Karawang, Jawa Barat; si penulis buku tidak menjelaskan situs-situs mana saja yang ia kunjungi dalam urusan penelitiannya. Pada bulan Mei 2010, Ridwan Saidi mengajak saya ke situs Batu Jaya. Saya sempat berbicara dengan petugas museum Kabupaten Karawang yang memandu kami, dan beberapa orang warga setempat. Petugas museum menginformasikan, bahwa pada kawasan Batu Jaya pernah ditemui kuburan yang berisi mayat-mayat orang-orang perempuan. Mayat-mayat itu bertubuh tinggi dan bergelang emas. Ia tak menyebutkan berapa centi meter tinggi mayat-mayat itu. Ia hanya menyebut bahwa mayat-mayat itu lebih tinggi dari ukuran warga setempat.

Pada perjalanan kembali ke Jakarta, Ridwan Saidi mengatakan kepada saya, bahwa situs Batu Jaya itu adalah komplex pekuburan Nabi Isa dan para pengikutnya. Saya katakan kepadanya, bahwa di dalam Al Quran disebut, bahwa Allah mengangkat Isa Putra Maryam ke dataran yang banyak mata airnya dan ditumbuhi rerumputan.Di sana ia beristri dan beranak-anak. Saya tidak berani memastikan, bahwa  situs Batu Jaya itu tempat Nabi Isa sesudah ia diselamatkan Allah dari upaya penyaliban oleh Anak-anak Israil yang kafir. Dalam buku “Silang Peradaban di Nusantara Era Sebelum Masehi”, Ridwan Saidi tidak menyebutkan pendapatnya yang ia sampaikan secara lisan itu kepada saya. Sampai resensi ini saya tulis, Ridwan Saidi tidak pernah menyampaikan koreksinya tentang bahwa situs di Batu Jaya itu adalah pekuburan Nabi Isa dan para pengikutnya; dengan alasan, bahwa –menurutnya—relief pada bangunan di Batu Jaya itu bercorak Egypt dan Romawi. Dengan judul bukunya “ Silang Peradaban di Nusantara Era Sebelum Masehi”, secara tidak langsung Ridwan Saidi mengakui, bahwa pendapatnya tentang situs di Batu Jaya sebagai pekuburan Nabi Isa dan para pengikutnya tidak benar.

Di dalam bukunya ini, Ridwan Saidi memang tidak menyinggung tentang kekeliruan pendapatnya tersebut. Saya menyampaikannya di sini sebagai ilustrasi, bahwa Ridwan Saidi —pada kasus tersebut—terlalu cepat dan terlalu berani memastikan atau membuat kesimpulan tentang sesuatu; tanpa informasi dan fakta yang benar..

Sumber-sumber informasi yang diperoleh Ridwan Saidi dan ia jadikan argumen tentang “Silang Peradaban di Nusantara Era Sebelum Masehi” adalah sumber ke tiga, sumber ke empat. Itu tertulis dalam Kepustakaannya yang bererot. Dan ‘riset’nya yang tidak ia rinci 5 W (Who, What, Why, Where, When) & 1 H (How)-nya. Dan cara ia menuliskan informasi tersebut, termasuk reproduksi foto-foto dan gambar-gambar, tidak secara tegas ia jelaskan hubungan antara yang satu dan yang lainnya; sehingga para pembaca dapat dengan jelas mengerti apa yang ia sebut sebagai “Silang Peradaban di Nusantara Era Sebelum Masehi” itu..

FABEL

Dalam ‘Penutup’ bukunya, pada halaman 89, Ridwan Saidi menulis tentang dialog antara Sapi petani dan Sapi Banpres. Dialog itu termasuk kategori fable, yaitu dongeng tentang binatang-binatang yang bisa ngomong dalam bahasa manusia. Dialog sapi-sapi tersebut, dan semua kalimat dalam ‘Penutup’ yang cuma satu halaman; tidak menggambarkan kesimpulannya tentang “Silang Peradaban di Nusantara Era Sebelum Masehi”. Dari ‘Penutup’ dan beberapa catatan serta pertanyaan-pertanyaan dalam resensi ini, saya mencatat dan mempertanyakan kesungguhan Ridwan Saidi memajukan pendapatnya tentang “Silang Peradaban di Nusantara Era Sebelum Masehi”; paling tidak, jika saya membaca tulisan pada halaman 2 buku tsb, yaitu, bahwa Perkumpulan Renaissance Indonesia, Perenesia, himpunan orang-orang yang mendambakan bangkitnya kejayaan Indonesia. Dalam mencapai tujuannya Perenesia melakukan kegiatan berbasis intelegensia. ‘Intelegensia’ a la Ridwan Saidi dan Perkumpulan Renaissance Indonesia terungkap di dalam buku ‘Silang Peradaban di Nusantara Era Sebelum Masehi’ yang saya beri beberapa catatan dan pertanyaan ini.

Jakarta, 3 Maret 2012.

Referensi: Al Quran& Terjemah dalam Bahasa Indonesia (Terbitan Departemen Agama R.I.,1967); Kamus Inggris Indonesia oleh John M. Echols & Hassan Shadily (Gramedia Jakarta); Hj.Irena Handono. Serial Kristologi Penyelewengan Ayat-Ayat Ilahi (Gerbang Publishing).

Teguh Esha, email: universitasjalanan@yahoo.com

Catatan: Dalam naskah yg dibacakan dan dibagikan pd acara ‘Bedah Buku’ tsb di Saung milik Bang Andi Sahrandi, Cireundeu, 4 Maret 2012; ada kesalahan ttg jumlah bahan kepustakaan. Di situ tertulis 197 bahan, seharusnya 152 bahan. Kesalahan itu saya koreksi. Mhn maaf kepada para pihak dan tks untuk penghargaan yg diberikan kpd naskah ini; utamanya kpd Bang Yahya Andi Saputra dkk.; dan para cendekiawan lainnya.  Salam, Teguh Esha (Jakarta, 6 Maret 2012)

Leave a Comment