MELONGOK PETA SENI BUDAYA BETAWI

Tulisan ini janganlah dijadikan sebagai ’barang jadi’ yang siap pakai. Ia tak ubahnya angan-angan atau bangunan istana pasir di pantai. Untuk mencegah ketersesatan, maka menjadi patut bagi siapa pun untuk tak menjadikannya resep ampuh memilih arah. Lagian, saya ngeles atau mengghindar jauh-jauh dari pribase kata Betawi, ”ngajarin bebek berenang”, yang maknanya pekerjaan sia-sia atawa orang bodoh belagu pinter. Saya cuman kepengen ngucap sebagaimana pribase kata ”bahasa nggak beli”, artinye bertegur sapa dan silaturrahim kudu dikencengin. Amma ba’du.

I

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bertekad ingin menjadikan Jakarta sebagai kota budaya bertaraf internasional. Sebagai putra lokal, sejak dicangkan keinginan itu, sayalah yang paling dulu mendukungnya. Namnun, bagi saya, pengertian Jakarta sebagai kota budaya tidaklah dapat dipersempit artinya sebagai kota dengan fasilitas kebudyaan dan kesenian. Kami berpengharapan Jakarta sebagai sebuah kota budaya dimana penduduknya menjunjung nilai-nilai agama, moral, dan etika.

Sebuah kota tak dengan sendirinya dapat disebut kota budaya karena adanya fasilitas berkesenian megah dan modern. Kota budaya harus juga mengacu pada perilaku penduduk yang berbudaya dalam arti menjunjung tinggi nilai-nilai agama, moral, dan etika.

Angka kriminalitas yang kian meningkat menjadi indikasi lemahnya komitmen terhadap nilai-nilai agama, moral, dan etika. Kejahatan dengan kekerasan masih terjadi tiap hari yang mengambil korban jiwa. Penggunaan obat-obat terlarang masih berlangsung. Perjudian gelap terjadi di sejumlah tempat. Praktek prostitusi, pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur, perilaku seks menyimpang menjadi berita yang dihidangkan setiap saat oleh media.

Masyarakat yang sadar agama, moral, dan etika bereaksi dengan menyiksa bahkan membakar hidup-hidup pelaku kejahatan, yang sesungguhnya masih dapat dipersoalkan apakah reaksi semacam ini dari segi agama, moral, dan etika dapat dibenarkan? Kecuali keluarga pelaku yang ditewaskan, boleh dikatakan mayoritas masyarakat terkesan dapat memahami bentuk reaksi semacam itu. Maka ditelanjangin dan dipukulin ampe setengah mati bahkan hukum bakar hidup-hidup terhadap pelaku kejahatan yang tertangkap tangan seolah-olah dianggap sebagai “hukum materiil”. Padahal persoalannya tentu tak demikian. Saya amat menyadari betapa pentingnya menegakkan hukum.

Untuk pencegahan penyakit masyarakat perlu kerjasama yang serasi antara lembaga pendidikan, majelis agama, LSM, aparat penegak hukum dan kepolisian, serta masyarakat sendiri. Betapa pun benarnya dari segi motivasi, tetapi dari segi hukum main hakim sendiri sulit untuk dibenarkan.

Membangun Jakarta sebagai kota budaya berarti menegakkan hukum secara tegas dan konsekuen. Jakarta bagian yang tak terpisahkan dari nation state Indonesia. Jakarta harus menjadi contoh penegakkan hukum. Karena itu harus ditumbuhkan kesadaran bahwa Indonesia sebagai nation state itu berarti bahwa kita semua hidup dalam aturan. Aturan harus ditaati oleh seluruh warga tanpa kecuali. Tak boleh ada sekelompok warga, atas nama apa pun, yang hidup di luar aturan yang telah ditetapkan dan diberlakukan di persada Indonesia.

Jakarta adalah kota yang dihuni oleh penduduk dari pelbagai latar belakang etnis dan agama. Jakarta sejatinya sebuah kota majemuk sejak zaman dahulu kala. Hendaknya dapat dikembangkan kerukunan hidup antar warga dengan saling menghormati kepercayaan dan keyakinan masing-masing. Dan menghormati keberadaan rumah-rumah peribadatan.

Itulah dalam garis besarnya pengertian kota budaya dalam arti sistem nilai. Dalam pengertian phisikal Jakarta sebagai kota budaya adalah Jakarta yang tertata indah dan dapat mengemban multi fungsi sebagai Jakarta Megapolitan. Pembangunan daerah pesisir harus lebih banyak mendapat perhatian. Karena pesisir secara tradisional adalah landmark dan kode mengenali satu kawasan. Para pelayar mengidentifikasi kota yang didekatinya dari arah laut adalah dengan mengenali pesisirnya. Keadaan phisik hunian di daerah pesisir memerlukan perhatian sungguh-sungguh seperti daerah Kamal Muara dan Marunda.

II

Pada dasarnya kebudayaan Betawi adalah kebudayaan Melayu. Dari kawasan Tengah hingga pesisir terasa kuat pengaruh Melayu, semakin ke pinggir pengaruh Sundalah yang menonjol. Ada terdapat perbedaan dialek antara Tengah dan pinggir. Lidah penuturan Melayu Tengah yang dipentaskan dalam sinetron Bajaj Bajuri merupakan perubahan yang terjadi setelah tahun 1940. Pada tahun-tahun sebelumnya lidah penuturan Melayu Tengah tak berbeda dengan Melayu Riau dan Semenanjung seperti dapat disaksikan pada film-film yang diproduksi pada tahun 1925-1940. Sisa-sisa lidah penuturan asli masih dapat ditemukan di daerah Tanah Abang.

Kebangkitan  kembali kebudayaan Melayu Betawi melalui perjuangan sastrawan Firman Muntaco yang membuat tulisan serial dengan gaya Betawi di surat khabar mingguan Berita Minggu sejak tahun 1957. Sebelumnya sastrawan S.M. Ardan menerbitkan kumpulan cerita pendeknya, Terang Bulan terang Di Kali, bergaya Betawi. Tetapi Firman Muntaco lebih fenomenal.

Sampai tahun 1970 pemerintah kota Jakarta dalam acara-acara resminya hanya menampilkan kesenian Sunda. Kesian Melayu Betawi tak mendapat tempat. Meski pun sejak tahun 1958 ada usaha membangkitkan pergerakan masyarakat Betawi, tetapi usaha ini tak banyak membawa hasil.

Gubernur Ali Sadikin menggebrak Jakarta dengan mengeluarkan kebijakan memihak kesenian Betawi. Beberapa kesenian Betawi dimunculkan dan dihidupkan kembali. Berdirinya Taman Ismail Marzuki sebagai arena pertunjukkan kesenian sejak tahun 1969 dimanfaatkan seniman/sastrawan S.M. Ardan, Ali Shahab, D Djajakusuma, Soemantri Sotrosoewondo, untuk membangkitkan  teater  tradisional lenong. Usaha ini menampakkan hasil yang sangat di luar dugaan. Ratusan penonton memenuhi TIM menyaksikan pertunjukkan lenong.

Kelemahan tama empat serangkai itu, terlampau fokus pada lenong. Perekrutan seniman yang hantam kromo, tanpa membedakan latar belakangna, pada gilirannya merugikan kesenian lain, seperti topeng. Saking terkenalnya lenong, maka publik mengenal semua jenis pementasan teater tradisional Betawi dianggapnya lenong. Padahal yang mereka tonton adalah ementasan topeng Betawi. Itulah yang merugikan topeng.

III

Wilayah geografi atau peta bumi adalah daerah tempat berdiam suatu suku bangsa. Tempat berdiam itu berbatas dengan tempat berdiam suku bangsa lain yang biasanya dibedakan dengan bahasa pergaulan yang dipergunakannya. Wilayah geografi Betawi tidak sama dengan wilayah geografi Jakarta. Wilayah geografi Jakarta  adalah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Dimanakah letak wilayah tempat berdiam orang Betawi? Orang Betawi berdiam di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Geografinya terletak di antara batas-batas sebagai berikut:

1. Sebelah barat sungai Cisadane

2. Sebelah timur sungai Citarum[1]

3. Sebelah selatan kaki gunung Salak

4. Sebelah utara laut Jawa.

Wilayah tempat orang Betawi berdiam itu meliputi daerah Provinsi DKI Jakarta, daerahPprovinsi Banten, dan daerah Provinsi Jawa Barat. Perinciannya sebagai berikut.

1. Propinsi DKI Jakarta

2. Kabupaten Tangerang

3. Kotamadya Tangerang

4. Kabupaten Bekasi

5. Kotamadya Bekasi

6. Kotamadya  Depok

7. Sebagian daerah kabupaten Bogor.

Secara administratif orang Betawi ada yang menjadi penduduk  DKI Jakarta, penduduk kabupaten Tangerang, penduduk kotamadya Tangerang, penduduk kabupaten Bekasi, penduduk kotamadya Bekasi, penduduk kotamadya Depok, dan penduduk kabupaten Bogor.

Wilayah kebudayaan Betawi meliputi daerah dimana terdapat kelompok orang Betawi berdiam. Di wilayah tempatnya berdiam itu  mereka bercakap-cakap dalam bahasa Betawi. Kesenian Betawi menjadi salah satu sarana hiburannya.

Wilayah kebudayaan Betawi meliputi:

1. Sub wilayah  kebudayaan Betawi Pesisir  (darat dan pulo).

a.       Daerah darat  yaitu Dadap, Muara Baru, Sunda Kalapa, Kampung Japad, Kampung Bandan, Ancol, Tanjung Priuk, Marunda

b.      Daerah pulo yaitu Kabupaten Kepulauan Seribu.

2. Sub wilayah kebudayaan Betawi Tengah/Kota meliputi daerah yang di jaman Kolonial disebut Weltevreden, dan Meester Cornelis yaitu: Glodok, Krukut, Jembatan Lima, Tambora, Tanah Sereal, Petojo, Gambir, Sawah Besar, Pecenongan, Taman  Sari, Pasar Baru, Kebon Siri, Kampung Lima, Tanah Abang, Kwitang, Senen Gunung Sari, Kramat, Salemba, Cikini, Gondangdia, Matraman, Pal Meriam, Jatinegara.

3. Sub wilayah kebudayaan Betawi Pinggir adalah daerah-daerap propinsi DKI Jakarta yang tidak termasuk Betawi Pesisir atau Betawi Tengah.

4. Sub wilayah kebudayaan Betawi Ora/Udik terdapat di  kabupaten Tangerang, kotamadya Tengerang, kabupaten Bekasi, kotamadya Bekasi, kotamadya Depok, sebagian kabupaten Bogor.

Kesenian Betawi hidup dan berkembang di wilayah budaya Betawi.

IV

Data tahun 1986[2], terdapat tak kurang dari 579 sanggar atau organisasi kesenian Betawi dari berbagai jenis. Sanggar kesenian kasidah memang paling dominan, diikuti gambang kromong dan lenong. Namun pembangunan kota yang tak terkendali, pada saatnya memberangus penduduk lokal. Tatanan kemasyarakatan pun beranakan. Masyarakat Betawi berhamburan ke segala arah wilayah Bodetabek, seraya tak hirau dengan tatanan tradisi yang selama hidupnya dijadikan sandaran. Mulailah sanggar kesenian Betawi berguguran satu demi satu. Akhirnya pada medio 2000-an sanggar seni Betawi yang eksis dan terdaftar tak kurang dari 80-an grup.

Saat ini, kondisi seni budaya Betawi saya bagi dalam empat kelompok. Yaitu kelompok punah, kelompok menghawatirkan, kelompok bertahan, dan kelompok maju. Kelompok punah, misalnya, Buleng, Ubrug, Tari Uncul, Sampyong, Ujungan, Wayang Senggol, Wayang Sumedar, dll. Kelompok menghawatirkan, seperti Rancag, Jantuk, Blantek, Rebana Biang, Pobin/Lagu Dalem, Bengkong, Dukun Beranak, jampe dan pengobatan, Sohibul Hikayat, beberapa kuliner, Kosa Kata. Kelompok bertahan, antara lain Sambrah, Maen Pukulan, Lenong, Topeng, Ondel-ondel, Tanjidor, Wayang Kulit, Adat Siklus Hidup (nujubulan, pindah rumah, sunat, dll). Kelompok maju, seperti Tari, Lawak, Tata Busana, beberapa kuliner.

Secara umum masyarakat Betawi masih sangat mencintai keseniannya. Di berbagai kampung masih eksis kesenian yang segaja dikelola oleh organsasi kesenian atau sanggar. Bahkan hasrat mendirikan organisasi kesenian kian masip seiring maraknya bermunculan ormas Betawi. Ormas Forum Komunikasi Anak Betawi (FORKABI), misalnya, pada tiap cabang mendirikan sanggar kesenian, mulai tari, teater, lenong, dan sebagainya. Begitu pula ormas lainnya.

Sanggar yang ada dapat pula saya klasifikasikan sebagai :

a.       Sanggar tradisional, adalah snggar yang dikelola secara tradisional dan turun temurun. Belum memiliki AD/ART, tak melakukan latihan secara rutin, tak ada pembukuan, tak dapat melakukan peremajaan.

b.      Sanggar modern, merupakan sanggar yang dikelola dengan cara modern.

c.       Sanggar abal-abal, adalah sanggar pelengkap penderita yang didirikan oleh ormas Betawi.

V

Dari Data Statistik Propinsi DKI Jakarta (Data dari Hasil Sensus Penduduk Tahun 2000 oleh Badan Pusat Statistik ), jumlah penduduk Jakarta sebesar  8.347.083. Komposisi penduduk menurut etnik, adalah:

Jawa                            :  2.927.340

Betawi                         :  2.301.587

Sunda, Priangan          :  1.271.531

Cina                             :     460.002

Batak, Tapanuli           :     300.562

Minangkabau              :     264.639

Melayu                        :       83.172

Melayu – Palembang   :       51.305

Lainnya                       :     664.569

Walaupun etnik Betawi hanya 22 persen dari seluruh penduduk Jakarta, namun Pemprov DKI memiliki kewajiban melestarikan seni budaya Betawi. Hal itu sesuai dengan Undang-Undang No. 29 tahun 2007, tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada Bab V (Kewenangan dan Urusan Pemerintah Provinsi), Pasal 26 ayat 6, dikatakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melestarikan dan mengembangkan budaya masyarakat Betawi serta melindungi berbagai budaya masyarakat daerah lain yang ada di daerah Provinsi DKI Jakarta. Atas dasar undang-undang itu, tuntutan kami sebenanya sangat wajar. Apalagi konsepnya adalah menjadikan Jakarta sebagai kota budaya bertaraf internasional.

Wallahu ’alam bissawab.


Sebenarnya batas sebelah Timur masih meluas sampai daerah Pulo Kelapa, Lemah Abang dan Batu Jaya, Kecamatan Pakis, Karawang.  Di Pulo Kelapa terdapat situs Pesantren Quro dan Batu Jaya terkenal dengan kompleks percadian Batu Jaya.

Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Peta Seni Budaya Betawi, Jakarta, 1986.

Leave a Comment