EKSISTENSI KEBUDAYAAN MELAYU BETAWI

Oleh Ridwan Saidi

Kota Batavia sejak tahun 1619-1670 merupakan kota tertutup (binnenstad) yang luasnya hanya mencakup daerah Pasar Ikan sekarang. Sejak perampasan pelabuhan Kalapa oleh Fatahillah pada tahun 1527 penduduk asli telah meninggalkan daerah pelabuhan karena 3000 buah  rumah kediamannya dihancurkan dan dibakar oleh Fatahillah, sebagaimana laporan Portugis De Quoto tahun 1531.

Menurut Prof. Bern Nathofer, Frankfurt University, sebagaimana dikutip oleh Prof James T. Mc Collin, University of California, dalam Dialog Borneo tahun 1995, migrasi orang Melayu ke Jakarta setidaknya telah terjadi sejak abad X Masehi.

Dapat saya katakan disini orang Betawi itu berdarah Melayu atas dasar pembuktian  melalui  DNA test. Nama sukubangsa Melayu Betawi tak dapat dipergunakan, atau dipinjam,  oleh mereka yang mengalami krisis indentitas dalam proses pengIndonesiaan yang tak kunjung selesai dan tak pula punya arah.

Sukubangsa Melayu Betawi merupakan suku delapan besar dalam jajaran suku-suku bangsa di Indonesia berdasarkan statistik 2002. Meski pun di Jakarta jumlah mereka mencapai 27% saja dari total populasi Jakarta (10,5 juta), tetapi populasi Melayu Betawi tersebar di Bekasi, Tangerang, Depok dalam jumlah yang signifikan. Daerah ini tergolong wilayah kebudayaan Betawi.

Usaha melestarikan Kebudayaan Betawi

Tidak perlu diuraikan lagi bahwa pada dasarnya kebudayaan Betawi adalah kebudayaan Melayu. Dari kawasan Tengah hingga pesisir terasa kuat pengaruh Melayu, semakin ke pinggir pengaruh Sundalah yang menonjol. Ada terdapat perbedaan dialek antara Tengah dan pinggir. Lidah penuturan Melayu Tengah yang dipentaskan dalam sinetron Bajaj Bajuri merupakan perubahan yang terjadi setelah tahun 1940. Pada tahun-tahun sebelumnya lidah penuturan Melayu Tengah tidak berbeda dengan Melayu Riau dan Semenanjung seperti dapat disaksikan pada film-film yag diproduksi pada tahun 1925-1940. Sisa-sisa lidah penuturan asli masih dapat ditemukan di daerah Tanah Abang.

Kebangkitan  kembali kebudayaan Melayu Betawi melalui perjuangan sastrawan Firman Muntaco yang membuat tulisan serial dengan gaya Betawi di surat khabar mingguan Berita Minggu sejak tahun 1957. Sebelumnya sastrawan S.M. Ardan menerbitkan kumpulan cerita pendek bergaya Betawi. Tetapi Firman Muntaco lebih menggemparkan.

Sampai tahun 1970 pemerintah kota Jakarta dalam acara-acara resminya hanya menampilkan kesenian Sunda. Kesian Melayu Betawi tidak mendapat tempat. Meski pun sejak tahun 1958 ada usaha membangkitkan pergerakan masyarakat Betawi, tetapi usaha ini tidak banyak membawa hasil.

Berdirinya Taman Ismail Marzuki di Jakarta sebagai arena pertunjukkan kesenian sejak tahun 1969 dimanfaatkan sastrawan S.M. Ardan untuk membangkitkan  teater  tradisional lenong. Usaha ini menampakkan hasil yang sangat di luar dugaan. Ribuan penonton memenuhi TIM menyaksikan pertunjukkan lenong. Sukses ini dilanjutkan seniman Benyamin S dengan menampilkan gaya Melayu Betawi dalam rekaman musik dan film. Masyarakat Indonesia mulai memperhitungkan eksistensi sukubangsa Melayu Betawi.

Ada jenis kesenian kerajinan yang perlu dipertimbangkan untuk dilestarikan, yaitu batik Betawi. Pakean dengan corakan batik dikenal di mandala Pajajaran, termasuk Kalapa, setidaknya padazaman Prabu Siliwangi, 1482-1521. Corakan batik dipakai menak laki-laki mau pun perempuan, kecuali resi. Resi memakai pakaian serba putih.

Buyut Nyai Dawit (makam penyair perempuan ini terdapat di desa Pager Resi, Cibinong), dalam karyanya Sanghyang Sikshakanda Ng Karesyan, 1518, mengambarkan konsep perempuan cantik dengan kelengkapan pakaian batik corakan gringsing wayang. Dalam lithografi penyerbuan Jan Pieterszon Coen ke kraton Jayakarta, 1619, digambarkan rakyat yang sedang menyaksikan barisan tentara Coen. Mereka laki-laki dalam posisi berjongkok dan berdiri. Semua bertelanjang dada, memakai iket batik, dan bersarung batik.

Pada masa Oud Batavia di Kota Inten, hinga abad XVIII, lelaki Belanda di rumahnya masih berpantalon. Baru setelah masa Nieuwe Batavia lelaki Belanda di rumahnya mengenakan celana batik. Beriringan dengan itu perempuan Belanda juga berkebaya dan bersarung batik. Kemudian hari muncul batik tematis khas Belanda.

Perempuan peranakan Cina, terutama pada awal abad ke XIX meninggalkan cara berpakaian tradisi Manchu. Mereka berkebaya dan bersarung batik. Batik corakan pesisiran Jawa menjadi amat digemari. Kemudian hari lahir varian Chinese, seperti burung Hong. Burung Hong kemudian menjadi “pola resmi’ pakaian penganten Betawi.

Dalam hal batik terjadi pola interaksi nudaya vice versa kebudayaan Nusa Jawa vis a vis Eropa dan Ccina. Hal serupa terjadi pada tradisi memelihara anak ambar. Kali ini Cina meniru Betawi.

Batik menjadi bahan pakaian yang popular di kalangan penduduk Betawi laki-laki pada paruh akhir abad XIX, terutama di wilayah budaya Betawi Tengah. Mereka bercelana batik seperti halnya orang Belanda. Celana batik sebagai pakaian sehari-hari di rumah bersaing dengan sarung batik corak plekat. Motif plekat diilhami corak pakain Scot. Karena itu pada tahun 1931 terjadi seruan boykot terhadap plekat ketika terjadiu aksi anti Eropa di Hindia Belanda karena seorang pejuang Libya Sidi omar Muchtar digantung penjajah Italia di Tripoli.

Syekh Ahmad Syurkati kelahiran Dunggala, Sudan, menganjurkanagar kaum lelaki memakai kain corak hujan gerimis, yangkemudian hai corak ini dikenal sebagai Dunggala. Walhasil politisasi kain berujung pada makin popularnya penggunaan celana batik di kalngan laki-laki Betawi.

Demand terhadap batik makin meningkat yang mendorong tumbuhnya industri batik di Palmerah, kemudian hari berkembang hingga Karet Belakang, Setia Budi.

Batik Palmerah, atau disebut juga batik Tenabang, adalah batik pesisiran yang menggunakan warna-warna ceria. Batik Palmerah biasanya untuk pakaian sehari-hari. Untuk keperluan hajatan dan plesiran orang-orang Betawi Tengah memakai batik Jawa (Lasem).

Batik Jawa dikoleksi perempuan Betawi Tengah. Mereka yang “berada” juga mengoleksi batik Belanda. Batik koleksi tidak dikenakan, walau untuk hajatan.

Pada tahun 1920-an di kalangan perempuan Betawi terkenal keredong batik Lasem corakan lokcan/locan. Karedong ini disebut selendang lokcan/locan. Selendang lokcan/locan eks Lasem sebenarnya sudah diproduksi sejak akhir abad XIX, tetapi hanya kalangan terbatas saja yang memakainya.

Membatik disebut nembok . Pekerja industri batik di Jakarta adalah perempuan. Hancurnya industri batik Palmerah karena generasi penerus pemilik industri, yang lahir di awal tahun 1940-an, tidak ada yang berminat melanjutkan kegiatan industrilagi. Mereka tidak sanggup mengawasi industri yang sudah mulai bergiat sejak pukul 04.00. Ada pun industri batik Setia Budi hancur karena modernisasi yang menuntut lahan. Dan lahan industri batik yang menjadi korban.

Inilah jenis kesenian kerajinan Betawi yang masih berpotensi untuk dilestarikan karena telah muncul generasi perupa seperti Daud (Yogya) dan Sarnadi (Betawi) yang berminat melestarikan batik Betawi.

 

Faktor politik

Faktor politik memainkan peranan yang sangat besar dalam pelestarian eksistensi kebudayaan Melayu Betawi. Sejak tahun 1970 pemerintah kota Jakarta melakukan pembebasan tanah untuk keperluan pembangunan gedung-gedung bertingkat. Tanah yang dibebaskan milik orang Betawi. Di beberapa tempat terjadi protes dan perlawanan. Hal ini menyebabkan kekalahan Golkar pada pemilihan umum tahun 1977. PPP memperoleh kemenangan mutlak di Jakarta pada pemilu tersebut. Di kantong-kantong pemukiman Betawi PPP memperlihatkan keunggulannya.

Hal ini mengubah kebijaksanaan Golkar, sebagai partai pemerintah, dan pemerintah kota. Mereka merangkul kaum Melayu Betawi. Orang-orang Betawi menggunakan kesempatan ini untuk menguatkan pengorganisasian dirinya. Berdirilah Lembaga Kebudayaan Betawi dan Badan Musyawarah Masyarakat Betawi.

Pemerintah kota dalam rangka merebut kemenangan pada pemilu 1982 berusaha keras untuk memikat hati orang Betawi dengan membuat program-program pertunjukan kesenian Betawi. Pemerintah kota Jakarta melibatkan dirinya dalam pembangunan kebudayaan Betawi. Meski pun begitu masyarakat Betawi merasakan apa yang dibuat oleh pemerintah kota terhadap kebudayaan Betawi masih dapat dimaksimalkan lagi. Akademi Jakarta sebagai lembaga yang dianggap punya otoritas terhadap Dewan Kesenian Jakarta sejak didirikannya pada tahun 1970-an tidak pernah memberi tempat kepada budayawan Betawi. Seniman Betawi juga tidak diberi tempat yang semestinya pada Dewan Kesenian Jakarta. Kedua lembaga ini diberi fasilitas dana oleh pemerintah kota Jakarta yang sangat besar.

Hingga saat ini pemerintah kota Jakarta tidak pernah secara bersungguh-sungguh mendirikan gedung pertunjukkan untuk kesenian Melayu Betawi. Sedangkan untuk kesenian Sunda pemerintah memberikan bantuan yang sangat besar dan mendirikan untuk mereka gedung pertunjukkan yang sepi pengunjung. Pemerintah kota memelihara gedung pertunjukan wayang orang Jawa di daerah Senen dengan biaya bermilyar-milyar rupiah, sedangkan di gedung tersebut sudah lebih dari lima tahun tidak pernah diadakan pertunjukkan wayang orang Jawa karena tidak ada penonton.

Betapa pun, situasi kaum Melayu Betawi di Jakarta mempengaruhi wilayah kebudayaan Betawi lainnya seperti Tangerang dan Bekasi. Eksistensi Melayu Betawi ditegakkannya. Ornamen patung ikan lele yang dijadikan lambang kota Bekasi dirobohkan rakyat karena mereka tidak merasa itu merupakan simbol masyarakat Betawi Bekasi. Orang-orang Betawi di Tangerang berjuang untuk memenangkan bupati/walikota asal sukubangsa Betawi. Dan mereka menang. Begitu juga yang terjadi di Kota Bekasi, dan yang sedang berproses di kota Depok. Semangat yang sama tebit pula di Jakarta menjelang pemilihan gubernur tahun 2007.

Mereka amat menyadari bahwa kebudayaan Melayu Betawi tidak akan tegak secara semestinya bila pihak pemerintah memberikan perhatian sekedarnya saja. Karena itu anak-anak negeri harus merebut kedudukan memimpin pemerintah kota jika kebudayaan Melayu Betawi hendak dilestarikan secara sebenarnya. Pemda Jakarta hanya membantu dana Rp.500,- juta untuk Lembaga Kebudayaan Betawi setahun. Apakah ini memadai?

Orkes Melayu di di Jakarta tersisa tiga kelompok saja, dan itu pun keadaannya sangat merana, dan sebagian besar pemainnya sudah lanjut usia. Padahal Jakarta meupakan salah satu kiblat musik Melayu di zaman Husein Bawafi, Mashabi, Abdul Khalik, S. Effendi pada tahun 1950-1960. Sementara itu ahli Sahibul Hikayat Melayu Betawi sudah habis.

Meski pun begitu para seniman dan budayawan Betawi terus bekerja baik secara organisasi mau pun perorangan untuk melestarikan kebudayaan Melayu Betawi. Sejumlah judul buku tentang Melayu Betawi setiap tahunnya terbit setidaknya tiga judul. Pelukis-pelukis Betawi terus melakukan pameran. Dan sambutan dari masyarakat pencinta seni lukis pun mulai terbit.

Usaha membangkitkan kembali batik Betawi secara serius dilakukan dalam tiga tahun terakhir ini. Usaha ini mendapat bantuan pemerintah kota. Usaha membangkitkan kembali lukisan batik Betawi pun tengah dilakukan oleh perorangan.

Dan yang paling semarak adalah usaha menampilkan wajah Melayu Betawi dalam sinetron Indonesia. Para produser seolah berlomba-lomba mengangkat sinetron yang belogat Melayu Betawi meski pun settingnya tidak selalu Betawi. Ini semua kebanyakan merupakan usaha perorangan.

Pewarisan nilai-nilai budaya Melayu Betawi terhadap anak-anak sekolah rendah, terutama dari golongan ekonomi lemah, dilakukan mulai tahun ini. Saya sendiri menuliskan buku pegangannya. Program ini merupakan kegiatan sebuah yayasan yang mendapat bantuan pemerintah kota.

Sebanyak  yang ditulis tentang kebudayaan Melayu Betawi lebih banyak lagi yang belum ditulis dan tertinggal sebagai data revelata saja. Inilah yang merisaukan hati. Jikalau Melayu Riau memiliki juru bicara yang hanal dan senior sepeti DR. Tenas dan orang-orang muda yang enerjik yang cukup bilangannya antara lain DR. Yusmar Yusuf dan Al Azhar, maka juru bicara Melayu Betawi terbeban pada bahu satu orang senior saja. Memang muncul dua orang anak muda tetapi minat mereka tidak komprehensif terhadap kebudayaan Melayu Betawi, anak muda yang satu lebih mendalami kesenian kawasan   Pinggir, dan anak muda yang satunya lagi pada seni arsitektur/seni bina. Lalu kami memiliki sejumlah pelukis ada yang senior dan ada orang muda. Pemain musik baik orkes Melayu maupun keroncong langgam Jakarta umumnya sudah berusia di atas 50 tahun. Bernyanyi dengan cengkok Melayu sudah tidak ada yang menguasai dengan baik lagi kecuali Saudara Munif, dan usia beliau sudah 70 tahun.

Yang amat disayangkan semakin menipisnya bilangan orang-orang yang masih menguasai tajwid pembacaan Al Qur’an dengan gaya Melayu Betawi, dan hilangnya tradisi pembacaan Maulid Nabi dengan tradisi Melayu Betawi. Tetapi yang menggirangkan hati masih tetap dipelihara upacara pengantin yang mempunyai corak khas Melayu Betawi.

Pembibitan yang berhasil dilakukan adalah pada seni gambang kromong, seni silat, dan tari menari. Di bidang ini tampak hasilnya. Tetapi ada yang cukup menghibur hati yaitu percakapan Melayu logat Betawi telah menjadi lingua franca generasi muda Indonesia di kota-kota besar.

Leave a Comment