|
Bahasa Jakarta Oleh Kwee Kek Beng
Karangan yang dikutip dari majalah Sin Tjun, No. 1, 1956, adalah buah kalam Kwee Kek Beng dengan nama samaran Anak Djakarta.
Kwee Kek Beng yang lahir 16 November 1900 di Jakarta adalah pengarang dan penulis yang suka memakai nama samaran. Paling sering
ia memakai nama samaran Garem. Ia tamat belajar di HCS, sekolah menengah, di Jakarta, yang kemudian dilanjutkannya ke HKS, sekolah
guru, di Jakarta juga. Sejak usia muda ia sudah terjun di gelanggang kewartawanan. Tulisan-tulisannya selalu kaya dengan ungkapan-ungkapan khas Betawi.
Kwee Kek Beng tidak pernah membuat tulisan yang panjang. Tulisannya pendek, mengandung logika yang kuat dan mengena pada sasaran serta dibumbui
dengan humor yang segar. Banyak orang mengatakan Kwee Kek Beng adalah pelopor “Pojok” yaitu rubrik di surat kabar yang berisi kritik yang tajam
terhadap sesuatu permasalahan yang hangat. Kwee Kek Beng meninggal dunia di kota kelahirannya yang amat ia cintai, Jakarta, pada tanggal 31 Mei 1975.
Karangan Kwee Kek Beng di bawah ini telah disesuaikan ejaannya dan disunting seperlunya.
Banyak orang yang tertawain bahasa Jakarta dan kata kedengarannya lucu buat “telinga” (kita bilang kuping dan tidak maen telinga-telingaan). Buat “telinga” orang
memang asing, tapi sedap dan enak didengarnya oleh kuping orang kota, oleh kuping anak Jakarta tulen.
Kalau mau omongin perkara lucu, buat kuping kita orang yang omong pake “beliau” saban-saban bikin geli kita punya kaya bangsawan! Mentang-mentang Shakespeare kata dunia
ada sebagai sandiwara.
Kita di Jakarta kalu rambut panjang pergi ke tukang gunting rambut, bukan pada “pemangkas rambut”. Kita kata “perlu” ini dan itu, dan tidak nanti akan gunakan perkatahan
“butuh” yang dalam bahasa Jakarta ada perkatahan kotor dan cabul.
Ada orangyang kata bahasa Jakarta ada bahasa campuran, seolah-olah di dunia ada bahasa yang bukan campuran. Ada lagi orang yang kira bahasa Jakarta ada bahasa “miskin”.
Orang yang bicara begitu kaya orang yang otaknya sudah copot engselnya. Kalu ada bahasa yang kaya raya, bahasa ini ada bahasa Jakarta. Mau bukti? Pasang kuping biar lebar.
Buat “pukul” kita di Jakarta mempunyai kira-kira selosin macam ucapan yaitu: gaplok, gampleng, jitak, jotos, cepol, embat, timpa, kabi, teke, enjot,
hantem, toyot, gasak, kemplang, tonjok, ebat, labrak, tokia. Semuanya variasi buat “pukul”, sampe dapat “telor asin” (benjol) atau “keluar kecap”
(berdarah). Jitak orang punya jidat, toyor orang punya mulut, tempeleng orang punya pipi, ebat dengan rotan, tonjok orang punya cecongor (jangan lari ke
buku kamus, sebab di situ pasti engga ada).
Ada makanan yang enak, tapi enaknya pegimana? Ada yang guri, ada yang renyah, ada yang sedap, ada yang legit, dan ada yang nyes di lidah. Pendeknya,
ahli bahasa yang mana juga rasanya tidak mampu salin “guri” ataupun “legit” dalam salah satu bahasa laen. Tidak heran, lapis legit bikinan Jakarta tidak
ada yang bisa tiru legitnya. Nama kue-kue orang kota pun mana ada yang bisa tandingin. Ada kue bujang selimut, ada telor belanak, ada kue tai kucing,
ada pacar cina, ada dodol lolos, ada bubur caca, ada pepe panggang, ada cente manis. Kue talam saja ada rupa-rupa dari talam ijo sampai talam hebi,
talam tike sampai talam srikaya.
Perkara makanan, mana ada yang lebih guri dari gado-gado nyonya. Anak Jakarta mana yang tidak kenal sop biji cuki atau laksa penganten? Sop biji cuki ada semacam
“gambang kromong” di kalangan makanan, sebab Tionghoa bukan, Indonesia pun bukan. Kaya gambang kromong aja, mau dikata Tionghoa terlalu Indonesia, mau dikata
Indonesia terlalu Tionghoa.
Ucapan pun ada yang campuran baba-baba singke, atau singke-singke baba seperti boke, anak capcay, cia kongsi-kun bale, bujang keng, sudah hun-hun alias pikun
atau suf alias lengleng yan gbikin orang ingat pada satu lelucon Tionghoa. Abis tinghun (tunangan), terus ciehun (kawin), sudah begitu lihun (bercerai),
akhirnya hunhun (pikung). Artinya sudah tidak mampu lagi bedain mana bihun mana suhun, mana lumpia mana sunpia.
Jakarta da kota dagang, hingga ada juga wanita genit yang jual muka dan tidak kurang yang jual laga. Di kota hawa panas sekali tapi ada saja orang yang
mandi seperti capung cebok asal kena air saja. Juga ada orang yang baru melek mata sudah melek mulut atau pagi-pagi sudah ngoceh kaya labu enggak dikebonin.
Pun ada orang yan gcari barang dengan mulut, bukan dengan mata. Orang laen kalu gatel Cuma bisa mengaruk, tapi oran gkota kenal garuk dan ngegesges.
Tadi sudah dituturkan rupa-rupa perkatahan enak, istilah tidak enapun bermacam-macam. Ada lade, tawar ewer, nyelap, asin melekek, camprang, dan ada yan galot
sampi gigi mau otel.
Sopir Jakarta sering ke bengkel kalau mesin mobilnya waktu dihidupkan kaga tokcer. Apa itu tokcer, semua sopir kota paham artinya. Laen perkara kalu mau disalin
ke laen bahasa.
Bahasa Jakarta pun kaya dengan alliteraties, seperti malang melintang, serabat serobot, betat betot, celangak celinguk, gerapa gerepe, daham dehem, gajak gijik,
gragat grogot, kruwas kruwes, tunclap tunclep, klantar klintir, bangbang bengbeng, kebat kebit, mesam mesem, kejungkal kejungkel, ugal ugel, egat egot, grata
grutu, katak kitik, glandat glendot, kabak kobok, tungak tengok, towal towel, bengang bengong.
Bahasa Jakarta mempunyai ucapan yang menyatakan perasaan (emotieven) seperti sih dan dong. Misalnya, “dasar lu sih”, dan “jangan begitu dong”.
Selain itu ada kek, misalnya, “mampus kek situ”. Perkataan lagi sering digunakan sebagai emotieven, misalnya “bukan enak lagi” dan “bukan jauh lagi”.
Ungkapan dalam bahasa Jakarta seperti bawa tambur maksudnya adalah sedang hamil. “Eh Mamat, itu waktu lu belon ade aer-aernya”, artinya waktu itu benih
yang kelak menjadi si Mamat sama sekali belum dijelmakan yang Maha Kuasa.
|