Hewan dalam Kearifan Lokal Betawi

Oleh Yahya Andi Saputra

Pakar ilmu-ilmu sosial menangkap perilaku pola hidup masyarakat  tradisional dengan mendefinisikannya menjadi kearifan lokal. Mereka mengatakan, kearifan lokal adalah cara dan praktik yang dikembangkan oleh sekelompok masyarakat, yang berasal dari pemahaman dan interaksi mendalam akan lingkungan tempat tinggalnya. Kearifan lokal berasal dari masyarakat untuk masyarakat yang dikembangkan dari generasi ke generasi, menyebar, menjadi milik kolektif, dan tertanam di dalam cara hidup masyarakat setempat. Masyarakat memanfaatkan tata atur kearifan lokal  untuk menegaskan jatidiri dan bertahan hidup.

Adalah benar ungkapan atau pepatah yang merbunyi “alam terkembang menjadi guru”. Manusia Betawi memahami dan meggumuli rahasia alam agar hidupnya aman dan terteram. Akhirnya rahasia alam dapat difahami dan diungkap maknanya. Atas dasar pengungkapan itulah disusun petuè (petuah) yaitu ajaran, amanat, nasihat atau wejangan supaya manusia dapat hidup selaras dengan alam. Petuè dikeluarkan oleh tetua masyarakat untuk menjadi pedoman dalam hidup sehari-hari. Tidak ada ketentuan tertulis beserta jenis sanksi manakala masyarakat tidak mengikuti petuè. Sanksi social tentu saja ada yang tertuang dalam bentuk ketulah atau kualat. Ketulah artinya tertimpa musibah karena tidak mentaati ajaran atau amanat leluhur[1].

Orang-orang  yang tertimpa musibah karena ketulah biasanya tidak menghiraukan petuè nenek moyang. Masyarakat pun tak terlalu ambil pusing atas perbuatan individu yang bertentangan dengan petuè. Alih-alih menasehati, mereka justru menggunjing pelan antara sesama “Entar juga die mendapet” (pada saatnya dia akan memperoleh musibah karena melalaikan amanat leluhur). Dan ketika si individu benar-benar mendapat musibah karena ketidaktaatan pada tradisi, maka orang-orang di sekitarnya bergunjing lagi sambil berkata “Makna dah pencarian lu!” (rasakanlah akibat perbuatanmu sendiri)[2].

 

Kekuatan Hewan

Banyak hewan yang ditakuti manusia, tidak saja karena secara fisik menyeramkan, garang, dan buas, namun secara adat dipercaya sebagai pembawa kabar baik dan buruk. Legenda-legenda kehewanan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari proses perjalanan manusia. Itu sebabnya masyarakat tardisional memuliakan hewan dalam kehidupan sehari-hari bahkan dijadikan lambang negara. Banyak Negara di dunia menggunakan hewan tertentu sebagai lambang negara atau negara bagian (provinsi). Indonesia menggunakan symbol burung garuda. Beberapa provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia pun menggunakan hewan sebagai lambangnya. Misalnya Provinsi Nusa Tenggara Timur menggunakan komodo, Nusa Tengara Barat (manjangan), Sulawesi Tenggara (anuang), Gorontalo (maleo), Kalimantan Tengah (burung enggang), Sumatera Utara (ikan), dan sebagainya. Begitu pun kota dan kabupaten menggunakan hewan sebagi lambangnya. Misalnya Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (burung hantu), Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (kuda), Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah (burung walet), Kota Surabaya, Jawa Timur (ikan hiu dan buaya), Kota kuningan, Jawa Barat (kuda jantan), dan sebagainya. Sementara itu Provinsi DKI Jakarta meski tidak mencantumkan hewan pada logonya, namun menetapkan burung elang bondol sebagai maskot. Wilayah kotamadya Jakarta Selatan, menjadikan burung glatik sebagi maskotnya. Tetapi memang lebih banyak provinsi, kabupaten dan kota yang menggunakan laut, tumbuh-tumbuhan (padi, kapas, kelapa, lada, kopi, dan sebagainya), contur tanah, dan sesuatu yang paling khas (budaya) dari daerhanya dilengkapi dengan pilihan warna. Hewan yang dipilih biasanya untuk diselaraskan dengan sikap dan sifat ulet, gesit, lincah, kuat, berani, dan militant. Sementara tumbuh-tumbuhan mengandung arti kesuburan, keadilan, kemakmuran, gemah ripah lohjinawi. Sedangkan penggunaan warna merah, putih, hitam, biru, hijau, kuning, colat dan lain-lain disinkronkan dengan makna berani, suci, luhur, sederhana, cinta, tegas, agung, mulia, terhormat, dan sebagainya. Tak ada pemaknaan negative.

Organisasi kemasyarakatan maupun lembaga swadaya masyarakat pun termasuk yang kerap menggunakan hewan sebagai lambang atau logo institusi atau oragnisasinya. Organisasi olahraga, khususnya yang bergerak di bidang ketangkasan dan beladiri (perguruan pencak silat) pada umumnya menggunakan hewan macan dan ular serta tentunya jenis-jenis senjata tradisional.

Pasca reformasi, Indonesia seakan-akan memasuki era demokrasi. Politisi beduyun-duyun mendirikan partai politik. Pada pemilihan umum tahun 1999, 2004, dan 2009, beberapa partai politik menjadikan hewan sebagai lambangnya. Misalnya PDIP(banteng), PDI-Supeni (banteng), Partai CintaDamai (merpati), Partai Keadilan dan Persatuan (elang), Partai Penegak demokrasi Indonesia (Banteng), Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (banteng), Partai Patriot Pancasila (elang), dan lain-lain. Hewan-hewan itu dimaknai sesuai karakternya dan diharapakan dapat menurunkan sugesti bagi anggota organisasi

Hewan pun sering dijadikan obyek pemaknaan negative. Dalam masyarakat tradisional, khusunya pada masyarakat Betawi, amat banyak sifat hewan dijadikan peribahasa atau ungkapan yang artinya negatif. Misalnya ‘kaya kambing conge’ (orang yang tidak mau mendengar nasihat), ‘kambing keramat’ (pengangguran), ‘buayè darat’ (penjahat, penipu), ‘buayè pasar’ (pencuri), ‘kadal mao dikadalin’ (penipu mau ditipu), ‘lintah darat’ (rentenir), ‘kodok ijo’ (petugas yang melakukan pungutan liar), ‘macan ompong’ (penguasa yang tidak memiliki kekuatan dan wibawa), ‘kupu-kupu malem’ (pelacur), ‘kutu kupret’ (orang yang kelakuannya tidak baik), ‘kutilang pantat kuning’ (orang yang kikir/pelit), ‘laler ijo’ (mucikari, tentara), ‘ayam nelen karet’ (sangat menderita), ‘bajing loncat’ (penjahat di jalan raya), ‘uler kepala duè’ (penghasut), ‘mukè badak’ (tidak mempunyai rasa malu), ‘kucing jadi macan’ (lebih jahat setelah keluar penjara), dan lain sebagainya.

Apapun pemaknaan yang diberikan dengan mengibaratkan hewan, di sini jelas bahwa keberadaan hewan begitu istimewa. Atau memang manusia memiliki sifat hewaniah di dalam dirinya.

Masyarakat Betawi memberikan perhatian lebih kepada hewan, khususnya kucing, buaya, macan, burung (gagak, utit-utit, celepuk/burung hantu, merak, tekukur, perkutut), bunglon, kupu-kupu, ular, cicak, tokè (Gekko gecko), ayam, soang (angsa), kambing, dan kuda. Hewan-hewan itu dihormati karena kerap kali tingkah laku atau suara serta kicaunya mengungkapkan rahasia agar mausia bersikap hati-hati dan waspada.

Orang Betawi memahami dua jenis warna bulu kucing yang mengandung makna penting dalam kehidupnnya. Warna hitam legam dan tiga warna disebut juga belang tiga. Kucing hitam legam karena mungkin bulunya yang hitam sehingga keberadaan dan kemunculannya terkesan penuh misteri dan beraroma magis. Meski dapat dijadikan hewan peliharaan, namun jarang orang memeliharanya. Kucing belang tiga paling dicari untuk dijadikan binatang peliharaan, karena diyakini memiliki sifat setia dan penolong. Kucing ini menjaga rumah dari serangan tikus atau dari ancaman pencuri. Kucing belang tiga, terutama yang berjenis kelamin laki-laki sering dikebiri (disunat). Kucing kebirian biasanya pertumbuhan badannya lebih besar dan berblu bagus. Dengan dikebiri, kucing itu semakin setia dan dapat dimanjakan oleh pemerilaharanya.

Namun bagi masyarakat Betawi, semua kucing dihormati tanpa kecuali. Jika dalam perjalanan dipotong jalan (dilintasi) kucing, ia akan memutar kendaraan atau membalik badannya mencari jalan lain atau sekadar memutar untk selanjutnya kembali ke arah jalan semula. Jika tidak sengaja menabrak kucing sampai mati, maka ia akan mengurus dan mengubur kucing itu dengan layak. Semua itu dilakukan untuk mencegah marabahaya yang mungkin menimpanya.

Dahulu ada keyakinan turun-temurun, jika musim kemarau berkepanjangan sehingga amat mengganggu kondisi pertanian, masyarakat akan mencari kucing hitam untuk dimandikan. Konon dengan memandikan kucing hitam, hujan akan turun. Tidak diketahui kenapa memilih kucing hitam sebagai media untuk upacara itu, mungkin karena kucing merupakan salah satu hewan yang sangat takut dengan air.

Jika kucing takut pada air, buaya justru hidup di air. Masyarakat Betawi menghormati buaya sebagai hewan baik dalam pengertian harfiah maupun simbolik. Secara harfiah karena buaya merupakan salah satu jenis hewan tertua yang sabar dalam mencari makan. Ia akan sabar nenunggu hewan buruannya sampai benar-benar dapat dijangkaunya. Konon ia juga diangap hewan yang setia kepada pasangnnya.

Buaya silumanlah yang paling dihormati oleh masyarakat Betawi. Kisah-kisah kemisteriusan buaya siluman sering diceritakan di tengah keramaian masyarakat, sekadar mengigatkan kelebihannya. Buaya siluman biasanya menjaga tempat-tempat  tertentu di sungai, muara, maupun rawa. Pada tempat-tempat itu konon sering terjadi musibah, bahkan tidak sedikit dari orang yang tertimpa musibah meninggal dunia atau jasadnya hilang. Oleh karena itu masyarakat menempatkan sesajen atau ancak pada lokasi itu.

Keberadaan buaya siluman ini – menurut cerita tetua kampung – sebenanya bentuk lain dari upaya masyarakat tradisional menghormati air sebagai sumber kehidupan. Melalui cerita buaya siluman, masyarakat diajarkan tidak memperlakukan kali, muara, rawa dengan semena-mena, karena jika sekali saja sumber air tercemar, maka berdampak buruk bagi kelanjutan hidup manusia.

Itu sebabnya dalam acara serah-serahan pada upacara perkawinan masyarakat Betawi, terdapat sepasang roti buaya, tidak lain sebagai symbol penghormatan kepada buaya siluman penjaga sumber kehidupan, yaitu air.  Jadi sepasang roti buaya tidak semata-mata persembahan biasa, namun sebagai upaya mengkomunikasikan betapa manusia harus menjaga dan hidup selaras dengan lingkungannya.

Macan menjadi penguasa hutan. Kekuatan, keberanian, dan kelincahannya menginspirasi manusia. Macan jadi-jadian atau siluman sering dipelihara dan mejadi andalan untuk menjaga lingkungan atau hak milik orang perorang. Pemilik perkebunan buah-buahan maupun persawahan yang sangat luas selain mengupah centeng (penjaga atau tukang pukul bayaran), juga memelihara macan siluman. Macan siluman itu akan menjelma menjadi macam, jika ada penjahat, perampok atau segala sesuatu yang terindikasi tidak baik. Konon macan siluman tidak sekadar menjelma, namun menyerang perampok. Siluman macan sering pula menjelma sekadar mengungkapkan eksistensinya dalam dunia manusia. Jika peristiwsa seperti itu, tentu masyarakat mejadi  ketakutan[3].

Masyarakat Betawi menandai beberapa burung memiliki kelebihan khusus yang membuat manusia bergembira sekaligus ketakutan. Burung gagak dianggap sebagai burung yang menyeramkan dan kehadirannya sangat tidak diharapkan, karena dipercaya membawa musibah. Jika ada burung gagak hinggap di sekitar rumah, pemilik rumah segera mengusirnya. Dengan upaya pengsiran itu, dianggap sudah mengusir  atau mencoba menghindakan diri dari musibah yang mungkin datang kepadanya.

Burung utit-utit, nama sebenarnya Wiwik Uncuing, pun demikian pula. Burung ini selalu hinggap di ranting pohon paling tinggi, namun apabila berkicau suara melengking-lengking seolah-olah hinggap di ranting rendah persis di telinga kita. Jika di kampung orang-orang mendengar suaranya, diyakini sebagai pembawa kabar kematian. Masyarakat saling bertanya-tanya, siapakah gerangan yang sedang menderita sakit yang sudah agak parah. Dan memang pada kenyataannya, beberapa hari kemudian tersiar berita ada salah seorang warga meninggal dunia, entah sebab sakit atau seba-sebab lainnya.

Burung hantu juga dianggap burung penghabar keseraman. Keberadaan burung yang memulai aktivitasnya malam hari ini sering disandingkan dengan makhluk kuntilanak. Kuntilanak dikenal sebagai hantu yang konon berasal dari orang perempuan yang meninggal ketika melahirkan anak. Menurut cerita rakyat Betawi, dalam pengembaraannya dari satu empat ke tempat lainnya, kuntilanak mengendarai burung hantu. Jika masyarakat mendengar suara burung hantu, mereka segera melarang anak-anaknya keluar rumah, karena kuntilanak sedang mencari anaknya. Jika kuntilanak melihat ada anak-anak di luar rumah, anak itu diatangi dan diraih dibawa pergi.

Pernah diceritakan ada anak-anak yang hilang begitu saja dari tempatnya bermain. Keluarga dan masyarakat berusaha mencarinya ke segala tempat, tapi tidak juga ditemukan. Namun beberapa hari kemudian anak itu iba-tiba pulang tentu dengan pakaian lusuh dan wajah yang pucat layu. Anak itu segera dibawa ke rumah dukun untuk diobati.

Konon kuntilanak menyukai beberapa jenis pohon sebagai tempat tinggalnya, antara lain pohon nangka, sawo, bacang, melinjo, rambutan, beringin, dan bambu. Untuk menghalau ata mengusir  kuntilanak, masyarakat memantek (menanam paku atau pasak) pada pohon yang dianggap menjadi tempat tingal kuntilanak.

Orang tua atau mualim (ahli atau guru agaman Islam) mengajarkan membaca dan mengamalkan doa untuk menangkal kejahatan kuntilanak. Doa itu berbunyi, “Audzu bikalimaatillahiittaaam’maati allatii laa yujaawidzu hunna birrun wa laa faajirun min syarri maa kholak”.

Areal pohon bambu dijadikan tempat bermain kuntilanak. Konon kuntilanak senang maen ayun-ayunan (berayun-ayun menggerakkan badan berputar atau ke depan – ke belakang) sambil tertawa keras. Suara tawa kuntilanak itu (“Kek…, kek…, kek…”) sering kali didengar oleh warga kampung. Pohon bambu yang dijadikan ayuan jelas akan rebah dan batang tempat kuntilanak maen ayunan dengan sendirinya membentuk pola melengkung ke bawah menjadi seperti ayunan. Oleh orang tuanya, anak-anak dilarang mendekati pohon bambu yang berbentuk seperti itu, karena dianggap angker (tempat yang menyeramkan). Biasanya pohon bambu yang seperti itu segara ditebang oleh pemiliknya atau masyarakat[4].

Burung merak, karena keindahannya, menjadi lambang kemegahan, kemuliaan, dan kemeriahan. Bentuk burung ini sering dijadikan sebagai ragam hiasa busana upacara, seperti busana pengantin perempuan. Orang-orang yang menggunakan busana bemotif burung merak dianggap orang mulia dan terhormat. Jenis ragam hias lain pada busana pengantin perempuan adalah burung phoenik atau burung hong dan naga. Burung phoenik memberikan kesan gemulai dan menambah wibawa bagi pemakainya.

Bururng tekukur dan perkutut pun dipelihara bukan saja karena suara kicaunya, namun juga diyakini dapat melindungi rumah dari kemungkinan musibah yang datang. Musibah itu dapat disebabkan karena perampok atau niat orang jahat dari jarak jauh, seperti teluh. Burung ini diyakini memiliki pemciuman atau indra yang sangat sensitive sehingga mampu menangkap energi jahat yang tersalur dari perilaku manusia. Apabila burung ini gelisah, pemiliknya berusaha ronda atau melakukan shalat malam untuk menjaga atau menangkis kejahatan.

Bunglon termasuk hewan yang ditakuti. Kemunculannya sering dikaitkan pula dengan kutilanak. Jika burung hantu digunakan oleh kuntilanak sebagai kendaraan tunggangan (semacam kuda), bunglon digunakan sebagai pecutnya. Untuk memacu kecepatan, kuntilanak memecut burung hantu dengan bunglon. Jika pada pagi hari orang-orang mendapatkan bunglon hinggap di pohon atau di genting rumah, mereka menganggap kutilanak masih ada di sekitar rumah, bunglon itu diusir atau dipindahkan ke tempat lain. Untuk sementara anak-anak pun tetap dilarang bermain di luar rumah, meski siang hari[5].

Kupu-kupu dianggap sebagai hewan pembawa kegembiraan. Rumah yang dimasuki kupu-kupu konon tuan rumah akan mendapatkan kabar gembira. Segeralah ia menyiapkan keprluan untuk menyambut kabar itu. Kabar gembira itu benar-benar datang beberapa hari kemudian. Bentuk kegembraan itu bermacam-macam, mulai dari melamar, kunjungan orang penting, smpai masalah-masalah kegembiraan lainnya. makanya, apabila kupu-kupu mmemasuki rumah, ia dibiarkan saja hinggap di sembarang tempat.

Cicak pun menjadi sahabat manusia yang baik. Binatang ini kerap memberi peringatan kepada pemilik atau anggota rumah yang ditempatinya. Tengah malam sering cicak bersuara gaduh sehingga dapat membangunkan orang-orang yang tertidur lelap. Ternyata memang di luar ada orang yang berniat jahat. Dengan pemilik rumah terbangun dari tidur, orang yang berniat jahat mengurungkan melakukan aksi perampokannya.

Tokè atau tokek sering dianggap sebagai hewan penunjuk waktu. Orang Betawi, khususnya pada malam hari, terbiasa menandakan berjalannya jam dengan suara tokè. Suara tokè dari jam ke jam berbeda jumlah dan panjang-pendek suara di akhirnya. Pukul sembilan malam, tokè bersuara normal tanpa variasi di akhirnya. Memasuki  pukul 10 sampai dinihari, suara tokè berbeda-beda. Masyarakat petani terbiasa mendengar suara tokè, mereka tidak pernah terlambat bangun malam atau subuh untuk memulai aktivitasnya.

Sebagaimana tokè, ayam pun difungsikan sebagai penunjuk waktu. Memasuki perpindahan antara siang dan malam, ayah berkokok agar manusia masuk ke rumah meningalkan pekerjaan. Persis tengah malam atau pukul 24.00 ayam kembali berkokok, menasehati manusia agar benar-benar istirahat. Malam harus dijadikan waktu beristirahat. Nanti pada dinihari, ayam kembali berkokok menandakan hari menjelang siang. Manusia seharusnya sudah bangun untuk melaksanakan kegiatan rutinnya.

Namun ada saatnya ayam berkokok ketika pukul delapan malam. Bagi orang Betawi, kokok ayam seperti itu dijadikan petunjuk bahwa di lingkungannya telah terjadi suatu perbuatan nista. Ayam itu menghabarkan bahwa ada seorang perempuan yang sudah hilang kegadisannya bahkan sudah hamil, tetapi belum menikah. Ini tentu saja menjadi aib bagi lingkungan. Keluarga yang terimpa musibah seperti ini secara sembunyi-sembunyi membuang mukim (memindahkan) anak perempuannya ke kota lain untuk menghindarkan aib itu. Atau berusaha sesegera mungkin menikahkan anak perempuannya kepada siapa anaknya melakukan percintaan.

Jika tidak ada lelaki yang bertanggungjawab, jenis hukuman yang dijatuhkan kepada anak perempuannya berupa penggundulan kepala. Seorang gadis yang kepalanya digunduli, rambutnya dipotong habis, tidak berani keluar rumah.

Soang disebut juga gangsa atau angsa dianggap memiliki kepekaan tinggi dan tidak mudah akrab dengan manusia yang belum dikenalnya. Orang Betawi memelihara soang bukan hanya untuk diambil telurnya, tetapi sering pula dijadikan hewan penjaga. Tidak saja pada siang hari, bahkan pada malam hari soang akan menyalak dengan suaranya yang keras mengusir manusia atau makhluk lain yang mencoba mendekati rumah tuannya.

Jaman dahulu, ‘perang’ kekuatan teluh dapat disaksikan secara kasat mata. Penampakannya berupa bola api, yang disebut braja, berterbangan di angkasa. Konon jika braja hinggap di pohon kelapa, maka pohon itu akan terbakar hangus. Jika braja itu jatuh di genting salah seorang warga, keluarga itu menjadi sasaran kejahatan teluh. Dapat dipastikan esok lusa salah seorang dari keluarga itu akan mengalami sakit atau bahkan meningal.

Telur soang yang tembuhuk (busuk) diyakini mampu menangkal kejahatan yang dilakukan dukun santet/teluh. Telur-telur soang yang tembuhuk ditanam di halaman rumah. Apabila ada orang jahat menggunakan cara-cara santet, telur itu akan meledak dengan sendirinya. Tuan rumah yang menjadi sasaran terhindar dari kejahatan teluh/santet itu[6]. Telur-telur tembuhuk itu ditanam di halaman rumah atau di sudut-sudut bagian kiri-kanan halaman.

Kambing diternak untuk memperoleh dagingnya. Meski ia hewan yang sangat jinak, seringkali kambing bersikap menolak atas kehadiran orang yang tidak dikenalnya. Maling atau penjahat yang mengendap-endap dapat segera diendusnya seraya bersuara mengembik dengan keras. Suara embikan kambing – biasanya yang mengembik lebih dahulu adalah kambing yang paling tua – dan segera diikuti oleh kambing lainnya. Suasana gaduh di kandang kambing tentu saja membangunkan pemiliknya, dan segera memeriksa lingkungan sekitarnya. Mengetahui pemilik rumah bangun dan bersiaga penuh, perampok mengurungkan niatnya.

Orang Betawi memelihara kuda untuk tungangan dan dijadikan penarik beban (gerobak atau delman). Kuda-kuda itu dielihara dengan baik. Guru atau ulama Betawi jaman dahulu mempergunakan kuda untuk pergi mengajar. Biasanya kuda-kuda tunggangan untuk pergi mengajar atau berceramah dipilih yang putih atau hitam. Kuda putih atau hitam menampilkan kesan gagah, berilmu, dan berwibawa. Jika ulama itu berbisnis atau memiliki usaha material (alat-alat kelengkapan bangunan), ia memelihara lebih dari satu kuda. Satu kuda tungangan dan satunya lagi untuk menarik gerobak. Kuda penarik kerobak mengantarkan belanjaan (bata, genting, pasir, kayu, dan lain-lain) sampai ke tempat konsumen. Ini dilakukan demi pelayanan terbaiknya kepada konsumen[7].

Seperti hewan lain, kuda pun tidak mudah akrab dengan orang dan makhluk asing yang belum pernah dilihatnya. Itu sebabnya kuda akan meringkik keras ketika di sekitarnya ada makhluk yang sama sekali belum dikenalnya. Terutama jika pada malam hari ada tamu tdak diundang atau orang yang berniat jahat, kuda itu meringkik dengan kerassambil menendang-nendang kandang dengan kaki belakangnya. Ringkikan keras kuda itu mengurungkan maksud orang yang berniat melakukan kejahatan.

Pada dasarnya, hubungan antara manusia dengan binatang dapat berjalan intim dan menguntungkan manusia. Binatang memiliki naluri menghormati orang yang perperlakukan dan memeliharanya dengan baik, dengan penghormatan, dan dengan kasih sayang. Sebagai bentuk terima kasihnya, hewan akan bereaksi dan melakukan penolakan kepada orang yang belum dikenalnya, terutama kepada orang yang mengeluarkan enerji negatif untuk melakukan kejahatan kepada orang yang memeliharanya. Kisah kesejatian hubungan manusia dan hewan telah banyak terungkap dalam bebagai cerita rakyat maupun cerita fiksi yang diciptakan oleh para pujangga atau penyair di kemudian hari.

Masyarakat agraris (Betawi) mengamati dan menandai perilaku hewan dalam kaitannya dengan aktivitas pertanian dan perkebunannya. Kambing mengeluarkan prengus atau bau keringat yang menyengat jika akan turun hujan. Ayam dan burung akan mencari tempat berteduh atau masuk ke kandang dan sarangnya jika akan turun hujan lebat. Lintah (hewan penghisap darah) dapat dijadikan petunjuk apakah akan hujan atau tidak. Kunang-kunang pun menjadi penanda bahwa tanaman padi mendapat gangguan hama balang sangit dan hama lainnya.

Semua hewan, baik peliharaan, ternak, maupun liar, segera bereaksi manakala alam menunjukkan perubahan. Beberapa saat sebelum bencana alam (gempa bumi, gunung meletus, tsunami, badai) terjadi yang berdampak besar bagi lingkungan, umumnya hewan sudah merasakan enerji dari bencana itu. Beberapa hewan malah menunjukkan reaksi berlebihan dan gelisah dengan mengeluarkan suara keras sambil bertingkah laku aneh. Hal itu dapat diketahui dari pengalaman masyarakat Aceh beberapa saat sebelum terjadi gempa dan tsunami pada Desember 2004. Hewan-hewan, terutama burung berterbangan menjauhi area bencana.

Begitulah masyarakat Betawi berkomunikasi dan mengormati alam lingkungannya. Apakah ini masih dilazimkan oleh masyarakat?

Wallahu’alam bissawab (Yahya Andi Saputra).

 


[1] Abdul Chaer, Kamus Dialek Jakarta, edisi revisi (Depok: Masup Jakarta, 2009), hal. 220.

[2] Wawancara dengan H. Hamzah (tokoh masyarakat, 60 tahun), Kampung Gandaria, Cilandak, Jakarta Selatan, 1 Februari 2011.

[3] Wawancara dengan Bapak Zainali (kuncen wakaf, 50 tahun), Kampung Terogong, Cilandak, Jakarta Selatan,4 Februari 2011.

[4] Wawancara dengan Ibu Hj. Jamilah (ibu rumah tangga, 60 tahun), Kampung Terogong, Cilandak, Jakarta Selatan, 1 Februari 2011.

[5] Ibid.

[6] Wawancara dengan Bapak Zainali, op.cit.

[7] Wawancara dengan Bapak Niman Blenu (guru besar silat, 80 tahun), Kampung Gandaria, Cilandak, Jakarta Selatan, 28 Januari 2011.

 

Leave a Comment