|
TOPENG NASIB
Cerpen Yahya Andi Saputra
Nyanyian mendayu itu membelah malam. Sayup-sayup sampai pula di telinga siapa-siapa yang masih terjaga di jarak jauh. Gemintang meruyup risau. Daun pohon berembun berayun pelahan. Jangkrik mengerik larut dalam kesyahduan. Jantuk, sosok berkedok hitam bermuka sembab dan dahi nongnong itu muncul di arena menimpali tabuhan iringan topeng dalam lagu Arang-arangan. Ia terus bergerak, menari, menyanyi.
“Sampe kapan saya bilang ada bunga-bunga disenur
Ada tetapang saya bilang ada saya embunin
Sampe kapan saya bilang si nona-nona tidur
Supaya gampang, supaya gampang saya bangunin”
Raut wajahnya yang melankolis membuat penonton iba kepadanya. Arus tarian dan nyanyian serta pedih rintih deritanya mengelus sanubari penonton. Mereka tak menghiraukan desir angin dan embun yang menusuk-nusuk tulang. Bahkan angin berpadu embun itu merajut lembaran-lembaran selimut tebal, sembilu dingin ngilu. Dengan karisma yang memancar, Jantuk terus menyanyi.
“Jadi bungbas saya bilang jadi-jadi bungbas
Ada rebung yang bagus, Bapa, abis saya tabras
Jadi Dorna saya bilang jadi-jadi Dorna
Ketampar mandor ditangkis kena”
Jantuk bergerak meliuk bak memeluk panggung pertunjukan. Dikibas-kibas luwes tubuhnya mengikuti gerak tari topeng Sencaki dan Minakjingga.
“Tu, Pa… Asal saya kata jadi Dorna, jadi Dorna, duh romannya pada asik rame-rame…”
“E! Ma’nya si Jantuk bukan cungcang bukan cingcong.”
“Dia lagi ngapain, Pa?”
“Dia lagi belajar menyanyi.”
“O… menyan pada nyanyi?”
“Iya, setanggi zikir.”
“Kembang rampe pada baca doa.”
“Uribang mauludan.”
“Na, kembang kelapa baca ratib.”
“Cempiring lagi tahlil.”
“Na, kapan kembang kelapa lagi pada baca … wailal! E, baca wailul.”
“Apa lu katah, Jantuk?”
“Saya mao katah wailal, kaget ampe saya katah wailul. Benerannya mah itu, wailul likulli humazatil lumazah, Pa. Ogah mikul ogah kuli maonya gagares ajah.”
“E… lu sembarangan!
Jantuk makin mempesona namun penuh ironi. Desah napas dari nyanyiannya menyayat hati lantaran ia harus bercerai dengan istri tersebab masalah sepele. Ikan peda, makanan kesukaannya, raib dicuri kucing. Istri dan anak tunggalnya pergi meninggalkannya. Mertuanya tak berhasil mendamaikan. Mereka sungguh menjadi jauh dalam galau rumah tangga yang rubuh. Jantuk menyanyi lagi sambil menari menimang hatinya yang gersang kerontang.
“Nanem sere di pegunungan
Ambil dulang jatoh di tanah
Waktu sore kebingunan
Saya pulang, pulang kemana”
*****
Samad menarik napas panjang dan menghembuskannya pelahan. Pertunjukan dua puluh tahun silam itu masih lengket melekat segar di kepalanya. Ia memerankan tokoh Jantuk dengan tari, nyanyi, dan dialog yang pendek-pendek sebagai salah satu keahliannya meramu kata-kata mencitrakan lagu kalimat khas sehingga nikmat didengar. Ketika itu ia memang panjak tak berbanding. Namanya menjadi jaminan akan kepuasan penyajian lakon-lakon topeng. Ia dielu-elukan penonton karena kepiawaiannya di panggung, khususnya memerankan tokoh Jantuk. Tapi yang paling istimewa yang diingatnya sehabis pertunjukan itu, keesokannya, ia menikahi Munaya, anak tunggal Nya’at, pimpinan perkumpulan Topeng Betawi Harum Jaya.
Masa-masa gemilang pernah diraihnya. Saking gemilang, perkumpulan Harum Jaya kualahan menerima panggilan dari berbagai kampung oleh berbagai kalangan. Bahkan perkumpulan-perkumpulan lain berebut ngebon Samad dalam pertunjukan-pertunjukannya.
Ia ingat pahit getir berjuang meraih kejayaan dan kegemilangan. Bersama Bodong, Kumpul, Kacrit, Limah, Kisam, dan Dalih, bahu-membahu mengusung topeng. Pertunjukan topeng murni atau asli menggelar pertunjukan di kolong langit di tempat terbuka sama sekali, tanpa properti apa pun kecuali sebuah colen, dipancang di pusat arena. Dalam pertunjukan di tanah ini, antara nayaga dengan arena menari dan berlakon tidak dibatasi dengan tirai atau dekor apa pun.
Samad merasakan benar bagaimana harus berjalan kaki ngamen keliling kampung bahkan sampai jauh ke pedalaman Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Kerawang. Sementara pendapatan uang saweran masih jauh dari sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan rutin harian. Ia tak kapok. Terus keluar masuk kampung, terus ngamen, terus menyanyi, terus menari, terus bergairah tanpa wajah menyerah.
Di tengah kejayaan, Samad pernah merasa sangat jenuh menjadi panjak topeng. Ingar-bingar kehidupan topeng pun ia tinggalkan. Bosan, katanya. Iming-iming mencari penghidupan di bidang lain tak henti mengilik nuraninya. Bersama seorang kawan ia mencoba terjun dalam bidang bisnis. Kawannya, Burhan, mengajak membuka pabrik batako. Bisnisnya tak berkembang karena tak mampu mengelola dan tak mempunyai tenaga pemasaran yang handal. Belum lagi anak buah yang susah diatur. Tambahan pula sering kena tipu tukang pasir. Pasir yang seharusnya satu truk tapi muatannya dikurangi sampai seperempatnya. Pabrik batako ditutup dan dijual.
“Pan udah saya kata, jangan sembarangan banting stir kalu belon paham duduk soalnya. Na… Abang tau, dah, pengabisannya,” kata Munaya mengomentari kebangkrutan usaha suaminya.
“Kaga ada orang nyang pengen kejeblos, Mun! Emang si Burhan juga biang keroknya. Kalu bukan temen udah gua sangsot, dah!”
“Jangan nyalain orang, Bang. Mala’an si Burhan saya denger gedean ruginya. Abang juga nyang kaga pikir panjang. Na, sekarang rencana Abang mao ngapain?”
“Gua mao ke rumah Dalih di Cisalak, mao ngikut manjak lagi. Mana tau ada tanggapan.”
Samad dan Dalih masih berhubungan darah dari garis kakek. Mereka termasuk generasi ketiga seniman topeng Betawi. Dalih lebih konsisten menekuni topeng, sementara Samad sering berimprovisasi dalam menjalani kehidupan. Namun untuk bakat dan kemampuan berkesenian, Samad jauh di atas Dalih dan semua seniman seangkatannya.
Samad kembali lagi ke dunia topeng. Walau jalan kembali tak semudah membalik telapak tangan. Samad menjadi sangat menyesal. Dulu sepeninggal Samad, perkumpulan Harum Jaya dari hari ke hari makin surut dan benar-benar kehilangan wibawa. Tak ada satu pun panjak mampu menggantikan kedudukannya. Pelahan tapi pasti Harum Jaya tenggelam. Mertuanya yang sudah berumur tak henti sakit-sakitan lalu meninggal tanpa sempat berwasiat yang dapat dijadikan pegangan. Padahal perkumpulan-perkumpulan lain, seperti Setia Warga atau Hidup Bersama, kian melambung bahkan panjak-panjaknya sempat menikmati berakting di layar lebar dan layar kaca.
“Nyesel mah, Mad, emang belakangan kapan. Kalu nyesel dateng duluan sama ajah ama burung gaok dikunyitin,” kata Dalih menanggapi keluh-kesah Samad.
“Lu kan tau anak-anak gua, Rogayah ama Rohimah. Tu bocah lagi perlu-perlunya ama duit. Rogayah udah kuliah di Depok. Adenya udah kelas dua Aliyah. Gua kaga mao dia pada berenti, biar kata perempuan juga.”
“La, iya, Mad! ‘Karang mah sekolah anak kudu dipikirin. Harus itu mah. Gua kalu bisa balik muda, pengen banget makan bangku sekolahan.”
“Tu dia, Lih, pala gua mao pecah mikirin biaya tu bocah. Sari-sari bini gua dagang kue, cuman bisa buat ongkos pulang pegi. Belon bayaran, terus duit ini, duit itu. Rupa-rupa ajah keperluannya. Rogayah pernah nyoba kerja di restoran Internasional di Kebayoran Baru, tapi pulangnya bareng celepuk. Daripada tu bocah ngapah-ngapah, gua suruh berenti. La, guah kaga bisa pules sebelon tu bocah nongol di pintu. Jadi bulan ini ada berapa tanggapan?” tanya Samad seraya menyeruput kopi.
“Alhamdulillah, Mad, bulan ini mah. Tuh, lu liat almenak nyang udah gua bunderin. Jumahat besok di Ciputat. Ari Minggunya di Bojong, terus di rumah Mandor Piyan di Rawa Denok. Entar pengabisan bulan di Kelapa Dua Wetan.”
Samad menarik napas. Sejurus matanya menerawang. Dia sadar sudah tidak muda lagi. Pita suaranya sudah mengecil dan geraknya sudah lamban. Asam urat sarat di persendiannya. Apatah pula dia masih bisa menyanyikan lagu Kapal Dateng, Mantun, Timang-timang, Serondang, Ngelodok, Eceng Gondok, Uler Kili, atau Oncom lele, yang dulu membuatnya sangat menikmati pertunjukan malam demi malam, kampung demi kampung? Dia juga sangat merasa tertekan karena harus berutang pinjam kepada beberapa kenalan. Rasanya dunia amat sempit dan begitu menjepit.
“Lu, siap ajah, Mad. Mao berangkat bareng apa dateng sendiri, terserah elu. Pokonya elu maen, jadi apahan ke. Gua mao bawa lakon Pendekar Kucing Item.”
“Jantuk siapa nyang pegang?”
“Sekarang, mah, Jantuk jarang dibawa. Orang demennya lakon. Lakon juga diringkesin diambil bodornya doang. Mala’an lagu nyang diminta kebanyakan dangdut. Gua juga heran ngapah orang pada begituh, pengen nanggap topeng tapi disuruh bawain dangdut.”
“Jaman, Lih, jaman. Lagian orang sekarang kaga kuat melotot semalem suntuk! Marih gua catet tu alamat. Gua dateng sendiri ajah, mudah-mudahan ‘tu Vespa masih kuat diajak pegi jauh.”
*****
Ada tiga bagian pada patut pertunjukan topeng Betawi. Pembukaan, berupa nyanyi dan tari, tontonan inti berupa lakon, dan lakon Bapa Jantuk. Ketiganya sebenarnya bisa berdiri sendiri dan saling tidak berhubungan. Pembukaan dimulai lepas waktu Isya dengan lagu instrumental yang disebut arang-arangan dan tetalu yang berfungsi untuk mengerahkan penonton sambil menunggu para pemain selesai berhias. Kemudian ditampilkan tari Topeng Kedok Tunggal diiringi lagu Ngelontang, Glenderan, Gojing, Kang Aji, atau Sedoci. Selanjutnya tari terpenting dalam topeng Betawi yakni Kembang Topeng dan Bodor, yang dibawakan oleh penari yang berpakaian serba indah dan gemerlapan berpasangan dengan penari bodor pria yang kostumnya sederhana tetapi lucu. Kedua pasangan yang serba kontras ini menari, menyanyi, dan melawak diiringi lagu Lipeng Gandes dan Ucing-ucingan atau Corik Jangkrik. Jika masih ada waktu ditampilkan tari Ronggeng Topeng diiringi lagu Gegot, Gaplek, Karantangan, dan lain-lain.
Menjelang tengah malam dimulailah tontonan inti yang menghabiskan hampir 2/3 waktu pertunjukan. Masa lampau ditampilkan tiga atau empat lakon pendek 30 menit, seperti Mandor Timpajali, Lurah Karsiah, Tongtolangnangka, Abu Nawas. Kini topeng Betawi hanya membawakan sebuah lakon panjang dalam pertunjukan semalam suntuk, seperti lakon Bapa Sarkawi, Jurjana, Mandor Dul Salam, Pendekar Kucing Item, Tuan Tanah Kedawung, dan sebagainya. Pukul 02.00 lakon selesai dan segera dilanjutkan dengan bagian penutup yaitu lakon Bapa Jantuk. Bagian penutup berakhir menjelang waktu subuh.
*****
Lama tak manjak, membuat badan Samad tak mau kompromi diajak bergerak apalagi harus bertahan sepanjang semalam. Tapi panjak-panjak muda yang main bersama malam itu amat mengagumi penampilannya. Mereka tak bisa membayangkan bagaimana ia tampil di panggung dua puluh tahun lalu. Wibawa, suara, tari, bahkan gerak silat masih memancarkan karisma yang begitu menawan.
“Dalih kebangetan, tega-teganya nyuruh gua jadi kepala rampok, emang gua masih kaya dulu apa?” umpat Samad dalam hati. Setelah menerima honor manjak, Samad menstarter Vespa tuanya dan berangkat pulang. Ingin benar dia merebahkan tubuh dan tidur.
Munaya tak ingin mengganggu istirahat suaminya. Tapi Acan dan Satirih, mitranya dalam beberapa usaha, sudah menunggu lebih dari dua jam.
“Mendingan bangunin dulu, dah, Po. Entar kan bisa molor lagi. Kalu kaga kedesek kaga bakalan saya gangguin Bang Samad,” kata Satirih meyakinkan.
“Akur, begitu, Po. Na, Bang Samad nyang nyuruh dateng pagi-pagi ni ari,” sambung Acan. Munaya kikuk serba salah. Sejurus kemudian Samad akhirnya dibangunkan. Masih agak limbung ia berjalan menemui tamunya. Di kepalanya yang berat berkelebatan problema kesehariannya. Ia sempat ragu akankah hutang kepada Acan dan Satirih dibayar hari ini?
Jakarta, Mei 2004.
2nd Fl., Puri Matari 2
Glossari
Jantuk: salah satu tokoh dalam topeng Betawi.
Nongnong: dahi yang menonjol ke depan.
Panjak: pemain
Ngebon: meminjam pemain untuk bermain dalam perkumpulan peminjam.
Colen: lampu minyak bersumbu satu atau tiga
Nayaga: pemusik (penabuh alat musik tradisional)
Burung gaok dikunyitin: perumpamaan yang artinya tidak mungkin.
Sangsot: pukulan dengan mengambil ancang-ancang atau dengan mengayunkan alat pemukul.
Bodor: tokoh laki-laki yang berperan lucu.
Ngamen: berkeliling mengadakan pertunjukan untuk mencari uang.
Saweran: uang hasil pemberian penonton kepada pemain.
Celepuk: burung hantu
Patut: pakem
Kebangetan: keterlaluan
Kaya: seperti
|