TABE | LANGKAN | TAMPANG | PLAMPANG | NANGGAP | GEROBOG
    Juma'at, 10 Sep 2010
     
Adonan
SOHIBUL HIKAYAT
BEBULAN
PITUAH
SISIK MELIK
DEDENGKOT
PENGULEKAN
BODOR




Longok


 
Laris-Manis Sinetron Betawi

Sinetron berlatar Betawi masih diminati. Dari tahun ke tahun Betawi punya cerita terus menggelinjang meski naik-turun.

Sinetron merupakan program dengan tingkat kepemirsaan tinggi, baik dilihat dari jumlah pemirsa maupun waktu yang dilahap menonton sinetron. Salah satu cerita yang tak lekang dimakan waktu adalah sinetron bernuansa Betawi. Meskipun berkisah tentang romantika warga Betawi, pemirsanya ternyata tak hanya mereka yang berdomisili di Jakarta.

Ada analisis yang dilakukan beberapa pakar komunikasi dan bahasa, keunggulan sinetron berlatar Betawi terletak pada faktor bahasa. Bahasa Betawi yang juga merupakan rumpun bahasa Melayu, menjadi trend dan digunakan oleh sebagian besar remaja atau anak muda di seluruh Indonesia. Ketimbang bahasa etnik lain, kemampuan masyarakat Indonesia dalam memahami cerita yang disampaikan dengan bahasa Betawi jauh lebih besar. Bahkan ada pakar bahasa Indonesia yang mengemukan hasil pengamatannya bahwa bahasa Betawi menjadi ancaman bagi keberadaan Bahasa Indonesia. Artinya bahasa Betawi berpotensi besar merusak tatanan atau kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Menelusuri perjalanan sinetron Betawi mulai tahun 2001 hingga 2007, kita akan menemukan sejumlah judul sinetron yang fenomenal, seperti Si Doel Anak Sekolahan (Rano Karno), Kecil-Kecil Jadi Manten (alm. Sukma Ayu), Bajaj Bajuri (Mat Solar), Jadi Pocong (Mandra), atau yang belakangan ini berhasil meraih pemirsa terbanyak, Abu Nawas dari Betawi (Fachri & Adi Bing Slamet). Berdasarkan data kepemirsaan AGB Nielsen Media Research, rating tertinggi sinetron Betawi selama tujuh tahun terakhir ini diraih oleh Jadi Pocong pada tahun 2002 dengan rating 17.7 pada semua target pemirsa (di atas 5 tahun ke atas). Sebuah angka yang cukup besar untuk saat ini mengingat persaingan di antara stasiun TV semakin ketat.

Di tahun 2001, dua judul sinetron Betawi berhasil menduduki top program berdasarkan rating adalah Wah Cantiknya (Anjasmara) dan Tarzan Betawi (Mandra), yang masing-masing berhasil meraih rating sebesar 17.1 dan 16.2. Pada tahun berikutnya, Tarzan Betawi bertahan di dalam top 10 program dengan rating yang lebih tinggi, yaitu 17.6. Sinetron Betawi lainnya yang juga memimpin perolehan rating, Jadi Pocong (17.7), yang diikuti oleh Babe (Batak Betawi) (13.9), dan Kecil-Kecil Jadi Manten (13.1), turut meramaikan kompetisi di dalam top 10 program. Sebaliknya, performa Wah Cantiknya menurun menjadi 10.3. Wah Cantiknya 2, hanya meraih 9.4 poin rating.

Sepanjang 2003, TV nasional masih tetap menayangkan sinetron bertemakan Betawi. Ada judul-judul baru, tapi masih ada juga yang merupakan sekuel dari tahun sebelumnya. Tahun 2003 ini, Kecil-Kecil Jadi Manten meraih pemirsa terbanyak. Meskipun perolehan ratingnya tertinggi (12.2) di antara sinetron Betawi lainnya, namun lebih rendah dibandingkan rating tertinggi yang berhasil diraih oleh Jadi Pocong di tahun sebelumnya. Secara umum, angka rating makin kecil seiring kian banyaknya stasiun TV. Meski demikian, sinetron Betawi justru menjamur. Lebih 10 judul sinetron Betawi di tahun 2003 yang ditayangkan (Gengsi Gede-Gedean, Julia Anak Gedongan, Gedong Kosong, Si Doel 6, Kawin Gantung, Bajaj Bajuri, Juleha, O…Jekri, Juragan Lenong, Gado-Gado Betawi, Tarzan Betawi, Mandragade, dan lain-lain).

Seiring meningginya persaingan, perolehan rating tahun 2004 bergerak ke arah sebaliknya. Gengsi Gede-Gedean (10.1) yang berhasil menduduki urutan ke-4 dalam top 10 program di tahun 2004, ratingnya sedikit lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2003 saat hanya menduduki posisi ke-12 dengan rating 10.8. Di tahun ini pula, makin sedikit sinetron Betawi yang masuk top 10 program. Bahkan di tahun 2005, tak satupun sinetron Betawi berhasil menempati top 10 program, sejalan kian sedikitnya produksi sinetron Betawi.

Tahun 2006 sinetron Betawi bertahan dengan beberapa judul, seperti Juragan Jengkol, Toyib Minta Kawin, Bang Jagur, Samson Betawi, Kiamat Sudah Dekat, Emak Gue Jagoan, Si Entong, Mat Jiung, Mat Toing, dan lain-lain. Seperti halnya tahun 2005, perhatian pemirsa banyak tertuju pada sinetron drama bernuansa religi dan sinetron drama remaja.

Baru di tahun 2007, pada periode Januari-Juni, terlihat kembali keberadaan sinetron bernuansa Betawi dalam deretan top 10 program. Abu Nawas dari Betawi berhasil menembus top 10 program yang didominasi sinetron remaja. Selain Abu Nawas dari Betawi, ada pula beberapa judul baru, seperti KKN Kecil-Kecil Ngobyek, dan Bocah Si Pitung.

Di tahun 2001, Wah Cantiknya, yang memperoleh rating tertinggi di antara sinetron Betawi, juga ditonton oleh pemirsa di Bandung. Sementara sinetron Betawi dengan rating tertinggi di tahun 2002, Jadi Pocong, juga ditonton oleh pemirsa di Semarang. Sesuatu yang menarik terjadi di tahun 2004, saat Gengsi Gede-Gedean berhasil meraih perhatian banyak pemirsa dari Surabaya, Medan, Yogyakarta, Makassar, Palembang, dan Denpasar, selain tentunya Jakarta.

Sementara tahun 2007 ini, Abu Nawas dari Betawi ditonton oleh pemirsa di Jakarta, Medan dan Makassar. Pada akhirnya, dengan kemampuannya bertahan di tengah kerasnya persaingan pada beberapa tahun belakangan, akankah sinetron Betawi bisa diterima lebih luas oleh pemirsa di luar tempat asalnya, Jakarta? (Yahya Andi Saputra berdasarkan Nielsen Media Research)




Copyright ©2006 kampungbetawi.Com. AllRights Reserved. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. Dilarang meng-copy seluruh atau bagian dari isi situs ini tanpa seijin kampungbetawi.com