Ekspresi Sastra Lisan Betawi

Bang Yahya saat   manggung di Korea

Bang Yahya saat manggung di Korea

Oleh Yahya Andi Saputra

Wakil Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi

Pengertian Sastra Betawi

Sastra Betawi menggunakan bahasa Betawi. Inilah ciri paling khas yang membedakan kesusastraan Betawi dengan kesusastraan suku bangsa lain. Kesusastraan Betawi dikarang oleh orang Betawi. Bisa juga mereka yang menguasai bahasa Betawi membuat karangan dalam bahasa Betawi. Lalu, siapakah yang membaca atau menikmati kesusastraan Betawi? Tentu saja yang terutama adalah orang-orang Betawi sendiri. Jadi bahasa Betawi digunakan, agar karangan itu dapat dipahami masyarakat pembacanya.

Kita dapat menyimpulkan bahwa kesusastraan Betawi ditulis dalam bahasa Betawi. Pengarangnya mungkin orang Betawi, mungkin sama sekali bukan orang Betawi, mungkin juga Betawi keturunan. Tidak apa-apa. Memang, tak sedikit orang non Betawi dan Betawi keturunan yang menjadi pengarang atau sastrawan. Jadi, genealogikal atau asal-usul pengarang tidak dipersoalkan. Yang jelas, karangan itu dibuat dan ditulis atau disampaikan dalam bahasa Betawi.

Karena kesusastraan Betawi ditulis oleh orang Betawi atau non Betawi, disampaikan dalam bahasa Betawi, dan dibaca atau didengar oleh orang Betawi atau masyarakat umum, maka isi ceritanya tentu berkaitan dengan kehidupan Betawi. Di dalamnya, tentu menyangkut adat-istiadat, agama, tingkah laku, keadaan alam dan menyampaikan amanah kearifan lokal Betawi secara utuh. Inilah yang dimaksud bahwa kesusastraan mencerminkan keadaan masyarakatnya.

Kemudian, apabila dikaitkan dengan sastra sebagai media komunikasi, akan tampak jelas siapa saja yang terlibat di dalamnya. Tak lain akan melibatkan tiga komponen, yakni pengarang sebagai pengirim pesan, karya sastra yang memerankan dirinya sebagai pesan, dan pembaca sebagai penerima pesan[1].

Sebagaimana diperlihatkan pada uraian di atas, maka kesusastraan Betawi mempunyai dua penampilan yaitu sastra tulis dan sastra lisan. Sastra tulis Betawi baik yang modern maupun yang berasal dari masa lalu, nampaknya belum sempat dicatat dan dianalisis secara sungguh-sungguh. Terlebih-lebih sastra lisannya.

Secara umum, Sastra lisan Betawi dapat digolong-golongkan menjadi tiga kelompok. Pertama, Buleng, yaitu cerita yang disampaikan dalam bentuk pantun. Pendukung utamanya  berada di daerah pinggiran wilayah budaya Betawi yang berbatasan dengan wilayah budaya sunda. Mereka menganggap dirinya orang Betawi yang bernenek moyang orang Sunda. Tak mengherankan jika kelompok masyarakat ini cenderung memilih cerita-cerita yang berwarna kesundaan :  Ciung Wanara, Telaga Warna, Raden Gondang, Gagak Rancang, dan lain-lain.

Kedua, Sahibul Hikayat, yaitu cerita yang disampaikan dalam bentuk prosa. Masyarakat pendukungnya terdapat di tengah-tengah wikayah budaya Betawi. Kemungkinan para pendukungnya berasal dari kelompok etnis Melayu yang bermukim  di wilayah tuan-tuan tanah Arab. Pada kelompok masyarakat ini ceritanya kebanyakan bersal dari Timur Tengah. Antara lain bersumber pada Seribu Satu Malam, maka muncul cerita seperti :  Hasan Husin, Ahmad Muhammad, dan Sahrul Indara Bangsawan.

Bang Firman dan Bang Kandi pada saat Ngerancag

Bang Firman dan Bang Kandi pada saat Ngerancag

Ketiga : Rancag, yaitu cerita yang disampaikan dalam bentuk pantun berkait. Pendukungnya berada di daerah pinggiran budaya Betawi terutama di bagian Utara yang berbatasan dengan Laut Jawa. Diduga masyarakat pendukungnya adalah orang Betawi keturunan Cina. Masyarakat ini cenderung memilih cerita-cerita seperti : Rancag Bang Pitung, Si Angkri Jago Pasar Ikan, Mat Tompel, dan Sam Pek Eng Tay.

Semua jenis sastra lisan itu berpentas semalam suntuk (mulai pukul 20.00 sampai 04.00 pagi/subuh). Dapat dibayangkan bagaimana mereka berupaya memikat penonton agar tetap duduk menonton dan mendengarkan cerita atau lakon selama delapan jam berturut-turut. Sastra lisan jenis rancag biasanya dihidangkan dengan iringan musik  Gambang Kromong. Alat-alat musik yang digunakan adalah gambang, kromong, gendang, kecrek, gong, tehyan, dan kongahyan. Sastra lisan jenis ini sudah mendekati punah[2].

Kemudian bentuk teater tradisional Betawi yang juga amat kuat memanfaatkan pantun dalam pementasannya adalah teater topeng Betawi, khususnya pada bagian akhir pertunjukan yang disebut Babak Bapak Jantuk. Sebagaimana diketahui, ekspresi teater tradisional ini merupakan gabungan pergelaran musik, tari, lawak, dan lakon (drama). Inti cerita Babak Bapak Jantuk, hanyalah berupa wejangan untuk pengantin baru agar hidup rukun damai, jangan meniru keributan keluarga Pak Jantuk dan Mak Jantuk. Perkawinan dan rumah tangga berantakan yang mengakibatkan perceraian, hanya gara-gara persoalan amat sepele, yaitu kepala ikan peda Pak Jantuk hilang digondol kucing.

Biasanya, penanggap (resepsi pesta perkawinan, misalnya) topeng Betawi memesan mementaskan juga Babak Bapak Jantuk, untuk menasihati anak menantunya dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Maka jelas, kesusastraan Betawi, apabila dikaitkan dengan pandangan kritikus sastra Romawi klasik, Horatius, terpampang fungsi utama yang dimiliki oleh karya sastra, yaitu dulce et utile. Maknanya indah dan menghibur (dulce) serta berguna dan mengajarkan sesuatu (utile)[3].

Dewasa ini, khususnya generasi muda seniman Topeng Betawi, kemungkinan besar tak sanggup memainkan peran Pak Jantuk. Hanya orang yang sudah berumur dan kenyang makan asem garem, mampu ngejantuk dengan baik. Hampir 90 persen dari 120 menit yang tersedia, Pak Jantuk harus mampu bermonolog. Sekali-kali berdialog dangan penonton atau tukang gendang yang bertindak sebagai Alok[4].

Pantun atau syair-syair lagu yang dinyanyikan tokoh-tokoh dalam teater rakyat Betawi sangat kuat nilai sastranya. Bagi saya pantun dan syair ini merupakan salah satu khasanah kekayaan sastra Betawi. Kita lihat saja syair (Arang-arangan Jantuk dan Ngelodok) di bawah ini yang dilantunkan tokoh Jantuk dalam Topeng Betawi. Kita tahu bahwa tokoh Jantuk selalu diperankan oleh panjak paling senior yang telah menguasai betul seluruh patut topeng Betawi.

 

Sampe kapan saya bilang ada bunga-bunga disenur

Saya bilang ada bunga-bunga disenur

Ada tetapang saya bilang ada saya embunin

Sampe kapan saya bilang si nona-nona tidur

Sampe kapan ada si nona tidur

Supaya gampang, supaya gampang saya bangunin

 

Kembang melati bapa ada jatoh di tanah

Kembang melati jatoh di tanah

Jantung hati di nama-mana

Kayu jati saya bilang dibikin dupa

Kayu jati dibikin dupa

Sampe mati tida-tida dilupa

 

Nanem sere di pegunungan

Ambil dulang jatuh ke tanah

Waktu sore kebingungan

Saya pulang pulang ke manah

 

Tidak kalah pentingnya syair dan pantun yang terdapat dalam lagu anak-anak. Lagu anak-anak Betawi sangat banyak. Lagunya mudah dinyanyikan. Pantunnya jenaka. Tentunya kita masih ingat lagu Sang Bango. Lagu ini dinyanyikan secara bersahut-sahutan. Pantunnya mengajarkan anak-anak untuk belajar bertanggungjawab atas semua perbuatan yang dilakukannya. Kita perhatikan pula lagu Sim sim kelima-lima kasim, yang sering dinyanyikan anak-anak.

 

Kelima-lima kasim

Sim sim kelima-lima kasim sim

Simpak bakul rombèng bèng

Bengkel kelapa-lapa ijo jo

Jotan daon rambutan tan

Tanduk palè si Mukcing cing

Cingcang daging babi  bi

Biuk rodanyè empat pat

Pacul ujungnyè  tajêm jêm

Jempol  adè duwâ

Wak Ipit malu saya waw-waw

 

Jampe Betawi, yang dibacakan ketika mengobati orang sakit, sebenarnya paling sarat dengan nilai sastra. Pembacaan jampe oleh para dukun bukan hanya memancarkan aura magis yang menyembuhkan orang sakit, tapi intonasi dan cara baca itu pun memiliki kekhasannya sendiri sehingga pada situasi itu tercipta panggung sastra. Boleh dikatakan jampe adalah salah sastu jenis sastra yang kemunculannya paling awal karena faktor kegunaannya bagi publik. Berikut sebuah jampe untuk menyembuhkan penyakit tumbuan.

 

Urung-urung tempolong kapur

Urung tumbuan

Jadi tempolong kapur

Jadi tumbuan

Urung tempolong kapur

Urung tumbuan

 

Apabila mengikuti kepatutan, maka pantun adalah jenis puisi lama yang terdiri atas empat larik berirama silang (a-b-a-b). Tiap larik biasanya memiliki empat kata. Dua larik pertama disebut sampiran, sedangkan dua larik berikitnya disebut isi. Ada pula pantun yang terdiri atas enam atau delapan larik[5]. Terdapat beberapa jenis pantun, antara lain pantun nasehat, pantun berkasih-kasihan, pantun hiburan/jenaka, dan sebagainya. Pantun nasehat meliputi seluruh nasehat dalam menjalani kehidupan. Dapat ditujukan untuk kehidupan berumah tangga, bermasyarakat, beragama, mencari rejeki, belajar menuntut ilmu pengetahuan, dan sebaginya. Pantun berkasih-kasihan termasuk di dalamnya rayuan, dimabuk asmara, putus cinta, dan sebagainya. Sementara itu pantun hiburan termasuk pantun jenaka, teka-teki, senda gurau, mengisi waktu luang, dan sebagainya.

Tak terkecuali, pantun Betawi pun mengikuti kepatutan itu. Meski pada kenyataannya banyak pula yang agak melenceng dari patut yang ada. Marilah kita lihat beberapa jenis pantun sebagaimana adanya.

 

Pantun nasehat

 

Ada lintah beribu-ribu

Meminum aer menjadi seger

Nimbun banda nggak berilmu

Kaya rumah nggak bepager

 

Tangkep lipan taro di kendi

Kendi tanah kelirnya bunga

Cakep tampan lantaran budi

Tinggi bangsa lantaran bahasa

 

Buah semangka tanem membujur

Ditanem lima tumbuhnya tomat

Mingkinan langka orang jujur

Tanda dunia deket kiamat

 

Kampung Setu pasang pelita

Baba Sahulin tinggal disitu

Cumen satu baba minta

Jangan tinggalin lima waktu

 

Nyuci piring tangan sebelah

Buah sukun , membaca mantra

Sering-sering sembahyang berjamaah

Hidup rukun damai sejahtra

 

Anak-anak kasih pelajaran

Kaya miskin bukan takeran

Jabatan tinggi bukan ukuran

Salah langkah bisa kapiran

 

Pantun berkasih-kasihan

 

Petik kembang jatoh di tana

Dalem kali orang kecebur

Baru meliat diri si nona

Soemanget saya dibawa mabur

 

Sungguh manis si bunga mawar

Pasang pelita di atas peti

Nona manis mari keluwar

Saja cinta sesungguh hati

 

Saya jalan bukannya lari

Nona liwat saya berdiri

Inget nona ampunya diri

Tiada lupa setiap hari

 

Tuan pengulu menjual kaen

Rama-rama di dalem korang

Kendati sepulu ada yang laen

Tiada sama Nona seorang

 

Jika ada burung greja

Bikin sarang di ruma raja

Lupa makan lupa kerja

Cuma inget si Nona saja

 

Pantun hiburan/jenaka

 

Kuda jalan narik pepaya

Cari sawo empanin lindung

Ada ujan sangat lebatnya

Si bego jalan mengepit payung

 

Mata juling melihat maling

Ubi merah dibawa jaga

Paling enak liat orang suwing

Lagi marah ketawa juga

 

Panggil bengkong dari Cikalong

Dengerin lagu nyanyian sinden

Punya engkong sudahlah ompong

Kalo makan langsung ditelen

 

Kapurnya barus minumnya susu

Ketawa mesem liatin batu

Badannya kurus matanya satu

Buntutnya tajem apakah itu?

 

Gula merah tumbukin kentang

Taro di genteng bening aernya

Ada buah berbentuk bintang

Kalo mateng kuning warnanya

 

Palang Pintu

Masyarakat Betawi memandang pantun berperan penting dalam kaitannya dengan prosesi pelaksanaan upacara yang bersifat sacral. Kedudukan pantun yang begitu penting dapat kita temui, misalnya pada ucapara Buka Palang Pintu. Upacara Buka Palang Pintu adalah upacara yang dilaksanakan menjelang akad nikah, didahului dengan ngerudat, ngarak calon pengantin pria menuju rumah calon pengantin perempuan. Pada upacara Buka Palang Pintu kedudukan pantun menjadi penting dan strategis karena merupakan bentuk media komunikasi untuk menghindari penggunaan dialog sehari-hari yang kemungkina penuh dengan kata-kata kasar. Jadi fungsi pantun pada upacara itu bertujuan memperhalus bentuk dialog sehingga suasana yang dibangun pada saat itu adalah suasana saling hormat-menghormati dan sacral, sambil tidak menghilangkan kesan meriah.

Berikut ini cuplikan dialog upacara Buka Palng Pintu yang dibawakan oleh wakil calon pengantin laki-laki dengan wakil calon pengantin perempuan.

“Assalamu’alaikum Wr. Wb.”

“Waalaikumsalam Wr. Wb.

Bismillah itu pembuka kate

Rohman dan rohim turut serete

Kite dateng bawa berite

Sudilah kiranye kite diterime”

“Mohon maaf, brenti dulu! Nnti dulu, dong. Ude mantun aje ente. Maap, ini  rombongan  dari mane mao ke mane. Tumben amat, ade perlu ape, ye?”

“Orang kate, Bang …

Naek delman ke pasar ikan

Beli bandeng campurin teri

Aye dateng beserte rombongan

Nganter tuan raje nemuin tuan putrid”

“Wah… wah… Dasar ente emang bawel!

Anak kude naek kerete

Tukang kue naek sepede

Kalo emang itu tujuannye

Tentu aje ade syaratnye…”

“Kalo emang ade syaratnye, tulung kite dikasih tau ape aje syaratnye?”

“Syaratnye nggak suse, Bang! Nyang perteme, ente liat, nih, palang pintu. Coba, Bang Jali, ente maenin sejurus dua jurus (Jago pihak Tuan Putri memperagakan jurus-jurus silat).  Nah, kalo    ente bisa dobrak atawe jatoin jago ane, baru Rombongan ente bole maju.”

“Pribase kate, Bang! Kaki buat kepale, kepale buat kaki ane masing berani bejaban! Jangan kate palang pintu rume, bom Israel ane adepin.

Di sono gardu di sini gardu

Tongtongnye kayu cereme

Kalo jago ame jago mao diadu

Nyok, kite saksiin rame-rame

Buka tuh palang pintunye, Bang Mul!  (Jago dari kedua belah pihak atraksi jurus silat dan berantem diiringi gambang kromong. Jago pihak Tuan Putri kalah).”

“Cukup, cukup! Abang punya  jago emang jem jempolan.”

“Pegimane, Bang. Ape rombongan kite bole masup?”

“Belon bise, Bang. Masing ade syarat nyang kedue.”

“Ape, tuh? Tulung sebutin, Bang!”

“Tuan Putri minte dibacain Sike, Bang.  Kalo sanggup bole masup, tapi kalo kagak sanggup pulang aje, deh, nanti balik lagi kalo ude bisa baca sike.”

“O … kalo cuman itu sih cetek, Bang. Saye tau di sini emang gudangnye sike, tapi jangan lupa, di sono ade pabriknye. Bang   Aji Ali tarikin, deh, sikenye (pembacaan  Sike). Nah,  pegimane, Bang? Rasenye syarat-syarat ude aye punuin. Ape aye ame rombongan bole masup?”

“Terime kasih, Abang, ude penuin syarat-syaratnye.

Pisang Batu Pisang lempenang

Gado-gado kacang tane

Orang atu banyak nyang pinang

Kalo jodo mase kemane

Rombongan Abang dateng dengan segale hormat, mengke kite terime dengan tangan terbuka. Ahlan! Silakan …”

“Alhamdulillah … ayo masup … (kedua juru bicara saling  bersalaman). Rombongan Tuan Raje Mude masuk.”

 

Penutup

Demikianlah sedikit catatan tentang bentuk ungkap sastra lisan Betawi. Sebagai mukimin awal yang telah eksis sejak tahun 130 masehi, tentu Betawi memiliki system budaya dengan sejumlah nilai dan norma budaya yang menjadi acuan dalam berbagai tindakannya. Salah satunya dapat dilihat dari pantun.

Tentu pantun dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, baik dalam keadaan bahagia maupun nestapa. Ada kemajemukan, ada toleransi, ada keramahtamahan, ada harapan, ada rasa hormat, ada kepasrahan, ada nostalgia, ada kesederhanaan, dan seluruh wujud hidup yang tampak maupun yang gaib. Semua itu langsung terkait dengan tata nilai ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Akhirul kalam, budaya Betawi memiliki kelenturan dalam menanggapi berbagai pengaruh dari luar dan dari dalam. Keadaan yang selalu berubah dan berkembang itu mereka alami sejak jaman Salakanagara, Sunda Kalapa, Jayakarta, Batavia, sampai Jakarta. Kelenturan itu tampak dalam kearifan lokalnya.

 

 



[1] Melani Budianta, dkk, Membaca Sastra. Yogyakarta : Indonesia Tera, cetakan ke 4, 2008, hal. 127.

[2] Penghujung abad ke-20, dalam pengamatan saya, pembawa atau seniman gambang rancag masih lumayan banyak. Memasuki abad ke-21, hanya tidanggal seorang saja, yaitu Bapak Jali Jalut (Rojali, 78 tahun). Sering saya berdiskusi kepadanya, agar secepatnya menurunkan keahlian ngerancagnya kepada generasi muda. Alhamdulillah putra dan cucunya sudah menurunkan keahlian rancag dan siap mentas.

[3] Melani budianta, dkk, Opcit, hlm. 178.

[4] Alok adalah teman dialog dalam monolog Jantuk. Alok biasanya diperankan oleh tukang kendang. Alok tak hanya sekadar teman dialog Jantuk, namun juga berperan sebagai martua atau kawan Jantuk. Alok tak pernah beranjak dari tempatnya main kendang. Jadi di panggung hanya Jantuk seorang diri yang mengeksplor atau mengolah panggung dengan kemampuannya bernyanyi dan menari yang piawai.

[5] Melani budianta, dkk, Opcit, hlm. 184-185.

Leave a Comment