Lagu Gunung di Kali Jodo

Oleh David Kwa

Kali Jodo sekarang ini dikenal sebagai salah satu daerah lampu merah yang cukup bekend di Jakarta. Selain prostitusi, daerah ini juga merupakan salah satu tempat perjudian yang “legal.” Namun selain kesan-kesan negatif yang sekarang tampak di Kali Jodo, di tempat ini dahulunya ternyata pernah berlangsung suatu kegiatan budaya dari suatu subetnik Hakka dari etnis Tionghoa di Indonesia.

Menurut apa yang penulis dengar, pada tahun 1950-an hingga tahun 1960-an Kali Jodo katanya masih sepi dan nyaman. Masih diteduhi oleh pepohonan yang rimbun dan belum banyak rumah. Kalinya pun masih jernih, tida banyak sampah dan bau seperti sekarang. Pada sore-sore hari banyak orang Tionghoa totok terutama dari suku Hakka (Kheh) datang untuk bersantai di tempat itu. Untuk menambah keceriaan mereka bernyanyi lagu-lagu Tionghoa dalam dialek Hakka. Karena yang datang tak hanya laki-laki, tetapi juga perempuan, maka para ako dan aci ini lalu saling bersahut-sahutan dari tepi kali yang satu ke tepi kali di seberangnya. Lagu-lagu yang mereka lantunkan itu berisi syair-syair atau pantun-pantun tentang keindahan alam dan juga lagu-lagu cinta. Banyak dari mereka yang masih lajang menemukan jodoh mereka di tempat ini. Kata orang konon dari situlah lahirnya nama “Kali Jodo”, kali tempat banyak orang menemukan jodoh mereka.

Subetnik Hakka di Jakarta dan Jawa Barat merupakan kedua terbesar setelah subetnik Hokkian. Mereka umumnya baru datang dalam gelombang besar setelah pertengahan abad ke-19, setelah pemberontakan Taiping, jauh lebih belakangan ketimbang subetnik Hokkian yang sudah datang berabad-abad sebelumnya.

Seperti halnya tempat tinggal orang-orang Sunda di dataran tinggi Priangan yang bergunung-gunung, kampung halaman orang-orang Hakka ini juga berupa daerah pegunungan yang indah di wilayah Moiyan (Meixian) di pedalaman propinsi Kwongtung (Guangdong). Dibandingkan iklan rokok Jarum Coklat di televisi tentang indahnya panorama Bumi Parahyangan dengan lagu-lagunya yang sentimental, maka seperti itulah kira-kira eloknya alam pegunungan di Moiyan.

Masyarakat Hakka di Moiyan adalah masyarakat agraris. Mata pencaharian mereka pada umumnya adalah bertani. Secara komunal mereka tinggal bersama-sama di suatu rumah sangat besar berbentuk bulat. Di dalamnya ada banyak keluarga, sehingga keadaannya mirip dengan rumah panjang orang Dayak di Kalimantan. Di waktu senggang, terutama sesudah panen, mereka berkumpul beramai-ramai untuk bernyanyi dan menari bersama.

Lagu-lagu khas Hakka yang mereka nyanyikan itu disebut san-ko (‘lagu gunung’), mungkin karena dinyanyikan di wilayah pegunungan. Atau barangkali sebab lagu-lagu tersebut menggambarkan keindahan alam pegunungan di kampung halaman mereka? Di alam terbuka yang luas para akeu (artinya ‘jajaka’ dalam dialek Hakka/Kheh) dan amoi (‘mojang’ dalam dialek Hakka) saling bersahut-sahutan antara mereka dengan syair-syair bernuansa keindahan alam dan asmara. Dalam event-event seperti ini banyak yang kemudian menemukan jodoh dan akhirnya berlanjut ke jenjang perkawinan.

Kebiasaan berkumpul dan bernyanyi bersama-sama seperti ini ternyata juga terbawa ke Indonesia. Ini dimungkinkan oleh membanjirnya imigran Tionghoa laki-laki dan perempuan yang datang ke Indonesia sehubungan dengan keadaan di dalam negeri yang tidak aman akibat perang saudara di Tiongkok. Banyak di antara para imigran itu berasal dari subetnik Hakka. Bersama orang-orang Tionghoa totok ini terbawa pula berbagai adat-istiadat dan kebiasaan di kampung halaman mereka. Contohnya adalah kegiatan berkumpul dan menyanyi di Kali Jodo tadi.

Lagu-lagu san ko mempunyai cengkok (style atau gaya) yang khas, yang berbeda dengan lagu-lagu Tionghoa dari subetnik lain. Selain dalam lagu-lagu yang bersifat sekuler, cengkok san ko juga sangat terasa dalam lagu-lagu bernuansa religius yang dinyanyikan oleh para cai-ci dalam ritual keagamaan, khususnya kematian. Cai-ci adalah komunitas perempuan suku Hakka yang menjalani kehidupan sebagai pendeta Buddhis secara selibat di vihara-vihara yang khusus dibangun untuk mereka. Mereka sering diundang untuk melakukan upacara-upacara keagamaan yang umumnya berkaitan dengan kematian dan pemakaman. Dalam ritual mereka ada banyak lagu-lagu puji-pujian kepada Yang Maha Kuasa yang dinyanyikan dalam dialek Hakka, dengan iringan suara ku (tambur atau drum), phat (kecer atau simbal besar dan kecil), muk-thok (ketuk kayu berongga berbentuk ikan), lo (gembreng) dan lain-lain.

Walau lagu-lagu bernuansa religius itu masih dinyanyikan, tetapi sayangnya sudah banyak cengkok san ko-nya yang hilang. Para cai-ci masa kini sudah semakin jarang yang mampu menyanyikan lagu-lagu religius tersebut dengan cengkok san ko yang sejati. Para cai-ci yang muda-muda umumnya kurang mampu membawakan lagu-lagu puji-pujian dalam cengkok san ko. Mereka umumnya sangat terpengaruh oleh cengkok lagu-lagu pop Mandarin yang lebih popular di kalangan generasi muda. Hanya beberapa cai-ci yang tua-tua yang masih mampu bernyanyi dengan cengkok san ko asli.

Entah sejak kapan kegiatan budaya seperti terhenti, apakah dengan terjadinya G30S atau sebelumnya penulis belum menyelidikinya secara mendalam. Juga tidak jelas sejak kapan Kali Jodo berubah menjadi tempat prostitusi dan perjudian sepererti sekarang. Yang jelas kegiatan budaya seperti ini kini sudah sangat jarang dilakukan di kalangan komunitas Hakka sendiri. Apalagi mengingat pada era Orde Baru semua kegiatan budaya Tionghoa “menurun,” maka mau tak mau kegiatan menyanyi san ko juga terkena imbasnya.

Penulis hanya berharap suatu saat kegiatan budaya seperti ini akan diadakan lagi. Tapi entah kapan, tiada yang tahu (DAK).

Leave a Comment