DARI LAYANAN DOMESTIK KE RANAH PUBLIK

DARI LAYANAN DOMESTIK KE RANAH PUBLIK :

PERAN PELAYAN PRIBUMI DALAM AKOMODASI TURISME KOLONIAL DI HINDIA-BELANDA

R. Achmad Sunjayadi

Faculty of Humanities, University of Indonesia

achmad.sunjayadi@ui.ac.id

 

Abstract

One important aspect of colonial tourism in the Dutch East-Indies is accommodation. These can be hotel, losmen (inn), and pasanggrahan (guest house/bungalow). In its history, the development of the accommodation in the Dutch East-Indies can be traced until the seventeen century in the VOC era. Started from stadsherberg (city inn) and stadsheerenlogementen (municipal boarding house for gentleman) to the modern international hotels. Various parties involved in the development of the accommodation in the Dutch East-Indies. This article will be focused on the role of native servants in the tourism accommodation in the Dutch East-Indies in the 19th century until the 20th century. By using the historical method, cultural and sociological approach we can trace the process of shifting that took place in the history of accommodation in the Dutch East-Indies. These changes include the use of the terms that is from colonial domestics (households) to public sphere, such as jongos, babu, kebon, kokki which were originally known in the colonial (European or Dutch) households. These terms became later known and used also in the world of accommodation in the Dutch East-Indies. The role of native servants is crucial in supporting colonial tourism in Dutch East-Indies. The sources are used from books, photographs, postcards, magazines, advertisements, newspapers, magazines, guidebook of tourism as well as various travelogues from that time.

Keywords: native servants, colonial tourism, accommodation, Dutch East-Indies

 

 

 

 

 

A. Pendahuluan

Dalam turisme modern, akomodasi merupakan salah satu faktor yang penting. Para turis yang menginginkan kenyamanan tentu membutuhkan akomodasi yang baik. Terlepas dari akomodasi  yang berkualitas bagus atau buruk, para turis tetap membutuhkannya.  Pilihan tersebut tergantung pada anggaran setiap turis untuk akomodasi.

Kebutuhan akan akomodasi tersebut ada di antara kebutuhan yang lain seperti yang tercantum dalam Handbook of the Netherlands East-Indies (1930):

Essentially there are four things, which a tourist may ask of any country that he plans to visit; what is the climate and sanitation like; what are the transportation facilities; what sort of hotels are there; what is worth going to see? (Handbook 1930:423).

Sebagai bagian dari pelayanan untuk para turis, sarana akomodasi yang nyaman serta dilengkapi dengan berbagai fasilitas, pelayanan yang prima juga menjadi andalan demi kepuasan para turis. Dalam hal ini adalah peran para pegawai dan pelayan hotel.

Pada masa kolonial peran para pegawai dan pelayan, khususnya dari kalangan pribumi yang bertugas di hotel atau sarana akomodasi lainnya tidaklah kecil. Mereka menjadi ujung tombak yang bertugas melayani para tamu. Namun, peran mereka belum banyak dibahas atau bahkan tidak pernah dibahas sama sekali.

Ada beberapa alasan yang mungkin dapat dikemukakan mengenai kurangnya perhatian terhadap peran pegawai dan pelayan pribumi. Antara lain sedikitnya sumber mengenai para pegawai dan pelayan pribumi dan kurangnya perhatian terhadap peran mereka dari para ahli. Demikian pula dalam kajian turisme masa kolonial di Hindia-Belanda, masalah akomodasi tersebut belum banyak dibahas.

Secara khusus belum ada kajian yang membahas peran pelayan pribumi dalam akomodasi turisme kolonial di Hindia-Belanda.  Demikian pula dengan perkembangan akomodasi turisme kolonial di Hindia-Belanda. Kajian yang pernah membahas pelayan pribumi adalah kajian Elsbeth Locher-Scholten (2000). Kajian ini menitikberatkan pada kajian gender dengan khusus  membahas pelayan pribumi perempuan. Demikian pula Frances Gouda (1995) yang juga membahas pelayan pribumi perempuan dari perspektif yang sama. Kajian lain dari Reggie Baay (2008) membahas para pembantu rumah tangga pribumi. Berbeda dengan Locher-Scholten dan Gouda, Baay tidak hanya membahas pembantu rumah tangga pribumi perempuan tetapi dia juga membahas pembantu rumah tangga pribumi laki-laki. Kajian-kajian tersebut tidak menyinggung keterkaitan para pelayan rumah tangga kolonial tersebut dengan akomodasi turisme kolonial. Namun, kajian-kajian tersebut membantu mengarahkan pada sumber-sumber yang dapat digunakan dalam artikel ini.

Dalam artikel ini akan dititikberatkan pada peran kaum pribumi, khususnya pelayan pribumi dalam akomodasi turisme di Hindia-Belanda periode abad ke-19 hingga abad ke-20. Dengan menggunakan metode sejarah dan pendekatan budaya serta sosiologi akan ditelusuri perkembangan akomodasi di Hindia-Belanda. Salah satu perkembangan tersebut adalah pergeseran istilah yaitu dari ranah rumah tangga (domestik) kolonial keluarga Eropa (baca: Belanda) ke ranah umum. Dengan kata lain dari internal ke eksternal. Istilah-istilah tersebut seperti baboe, djongos, cuci, mandoer. Istilah-istilah tersebut pada awalnya digunakan dan dikenal dalam rumah tangga kolonial keluarga. Kelak istilah itu dikenal dalam dunia akomodasi (perhotelan) di Hindia-Belanda.

Sebelum membahas peran pelayan pribumi dalam akomodasi turisme kolonial akan diuraikan sekilas sejarah akomodasi di Hindia-Belanda dan sekilas sejarah para pelayan rumah tangga di rumah tangga kolonial. Setelah itu dibahas pergeseran penggunaan istilah tersebut.

Dengan menitikberatkan pada peran para pelayan pribumi tersebut diharapkan mampu menjawab permasalahan sebagai berikut: bagaimana perkembangan akomodasi turisme kolonial di Hindia-Belanda?  Mengapa terjadi pergeseran penggunaan istilah bagi para pelayan pribumi dari ranah rumah tangga ke ranah publik?

Untuk membantu mendapatkan jawaban permasalahan tersebut digunakan berbagai sumber baik sumber visual atau tulis, antara lain foto, kartu pos, iklan, buku-buku, majalah, surat kabar, buku panduan turisme serta berbagai buku catatan perjalanan sezaman.

B.Sekilas sejarah akomodasi di Hindia-Belanda

Dalam istilah yang umum digunakan sekarang, akomodasi adalah tempat menginap atau tinggal sementara bagi orang yang bepergian (Perwani 2006:1). Jenis akomodasi berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Jenis akomodasi yang ada sekarang bermacam-macam sesuai dengan tujuan dan alasan mengapa orang bepergian. Hal itu juga disesuaikan dengan standar dan gaya hidup.

Berdasarkan tipe, akomodasi pada masa sekarang seperti hotel, motel (motor hotel) atau motor-inn, boarding house/guest houses, bed & breakfast, holiday villages (semacam tempat perkemahan), condominium hotel, apartotel (apartment hotel), bumi perkemahan, private hotel, hostel, caravan sites, marina, cruiser (Perwani 2006:2-6). Jenis-jenis akomodasi ini hasil perkembangan dari jenis yang ada pada masa sebelumnya.

Sejarah perkembangan akomodasi di Hindia-Belanda dapat ditelusuri hingga pada masa VOC. Ponder (1990) menyebutkan hotel pertama adalah stadsheerenlogement atau penginapan bagi pria terhormat di kota. Logement (losmen) ini dibangun pada 1754 sebagai respon dari penduduk atas keluhan terhadap tidak tersedianya tempat tinggal atau penginapan yang layak bagi para pria terhormat jika mereka berkunjung ke kota (Batavia). Tempat penginapan ini berada di bawah pengawasan VOC. Jumlah penginapan ini berkembang hingga 12 penginapan. Perkembangannya sangat baik hingga 1798 (Ponder 1990:254).

Sebenarnya di Batavia sudah ada tempat penginapan yang dikenal dengan herberg (tempat penginapan/losmen). Beberapa periodenya sebelumnya sepertinya pengalaman yang ditulis oleh Georg Bernhardt Schwartz dalam Reise in Ost-Indien, worinnen mancherley Merckwurdigkeiten […] beschrieben worden (1748), untuk mendapatkan uang tambahan, ada pegawai rendahan VOC yang mendirikan herberg di Batavia (Roeper 2002:128). Schwartz menulis bahwa pada 1739 dia mengambil alih herberg dari seorang kawan sekerjanya, Jerg Schreiner yang pulang ke negerinya. Schwartz membeli perabotan dengan harga 30 daalders[1]. Selain itu dia membeli para budak yang membantu di herberg itu seharga 44 daalders. Terutama budak yang dapat memasak dan berbicara bahasa Belanda. Tetapi untuk budak yang tua dan jelek, Schwartz hanya membelinya seharga 25 daalders. Selain menerima orang yang tinggal di herbergnya, di sana dijual pula minuman anggur, brandy serta bir buatan sendiri dari gula dan beberapa tanaman ramuan. Selain minuman di herberg tersebut dijual pula budak (Roeper 2002:129).

Hal tersebut di atas menjelaskan untuk kalangan mana herberg ditujukan. Sehingga untuk kalangan yang terhormat, mereka menginginkan tempat penginapan yang pantas bagi mereka. Lokasi herberg atau stadsherberg ini biasanya dekat dengan laut. Seperti catatan seorang serdadu yang bertugas di Batavia pada awal abad ke-20 menuliskan pengalamannya. Ketika itu dia sedang melancong di sekitar Pasar Ikan:

“Beberapa perahu, kapal layar kecil dan kapal-kapal uap bersandar di dermaga. Kami melihat beberapa bangunan yang nyaris hancur, di bagian dinding depan bangunan terdapat tulisan Stadsherberg atau penginapan kota. Tapi di sana tak ada apa-apa. Selanjutnya saya ketahui bahwa penginapan ini dulunya berada dekat laut. Sejak pengendapan lumpur di pantai makin jauh melebar, akibatnya tempat ini jauh dari laut.” (Brousson 2007:99).

Tuntutan para penduduk untuk mendirikan tempat penginapan yang layak bagi pria terhormat di Batavia, semakin jelas jika kita membaca lanjutan catatan Brousson tentang herberg tersebut:

“Dahulu tempat ini merupakan tempat yang diinjak ketika Baren atau orang baru mulai menginjakkan kaki di sini, atau berpisah dengan mereka yang masih tinggal. Hingga pada saat itu di stadsherberg ini banyak sekali gelas minuman untuk menyambut mereka yang baru datang di Hindia serta melepas mereka yang akan kembali ke tanah air tercinta.” (Brousson 2007:99-100)

Sekitar 1800-1809 menurut De Haan ada Zimmer seorang pensiunan tentara, bakmeester, penjual daging, pemilik toko dan losmen, penyewa kereta kuda dan spekulan yang mendirikan semacam penginapan di Weltevreden, Batavia. Penginapan yang menjadi pesaing stadsheerenlogement. Kemungkinan losmen tersebut merupakan pendahulu dari Marine Hotel yang didirikan Payan pada 1820 (Kelling 1929: 74).

            Sejak 1820-an H.S.van Hogezand telah memiliki usaha penginapan kecil yang tidak jauh dari lokasi kleine boom2 di Sungai Ciliwung dekat Sunda Kelapa. Pada 1849 sejak perpindahan kleine boom dari tepi barat ke tepi timur Sungai Ciliwung, Hogezand mendirikan stadsherberg (Merilles 2000: 28).

Sementara itu di Molenvliet didirikan pula Hotel de Provence yang didirikan oleh Chaulan. Sebuah iklan menarik berkaitan dengan hotel itu dibuat. Iklan itu berhubungan dengan kedatangan sebuah kapal yang penuh berisi es batu dari Amerika Utara pada 16 November 1846:

Aanstaanden Donderdag den 24en December zullen eenige muzykanten eenige muzykstukken uitvoeren in de Salon des Glaces, Hotel de Provence. (Kamis 24 Desember yang akan datang, beberapa pemusik akan menyajikan beberapa nomor musik di salon des Glaces, Hotel de Provence)  (Kelling 1929:741).

Dua tahun kemudian, pada 1848 di halaman Hotel de Provence diadakan pertunjukan sirkus.

            Dalam Java The Wonderland. Guide and Tourist Handbook (1910) dijumpai istilah hotel diterjemahkan menjadi roemah makan (Wonderland Java 1910: 3)  Demikian pula dalam Isles of the East (1912)  Hotel diterjemahkan menjadi roemah makan ( Isle of the East.1912: 20).

Pada 1840 di sebuah rumah tertua di Rijskwijk dibuat sebuah hotel, Hotel der Nederlanden oleh J.P.Faes. Dahulu rumah itu merupakan tempat tinggal Raffles, pada 1846 memiliki nama ‘Palace Royale’ disamping juga menyandang nama Hotel Amsterdam dan pada 1856 diberi nama Java Hotel (Kelling 1929:741).

            Berhubungan dengan pembagian periode perkembangan akomodasi, khususnya hotel di Hindia-Belanda, M.A.J Kelling membaginya menjadi tiga periode.  Periode pertama yaitu periode logementen dan herbergen yang berlangsung sampai 1850, periode kedua hotel keluarga dan periode ketiga adalah periode hotel-hotel modern internasional (Kelling 1929:740)

            Pada periode pertama dengan mengutip L.F. van Gent dalam bukunya Logementen en Herbergen van Oud Batavia (1925) yang membahas hotel-hotel di Batavia pada abad ke-19, Kelling menyebutkan periode awal ini tempat penginapan disebut logementen atau herbergen.

            Pada periode kedua memiliki karakteristik gemeenschapelijke tafel (meja bersama). Maksud dari meja bersama ini adalah adanya kebersamaan dan keakraban di antara pemilik dan para tamu hotel. Para pemilik atau pengurus hotel berperan sebagai ‘ibu’ atau ‘ayah’ atau keluarga bagi para tamu-tamunya. Sebagai contoh Moeder Spaanderman pemilik Java Hotel, Tante Meyer yang pernah menjalankan Hotel der Nederlanden (Kelling 1929:740).

            Ilustrasi dari kebersamaan dan keakraban ini digambarkan oleh Justus van Maurik, seorang pengusaha asal Belanda yang berkunjung ke Hindia untuk urusan dagang. Dia menceritakan pengalamannya ketika dirawat oleh nyonya Wisse, pemilik Hotel Wisse di Batavia. Saat itu Maurik sakit sariawan sehingga dia khusus dibuatkan nasi tim oleh nyonya Wisse (Maurik 1897:183).

Adapun bangunan-bangunan yang nanti berfungsi sebagai hotel tersebut pada awalnya merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal milik pribadi. Seperti Hotel Ernst di Batavia yang dibangun pada 1745-1767. Lalu difungsikan sebagai hotel tahun 1860 dengan memakai nama Ernst yang mengacu pada pemiliknya yaitu Moeder (Ibu) Ernst. Pada 1890, nama hotel tersebut diganti menjadi Hotel Wisse (Merilles 2000:116). Demikian pula dengan Hotel der Nederlanden di Rijswijk yang dibangun tahun 1794 dan merupakan rumah pribadi milik Pieter Tency yang kemudian dijual kepada salah seorang anggota Raad van Indië (Dewan Hindia), W.H. van Ijsseldijk. Selanjutnya rumah itu dibeli oleh Raffles lalu kembali dijual kepada pemerintah Hindia-Belanda pada 1840 (Merilles 2000:130).

Pada tahun 1930-an fasilitas akomodasi, khususnya di Jawa sudah menawarkan fasilitas hotel modern bertaraf internasonal. Buku panduan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah menyebutkan ada sekitar 200 hotel di Jawa. Mulai dari hotel-hotel modern mewah di kota-kota besar sampai penginapan-penginapan kecil di pinggiran kota (Handbook 1930: 423).

Hotel-hotel berskala internasional tersebut tidak hanya berada di kota-kota besar di Jawa. Namun, juga terdapat di kota-kota kecil, terutama di daerah pegunungan (berghotel). Hal ini berkaitan dengan fungsi awal hotel tersebut yang merupakan tempat beristirahat dan tempat penyembuhan bagi penderita tubercolosis (TBC). Seperti Hotel Sanatorium Ngamplang di Garut, Hotel Sanatorium Tosari dan Hotel Nongkodjadjar dekat Pasuruan.

Hotel-hotel yang ada di kota-kota besar biasanya berada dekat dengan stasiun kereta api (Wit 1987: 15). Seperti Hotel Belle View di Bogor (Pattajoti-Suharto 2001: 35), hotel di Cianjur (Pattajoti-Suharto 2001: 39), hotel van Horck Garut (Pattajoti-Suharto 2001: 41) Lokasi hotel yang berada dekat dengan stasion kereta ini tentunya memudahkan bagi akomodasi para tamu atau turis yang datang ke suatu kota tertentu. Sebelum kereta api menjadi sarana transportasi yang digunakan, tempat penginapan berada dekat pelabuhan.

Selain di Jawa, terdapat pula hotel bertaraf internasional di Sumatra, Bali, bahkan Sulawesi. Namun, fasilitasnya belum selengkap hotel-hotel di Jawa. Fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh hotel-hotel di Jawa dapat diketahui dari daftar hotel yang dikeluarkan oleh VTV pada 1938. Antara lain fasilitas untuk berperahu, bermain golf, berkuda, orkestra musik, kolam renang, tenis lapangan. Fasilitas tersebut diberi kode sebagai berikut:  B = boating (berperahu), G = golf (golf), H = horses (berkuda), O= hotel orchestra (orkes musik), S = swimming (kolam renang), T = tennis (tenis).

Dari daftar hotel-hotel yang dikeluarkan oleh Travellers Official Information Bureau (1938) tersebut kita dapat mengetahui hotel mana yang memberikan tarif termahal dan tarif termurah. Tarif termahal seharga 30 gulden per malam (Grand Hotel Brastagi), sedangkan tarif  termurah adalah 4,5 gulden (Hotel Mataram, Grand Hotel Sarangan, Bromo Hotel). Khusus untuk Bali Hotel di Denpasar setiap Jumat malam dipertunjukkan musik gamelan dan tari Bali. Sementara itu di Hotel des Indes ditawarkan kamar yang berpendingin udara (AC). Hotel tersebut merupakan satu-satunya yang telah memasang AC. Meskipun ongkos pemeliharaannya dianggap tinggi namun fasilitas itu dianggap layak untuk hotel bertaraf internasional tersebut.3 Fasilitas-fasilitas yang ditawarkan oleh hotel-hotel ini menunjukkan modernitas serta standar internasional serta kesiapan mereka dalam menyambut para turis asing.

Tidak hanya fasilitas, hotel-hotel tertentu, misalnya Hotel Dekker di Batavia, Stations Hotel di Batavia, Hotel Bellevue Dibbets di Bogor  kerap menampilkan tulisan onder Europ[eesch] beheer, Europeesch beheer (dikelola atau diurus oleh orang Eropa atau istilah sekarang di bawah manajemen), onder Eur[opeesch] beheer (Gids voor Indië 1933: 134, 138, 139) Hal ini sekan-akan menunjukkan bahwa para turis tidak perlu mengkhawatirkan pelayanan dan fasilitas hotel tersebut karena pengelolanya adalah orang Eropa yang memahami keinginan para tamunya.

Hal lainnya adalah tarif bulanan bagi tamu hotel yang akan tinggal lebih lama. Tarifnya bervariasi, seperti tarif bulanan hotel de Groot di Batavia seharga 85 gulden per bulan, hotel Wilhelmina di Batavia mulai 80 sampai 110 gulden, hotel Keijzer di Bogor mulai 90 gulden, hotel Karia di Tosari seharga 100 gulden, Hotel Pension Berg en Dal di Salatiga (Gids voor Indië 1933: 135, 137, 154, 159) Biasanya para tamu hotel yang tinggal berbulan-bulan adalah para pegawai termasuk pejabat atau kalangan militer yang ditugaskan di suatu kota sebelum mereka mendapatkan rumah dinas atau para pasien yang sedang beristirahat dan memulihkan kesehatan mereka. Untuk yang terakhir ini, lokasi hotel berada di daerah pegunungan.

Selain dapat tinggal atau menginap di hotel atau losmen yang terletak di kota, para turis dapat pula menginap di pesanggrahan. Pesanggrahan ini sebenarnya merupakan bangunan tempat peristirahatan bagi para raja atau kaum bangsawan yang terletak di luar kota. Letak pesanggrahan ada di daerah pegunungan dan tepi pantai yang kadang-kadang sangat sulit dicapai dengan transportasi biasa.

Kelak bangunan pesanggrahan ini menjadi tempat beristirahat atau bermalam bagi para pejabat atau pegawai pemerintah Hindia-Belanda yang sedang melakukan perjalanan dinas ke daerah-daerah yang tidak memiliki fasilitas hotel atau penginapan. Pesanggrahan juga dapat digunakan oleh para pelancong. Namun, sebelumnya mereka harus mendapatkan izin dari pemerintah setempat seperti asisten residen, kontrolir, atau wedana untuk dapat menggunakan pesanggrahan. Namun, bila di suatu tempat terdapat fasilitas penginapan atau hotel, maka izin untuk menggunakan pesanggarahan belum tentu diperoleh (Handbook 1930: 423).

Pada suatu periode ada kewajiban bagi para penduduk di Jawa untuk melakukan kerja wajib (heerendienst) membangun dan merawat pesanggrahan. Kewajiban ini kemudian dihapus pada 1882. Namun, alasan penghapusan kewajiban tersebut tidak diketahui dengan jelas (ENI 1919 deel III: 351). Pengelolaan pesanggrahan biasanya dilakukan oleh pemerintah setempat (kabupaten, keresidenan) atau dinas-dinas dari pemerintah Hindia-Belanda, seperti B.O.W (Burgerlijke Openbare Werken/ dinas pekerjaan umum), dinas kehutanan, dinasi irigasi/pengairan, pengawas hutan dan milik pribadi. Anggaran untuk merawat tiap pesanggrahan tersebut dimasukkan dalam anggaran kabupaten. Hal ini terdapat dalam Staatsblad van Nederlandsch Indië bagian regentschap, pada bagian Xe afdeeling 20 (Staatsblad van Nederlandsch Indië 1924 no 576, Departementen van Algemeen Burgerlijke Bestuur).

Pada tahun 1930 tercatat kurang lebih 160 pesanggrahan di Jawa dan Bali. Apabila dibandingkan dengan hotel, tarif pesanggrahan ini lebih murah. Alasannya adalah fasilitas yang disediakan tidak seperti hotel dan juga pesanggrahan hanya menyediakan tempat menginap sederhana. Tarif bermalam di pesanggrahan antara 3 sampai 13, 5 gulden per malam. Tarif termahal ada di pesanggrahan Klakah, Lumajang. Penyebabnya adalah pesanggrahan tersebut milik perseorangan, bukan milik pemerintah dan letak pesanggrahan di dekat danau Klakah yang memiliki pemandangan indah. Tarif mahal tersebut juga termasuk sarapan, makan siang dan makan malam. Pemilik pesanggrahan itu adalah seorang Eropa (Pesanggrahan in Nederlandsch-Indie 1930:14-15).

Sementara itu di Bali terdapat delapan pesanggrahan yang berada di Singaraja, Munduk, Baturiti, Tampaksiring, Klungkung, Karang Asem, Kintamani, Gitgit. Berbeda dengan di Jawa, para turis yang hendak bermalam di salah satu pesanggrahan di Bali, sebelumnya harus mengajukan permohonan pada kantor cabang Vereeniging Toeristenverkeer (VTV) di Singaraja (Hamilton 1931:86).

C. Jejak dan peran para pelayan pribumi dalam rumah tangga kolonial di Hindia-Belanda

Jejak para pelayan pribumi dalam rumah tangga kolonial di Hindia-Belanda dapat ditelusuri hingga masa VOC. Dalam sudut pandang sejarah, fenomena pelayan pribumi ini sulit untuk dilacak karena profesi ini karakteristik tersendiri, khususnya berkaitan dengan sumber yang dapat digunakan. Dalam sejarah masyarakat Indonesia, dengan mengutip Dwiyanto (1999) dalam Pekerja Rumah Tangga dalam Analogi Sejarah, kita mengenal istilah budak, abdi, batur, ngenger yang ke semuanya bekerja di wilayah domestik (ILO 2004: 9). Perbedaannya hanya pada latar belakang historis dan budaya.

Pada masa VOC digunakan istilah slaven (para budak) baik yang bekerja untuk VOC maupun  partikelir atau swasta.4 Namun, dalam penggunaan istilah slaven (budak) ini perlu diperhatikan konteks budaya setempat. Heather Sutherland dalam penelitiannya “Slavery and the slave trade in South Sulawesi” (1983) mengenai perbudakan dan perdagangan budak di Sulawesi Selatan dalam hubungannya dengan kegiatan orang Belanda hingga abad ke-19 mengemukakan bahwa dalam masyarakat tersebut berskala kecil dan bersifat domestik. Menurut Sutherland, orang Belanda menggunakan para budak sebagai tenaga kerja dalam gudang-gudang dan kapal-kapal mereka, pembantu rumah tangga serta dijadikan lambang untuk menaikkan status. Di pihak lain, orang pribumi menggunakan budak untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja dalam produk-produk pertanian, hutan dan laut. Di beberapa wilayah lain di Nusantara, para budak mempunyai fungsi seremonial dan pertunjukan atau bahkan digunakan untuk menyediakan orang-orang bersenjata dengan kesetiaan tertentu atau untuk produksi domestik dan pertahanan hidup (Thosibo 2002: 11-13).

Sebagian besar para budak dimiliki oleh orang Eropa, seperti yang diungkapkan sebelumnya, para budak tersebut menjadi pengiring untuk memamerkan kekayaan mereka. Dalam iklan penjualan budak dapat diketahui bahwa mereka mengisi posisi personil rumah tangga secara khusus, seperti juru masak, juru lampu, pelayan, pembantu rumah tangga, penjahit, pesuruh, penyetrika pakaian, pembuat sambal, pembuat roti, pembuat teh dan kusir (Blackburn 2011: 30-31).

Dalam salah satu artikelnya Anthony Reid (2004) membahas konsep perbudakan di Asia Tenggara yang dikaitkan dengan budaya setempat. Dari sudut pandang linguistik dengan mengutip pendapat Diller (1979), Blust (1978), Uhlenbeck (1978), dalam berbicara orang Asia Tenggara menempatkan diri dalam suatu hubungan yang bersifat vertikal. Hal ini dikaitkan dengan susunan masyarakat secara hierarkis, seperti keluarga sehingga kenyamanan dan keakraban dapat dicapai jika seseorang menyebut lawan bicara sebagai saudara laki-laki atau perempuan lebih tua atau muda, sebagai ayah, kakek, paman, majikan atau tuan. Misalnya kata ganti orang pertama yang umum digunakan dalam setiap bahasa menyebut budak atau hamba sahaya, yaitu saya dalam bahasa Melayu, kula atau kawula dalam bahasa Jawa (Reid 2004:245-246).

Taylor (1988) menuliskan para budak menjadi bagian besar penduduk dari wilayah VOC di Batavia pada abad ke-17. Banyak budak pria yang menjadi budak yang bekerja di rumah. Ada pula yang bekerja sebagai pembantu atau musisi. Selain itu VOC juga membeli para budak yang dimanfaatkan untuk menggali kanal, mendirikan bangunan. Para budak itu pun dapat dimerdekakan oleh pemiliknya (Taylor 1988:35).

Namun, oleh VOC tidak semua diperkenankan menjadi budak. VOC melarang orang Jawa memasuki wilayah benteng dan menjadikan mereka sebagai budak (Taylor 1988:36). Di Batavia perdagangan budak di Batavia sudah menjadi semacam lembaga. Budak-budak yang dibeli tersebut oleh para majikan untuk bekerja dalam rumah di Batavia dengan alasan memudahkan mereka untuk pengawasan (Taylor 1988:98) .

Dalam regeringsreglement 1818 (Staatsblad 1818 no 18, pasal 113, 234) terdapat larangan perdagangan budak internasional untuk rumah tangga di Hindia-Belanda. Dengan kata lain ada larangan mengimpor budak untuk dijual pada rumah tangga-rumah tangga di Hindia-Belanda.Lalu mulai 1 Januari 1860 perbudakan di seluruh Hindia dihapuskan (Taylor 1988:98-158) .

            Berkaitan dengan peran pembantu rumah tangga di Jawa dan wilayah lain di Nusantara rupanya di berbagai wilayah memiliki tradisi yang lama. Hal tersebut muncul dalam berbagai bentuk, tergantung pada status, kekayaan, banyaknya jumlah pembantu yang dipekerjakan oleh elite pribumi (Scholten 2000: 88).

            Dalam lapisan sosial masyarakat, misalnya di Jawa, seperti yang diungkapkan sebelumnya, hubungan antara majikan dan pembantunya bersifat hierarkis. Ikatan tersebut dapat berupa ikatan patron-client yang mengandung unsur jarak, kekuasaan dan rasa takut tetapi hubungan tersebut secara emosional dapat hangat dan bersifat kekeluargaan (Scholten 2000: 88)

            Kita mengenal istilah abdi dalem, khususnya pada masa kerajaan-kerajaan di Jawa. Pada masa itu berkembang konsep kehidupan transedental dalam hubungan antara raja dan rakyatnya. Raja, bagi rakyatnya adalah sosok suci, luhur, dan dekat dengan Tuhan atau dapat dikatakan sebagai wakil Tuhan. Ada kalangan rakyat yang yakin bahwa dekat dengan raja akan memberikan keberkahan dan keberuntungan bahkan keselamatan bagi dirinya. Oleh karena itu menjadi abdi adalah anugerah yang besar. Sehingga mereka rela mengabdikan dirinya untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan di lingkungan kerajaan tanpa mendapatkan imbalan materi. Pengabdian mereka semata-mata untuk ketentraman karena terpenuhinya kebutuhan psikologis mereka, khususnya ketentraman, pengamanan dan pengayoman dari raja. Pada masa ini telah ada pembagian kerja sesuai dengan peran dan tugas yang harus dilakukan oleh para abdi tersebut. Salah satu pekerjaan yang dilakukan adalah mengasuh anak raja dan priyayi. Mereka yang melakukan pekerjaan tersebut disebut rewang (pembantu, teman) atau emban atau embok emban (ILO 2004: 10) Konsep ‘pengabdian’  ini yang kelak juga diterapkan ketika sang majikan adalah orang kulit putih (Belanda).

            Seiring dengan tumbuhnya kota-kota di Hindia, terutama di Jawa, menyebabkan banyak orang pribumi dari desa mencari pekerjaan di kota, terutama kalangan petani yang tidak lagi memiliki tanah (Wertheim 1999: 145-146). Sensus tahun 1920 memperlihatkan bahwa 6,63 % penduduk Jawa tinggal di kota-kota (Wertheim 1999:144). Sebagian besar populasi perkotaan adalah penduduk yang bekerja di sektor informal perekonomian perkotaan, salah satunya adalah bekerja sebagai pembantu rumah tangga (Ingleson 2004:181-182).

Dalam menggunakan tenaga kerja pribumi untuk dipekerjakan di rumah tangga Eropa di koloni tidak hanya terjadi di Hindia. Hal ini juga terjadi di wilayah-wilayah koloni di belahan dunia lainnya (Baay 2008:42) Fenomena ini cukup menarik mengingat ketika mereka tinggal di negeri asalnya, mereka tidak atau belum tentu menggunakan jasa pembantu, kecuali kalangan bangsawan atau orang kaya. Kalaupun ada yang menggunakan bukan untuk sehari-hari. Kemungkinan besar, dalam perkembangan masyarakat, para elite atau priyayi pribumi serta masyarakat Eropa tersebut meniru gaya hidup raja di Hindia dengan mempekerjakan pembantu.

Setelah 1870, setelah makin banyak perempuan Eropa (baca: Belanda) datang ke Hindia, diterbitkan bermacam-macam buku panduan bagi mereka yang hendak pergi ke Hindia. Mereka yang baru datang ini dikenal sebagai baren atau orang baru pertama kali menginjakkan kaki di Hindia. Di samping berisi petunjuk, antara lain pakaian apa yang pantas dan cocok dikenakan di Hindia, buku panduan tersebut juga memuat antara lain bagaimana cara mengatur rumah tangga di Hindia, bagaimana bergaul dengan para personil rumah tangga di Hindia.

Sekurangnya pada setiap rumah tangga di Hindia memiliki dua atau tiga personil rumah tangga apalagi jika memiliki anak, setidaknya lima pembantu yang dibutuhkan, ungkap Baay mengutip Wonen en leven in Nederlandsch-Indië (1870). Pada setiap rumah tangga Eropa pada abad ke-20 setidaknya memiliki empat hingga enam personil rumah tangga. Semakin kaya, maka semakin banyak jumlah personilnya (Scholten 2000: 90). Sementara itu Augusta de Wit menyebut para personil rumah tangga itu sebagai a legion (Wit 1987:72).

Hal praktis yang terdapat dalam buku panduan  Wonen en leven in Nederlandsch-Indie (1870) adalah bagaimana bergaul dengan para pembantu, apa saja tugas mereka serta pendapat orang Eropa tentang orang pribumi (Baay 2008: 42-43).

Dalam buku panduan tersebut dijelaskan bahwa para pembantu rumah tangga Eropa di Hindia terdiri dari beberapa personil. Mereka terdiri dari djongos atau sepen (pembantu laki-laki), kebon (pembantu yang merawat kebun atau kuda), baboe (pembantu perempuan), wasbaboe (tukang cuci), dan kokkie (juru masak). Namun, tidak semua personil rumah tangga tersebut tinggal dalam rumah yang sama. Masing-masing personil memiliki tugasnya masing-masing. Seperti yang dikutipkan oleh Baay dari Wonen en leven in Nederlandsch-Indie (1870) mengenai tugas djongos:

“…[Hij] .komt ‘s ochtends omstreeks 6 uur binnen, waartoe hij, indien hij niet op het erf van uw huis woont, in vele gevallen reeds in het donker zijn kampong heeft moeten verlaten. Zoodra het licht is, zet hij het zitje uit de voorgalerij op het platje en maakt de morgenkoffie gereed. Vervolgens zorgt hij voor het ontbijt en heeft ook de leiding van alle huishoudelijke werkzaamheden. Alleen met de slaapkamers heeft hij niets te maken, dit is het domein van de baboe.” (Baay 2008: 43).

(dia datang pagi hari sekitar pukul 6, jika dia tidak tinggal di rumah Anda, pagi-pagi benar dia harus berangkat dari kampungnya ketika masih gelap. Segera ketika terang, ia membereskan kursi di serambi depan dan menyiapkan kopi. Selanjutnya dia menyiapkan sarapan dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Hanya di tempat tidur dia sama sekali tak ada hubungannya karena wilayah itu adalah wilayah babu).

Istilah djongos yang berasal dari jongens ini memiliki berbagai varian antara lain huisjongen (Maurik 1897: 4, 86, 88; Ponder 1990: 207). Makna sebenarnya adalah anak laki-laki atau boy dalam bahasa Inggris. Makna ini kemudian mengalami pergeseran menjadi pembantu (laki-laki).

Selain djongos, di kebanyakan rumah tangga Eropa, terutama yang memiliki kebun atau taman, ada kebon. Menurut Wonen en leven in Nederlandsch-Indie (1870) seorang ‘manusje van alles’, pesuruh yang serbaguna. Ia dapat menggosok atau ‘melaburi dengan kapur’ sepatu-sepatu, merawat sepeda, mengambil dan mengantarkan barang, mengepel lantai, menyikat kamar mandi, membantu mencuci piring, mengantar makan siang untuk majikan serta menyiram bunga, menyiangi tanaman (Baay 2008:44).

            Personil lainnya adalah baboe yang bertugas membersihkan kamar tidur, membersihkan lemari dari kecoak atau hewan-hewan kecil, setiap minggu menjemur pakaian di bawah sinar matahari, merawat dan membersihkan sepatu-sepatu majikan perempuan serta melakukan perbaikan kecil untuk pakaian luar dan dalam. Dia juga mengatur pakaian-pakaian kotor yang akan dicuci oleh wasbaboe (Baay 2008:45).

            Kata baboe berasal dari mbah iboe, khususnya yang bertugas merawat anak (Mingaars 2005: 36). Istilah baboe ini pada awalnya memiliki arti pengasuh anak. Selain bertugas bertanggung jawab di kamar, para baboe  mengurus anak-anak majikan mereka, para sinyo dan noni. Namun, untuk memberi makan tetap menjadi tugas para ibu. Para baboe tidak diperkenankan memberi anak-anak majikan mereka makan. Seiring dengan meningkatnya jumlah perempuan Eropa (baca: Belanda) maka status baboe sebagai pengasuh anak hilang dan menjadi pembantu. Bahkan, mengutip Richard Cress (1998) dalam Petjoh. Woorden en Wetenswaardigheden uit het Indische Verleden istilah baboe semakin bermakna rendah yang berarti perempuan kampung (Mingaars 2005: 36)

            Personil yang tak kalah pentingnyadalam rumah tangga kolonial adalah kokkie:

“In de keuken troont de kokkie en hoe zij alles klaarmaakt en regelt, blijft voor vele huisvrouwen een raadsel. Als men maar toeziet op de regelen der hygiene !” (Baay 2008:45).

(Di dapur para koki bertahta dan bagaimana mereka menyiapkan serta mengatur makanan, bagi banyak nyonya rumah tangga itu menjadi rahasia. Khususnya jika kita mengawasi hal-hal yang berhubungan dengan kebersihan!).

Para kokkie juga mendapatkan tugas ke pasar untuk berbelanja bahan makanan. Di sini ketrampilan para kokkie menawar menjadi penting walaupun selisihnya hanya beberapa sen.

            Personil lain yang bagian dari personil domestik, meskipun tidak selalu tinggal dalam rumah yang sama adalah wasbaboe atau babu cuci. Peran babu cuci ini menarik, bila dikaitkan dengan siapa yang sebenarnya melakukan pekerjaan ini sehari-hari. Dalam artikelnya Bambang Purwanto (2008), mengutip Bastin & Brommer (1979) menyebutkan bahwa berdasarkan lukisan-lukisan dari tahun 1851, 1853, dan 1857, kegiatan mencuci di kalangan pekerja rumah tangga dilakukan oleh kaum pria atau para jongos. Dari ketiga lukisan tersebut tidak tampak ada pekerja rumah tangga atau babu yang sedang mencuci. Bahkan dalam salah satu lukisan memperlihatkan seorang babu yang sedang mandi dengan latar belakang dua orang jongos yang sedang mencuci. Hal tersebut, menurut Purwanto, mungkin dapat dijelaskan karena mencuci dengan cara yang berlaku saat itu merupakan pekerjaan yang sangat membutuhkan tenaga yang besar, pekerjaan yang cocok dilakukan oleh laki-laki (Purwanto 2008: 253-254).

            Sumber visual lain, mengutip Nieuwenhuys (1998), mengenai babu cuci adalah sebuah foto yang diperkirakan berasal dari awal abad ke-20.  Berdasarkan pakaian dan teknik foto yang dipakai, foto tersebut memperlihatkan bahwa hampir seluruh orang yang mencuci di kanal di dekat Molenvliet pada waktu itu adalah perempuan. Berbagai pertanyaan muncul sehubungan dengan  aktivitas mencuci tersebut. Antara lain sejak kapan dan mengapa dalam kehidupan sehari-hari pekerjaan mencuci di kalangan pekerja rumah tangga itu beralih kepada perempuan? Apakah secara umum pekerjaan mencuci di dalam masyarakat kota sebelumnya dilakukan oleh laki-laki? Apakah pekerjaan sehari-hari mencuci yang dilakukan laki-laki hanya berlaku pada para pembantu orang-orang kaya, sementara di dalam masyarakat umum pekerjaan mencuci lebih banyak dilakukan oleh perempuan seperti yang berlaku saat ini? (Purwanto 2008:254).

Purwanto memberikan kemungkinan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Salah satu kemungkinan, di dalam kehidupan sehari-hari sampai dengan beberapa dekade awal abad ke-19, pekerjaan mencuci yang dilakukan oleh laki-laki terutama hanya dilakukan oleh para pekerja rumah tangga, sedangkan dalam masyarakat umum lebih banyak perempuan yang melakukan kegiatan itu. Pergantian tugas mencuci dari laki-laki ke perempuan di kalangan pekerja rumah tangga baru terjadi ketika para orang kaya yang mempekerjakan mereka mulai memiliki sumur sendiri di rumah, dan pakaian mereka tidak lagi dicuci di kanal atau sungai karena alasan kebersihan, kesehatan, atau alasan sosial lainnya seiring dengan perubahan mutu air kanal atau sungai (Purwanto, 2008: 254).

Selain personil rumah tangga di atas, ada pula tukang kusir atau supir (Scholten 2000:90). Mereka bertugas mengantar majikan bepergian, baik ke tempat kerja maupun tempat lainnya.

Satu hal lainnya yang dikemukakan oleh buku panduan tersebut adalah jika kita hendak menerima pembantu, kita harus meminta surat keterangan dari kepala kampung. Surat itu menerangkan jika pembantu tersebut tidak pernah berurusan dengan pihak kepolisian. Selain itu juga kita dapat bertanya, di mana dan kepada siapa dia terakhir kali bekerja dan apakah dia memiliki bukti berupa surat (Baay 2008:47). Surat ini berfungsi memberikan jaminan keamanan kepada para majikan baru bahwa pembantu yang mereka pakai tidak pernah berurusan dengan polisi. Rekruitmen para pembantu tersebut baisanya dilakukan dari mulut ke mulut atau juga berdasarkan rekomendasi dari teman (Scholten 2000: 92). Hal ini seperti yang disarankan oleh buku panduan di atas.

            Memasuki abad ke-20, ketika air ledeng, gas dan listrik masuk ke rumah tangga kolonial di kota-kota besar, jumlah pembantu rumah tangga menurun. Rencana pembangunan kota-kota baru dan pembangunan rumah-rumah yang lebih kecil dengan sanitasi modern hal tersebut juga berpengaruh kepada para pembantu yang biasanya tinggal di belakang rumah majikan mereka atau di sekitar mereka. Mereka tidak tinggal lagi dengan para majikan tetapi pulang ke rumah setelah bekerja (Scholten 2000:90).

            Pekerjaan para personil rumah tangga kolonial ini pun menjadi bagian dari pelajaran anak-anak. Seperti buku pelajaran membaca Nieuw Indisch ABC (1925) dengan ilustrasi dari J. van der Heyden mencantumkan misalnya di bawah huruf B untuk baboe dan huruf P untuk penatoe. Secara khusus terdapat pula buku Indisch Prentenboek I Bedienden en Beroepen (1909) dengan ilustrasi dari J van der Heyden. Dalam buku itu dicantumkan pekerjaan para personil rumah tangga lengkap dengan ilustrasinya, seperti kokkie, baboe, djongos, koessir, kebon.

            Dalam artikelnya Scholten (2000) juga menggunakan bahan bacaan untuk anak-anak dan remaja yang memasukkan para personil rumah tangga dalam setiap cerita sebagai sumber artikelnya (Scholten 2000:101-109)  Dalam kesehariannya peran para pembantu pribumi dalam membantu rumah tangga kolonial dapat dikatakan penting. Namun, seperti dalam ilustrasi foto-foto kolonial, posisi mereka terabaikan dan cenderung hanya menjadi latar belakang seperti halnya asesoris, bangunan atau pemandangan di Hindia.

D. Dari ranah domestik ke ranah publik: Peran pelayan pribumi dalam akomodasi turisme kolonial di Hindia-Belanda

Dalam dunia akomodasi turisme kolonial, seperti dalam hotel, losmen digunakan pula istilah yang dikenal dalam rumah tangga kolonial. Hal ini sepertinya sesuatu yang wajar  jika kita melihat perkembangan akomodasi di Hindia-Belanda. Hotel-hotel yang kelak menjadi hotel modern dan memiliki standar internasional berawal dari rumah tangga yang menyewakan kamar atau pavilyun rumah. Hal ini juga dikemukakan oleh H.W. Ponder yang berkunjung ke Jawa tahun 1930-an. Ia menyatakan bahwa Other of these fine old houses have been turned into hotels and boarding houses (Ponder 1988:27). Ponder pun menambahkan hotels in Java are built on what is known as the ‘pavilion’ plan (Ponder 1988:262).

Para personil rumah tangga yang awalnya hanya melayani para tuan dan nyonya rumah mereka juga melayani para tamu majikan ketika rumah tangga sudah beralih fungsi menjadi hotel. Istilah-istilah seperti djongos, baboe, wasbaboe, kokkie, kebon juga menjadi bagian dalam akomodasi turisme kolonial.

Ada satu istilah yang sebelumnya hanya akrab di bidang perkebunan atau pabrik yaitu mandoer. Istilah ini juga digunakan dalam dunia akomodasi kolonial. Biasanya istilah ini menjadi hotel-mandoer atau mandoer saja yang diartikan sebagai pengawas (Maurik 1897:88, 160; Ponder 1988: 81) Makna pengawas ini sama dengan istilah mandoer dalam perkebunan atau pabrik yang diartikan opzichter (pengawas).

Istilah mandoer di Hindia-Belanda berasal dari bahasa Portugis mandador yang berarti orang yang diberi mandat/dikirim untuk tujuan tertentu. Kata benda mandadar ini berasal dari kata kerja mandar yang berarti mengirim (Mingars 2005: 330-331).5 Dalam Javaans-Nederlands Woordenboek (1994) istilah mandor berarti pengawas pekerja pribumi, pembantu utama di hotel, pesanggrahan dan tempat mandi (Pigeaud 1994:330).

Dalam buku panduan turisme resmi, Java The Wonderland. Guide and Tourist Handbook (1910) dijelaskan bagi para pelancong yang datang sendiri sangat memerlukan seorang guide karena:

“… the hotel porter (in Malay called mandoer) looks after the luggage of the tourist, will have it sent to and from the station, can take tickets and will always arrange to have the luggage put either in the luggage van or in the railways compartments” (Java the Wonderland 1910: 2)

Demikian pula dengan panduan praktis bahasa Melayu dalam buku panduan turisme istilah mandoer juga muncul. Beberapa kata dan kalimat praktis dalam bahasa Inggris yang digunakan antara lain Are you the mandoer from Hotel X?   yang diterjemahkan dalam bahasa Melayu menjadi Kwe mandoer Hotel X ?  (Java the Wonderland 1910: 4; Isle of the East 1912: 27 ) Kata mandoer ini rupanya tidak diterjemahkan. Petunjuk dari buku panduan tersebut sudah dipraktikkan oleh Justus van Maurik pada masa sebelumnya: ‘Pang[g]il Mandoer! ‘Minta kammar’ (Maurik 1897:160).

Mandoer di hotel merupakan jabatan tertinggi di antara para pembantu lainnya. Dalam artikel di Het Nieuws van den dag (22-09-1880) digambarkan sosok mandor sebagai seorang Jawa dengan berpakaian anggun yang menyambut tamu dengan papan nama. Selanjutnya dalam artikel tersebut digambarkan lagi mengenai sosok mandor, seorang pria tua dengan senyum ramah, berbicara bahasa Belanda yang dia pelajari. Meskipun, menurut beberapa pelancong tidak semua mandor mahir berbahasa Belanda ataupun bahasa asing lainnya.

Mandoer di hotel juga menjadi salah satu fasilitas yang ditawarkan oleh suatu losmen atau hotel. Misalnya dalam iklan losmen Ambarawa: bij aankomst van den trein…en een mandoer die voor de bagage zorgt (De Locomotief, 05/12/1877), iklan hotel Belantoeng di Padang: bij aankonst der booten steeds de mandoer van het hotel aanwezig /setiap kedatangan kapal mandor hotel selalu siap (Het Nieuws van den dag 19/10/1912), iklan hotel De Groot Batavia dicantumkan Mandoers aan trein en boot /mandor di kereta dan kapal (Gids voor Indië 1933: 135) , iklan hotel Soesman di Madiun: mandoer a/h station (Gids voor Indië 1933: 151), iklan hotel Wilhelmina di Bandung: mandoer en auto aan het station (Indische Courant 10/10/1933) Maksudnya adalah para calon tamu hotel akan dijemput oleh para mandor di stasiun kereta atau pelabuhan untuk diantar ke losmen atau hotel.

Sementara itu istilah djongos (dari kata jongens) yang dalam rumah tangga kolonial sering disebut huisjongen, dalam dunia akomodasi turisme kolonial menjadi hoteljongens (Maurik 1897:118, 173, 182), kamerjongen (Maurik 1897:159) atau jongos (Tokugawa 2004: 193). Adapula istilah lain yang digunakan yaitu lijfjongens (Maurik 1897: 75)

Istilah jongos juga ditemui dalam buku panduan turisme Java Wonderland (1910) dan Isle of the East (1912). Dalam kedua buku itu tidak disebut jongos melainkan jonges. Kemungkinan istilah ini berasal dari jongens. Hal ini dapat diketahui dari kalimat praktis buku panduan tersebut:

At what time is dinner boy? (Poekoel brapa makan jonges?)

Boy, I want some bread. (Jonges minta roti)

Give me some ice boy? (Minta ice jonges?)

I want some tea boy (Jonges minta te[h]) 

Boy, take my luggage to “No.50”, five pieces (Jonges bawa barang di “kamar 50” ada lima Potong).

Boy, I want some writing paper, some ink and a pen (Jonges, minta kertas toelis dan penna tinta (Java The Wonderland 1910: 5-6; Isle of the East  1912: 27-28).

Hal yang menarik adalah dalam daftar kosa kata praktis kata boy diterjemahkan menjadi anak laki bukan jonges (Java The Wonderland 1910:8)  Hal ini memperlihatkan adanya perbedaan makna dari kata jongos yang mengacu pada profesi atau pekerjaan dan bukan jenis kelamin atau jender. Seperti arti kata girl yang bermakna anak prempoean, berbeda dengan girl servant yang berarti baboe (Jawa the Wonderland 1910: 8).

            Seperti halnya jongos dalam rumah tangga kolonial, jongos di hotel berurusan dengan masalah konsumsi. Dari kalimat praktis buku panduan turisme dapat diketahui beberapa tugas jongos, antara lain menyediakan dan melayani makan dan minum. Jongos di hotel bertugas mengantar minuman teh atau kopi ke kamar kita (Isle the Island 1912: 30), membangunkan tamu (Tokugawa 2004:193) Para jongos ini tinggal juga di hotel tempat mereka bekerja. Biasanya mereka tinggal di dekat atau masih dalam lingkungan hotel (Maurik 1897: 173). Mereka pun mengenakan seragam. Seragam yang dikenakan para jongos, ikat kepala dari kain batik, sarung dan tanpa alas kaki (Tokugawa 2004:184). Mereka mengenakan jas tutup berlengan panjang berwarna putih (Wit : 19-20). Dalam beberapa foto tampak seragam yang dikenakan mandur dan jongos tidak jauh berbeda. Hal yang membedakan adalah adanya dua garis di lengan jas yang mereka kenakan. Mereka yang mengenakan garis adalah para mandur (Het Hotelblad, Februari 1937).

            Namun, dalam kartu pos bergambar ruang makan Hotel Java dan  para personil Grand Hotel Java di Weltevreden, tampak ada perbedaan antara pakaian para mandor dan jongos. Meskipun sama-sama mengenakan ikat kepala dan tanpa alas kaki terlihat adanya perbedaan. Dari warna tampak pakaian mandor berwarna gelap sedangkan pakaian para jongos berwarna terang. Kemungkinan kualitas bahan pakaian yang mereka kenakan pun juga berbeda. Perbedaan lainnya adalah asesoris yang dikenakan para mandor yaitu hiasan rantai kecil yang disematkan di salah satu kancing baju (Haks 2004:89). Bahkan, dalam salah satu kartu pos bergambar hotel Bandjermasin dan seorang mandor yang mengenakan pakaian berwarna gelap lengkap dengan asesoris rantai kecil tanpa alas kaki (Haks 2004: 234). Sekitar 1870 terdapat foto seorang mandor di sebuah hotel di Jawa yang mengenakan pakaian khas Jawa berwarna gelap, kain, ikat kepala, asesoris rantai kecil dan bersandal (KITLV 30476).

            Hal menarik adalah para pelayan hotel di Medan tidak disebut jongos. Mereka yang terdiri dari kalangan Tionghoa biasa disebut dengan boy seperti halnya di hotel-hotel di Singapura. (Kelling 1929:735, Bastin 1994:153). Rupanya para pelayan Tionghoa atau yang dikenal dengan istilah Chineesche boys ini tidak menyukai para jongos dari Jawa. Dalam sebuah artikel dengan judul “Een staking van Chineesche boys “ diungkapkan adanya pemogokan para pegawai hotel (boys) de Boer di Medan.  Alasannya adalah manajer hotel dari Jawa yang baru diangkat membawa 5 jongos dan seorang mandur dari Jawa. Para boys enggan bekerja sama dengan mereka khawatir adanya pencurian (De Sumatra Post, 24 September 1912) Kecurigaan ini  berasal dari stereotipe yang  ada dalam pikiran para boys mengenai orang Jawa.

Jongos tidak hanya dijumpai di hotel-hotel atau losmen, para jongos juga dijumpai di kapal-kapal K.P.M seperti kapal ‘van Linschoten’ dan ‘van Waerwiyck’ yang membawa calon turis yang berkunjung ke Hindia (Isle the East 1912:59).  Secara tidak langsung, para calon turis dan tamu hotel berkenalan dengan para jongos yang mengenakan seragam serupa dengan para jongos di hotel-hotel.

Kesetiaan, ketaatan dan pengabdian para mandor dan jongos pun mendapat penghargaan. Penghargaan diberikan kepada para mandor dan jongos yang sudah mengabdi puluhan tahun. Seperti medali A.B.H.N.I6 yang diberikan kepada mandoer Djehari dan djongos Oesoep oleh ketua A.B.H.N.I  Buenen. Sebelum menyematkan bintang tanda penghargaan ketua A.B.H.N.I memberikan pidatonya:

Dengan ini saja memberikan soeatoe tanda boewat kamoe poenja kesetiaan dan ketertiban sebagai mandoer, jang beroepa bintang TROUW en VERDIENSTEN, dan moedah-moedahan kamoe bisa pakai bintang ini sampai dikemoedian hari.

Walaupoen bintang ini tida seberapa harganja, tetapi harkat dan deradjat kamoe lebih-lebih dari jang lain. Itoe soeatoe tanda bahwa kenoegrahan ini ta boleh dikasihkan kepada sembarangan orang, hanja kamoe jang terpandang berharga boewat memakai bintang ini.

Boewat penoetoep kata, moedah-moedahan adat dan kesetiaan kamoe bisa di pakai sebagai tjonto kepada orang lain (Het Hotelblad, Februari 1937).

Penghargaan diberikan kepada para mandor atau jongos yang sudah mengabdi selama 50 tahun, 25 tahun, 15 tahun. Salah satunya adalah medali A.B.H.N.I. yang diberikan kepada Admo Dimidjo yang telah mengabdi di Hotel Mataram Yogyakarta selama 23 tahun. Penghargaaan diberikan pada bulan Juni 1937 (Het Hotelblad, September 1937).

Rupanya, penghargaan tidak hanya diberikan kepada para mandor dan jongos. Dalam salah satu surat pembaca het Hotelblad diusulkan untuk memberikan penghargaan kepada koki yang sudah bekerja selama 10 tahun (Het Hotelblad, Oktober 1937).

            Dengan diperolehnya bintang dari A.B.H.N.I, khususnya yang berhubungan dengan masa kerja, secara tidak langsung dapat diketahui jenjang karir di hotel. Para mandor yang mendapatkan penghargaan tentunya ada yang mulai berkarir dari sebagai jongos. Seperti yang diungkapkan dalam artikel De Indische Courant (10/10/1928) yang mengutip Bataviaasch Nieuwsblad mengenai seorang mandor. Mandor tersebut yang sudah berdinas di ruang makan selama 16 tahun mengenali salah seorang tamu yaitu Jenderal Snijders. Mandor itu bertanya: ‘Apa toean djeneral masih kenal sama saja?’ Tentu saja dengan banyak pelayan di ruang makan tersebut, sang jenderal tak bisa mengenali mandor. Jenderal Snijders menggeleng. Lalu mandor tersebut berkata: ‘Wah, aldus de dike verbaasd, en in vroegere jaren ben ik kamerjongen van toean geweest…’ (De Indische Courant, 10 Oktober 1928).

            Unsur pengabdian, kesetiaan dan ketaatan para mandor dan jongos ini menarik dan mengingatkan kita kepada konsep pengabdian para abdi dalam terhadap tuan pribumi yang tidak mengharapkan imbalan materi. Meskipun telah mendapatkan imbalan (dalam bentuk upah) kesetiaan dan ketaatan mereka tidak hilang, bahkan menjadi jenjang karir untuk mereka.

Personil lain di hotel adalah baboe. Berbeda dengan tugas baboe dalam rumah tangga kolonial, salah satu tugas babu dalam akomodasi turisme kolonial adalah menyajikan makanan yang juga merupakan tugas  jongos. Seperti yang diungkapkan oleh Justus van Maurik ketika menginap di hotel di Muntok, Bangka yang dilayani makan oleh seorang babu (Maurik 1897:165).

Personil rumah tangga yang juga terdapat dalam dunia akomodasi turisme kolonial lainnya adalah kokkie (Maurik 1897:168, 169, 173). Mereka yang menyiapkan hidangan rijsttafel, memanggang kue tar di atas pan dengan kayu bakar (Maurik 1897:169).

Selain personil di atas, ada personil lain yang juga bagian atau mungkin di luar dari personil hotel yaitu toekang menatoe. Dalam Guide Through Netherlands Indie (1903) disebutkan pelayan hotel akan mengatur baju-baju para tamu untuk dapat dicuci oleh toekang menatoe yang merupakan seorang pria dengan ongkos 5 hingga 10 sen per pakaian (Bemmelen 1903:13)  Dalam kalimat-kalimat praktis Tourist-Guide salah satunya disebutkan :

Call the dhobie            Roep een waschman           Panggil minatoe

 (Tourist-Guide 1922-1923  : 22).

Contoh lain yang menunjukkan bahwa para pencuci tersebut adalah pria dari Isle of the East (1912):

            Call the washerman for me                              Panggil menatoe

                                                                                                (Isle of the East 1912: 21).

Para personil pribumi yang bekerja di hotel-hotel rupanya juga membentuk suatu serikat karyawan hotel. Seperti laporan Kaoem Moeda, 5 Desember 1918 yang menyebutkanbahwa pada 1918 serikat karyawan hotel di Bandung dibentuk. Ketua serikat yang juga merupakan karyawan senior dan paling lama di industri hotel, menyatakan tujuan dibentuknya serikat adalah untuk meningkatkan persatuan dan persaudaraan para karyawan hotel serta untuk menyediakan bantuan apabila ada anggota yang tertimpa kemalangan, seperti kematian. Serikat ini mendapatkan 40 orang anggota (Ingleson 2004: 160).

Seperti halnya para personil rumah tangga yang memerlukan persyaratan dan rekomendasi baik dari para majikan sebelumnya, untuk menjadi personil tingkat tertentu di hotel apalagi hotel-hotel berstandar internasional harus memenuhi persyaratan.  Seperti contoh iklan lowongan pekerjaan dalam majalah Hotelblad edisi Juni 1941:

Inheemsche kracht, 22 jaar oud, in beziteind-diploma Chr. H.I.S “Idenburgschool” en Mulo, goed op de hoogte met machineschrijven en zeer ambitious, zoekt emplooi in het hotelbedrijf Brieven aan de redactie van het hotelblad te Trawas onder nummer 115.

(Pekerja pribumi, 22 tahun, memiliki ijazah H.I.S “Idenburgschool” dan MULO, mampu mengetik dan sangat ambisius dalam bekerja di hotel. Surat ditujukan pada redaksi Hotelblad di Trawas dengan nomor 115).

Lowongan di atas jelas bukan untuk tingkat jongos melainkan untuk tingkat administrasi atau manajerial. Lowongan dalam bahasa Belanda jelas hanya dipahami oleh mereka yang menguasai bahasa tersebut. Hal menarik adalah adanya pergeseran dalam pekerjaan administrasi. Sebelumnya jenis pekerjaan ini hanya dilakukan oleh masyarakat Eropa.

            Begitupula dengan mereka yang telah mendapatkan medali dari A.B.H.N.I dapat menjadi salah satu rekomendasi jika mereka hendak mencari pekerjaan. Seperti iklan pencari pekerjaan di Het Hotelblad edisi Agustus 1937 berikut:

Warso Hamidjojo, drager A.B.H.N.I. medaille, zoekt een betrekking als Kassier, schrijver dan wel anderszins Brieven Kelengan Ketjil 602 Semaran.

            (Warso Hamidjojo, pemegang medali A.B.H.N.I. mencari pekerjaan sebagai kasir, juru tulis dan

pekerjaan lainnya.  Surat ditujukan ke Kelengan Ketjil 602 Semarang).

Kualitas para pelayan hotel tersebut juga menjadi perhatian penting. Pada 1938 di Bandung didirikan sebuah kursus khusus hoteljongen (pelayan hotel) di bawah pimpinan Fr. J.A.van Es, direktur Hotel Homann. Ada sekitar 40  pelayan pribumi yang mengikuti kursus tersebut dua kali seminggu, mulai pukul 9 sampai 12 siang. Kursus tersebut berlangsung selama 3,5 bulan. Setelah mengikuti kursus tersebut para peserta kursus akan diuji dengan ketat oleh Fr. J.A.van Es. Mereka yang lulus akan mendapatkan ijazah. Ijazah tersebut dapat dipergunakan untuk melamar ke hotel-hotel di Hindia, perusahaan pelayaran dan untuk bekerja sebagai pelayan tetap di Hotel Homann. Para peserta kursus dididik cara menata meja, menyajikan anggur, menerima telefon dan berbagai pekerjaan lainnya di hotel. Bahkan mereka mendapatkan pelajaran bahasa Inggris praktis dan sederhana. Pelajaran-pelajaran praktik diberikan oleh van Es jr, v. Herb dan Kohlër yang semuanya bekerja di Hotel Homann. Kursus tersebut tidak dikenakan biaya dan khusus ditujukan kepada para pelayan hotel. Tidak tertutup kemungkinan peserta kursus yang terbaik akan menjadi mandor (Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indië, 29-04-1938).

Berkaitan dengan peran mandor dan jongos, kita dapat menggunakan konsep status dan peran (role) dari Ralph Linton (1967). Menurut Linton, status adalah suatu kumpulan hak dan kewajiban, sedangkan suatu peran merupakan segi dinamis dari suatu status. Menurut Linton, seseorang menjalankan peran ketika ia menjalankan hak dan kewajiban yang merupakan statusnya. Di sini, status sebagai mandor dan jongos serta personil hotel lainnya memiliki peran melayani para tamu serta mengabdi atasannya (Kamanto 2000: 54-55) Status tersebut tidak serta merta mereka peroleh melainkan melalui persaingan dan upaya pribadi untuk mencapainya. Di sini, dalam tipologi status, berlaku konsep status yang yang diraih (achieved status). Para personil hotel (mandor dan jongos) dalam mencapai statusnya tersebut melalui persaingan dan upaya pribadi, baik melalui pengabdian, ketaatan, kesetiaan serta melalui jalur pendidikan (kursus).

Sehubungan dengan ketrampilan dan kemampuan (hasil kursus dan pengalaman dari para personil hotel), kita dapat mengkaitkan dengan perluasan konsep kelas dari teori Marx mengenai kepemilikan alat produksi. Max Weber tidak membatasi pada pemilikan alat produksi tapi meliputi pula peluang untuk memperoleh penghasilan yang menurut Giddens (1989) dapat berupa ketrampilan dan kemampuan yang salah satunya tercermin dari ijazah (Kamanto 2000:90)  Di sini tampak para personil hotel yang memiliki ketrampilan dan kemampuan berhasil memperoleh peluang yang lebih baik.

Pergeseran dari ranah domestik ke ranah publik, tidak mengubah status dan peran para pembantu rumah tangga ke personil hotel. Ketaatan, kesetiaan dan pengabdian mereka –khususnya yang mampu bertahan hingga bertahun-tahun – merupakan bagian dari konsep budaya ‘mengabdi’ mereka kepada para atasannya ketika masih berada dalam ranah domestik. Lingkungan hotel (ranah publik) menyebabkan tujuan para personil tersebut mengalami perubahan. Selain untuk mengabdi, keinginan untuk naik ke jenjang yang lebih tinggi (dari jongos ke mandor) membuat mereka melakukan yang terbaik (taat, setia dan tertib).

E. Penutup

Pergeseran penggunaan istilah para personil rumah tangga (jongos, baboe, kokkie) tersebut disebabkan asal mula dibentuknya institusi hotel atau losmen, sebagai salah satu akomodasi turisme kolonial yang berasal dari rumah tangga kolonial. Pembentukan itu membawa serta komponen berupa pelayan rumah tangga ke dalam ranah publik.

Pekerjaan yang dilakukan dalam ranah rumah tangga yang sebelumnya bersifat informal dalam perkembangan selanjutnya menjadi jenis pekerjaan formal. Bahkan menjadi pekerjaan professional dengan jenjang karir yang berhubungan dengan kesetiaan serta ketertiban (catatan di kepolisian). Dalam hal ini kesetiaan, ketaatan dan ketertiban para personil tersebut dapat dikaitkan dengan konsep budaya ‘abdi’ yang telah berlangsung ketika masih berada dalam ranah domestik (rumah tangga).

Kenaikan jenjang tersebut berkaitan dengan jenis pekerjaan yang membutuhkan ketrampilan administrasi dan kemampuan berbahasa khususnya bahasa Belanda dengan baik. Dari pekerjaan yang tidak memerlukan ketrampilan khusus menjadi pekerjaan yang membutuhkan ketrampilan tertentu.

Para personil pribumi tersebut sangat penting dalam menunjang turisme kolonial di Hindia-Belanda. Para personil hotel atau losmen seperti mandor dan jongos memiliki peran yang tidak kalah pentingnya dengan pihak-pihak pendukung turisme kolonial lainnya. Mereka bahkan menjadi salah satu fasilitas yang ditawarkan oleh hotel serta kerap muncul dalam buku panduan turisme resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah dan pihak swasta. Hal yang menarik adalah dalam akomodasi kolonial kaum pria lebih dominan dibandingkan kaum perempuan.

LAMPIRAN

Tabel 1. Daftar hotel di Hindia beserta tarif dan fasilitas tahun 1938

  Nama Hotel Tarif permalam Fasilitas
Batavia Hotel des Indes 8 – 26 gulden  O
  N.V. Hotel der Nederlanden 7 – 22 gulden  O
  Hotel des Galeries 9 –17 gulden  
Bandung Grand Hotel Preanger 9 – 23 gulden G.S.T.O
  Grand Hotel Savoy-Homann 9 –23 gulden G.S.T.O
  Hotel Isola 11 – 27,50 gulden G. T. S
Buitenzorg Hotel Bellevue Dibbets 6 – 20 gulden  
Cirebon Grand Hotel Ribberink 7 – 16 gulden  
Garut Grand Hotel Ngamplang 6,5 – 20 gulden G. H. S. T
  Grand Hotel Cisurupan 6 – 17 gulden H.  S. T
  Hotel Papandayan    
Lembang Grandhotel 6 – 17 gulden H.  S.  T
Sukabumi Grand Hotel Selabatu 7 – 20 gulden S. T
  Grand Hotel Selabintana 7 – 20 gulden G. S. T
  Grandhotel Mooi Wanasari 6 – 15 gulden G. S. T
Semarang Hotel Bellevue 7 – 20 gulden  
  Hotel du Pavillon 7 – 23 gulden O
Solo Hotel Slier 7 – 26 gulden S.  T
Yogyakarta Grand Hotel Yogya 8,5 –22 gulden S
  Hotel Mataram 4,5 – 13 gulden  
  Hotel Tugu 5 – 15 gulden  
Kopeng Hotel Kopeng 6 – 16 gulden G. H. S. T
  Hotel Montagne 5 – 11 gulden  
Wonosobo Grand Hotel Dieng 7 –21,5 gulden H. S. T
  Park Hotel 5 – 11 gulden S. T
Surabaya Hotel Brunet 5,5 – 17 gulden S
  Hotel Ngemplak 5 – 12 gulden  
  Oranje Hotel 6,5 –17 gulden  
  N.V. Simpang Hotel 5,5 – 17 gulden  
Malang Hotel Astor 5,5 – 18,5 gulden G. S. T
  Palace Hotel 6 – 18 gulden G. S. T
  Hotel Splendid 5 – 15 gulden G. S. T
Jember N.V. Hotel Jember 6,5 – 15 gulden  
Nongkojajar Grand Hotel Nongkojajar 6 – 23 gulden G. S. T
Pujon Hotel Huize Justina 5 – 14 gulden T
Prigen Badhotel Prigen 5 – 13 gulden S. T
Punten Badhotel Selecta 6 – 15 gulden G. S. T
Sarangan Grand Hotel Sarangan 4,5 – 14 gulden B. H. S. T
Tosari Bromo Hotel 4,5 – 12 gulden  T
  Grand Hotel Tosari 6,5 – 20 gulden G. H. T
Tretes Badhotel Tretes 5,5 – 15 gulden H. S
Denpasar Bali Hotel 10 – 25 gulden Music & dance
  Satrya Hotel 6,5 – 13 gulden  
Kintamani K.P.M. Bungalow Kintamani 8 – 15 gulden  
Brastagi Grand Hotel Brastagi 6 – 30 gulden G. H. S. T
Medan Hotel de Boer 7 – 20 gulden O
  Grand Hotel Medan 7 – 16 gulden O
Prapat Prapat Hotel 7 – 14 gulden B. G. S. T
Fort de Kock Hotel Centrum 6 – 17, 5 gulden G. S. T
  Park Hotel 5,5 – 14 gulden G. S
Padang Hotel Central 5 – 15 gulden T
  Oranje Hotel 5, 5 – 17,5 gulden G. S. T
Palembang Hotel Buys 8 – 17 gulden S. G
  Hotel Smit 8 – 22,5 gulden  
Makassar Empress Hotel 7 – 20 gulden T
  Grand Hotel 8 – 16 gulden  

Sumber :  List of the Principal Hotels in the Netherlands Indies (Batavia : The Travellers Official Information Bureau of the Netherlands Indies & Kolff,1938),  hal. 3- 5

DAFTAR PUSTAKA

Baay, Reggie. (2008). De Nyai. Amsterdam: Athenaeum-Polak & Van Gennep

Bastin, John. (1994). Travellers’ Singapore. An Anthology. Singapura: Oxford University Press

Bemmelen, J.F. van & G.B. Hooyer. ed.(1903). Guide Through Netherlands Indie. London:

Thomas Cook & Soon.

Blackburn, Susan.(2011). Jakarta: Sejarah 400 Tahun. Depok: Masup Jakarta.

Brousson, H.C.C Clockener. (2007). Batavia Awal Abad 20. Depok: Masup Jakarta.

De (The) Garoet Express and Tourist Guide. (1922-1923). Garoet: Maatschappij Onderlinge

Hulp.

De Indische Courant, 10 Oktober 1928

De Indische Courant, 10-10-1933

De Locomotief, 05-12-1877

De Sumatra Post, 24 September 1912

Encyclopaedie Nederlandsch Indië. (1919). deel III. S’ Gravenhage: Martinus Nijhoff

Gouda, Frances. (2007). Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda 1900-

1942. Terjm. Jakarta: Serambi

Gids voor Indië: handleiding en hotel, pension, toko en dienstgids voor newcomers en toeristen

in Nederlands Indië. (1933). Batavia: Vereenigde Uitgevers-Bedrijven

Haks, Leo & Steven Wachlin.ed.(2004). Indonesia: 500 Early Postcards. Singapore:

Archipelago Press

Handbook of the Netherlands East Indies.(1930). Batavia: G.Kolff

Het Hotelblad, Februari 1937

Het Hotelblad, Agustus 1937

Het Hotelblad, September 1937

Het Hotelblad, Oktober 1937

Het Hotelblad, November 1937

Het Nieuws van den dag  voor Nederlandsch Indië 22-09-1880

Het Nieuws van den dag  voor Nederlandsch Indië 19-10-1912

Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indië, 29-04-1938

Heyden, J van der. (1909). Indisch Prentenboek I. Bedienden en Beroepen. Amsterdam: J.H. De

Bussy

_______________. (1925). Nieuw Indisch ABC. Weltevreden: Boekhandel Visser

Indische Gids: Staatkundig, Economisch en Letterkundig Tijdschrift. (1929).Amsterdam: NV.

J.H De Bussy.

Ingleson, John. (2004). Tangan dan Kaki Terikat: Dinamika Buruh, Sarekat Kerja dan

Perkotaan Masa Kolonial. Jakarta: Komunitas Bambu

International Labour Organization. (2004). Bunga di atas Padas: Fenomena Pekerja Rumah

Tangga Anak di Indonesia. Jakarta: ILO

Isle of the East. (1912).  Batavia: Royal Packet Steam Navigation Co. (K.P.M.)

Java: The Wonderland. (1910). Welvreden: Official Tourist Bureau

Kanumoyoso, Bondan. (2011). Beyond the City Wall: Society and Economic Development in the

Ommelanden of Batavia 1684-1740. Disertasi Universiteit Leiden.

Kelling, M.A.J. (1929). ‘Het Hotelwezen in Nederlands-Indië’ dalam Indische Gids. Amsterdam:

J.H. De Bussy

List of the Principal Hotels in the Netherlands Indies.(1938). Batavia : The Travellers Official

Information Bureau of the Netherlands Indies & Kolff

Maurik, Justus van. (1897). Indrukken van een totok. Amsterdam: van

Holkema & Warendorf

Merilles, Scott. (2000). Batavia in Nineteenth Century Photographs. Singapore: Archipelago

Press

Mingaars, Peter.ed.(2005). Indische lexicon: Indische woorden in de Nederlandse literatuur.

Amsterdam: Hes & De graaf

Moeiman, Soesi & Hein Steinhauer.ed. (2005). Kamus Belanda-Indonesia. Jakarta: Gramedia &

KITLV Jakarta

Pasanggrahan in Nederlandsch-Indië. 1937. Batavia: Officiele Vereeniging Toeristenverkeer in

Nederlandsch-Indië

Perwani, Yayuk Sri. (2006). Teori dan Petunjuk Praktek Housekeeping untuk Akademi

Perhotelan: Make Up Room. Jakarta: Gramedia

Pigeaud, Th. (1994). Javaans-Nederlands Woordenboek. Cetakan kelima. Leiden: KITLV

Ponder, H.W. (1988). Java Pageant. Impression of the 1930s. Singapura: Oxford University

Press

Purwanto, Bambang. (2008). “Menulis Kehidupan Sehari-hari Jakarta: Memikirkan Kembali

Sejarah Sosial Indonesia” dalam Henk Schulte Nordholt (eds), Perspektif Baru: Penulisan Sejarah Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, KITLV-Jakarta, Pustaka Larasan

Reid, Anthony. (2004). Sejarah Modern Awal Asia Tenggara. Sebuah Pemetaan. Jakarta: LP3ES

Roeper, Vibeke & Roelof van Gelder. ed.(2002). In dienst van de Compagnie: Leven bij de VOC

in honderd getuigenissen (1602-1799). Amsterdam: Athenaeum-Polak & Van Gennep

Scholten, Elsbeth-Locher. (2000). Women and the Colonial State. Essay on Gender and

Modernity in the Netherlands Indies 1900-1942. Amsterdam: Amsterdam University

Press

Suharto, Imtip Pattajoti. (2001). Journeys to Java by a Siamese King. Bandung: ITB Press

Sunarto, Kamanto. (2000). Pengantar Sosiologi. edisi kedua Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas

Ekonomi Universitas Indonesia

Taylor, Jean Gelman. (1988). Smeltkroes Batavia. Europeanen en Euraziaten in de Nederlandse

vestigingen in Azië. Groningen: Wolters-Noorhoff

Thosibo, Anwar. (2002). Historiografi Perbudakan. Sejarah Perbudakan di Sulawesi Selatan

Abad XIX. Yogyakarta: Yayasan Indonesiatera

Wertheim, W.F. (1999). Masyarakat Indonesia dalam Transisi.terjemahan. Yogyakarta: Tiara

Wacana

Wit, Augusta de. (1987). Java: Facts and Fancies. [cetakan pertama 1905]. Singapura: Oxford

University Press.



[1]Daalder adalah uang logam yang bernilai satu setengah gulden. Moeimam, Soesi (eds). Kamus Belanda-Indonesia. Jakarta: Gramedia-KITLV Jakarta.2005

2Kleine Boom adalah kantor pabean di pelabuhan lama yang letaknya di muara Sungai Ciliwung (sekarang pelabuhan Sunda Kelapa). Setelah membayar bea, kapal diperbolehkan masuk untuk menaikkan maupun menurunkan penumpang beserta barang bawaannya.

3Het Hotelblad, November 1937

4Untuk pembahasan tentang para budak, khususnya di Ommelanden, lihat bagian“Slavery and Labour” dari disertasi Bondan Kanumoyoso, “Beyond the City Wall: Society and Economic Development in the Ommelanden of Batavia 1684-1740”.Universiteit Leiden, 2011

5 Terima kasih kepada Arif Budiman, M.A (Dosen Prodi Prancis FIB UI) atas penjelasannya mengenai istilah mandor dalam bahasa Portugis

6A.B.H.N.I adalah Algemeenen Bond Hotelhouders in Nederlands-Indië, Ikatan pemilik hotel di Hindia-Belanda yang meliputi daerah Priangan, Batavia, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, Kalimantan, Maluku.

Leave a Comment