TABE | LANGKAN | TAMPANG | PLAMPANG | NANGGAP | GEROBOG
    Juma'at, 10 Sep 2010
     
Adonan
SOHIBUL HIKAYAT
BEBULAN
PITUAH
SISIK MELIK
DEDENGKOT
PENGULEKAN
BODOR




Longok


 
Dengan Hikayat Maręskalęk Abdullah al-Misri Suruh Daendels Omong Betawi Oleh JJ Rizal

“Tidakkah lu lihat gua seorang diri dapat memerintah orang berpuluh ribu laksa seperti kerbau, lu sekalian gua suruh pikul kayu batu daripada akal gua terlebih besar daripada lu segala orang yang bodoh.”

Abdullah bin Muhammad al-Misri adalah pengarang Melayu yang hidup dan karyanya tidak begitu dikenal. Namanya tidak disebut dalam sejarah sastra. Keterangan tentang hidupnya sangat sedikit. Tetapi, seperti jelas dari namanya, Abdullah al-Misri seorang peranakan Mesir. Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Abi Bakr Raja Badarkhan bin Syeikh Ibrahim al-Misri.

Menurut penulusuran pengamat sastra Melayu dari Prancis, Henri Chambert-Loir dan Monique Zaini-Lajoubert, Abdullah al-Misri lahir di paruh kedua abad XVIII ketika VOC masih beroperasi. Keluarganya menetap di Palembang. Disebut pula bahwa ia adalah seorang peranakan Kedah. Setelah beberapa waktu di kota kelahirannya, Abdullah al-Misri pindah, mungkin ke Batavia atau barangkali ke Pontianak; di situ rupanya Abdullah al-Misri bergaul dengan masyarakat Arab terkemuka di lingkungan istana, pertama-tama dengan Sultan Syarif Qasim bin Abdurrahman al-Qadri, yaitu Sayyid Abdurrahman yang mendirikan kota Pontianak pada tahun 1771. Syarif Qasim sendiri menjadi Sultan Pontianak dari tahun 1808 – 1819.

Abdullah pernah bermukim juga di Batavia dan menjadi murid saudara sepupunya sendiri, yakni seorang Syeikh yang terkenal bernama Abdurrahman bin Ahmad al-Misri. Abdurrahman al-Misri sendiri pernah menjadi saudagar di Palembang dan di Padang sebelum menetap di Petamburan. Menurut Henri Chambert-Loir, dari saudara sepupunya inilah Abdullah as-Misri banyak menimba ilmu politik sehingga ia menulis karangannya yang paling memukau, yakni Hikayat Maręskalęk. Judul Hikayat Maręskalęk itu sebetulnya bukan dari Abdullah al-Misri, judul itu baru diberikan kepada karya itu oleh para sarjana Belanda kemudian karena dalam naskah asli tidak ada.

Diketahui bahwa Hikayat Maręskalęk ditulis antara 1813 dan 1816. Sementara karya lain Abdullah al-Misri, seperti Hikayat Raja-Raja Siam dan Cerita Siam ditulis pada 1823 atau 1824. Karya terakhirnya adalah Hikayat Tanah Bali yang ditulis tahun 1824. Setelah tahun 1824, tiada keterangan lagi tentang Abdullah al-Misri. Hanya diketahui bahwa dia telah meninggal pada 1845 waktu van Hoecel menerbitkan Hikayat Tanah Bali.

Konsep politik Melayu

Dalam periodesasi agaknya karya Abdullah al-Misri itu ditulis pada waktu yang bersamaaan dengan karya-karya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (1796 – 1854). Karya tersebut juga merupakan contoh dari kesusastraan yang tidak begitu terkenal yang dihasilkan pada abad ke-19 di sebelah lain Selat Malaka. Namun, Monique Zaini-Lajoubert mengungkapkan karya-karya Abdullah al-Misri menarik dari beberapa segi. Karnyanya memungkinkan kita untuk dapat mengetahui arti orang-orang Barat di Hindia Belanda dalam pandangan seorang pengarang Melayu keturunan Arab dan barangkali juga seluruh masyarakat Melayu keturunan Arab. Karya Abdullah al-Misri merupakan juga contoh dari mentalitas salah seorang anggota masyarakat Melayu keturunan Arab.

Pandangan itu terutama dapat ditelusuri dalam Hikayat Maręskalęk. Agaknya ia menulis hikayat itu sebab ingin meninjau keadaan politik serta menganalisis pemerintahan kolonial. Ia tampak sangat memahami sekali keadaan politik di Jawa. Terlebih menarik adalah cara Abdullah al-Misri menyampaikan kritik politik itu. Ia memiliki gaya sendiri yang kadangkala jenaka. Hikayat Maręskalęk secara keseluruhan ditulis dalam bahasa Melayu biasa, yaitu bahasa Melayu tulisan yang umum dipakai di Jawa pada awal abad lalu. Akan tetapi jika, Daendels bercakap, selalu memakai logat Betawi. Bahasa campuran yang mengandung banyak ciri Betawi ini banyak ditemui pada sejumlah naskah Melayu di abad lalu, tetapi dalam Hikayat Maręskalęk agak istimewa karena di dalamnya bahasa Betawi diselipkan dengan sengaja ke dalam bahasa Melayu Umum.

Hikayat Maręskalęk mengambil latar sejarah zaman Prancis (1808-1811) di Hindia Belanda yang dipimpin H.W. Daendels untuk bahan didaktik yang ditujukan kepada pemimpin-pemimpin pribumi. Abdullah bermaksud menyadarkan pemimpin-pemimpin itu akan keadaan mereka sebagai orang-orang yang diperintah oleh orang-orang kulit putih supaya mereka bereaksi.

Abdullah melukiskan pemimpin yang “baik” dan “tidak baik”. Dia menunjukkan kelemahan-kelemahan mereka yang disarankan untuk diperbaiki dengan perantaraan contoh-contoh yang disebutkannya. Tokoh-tokoh Hikayat Maręskalęk, terutama sekali Maręskalęk bukanlah pelaku-pelaku yang berdiri sendiri, tetapi betul-betul “alat” Abdullah untuk menyampaikan pendidikan politik. Itulah sebabnya Henri Chambert-Loir, menyatakan Hikayat Maręskalęk bukan riwayat Daendels, melainkan sebuah buku pedoman pemerintahan atau boleh dikatakan sebuah uraian tentang ilmu politik.

Analisis politik dalam Hikayat Maręskalęk ditulis dengan kritis. Beberapa aspek pemerintahan Daendels diajukan sebagai teladan, sedangkan aspek ketidakadilan pemerintah kolonial dikecam dengan keras. Misalnya, ia menggarisbawahi tugas penting pemimpin yang harus membangun negeri, menambah jumlah penduduk, memperbanyak jalan-jalan, perkebunan dan yang paling sering ditonjolkannya adalah “meramaikan negeri”.

“Adakah lu sekalian ambil mengerti yang gua bersungguh-sungguh hati memperbaiki tanah Jawa, dan pagar kampung rumah segala orang gua mau lihat dengan rupa baik dan kerja jalan besar dari magrib boleh berjalan ke masyrik, dan gua suruh ramaikan pasar dan suruh perbanyak tanam padi dan kopi dan segala rupa dan disuruh ramaikan segala desa negeri sekalian, adalah kami ambil mengerti yang gua punya mau di dalam itu pekerjaan?”

Tetapi pemimpin-pemimpin pribumi kurang berusaha untuk meramaikan negeri agar kaya dengan mengolah hasil bumi, malah mereka sangat boros. Katanya, “sesungguhnya raja-raja kulit hitam di bawah angin ini tiada tahu mereka itu mengambil harta dunia di dalam tanah melainkan yang tahunya itu, mengambi harta orang tua-tua yang sudah ditaro di dalam peti.”

Seorang pemimpin haruslah seorang yang bekerja keras, jangan leha-leha saja, menghabiskan waktu dengan hiburan, katanya: “Dimana Pangeran Nata Negara dan Raden Puspa Negara dan Tumenggung Raksa Negara, tiadalah gua lihat rupanya. Sebab pun gua kasih nama yang mulia jadikan orang besar karena gua mau suruh jaga orang yang mengangkat kayu dan batu membaiki negeri, maka bukannya gua kasih nama yang mulia dibesarkan derajatnya itu disuruh bersenang dirinya di dalam rumah.”

Orang mati dicabul jin

Abdullah al-Misri pun menekankan bahwa seorang pemimpin harus tertib dalam adminstrasi. Pencatatan sipil dan kadaster serta registrasi dan pembayaran pajak sangat bermanfaat. Melalui catatan lengkap itulah Daendels dapat melaporkan seluruh keadaan Pulau Jawa kepada penggantinya, yaitu Janssens. Demikianlah juga penyelewengan menjadai kentara.

“Maka heran Jannsens melihat peruntungan Kumpeni terlalu banyak. Maka yang datang ke tanah Welanda itu setengah juga, banyak hilang di jalan tiada sampai. Maka mata-mata itu menipu bandar, dan bandar itu menipu jurutulis kantor, dan jurutulis itu menipu fetor, maka fetor itu menipu edler, maka edler itu menipu jendral, maka jendral itu banyak lagi tipunya dengan tuannya Raja Welanda itu.”

Menurut Abdullah kwalitas pemimpin itu ada pada kemampuan pribadinya, bukan karena mereka keturunan raja. Artinya, Abdullah menolak model kepemimpinan Jawa yang saat itu kuat berpengaruh. Ia mengutip petuah Raja Parsi, Bahram Gur, kepada seorang raja lain: “…tanya olehmu pada segala orang…Maka barang yang dikata oleh orang banyak itulah kata yang benar, engkau amalkan kata mereka itu”.

Berlatar belakang itu Maręskalęk punya sikap yang mengejutkan dalam caranya menyapa dan memperlakukan bangsawan dan priyayi Jawa. Keras dan kasar serta sangat mengejek. Umpamanya dia menggelari pangeran kepada “seorang gunung” dan menganugrahinya alat kebesaran seperti seorang bangsawan. Ketika anak Sultan Cirebon, Pangeran Surya Kusuma, mempertanyakan kebijakan itu karena menurutnya seorang bawahan tidak dapat memakai gelar itu karena ia bukan anak priyayi. Mendengar hal itu, Maręskalęk berdiri tiba-tiba, merentak, membuang topinya ke atas meja dan menjawab,“Lu terlalu bodoh orang tidur mau mengajar sama gua orang yang jaga lagi cerdik”.

Tak kurang mengejutkan adalah caranya menghadapi gugatan kaum kiayi dan santri. “Ada kepada suatu hari datang segala kiahi dan santri mengadap Duli telapakan Jenderal Maręskalęk, berdatang sembah, “Aduh Tuan Besar, ada kiahi lurah menyuruh gua sekalian memotong Gunung Megamendung, kerja jalan besar serta dengan orang banyak” untuk pembukaan Grote Postweg. Padahal tidak pernah ada yang menyuruh mereka bekerja karena kewajiban mereka adalah bersembahyang, berpuasa, dan mengaji. Kepada Maręskalęk mereka meminta supaya “Tuan Besar ada suka memerdehekakan gua sekalian orang yang kerja sembahyang dan puasa dan mengaji ini sekalian daripada memikul pekerjaan negeri”. Maręskalęk “maka tersenyum masam manis” dan menjawab dengan logika yang mutlak bahwa “Adalah lu sekalian orang Jawa ini sudah masuk Islam kepada agama Nabi Muhammad anak Abdullah, maka kepada agama Muhammad itu wajib sembahyang dan puasa, dan jika gua lepaskan segala orang yang sembahyang itu, niscaya seorang pun tiada gua dapat menyuruh mengangkat pekerjaan negeri karena sekalian Islam wajib sembahyang dan puasa. Dan lagi pekerjaan jalan itu bukan gua sendiri yang mengambil faedahnya melainkan orang banyak juga.” Sambil mengejek mereka, Maręskalęk memerintahkan, “pergilah lu sekalian santri dan kiahi sembahyang tahlil mengaji kaki gunung itu, boleh setan dewa mambang itu lari, banyak orang yang sudah mati dicabul oleh jin dewa mambang itu, mudah-mudahan sembahyang tahlil mengaji lu sekalian santri itu boleh jin dewa mambang itu lari.” Jenderal Kopi

Selain memperlihatkan kepiawaian orang kulit putih memerintah, Abdullah juga memperlihatkan ketidakadilan mereka. Bahkan dalam Hikayat Maręskalęk yang ditulis ulang Abdullah pada 1818 – 1819 atas pesanan seorang Petapahan yang mengasingkan diri ke Jawa, ia menambahkan pada bagian awal hikayat yang mengungkapkan niatnya bahwa selain “menyatakan bijaksana orang kulit putih memerintah negeri, ditambah satu kalimat yang negatif bagi orang-orang kulit putih, yakni: “menyatakan arif bijaksana tipu hikmat orang kulit putih mengatur pemerintah negeri dan mencari peruntungan yakni merampas dengan manis”.

Abdullah menggugat orang putih yang memerah orang pribumi “dengan beberapa jalan muslihat…seperti orang yang mengeluarkan santan kelapa yang telah diparut maka tinggal lagi hampasnya tiada bersantan lagi, baharu ia berhenti memerah.”

Tiap gubernur jenderal yang baru, dari Alting ke Weise dan kemudian Daendels hanya menambah pajak atas pajak. Masing-masing mereka itu bukan saja mempertahankan sistem yang ada melainkan memperberatnya. “Maka sesungguhnya tiap-tiap berganti-ganti orang besar yang memegang negeri itu maka bertambah-tambah kesakitan hamba Allah.”

Abdullah menggambarkan Maręskalęk sebagai model pemimpin yang sangat ambisius. Maręskalęk tidak puas hanya memerintah Pulau Jawa saja, “maka daripada gua orang bodoh lagi celaka datang memerintah Tanah Jawa yang seperti tempurung kelapa”. Kesombongan Maręskalęk itu juga diperlihatkan Abdullah ketika kepada seorang priyayi di Jawa Timur, ia mengatakan, “Tidakkah lu lihat gua seorang diri dapat memerintah orang berpuluh ribu laksa seperti kerbau, lu sekalian gua suruh pikul kayu batu daripada akal gua terlebih besar daripada lu segala orang yang bodoh.”

Tetapi pemimpin yang sombong bakal ketulah. Sebagai akibat kesombongan itu, Maręskalęk harus tunduk juga di depan Sunan Kalijaga. Cerita ini dikarang Abdullah tidak bisa disangkal dengan maksud ironis.

Maręskalęk memberikan gelar “Jenderal” kepada sejumlah anak buahnya (Jenderal Kopi, Jenderal Kayu, Jenderal Padi, dll). Hal ini sangat mengherankan para menteri dan priyayi yang mengira bahwa hanya Maręskalęk yang Jenderal. Dia menerangkan bahwa dia bukan Jenderal, bahwa dia adalah gila kalau mau dipanggil demikian karena Jenderal adalah “budak yang memikul pekerjaan negeri”.

Para menteri dan priyayi itu kemudian mengusulkan memanggilnya Susunan Junjungan Alam Dunia, “serta tersenyum Maręskalęk suka hatinya dirinya bernama Susuhunan,” tetapi ia minta dipanggil “Susuhunan Mangkurat mangkubuwana”.

Maka pada malam harinya Maręskalęk bermimpi melihat Sunan Kalijaga yang memegang tongkat besi yang berat sekali. Susuhunan Kalijaga tidak membenarkannya minta dipanggil Susuhunan karena ia bukan wali. Maręskalęk tiba-tiba terbangun “dengan ketakutan, pucat muka, layu badannya”. Ia ke paseban agung memanggil segala priyayi menteri agar memberikan keterangan tentang Susuhunan Kalijaga. dan segara minta diantarkan ke makam kesembilan wali, termasuk Susuhunan Kalijaga, untuk bersujud dan mengakui bahwa hanya mereka saja yang berhak memakai gelar itu.

Setelah kembali dari ziarah ke kuburan para wali, pada suatu malam Maręskalęk melihat lagi dalam mimpinya Susuhunan Kalijaga yang berkata, “Hai Maręskalęk, burung yang terbang sangat tinggi itu ke bawah juga akhirnya dan matahari yang sangat tinggi itu turun juga nanti.”

Walau sampai disini Hikayat Maręskalęk belum berakhir karena Abdullah al-Misri masih menceritakan pemerintahan Gubernur Jenderal Janssens dan “zaman Inggris” serta cerita orang Cina di Surabaya, tetapi pendidikan politik yang ingin disampaikan telah berkurang dalam bagain-bagian akhir itu.

Demikianlah, Abdullah al-Misri adalah contoh bahwa orang Arab sangat memperdulikan politik di Hindia Belanda. Pengetahuan dan perhatiannya terhadap politik sangat menonjol, malah hikayatnya boleh dikatakan salah satu analisis politik yang sangat langka yang ditulis di Indonesia pada awal abad lalu. Satu sifat yang bertolak belakang sekali dengan sifat orang Arab yang selama ini telah menjadi accepted history bahwa mereka pada umumnya sama sekali tidak punya kritik pada pemerintahan orang Eropa, mereka selalu memihak pada orang Eropa atau netral saja, sama sekali tidak memperdulikan keadaan politik di Hindia Belanda (Rizal).


Copyright ©2006 kampungbetawi.Com. AllRights Reserved. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. Dilarang meng-copy seluruh atau bagian dari isi situs ini tanpa seijin kampungbetawi.com