TJALIE ROBINSON: TUKANG DONGENG DUNIA INDO

Oleh JJ Rizal

Diiringi alunan lagu-lagu keroncong, abu jenazah Tjalie Robinson diaur di teluk Jakarta pada tahun 1974. Begitulah si seniman terbesar orang Belanda-Indo memilih cara pemakamannya.

Simbolisasi yang indah tentang pilihan dari masalah blijevers (mereka yang menetap) dan trekkers (mereka yang pergi) yang merupakan masalah sejak orang-orang Belanda datang dan bekerja sebagai abdi-abdi Kompeni di Batavia pada abad ke-17.

Memang pada tahun 1957, ketika masalah Irian Jaya menegangkan hubungan Indonesia dengan Belanda, bersama dengan kebanyakan orang Indo lainnya, Tjalie pindah ke negeri Belanda. Tapi, kepindahan itu tidaklah membuatnya menjadi trekkers. Tjalie di Belanda berusaha keras menjaga hubungan secara kultural dengan masa silamnya, yakni identitas sebagai orang Indo. Tjalie tidak mau menyesuaikan diri kepada irama dan selera orang-orang Belanda totok. Ia giat sekali mempertahankan identitas komunitas Indo dengan mendirikan Lingkaran Budaya Indo dan lembaga serta majalah Tong-Tong. Melalui ratusan karangan, esai, dan catatan di Tong-Tong itulah cita-cita ke-Indo-annya disebarluaskan kepada orang-orang Indo lainnya. Tong-Tong yang kemudian berganti nama menjadi Moesson bukanlah majalah yang memupuk nostalgia. Masa lampau dan tanah asal yang indah permai yang diangkat di Tong-Tong agaknya bukanlah sekadar reaksi terhadap keterasingan sekelompok “displaced persons”, pengungsi-pengungsi yang terpaksa merana jauh dari tanah asalnya, melainkan sebagai penghayatan metafor asal-muasal secara eksistensial maupun secara historis.

Penghayatan terhadap asal muasal itulah yang kemudian menghubungkan Tjalie dengan bahasa petjok, yakni bahasa campuran (mixed language) antara bahasa Melayu Betawi dengan bahasa Belanda. Tjalie mengangkat bahasa ini sebagai alat pengungkapan ide-ide sastranya. Ia menganggap bahasa ini sebagai cara yang cocok untuk mengungkapkan identitas berbelah dari “Belanda-Indo”, nama untuk orang Eropa-Indo pada masa penjajahan yang berdiri di antara dua tanah air, di sini tetapi tidak dari sini, dari sana tetapi tidak di sana. Dalam bahasa ini dia hidup dan dia menjadi dirinya sendiri. Dalam konteks ini Tjalie menyediakan dirinya sebagai wadah dimana bahasa petjok yang dibentuk oleh komunitas Belanda-Indo menemukan kekuatannya. Terbukti memang dalam cerita-ceritanya ia menguasai sekali bahasa petjok itu dengan cara-cara yang kadang-kadang luar biasa, sering mengagetkan, mengagumkan dan adakalanya berkilauan rupanya.

Itulah sebabnya Rob Nieuwenhuys yang sering dianggap sebagai dedengkot sastra Hindia Belanda dalam Oost Indische Spiegel (1972) menganggap Tjalie merupakan satu-satunya pengarang keturunan Belanda yang menghayati kebudayaan Indo-nya dengan sepenuhnya dan menulis berdasarkan kesadaran hati. Nieuwenhuys misalnya menunjuk pada Tjalie yang sadar penuh akan ke-Indo-annya dan ia tak pernah merasa malu mengenai sifatnya yang khas itu. Dalam sebuah rubrik di surat kabar De Nieusgier (yang terbit di Jakarta antara tahun 1945-1957) Tjalie pernah menghidupkan kembali suasan khas itu melalui seri cerita yang kemudian di tahun 1965 dibukukan dengan judul Piekerans van een straatslijper (Pikiran-Pikiran Tukang Keluyuran). Dalam buku itu Tjalie melukiskan dua dunia masa mudanya, yakni dunia orang-orang Indo-Belanda yang tinggal di masyarakat pinggiran, yakni pinggiran masyarakat Belanda (Eropa), di kampung-kampung yang hidup pada perbatasan antara dua lingkungan kebudayaan yang berbeda-beda.

Kumpulan cerita Tjalie yang pertama adalah Tjies yang diterbitkan oleh Penerbit Gambir di Bandung tahun 1954, kemudian oleh penerbit H.P. Leopold di Den Haag tahun 1958. Menyusul kumpulan Tjoek. H.B. Jassin telah menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kedua karya Tjalie yang ditulis dengan dengan nama samaran Vincent Mahieu, sebuah nama yang dalam kalangan Indo sangat populer karena itulah nama orang yang menciptakan komedi stambul. Tetapi dalam dua kumpulan itu kurang sekali terdengar suara Tjalie yang dinyatakannya sendiri sebagai tukang dongeng kebudayan Belanda-Indo.

Suara dari dunia Indo-Belanda itu kemudian menguat ketika pada tahun 1975 si tukang dongeng itu menerbitkan Ik en Bentiet (Aku dan Bentiet). Buku ini sering dianggap sebagai karya puncak Tjalie tentang dunia Belanda-Indo. Semuanya ditulis menggunakan bahasa petjok. Sugeng Riyanto dari Univ. Pajajaran yang meneliti bahasa petjok menyatakan bahwa berkat buku Ik en Bentiet sampai kini kita masih mungkin untuk memperoleh gambaran akan bahasa petjok. Selain itu menurut Jan W. de Vries ahli linguistik dari Univ. Leiden, bahasa petjok dan para penuturnya yang semula dianggap negatif, bahasa kacau, corrupted Dutch berkat Tjalie menjadi bergengsi. Dan yang terlebih penting adalah Tjalie memompakan keberanian kepada orang-orang Indo sendiri yang selama ini ketakutan bahwa dengan menggunakan bahasa ini orang akan anggap berasal dari kelas bawah. Tjalie telah membawa bahasa petjok ke kedudukan yang belum pernah di peroleh di Hindia. Namun dari semua itu, menurut Rudy Kousbroek seorang penulis Belanda dalam kongres Nederlandse Studien in Indonesie tahun 1997, yang terpenting adalah Tjalie hampir secara seorang diri telah dengan tajam dan penuh kekayaan detil mengekalkan suatu masa lalu Hindia Belanda yang spesifik, yang kini sudah hilang tanpa bekas. Secara harfiah: tanpa Piekerans van een straatslijper dan terutama tanpa Ik en Bentiet suatu dunia yang bukan Belanda dan bukan Indonesia, dan juga bukan kedua-duanya, melainkan sesuatu yang unik dan asli pasti sudah hilang tanpa meninggalkan bekas-bekas otentik di dalam kesusastraan, tanpa tertinggal disimpan dalam bentuk literer. Lebih jauh lagi Tjalie telah menyadarkan tentang apa yang disebut sebagai Sastra Hindia Belanda: suatu jenis sastra yang hampir-hampir tidak diakui sebagaimana adanya di Indonesia maupun di Belanda.

Namun di tengah kedudukan istimewa Tjalie itu, Rudy Kousbroek tidak bisa menyembuyikan kesedihan bahwa sebagai penulis besar Tjalie dinilai jauh dari istimewa di negeri Belanda. Penghargaan kotapraja Amsterdam untuk Tjies adalah satu-satunya penghargaan yang diberikan untuknya. Agak cengeng memang, tetapi Rob Niuwenhuys beberapa tahun sebelumnya pun melaporkan kesedihan yang tak kurang bahwa gaya dan pandangan hidup Indo yang kukuh dianut Tjalie itu telah membuatnya precis sebatang pohon yang dipindahkan ke tanah lain, ia berakar di dalam tanah yang tidak cocok baginya. Seorang yang berseru di padang gurun, seorang yang berkelana dalam rimba dengan bentuk-bentuk kehidupan yang asing, penuh orang-orang Belanda yang tidak memahami latar belakang orang Indo. Pohon-pohon bertambah tua, tetapi tidak berkembang lagi, tidak mengeluarkan tunas-tunas baru. Tapi, Tjalie tak pernah mengeluh dan menjadi cengeng. “Kanak-kanak dulu menjadi seorang kakek dan menengok kembali kehidupannya, penuh kesalahan dan kekliruan, penuh kemenangan dan kekalahan. Itulah nasib. Tetapi saya tidak tawar menawar,” begitu kata Tjalie.

Memang Tjalie tak pernah tawar menawar, ia berpegang teguh pada identitasnya sebagai seorang Indo, ia tetap setia pada dirinya. “Tidak karena saya kepala batu, melainkan karena pengingkaran terhadap ke-Indo-an saya akan merupakan pengingkaran terhadap kenyataan,” demikian sekali lagi kata bocah kelahiran tahun 1911 di Gunung Sari, Jakarta dari ayah seorang Belanda totok dan ibu seorang Indo ini dan diberi nama Jan Johannes Theodorus Boon kemudian memakai nama samaran Tjalie Robinson alias Vincent Mahieu alias Andronikos Favre alias Erik van Roofsand.

Leave a Comment