ZIKIRTAINMENT DAN DAKWAH YANG GAGAL

Menyoal Majlis Taklim Betawi Saat Ini
Oleh Yahya Andi Saputra

Dakwah atau penyiaran agama seyogyanya menjadi ujung tombak utama pencerahan masyarakat. Tolok ukur keberhasilan dapat diimpleng dari kian kuatnya bangunan masyarakat pada bingkai hablumminallah dan hablumminannnas. Walhasil, gesekan sosisal yang kemungkinan muncul tersebab secuil kesalahpahaman dapat dieliminasi. Bukankah dakwah kudunye mengumpulkan energi positif menuju dimensi baldatun toyyibatun warabbun ghafur dan rahmat bagi alam semesta. Efektif dan efisienkah metode dakwah yang digelar ustaz dan ulama saat ini? Khususnya yang diselenggarakan oleh masyarakat Betawi? Sebuah pertanyaan kasip dan tak seharusnya muncul pada era globalisasi dan kelenturan teknologi dunia maya saat ini.
Saya termasuk hamba Allah yang relatif aktif berbaur dalam buncah dakwah – dalam konteks pengajian majlis taklim yang diselenggarakan masyarakat Betawi – yang digelar di beberapa tempat dan dipimpin oleh bebagai ustaz, mualim, maupun kyai. Metode pengajian kitab model sorogan, model interaktif atau pun ngaji kuping menjadi niscaya. Dua puluh tahun mengikuti majlis taklim mengaji Tafsir Jalalain, Fikih Sunnah, Taklim Muta’allim, Arbain Nawawi, Durratunnashihin, dan lain-lain sesungguhnya inspiring dan asyik. Selain tentu saja menjawab problema keseharian ummat dalam melakoni format keaqidahannya.
Ustaz dan kyai Betawi memahami betul materi yang diajarkan dan seringkali diurai penuh humor. Bukan hanya urusan agama, betapa mereka pun mengerti nuansa konstelasi politik dan masalah kenegaraan. Mereka fasih berujar dan elastis menempatkan posisi serta tepat ketika bertindak. Siapapun dalam posisi dan kedudukan bagaimanapun tak bisa mengelingkingi mereka.
Seiring bergeraknya waktu seraya menyadari kompleksitas kehidupan sosial kemasyarakatan, muncul benih skeptis alias syak akan metode dakwah seperti itu. Jamaah yang doyan taklim dan sudah jadi, pada gilirannya menjadi fanatikus tak tergoyahkan. Hanya saja secara kuantitatif jamaah terus merosot; yang tua wafat sementara yang muda tak mendekat.
Ustaz dan kyai terus asyik dengan metodenya tanpa hirau lingkungan, tak menggubris fenomena gelinjang zaman. Dengan kata lain kepekaan sosialnya tak terbangun sehingga tercipta proses perubahan sebagaimana lazimnya gerak ilmu pengetahuan soaial. Tak terpungkiri, dalam pandangan saya, jurang membentang cukup dalam antara ulama dan lingkungan sosialnya. Tingallah jamaah kepala lima. Sementara darah muda kian menyingkir bahkan sekadar atribut pun kalis pada kesehariannya. Maka lihatlah majlis taklim-majlis taklim yang masih ada saat ini, sepi dari kaum muda Betawi. Adalah wajar manakala saya menyoal efektivitas dan efisiensi metode dakwah yang sudah berlangsung ratusan tahun itu.

Eskapis Kaum Muda
Kemana darah muda berlabuh dalam pencarian identitas dan megasah ketajaman religiusitasnya? Saya mensinyalir ada pelarian besar-besaran kaum muda dari metode dakwah tradisional menuju metode yang entah bernama apa. Apalagi kemudian diparalelkan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang rubuh. Lihatlah betapa pengangguran meroket atas dampak krisis global. Pada situasi itu hanya sedikit celah yang dapat dilalui dan itu pun sarat dengan risiko. Kasus kriminal membengkak. Perjudian secara laten kian marak. Prostitusi mengalami obesitas. Narkoba merajalela.
Program kampanye anti Narkoba yang dilancarkan pemerintah memang relatif sukses. Kita telah mengetahui bahwa Narkoba itu jahat. Kita benci Narkoba. Ini terlihat dari banyaknya spanduk, poster, atau media luar griya (billboard) anti Narkoba terpampang diberbagai titik strategis.
Ironisnya, fakta dan data menunjukkan jumlah pemakai Narkoba di Indonesia justru meningkat masif. Merujuk angka yang dilansir Badan Narkotika Nasional 2008, dalam kurun 38 tahun (1970 – 2008), jumlah pemakai naik 200 kali lipat atau 20.000 persen. Mengerikan! Itulah wajah kita yang cenderung penuh paradoks.
Atau kini sedang terjadi perekrutan, tepatnya perampokan pemuda oleh individu, majlis atau organisasi yang menawarkan segala penyelesaian persoalan hidup secara instan. Ormas keetnikan tampil garang dengan simbol kelokalan. Ormas keagamaan sarat dengan faham teror, fundamental, dan radikal. Pemimpin ormas keagamaan tradisional sibuk berebut pengaruh pada level elite. Sementara kelompok ustaz, kyai, dan habaib muda dan modern terjebak dalam kreativitas pembaharuan pelaksanaan zikir yang menggelembung di lima tahun terakhir. Ingin saya namakan kreativitas laku zikir ini dengan sebutan zikirtainment.
Zikirtainment yang dimaksudkan merupakan upaya kolaborasi antara zikir dan intertainment yang digelontorkan dengan cara-cara modern. Itu pun ditopang konsep yang dirancang event organization sebagai pijakan arah pertunjukan. Ia memanfaatkan berbagai media massa modern berupa media elektronika maupun pergelaran off air secara kolosal. Keberhasilan zikirtainment utamanya ditentukan oleh figur ulama generasi terkini yang memahami kecanggihan media informasi sekaligus profesional sebagai entertainer.
Masifnya zikirtainment yang merekrut ribuan darah muda sejatinya berangkat dari dua motif. Pertama, gebrakan inovatif bermotif ekonomi. Pelat cakram audio visual berisi aktivitas zikir, penerbitan buku-buku zikir, sampai kepada rilis seragam dari kelompok bersangkutan, tak pelak merupakan motif ekonomi. Kedua, motif gelombang pasar kaum muda yang hilang piajakan dan membutuhkan figur panutan. Motif kedua inilah yang pada gilirannya melahirkn eskafisme atau media pelarian dan hura-hura kaum muda yang ingin lepas dari tekanan hidup sehari-hari.
Kedua motif itu ibarat kuali ketemu kekep. Zikirtainment ini tentu bergerak atas segmen pasar kaum muda yang gamang atas kenyataan hidupnya. Mereka head to head dengan kontras hitam putih; si kaya makin kaya si miskin silahkan mati. Atau kondisi bertabrakan langsung mobil mewah dengan sendal jepit, rumah megah dengan gubuk kumuh, penikmat fasilitas publik dengan pengais apa adanya yang bercucuran keringat. Sementara public figure yang patut diikuti dan diteladani tak juga muncul.
Maka tatkala sosok pendobrak muncul dengan gagasan ”pencerahan”, tak pelak menjadi rujukan. Terutama kemampuannya dalam mengelola ruang kosong dan bola liar yang butuh kesejukan dan sentuhan nurani. Ia pun menjadi idola dalam berbagai dimensi. Ketaatan kepada pemimpin dan kesetiakawanan sesama jamaah, menjadi pijakan utama. Artinya inovator zikirtainment mampu dengan amat baik membaca gejolak kebutuhan pasar. Bayangkan gelombang konvoi kendaraan bermotor dalam jumlah ratusan tanpa memperhatikan aturan berkendara, bukankah cermin sebuah pemberontakan atas ketertekanan hidup. Apakah akidah Islamiyahnya terbangun dan terasah dengan aktivitas seperti itu? Rasanya tak selalu dan itu menjadi soal lain. Justru eksklusivitas terbangun, yang merasa kelompok atau ormasnya lebih unggul dari lainnya. Ironis dan paradoks.
Kita tak boleh menyerah menghadapi jaman pancaroba saat ini. Fenomena pengingkaran terhadap akidah islamiyah kian kuat dan menohok lambung relijiusitas ummat. Melawan sampai titik darah penghabisan seraya meracik dan menggelontorkan solusi menuju ”dakwah mengena dan asyik” bagi kaum muda menjadi kewajiban. Wallahu’alam.

Leave a Comment