Kearifan Lokal Pengobatan Betawi Bagian II

JAMU GENDONG

Oleh Yahya Andi Saputra

Dukun Beranak dan Dukun Bayi

Dukun beranak logikanya tentu sudah ada sejak perempuan melahirkan meski masih dengan cara yang sederhana. Pada masyarakat Betawi, dukun beranak dan dukun bayi adalah perempuan. Biasanya profesi dukun beranak dan dukun bayi disandang oleh orang yang sama. Karena kemampuan mengurus kehamilan dan bayi tak terpisahkan. Pada umumnya kemampuannya tidak hanya mengurus persalinan dan memelihara kesehatan bayi, tapi sudah bertindak jauh sebelum seorang perempuan melahirkan. Sejak ngidam[1] ia sudah dimintai obat agar perempuan yang ngidam tidak mengalami gangguan kejiwaan yang berat. Sering ditemui seorang perempuan yang ngidam takut melihat matahari atau mempunyai keinginan aneh-aneh. Dukunlah yang membuat ramuan, biasanya menggunakan media air sebagai obatnya.

Dukun beranak terus berperan menjadi penasehat, terutama memberi nasehat apa saja yang seharusnya dimakan dan dipantang serta nutrisi tambahan lainnya. Secara rutin memeriksa dan membetulkan posisi janin mengikuti perkembangan usia hamil.

Secara pemberitaan media, dukun beranak di Betawi diwartakan oleh surat kabar Bintang Batavia. Di koran itu diberitakan bahwa, “Kompeni telah adahken di Betawi satoe doekoen branak, bangsa anak negri jang soedah loeloes bikin exament doekoen branak dan sekarang tinggal di Tanah Commandant, dan namanja doekoen itoe, Kastani jang dapet gadji dari negri saben boelan f 25. Aken menoeloeng pertjoemah bininja orang-orang kampoeng miskin jang maoe branak. Dari itoe siapa-siapa orang kampoeng poenja bini maoe branak, panggillah doekoen Kastani dengen tida oesah membri bajaran, sebab doekoen itoe soedah dapet gadji dari kompeni f 25 seboelan”[2].

Menurut pemahaman orang Betawi, perempuan hamil mengeluarkan aroma darah segar janin. Aroma itu mengundang rasa lapar makhluk halus, terutama kuntilanak. Untuk menangkal seranga kuntilanak itu, dukun membacakan jampe-jampe pada benda-benda kecil yang tajam berupa pisau kecil, gunting kecil, gunting kuku, dan sebagainya. Benda itu dicantumkan di baju atau dipegang oleh perempuan hamil. Sering pula perempuan hamil disarankan membawa sapu lidi bila ingin buang air atau bepergian. Atau dibikinkan wafak jampe di kain putih. Salah satu jampe itu adalah[3],

Sang ratu kuntilanak

Anak-anak mati beranak

Sundel malem mati di kolong

Si borok tongtong

Ke kitu ke kidang

Ke tegal awat-awatan

Ke duku pata paluna

Nenek luwung gede

Kaki cai gede

Mahula deket-deket

Mahulang ke manusa

Lebih-lebih memasuki usia hamil tujuh bulan. Usia ini dianggap paling penting karena ruh sudah ditiupkan secara sempurna. Itu sebabnya diselenggarakan upacara nujuh bulan[4]. Upaca ini dilakukan karena bayi dalam rahim pada usia itu sudah dianggap sempurna, sudah berbentuk, dan diberi roh. Upacara ini juga bertujuan memberi rasa aman kepada keluarga perempuan yang sedang hamil agar tidak terjadi malapetaka bagi diri dan keluarganya. Dukun membetulkan posisi janin agar selalu dalam posisi yang benar. Dialah yang menjadi pemimpin upacara sejak awal sampai akhir.

Saat melahirkanlah yang paling kritis. Keselamatan nyawa ibu atau anak menadi taruhan. Dukun amat dibutuhkan keahlian dan sugestinya agar persalinan normal berjalan lancar dan menyelamatkan dua nyawa. sebelum persalinan dukun memberikan ramuan berupa air putih dan minyak kelapa.

Dalam  keluarga  Betawi,  jika ada seorang ibu yang akan melahirkan, ia akan ditunggui oleh famili terutama suaminya sendiri. Jika nanti jabang bayi lahir dan sebelum tali pusarnya dipotong maka ayahnya atau famili laki-laki lainnya langsung akan mengazankan pada telinga kanan dan mengqamatkan pada telinga kiri. Baru setelah itu tali pusarnya dipotong dan ari-ari (placenta) dimasukkan ke dalam pendil (kendil) yang sudah diisi dengan  kembang tujuh rupa lalu dikubur di dekat cericipan depan rumah atau di bawah tempat tidur. Jika malam kuburan ari-ari ini dipasangi lampu cempor.

Perempuan yang melahirkan kelihatan sangat lelah dan pucat, untuk itu keluarganya akan membuatkan masakan dari daun-daunan yang segar-segar. Beberapa keluarga atau famili lain akan mengantarkan pula masakan, makanan, dan perlengkapan bayi. Masa ini dinamakan mapas yaitu masa mengembalikan kesegaran bagi ibu yang baru melahirkan. Ia diharuskan memakan sayur bening, yaitu sayur katuk, sayur bayam atau sayur kangkung. Dukun menyediakan ramuan khas Betawi, seperti : sambetan, jamu daon sembung, jamu aer godogan, aer daon kumis kucing, dan jamu kayu rapet. Sebelum ibu si bayi dapat memandikan anaknya, dukunlah yang mengurusnya. Mulai memandikan, memakaikan bedak dan membedong (membebat) sang bayi.

Tali puser putus atau puput dengan sendirinya secara alamiah dalam waktu antara 3 sampai 10 hari. Dukun membungkus tali puser yang putus dengan kain putih dan disimpan rapi di lemari. Tali puser itu diyakini menjadi obat mujarab bagi sang anak. Jika ia sakit, tali puser itu direndam di air putih lalu diminumkan kepadanya. Atau jika dalam keluarga tidak bisa rembug (sepakat, akur), tali puser direndam di air putih lalu diminumkan kepada anak yang sedang bentrok. Ada juga yang berpendapat, tali puser yang coplok itu dikubur di bawah pohon asem, agar keluarga menjadi tentram.

Tidak tertutup kemungkinan ada anak yang pusernya bodong (besar). Dalam tradisi Betawi, dukun bayi mempunyai keahlian mengurus puser. Ketika si orok puput pusernya, pusernya dibaluri obat dari serutan sendok sayur dari batok kelapa dan ditekan dengan jempol sambil diputar ke arah jarum jam. Setelah itu ditampel dengan uang logam yang dibungkus kain putih. Kemudian orok dipakaikan gurita dan dibedong.

Upacara selamatan menyambut kelahiran bayi disebut akeke (Hakikah). Upacara ini dilaksanakan paling cepat tiga hari setelah kelahiran atau dengan tenggang hari 7, 14 dan 21. Ini dihubungkan pula dengan upacara pencukuran rambut dan sekaligus juga sebagai peresmian pemberian nama.

Pada upacara ini dibutuhkan perlengkapan antara lain: air kembang setaman, nampan, gunting, kelapa muda, hiasan nampan berupa bendera dari uang, memotong kambing, dan lain-lain. Jumlah kambing yang dipotong dua ekor jika laki-laki dan seekor jika perempuan.

Kehadiran dukun masih dominan sampai nyapih (menghentikan anak menyusu). Sebenarnya nyapih tidak harus usia telah dua tahun. Bisa saja bayi baru tujuh atau delapan bulan, karena sang ibu sudah hamil lagi. Orang Betawi menyebut bayi yang belum setahun sudah disapih namanya sundulan. Maksudnya bayi pertama belum saatnya disapih, tapi sudah akan memdapat adik sehingga posisinya menyusul bayi pertama. Jika tidak disapih akan mempengaruhi kesehatan si ibu. Nyapih atau Sapih adalah upaya seorang ibu untuk memberhentikan ketergantungan si anak menyusu dari ibunya. Sapih atau menyapih pada masyarakat Betawi tidak dapat dikerjakan atau dilakukan oleh sembarang orang. Pekerjaan ini dilakukan oleh dukun.

Ibu yang mau menyapih anaknya datang meminta tolong kepada seorang dukun. Pada umumnya untuk menyapih anak, orang Betawi memilih hari Jum’at. Orang Betawi sangat yakin hari Jum’at adalah hari yang istimewa, penghulu hari-hari. Untuk menyapih, si ibu harus membawa teh, gula putih, dan buah-buahan. Segera setelah si ibu menyerahkan bawaannya, dukun akan menerima dan menjampi-jampinya. Dukun membuat ramuan obat oles yang bahannya terdiri atas daun sirih, kapur sirih, dan gambir. Sambil merapal jampe, dukun mengolesi putting dan sekitar payudara si ibu. Merasakan air susu ibunya tidak enak karena bercampur dengan obat oles, si anak tidak mau menyusu lagi. Selain itu, dukun juga menyembuhkan penyakit yang kerap menghinggapi bayi, seperti keseleo, panas, batuh, mimisan, dan lain-lain.

Setelah anak benar-benar lupa menyusu, ibunya akan datang lagi kepada dukun beranak tempatnya nyapih. Kedatangannya kali ini bertujuan mulangin syarat. Artinya si ibu akan mengantar masakan khas Betawi (nasi, pesmol bandeng, semur daging, opor ayam, acar kuning, kerupuk udang), pisang ambon atau raja, dan kue-kue Betawi yang salah satunya adalah kue apem.

Seorang dukun beranak pada jaman dulu berperan multi fungsi. Ia memiliki keahlian alam nyata maupun alam gaib. Anak-anak yang tidak napsu makan, anak-anak yang kesambet, anak-anak yang ditumpangin mahluk halus, dan segala macam penyakit anak-anak lainnya akan mampu ditanganinya. Sebutannya pun macam-macam, antara lain disebut dukun urut bayi dan dukun sembur[5].

Meski keahlian dukun beranak sangat dibutuhkan, namun kehidupannya tetap sederhana, jauh dari kehidupan berkecukupan. Kita lihat misalnya dukun Nur Aini di bawah ini.

 

Dukun Rias Penganten

Dalam masyarakat Betawi, dukun rias pengantin disebut juga tukang piare. Disebut demikian karena dialah yang memelihara persiapan seorang gadis yang ingin menikah sejak disepakatinya tanda putus[6] sampai hari akad nikah. Selain menguasi ilmu perdukunan, tukang piare memiliki keahlian meracik ramuan alami. Dukunlah yang mengatur makanan apa saja yang dpat dikonsumsi. Sebab jika calon pengantin mengkonsumsi makanan apa saja dan berlebihan niscaya menimbulkan efek sangpingan yang tidak baik. Misalnya mengeluarkan bau keringat yang mengganggu penciuman tetamu[7].

Selama dipiare ini Calon None Mantu diharuskan memakai baju terbalik (kain sarung dan kebaya longgar), sebagai lambang tulak bala. Bahkan juga dilarang mengganti bajunya.  Kalau gemuk, makan dan minumnya diatur (diet), tidak boleh makan makanan yang digoreng. Makanan yang dianjurkan adalah makanan  yang dibakar atau dipanggang. Diharuskan minum jamu godok  dan jamu air secang. Seluruh tubuhnya diurut dan dilulur sekali sehari. Di beberapa kampung ada larangan bagi calon pengantin perempuan untuk mandi dan bercermin. Diharuskan benyak berzikir, membaca shalawat dan membaca surah Yusuf. Dulu calon pengantin wanita giginya digosok/dipapat agar rata, sekarang tidak lagi. Tugas tukang piara selanjutnya melaksanakan upacara tangas atau mandi kembang. Yaitu upacara memandikan calon pengantin dengan uap kembang tujuh rupa yang tujuannya membersihkan bekas-bekas atau sisa-sisa lulur yang masih tertinggal di kulita atau pori-pori. Maksudnya agar tubuh calon pengantin wanita menjadi harum sebab aroma mangir dan jamu yang dilulur dan diminumnya selama dipiara sudah berbaur dengan wangi gaharu yang akan keluar dari tubuh calon pengantin. Ia juga tidak akan berkeringat ketika dirias atau saat duduk di pelaminan.

Kembang tujuh rupa dan segenap ramuan dimasak dengan air sampai mendidih lalu dituang ke dalam paso[8]. Calon pengantin duduk di atas kursi rotan berlobang-lobang kecil dan di bawah kursi itu diletakkan paso yang mengepulkan asap/uap. Calon pengantin dikerudungi atau ditutupi dengan kain/tikar pandan dengan kelebaran 1 x 1 meter, atasnya ditutup dengan kain agar uap ramuan tidak keluar tertiup angin. Ini dilakukan sampai tukang piare yakin bahwa aroma ramuan telah meresap ke tubuh calon pengantin.

Tukang piara masih berperan penting termasuk pada acara ngerik, meskipun acara ngerik sudah menjadi tugas perias pengantin. Acara ngerik yaitu membersihkan atau mencukur bulu-bulu halus calon pengantin wanita yang tumbuh sekitar kening, pelipis, tengkuk dan leher.

Urutan acara ngerik, pertama, calon pengantin perempuan memakai pakaian none Betawi, sebab ini adalah malam terakhir baginya menjadi none Betawi. Esok hari atau malam ia sudah menjadi seorang nyonya. Kedua, calon pengantin perempuan didudukkan di atas kain putih. Ketiga, calon pengantin perempuan dikerik dan dibuatkan centung oleh tukang piara. Keempat, calon pengantin wanita dipakaikan pacar oleh tukang piara dibantu keluarga/famili, dan teman-teman calon pengantin. Semuanya dilakukan dengan penuh canda ria dan kekeluargaan[9].

 

Dukun Santet dan Pelet

Santet dan pelet atau kadang sering juga disebut gendam memiliki arti sama, yaitu guna-guna. Ilmu gaib ini termasuk paling dikenal dan kerap menjadi momok yang ditakuti masyarakat. Kendati begitu sering dimanfaatkan seniman dan penulis scenario film untuk menimbulkan efek misterius, horror, bahkan sadis.

Tidak seperti santet yang kemisteriusan dan efek kengeriannya begitu kental, pelet lebih bersifat manusiawi. Artinya efek sampingan dari pelet tidak tertalu beraroma sadistis. Energy pelet digunakan seseorang – biasanya laki-laki – untuk memikat perempuan yang disukainya. Tatkala perasaan suka seorang laki-laki diabaikan atau bahkan si laki-laki diperhinakan, maka mulailah pelet berproses. Misalnya sering kita dengar ucapan seorang perempuan, “ngaca dong, mao naksir gue”, sudah dapat menyakiti perasaan seorang laki-laki. Dari peristiwa itu pula kemudian muncul ungkapan “cinta ditolak, dukun bertindak”.

Jika pelet bekerja dengan baik, maka kontan perempuan yang menjadi obyek akan berubah perilakunya. Semula benci melihat laki-laki yang pernah ditolaknya, kini berbalik mengejar dan menyukainya. Terkadang ada laki-laki pendendam, yang melakukan praktik pellet sekadar menyakiti perempuan yang ernah menghinanya. Pelet seperti inilah yang menimbulkan kepanikan dan permusuhan antar keluarga. Tentu saja kedua belah pihak saling memperkuat diri dengan ilmu gaib. Mulailah kemudian ‘pertempuran’ santet-menyantet.

Santet bertujuan melemahkan lawan atau orang yang tidak disukai menjadi tak bedaya dan disakiti sampai ajal tiba dengan cara sadis. Sering juga hanya disakiti sampai setengah mati. Keasadisan santet dapat diketahui dari media yang digunakannya, antara lain jarum, paku, pecahan kaca, ular berbisa, dan lain-lain.

Oleh dukun santet, media itu diubah menjadi energy immaterial agar mudah dimasukkan ke dalam tubuh obyeknya. Barulah kemudian setelah materi non material masuk, diubah kembali menjadi matei sebenarnya. Benda-bena tajam atau ular berbisa yang masuk ke tubh obyek itulah yang menimbulkan sakit tak tertahankan. Namun secara kasat mata atau dalam diagnose ilmu kedokteran, penyakit pasien santet tidak dapat dideteksi.

Seperti pada umumnya ilmu gaib, praktik dukun santet menggunakan kekuatan makhluk gaib sebagai perantara dan pembawa media ke obyek yang dituju. Dukun santet terlebih dahulu melakukan tapa di sebuah tempat tertentu (gunung, goa, hutan) untuk dpt berkomunikasi dengan jin atau setan. Setelah komunikasi dapat dilakukan, ada perjanjian yang harus dipenuhi dukun santet agar jin atau setan itu mau mentaatinya. Jika perjanjian itu disepakati, maka jadilah ia dukun santet. Sering terjadi dukun santet lalai menepati janjinya, maka akibatnya fatal. Jinatau setan yang semula menjadi budak dukun santet, berbalik menyerangnya. Dukun sendirilah yang akhirnya menderita sepanjang hidupnya[10].

Memang tak selalu dukun santet menggnakan jin atau setan dalm praktiknya. Tak sedikit dukun santet memperoleh keahliannya dengan olah batinnya sendiri. Jika olah batinnya sudah mumpuni, dengan menggunakan boneka sebagi symbol sasarannya, dukun dapat melakukan praktik santetnya. Boneka itu digunakan menjadi alat peraga, bagian mana santet akan dikirimkan keada obyek. Misalnya agar obyek tidak dapat buang air besar, maka bagian dubur boneka disumbat. Begitulah seterusnya, bagian-bagian yang dituju menjadi obyek, bagian boneka yang ditusuk atau dibakar dan seterusnya.

Melalui media massa, dapat diketahui betapa berbahayanya dukun santet. Tahun 1998-an geger masalah pembantaian dukun santet menjadi headline media massa. Majalah Tempo, menulis sebagai berikut,

“Bagai wabah penyakit menular, gelombang pembantaian dukun santet merembet dari Jawa Timur ke Jawa Tengah dan Jawa Barat. Berawal dari Banyuwangi, virus santet merambah wilayah tapal kuda lainnya, Jember, Situbondo, Probolinggo, Bondowoso, dan Pasuruan. Setelah sempat menyeberang ke Pamekasan dan Sumenep, Madura, pekan lalu pembunuhan yang tak jelas motifnya itu tiba-tiba muncul di kawasan Demak, Jawa Tengah, dan Banten, Jawa Barat.

Korban telah berjatuhan. Menurut data Kepolisian Daerah Jawa Timur, sejak Januari sampai Oktober ini, 170 orang telah terbunuh, 14 luka berat, dan 17 luka ringan. Sedangkan menurut data di pengurus cabang Nahdlatul Ulama (NU) Banyuwangi, 148 orang menjadi korban, dengan 101 di antaranya mati sia-sia. Ada juga yang terpaksa bunuh diri karena ketakutan. Dari korban yang meninggal, 96 di antaranya warga NU, seperti para pengurus ranting, pengurus masjid, dan guru mengaji. Cuma, tak terdata, berapa kiai yang terbunuh.

Korban di Demak memang seorang kiai dan pengurus syuriah ranting NU. Kiai Rochmadi, ulama Desa Donorejo, yang menjadi korban itu, dibantai secara biadab saat salat isa di musala depan rumahnya sendiri. Ia diseret keliling kampung dengan tambang menjerat di leher serta digebuki kayu dan batu. Aksi itu bermula dari tahlilan kematian Zaenudin, yang diyakini sebagai korban keempat “sihir” Rochmadi. “Sudah banyak yang disantet Pak Kiai,” ucap Samudi, salah seorang pelaku. Kepala desa setempat, Suhardi, yang juga meyakini tudingan itu, berkisah ciri-ciri ganjil pada korban: badan panas, perut membusung, dan kaki bengkak. Semua itu, katanya, merupakan tanda “penyakit kiriman” Kiai Rochmadi.

Tuduhan itu dibantah oleh Siti Kalsum, istri Rochmadi. Sehari-hari, menurut Siti, suaminya itu bekerja sebagai petani. Dan di waktu senggang, ia mengajar mengaji dan memberikan bantuan penyembuhan bagi warga yang datang kepadanya. Ia memiliki kemampuan itu setelah puluhan tahun mondok di berbagai pesantren.”[11]

Untuk menangkal datangnya ‘serangan’ santet, masyarakat umum bisanya disarankan menanam pohon kelor, sente hitam, dan menimbun telor bebek busuk di halaman rumah. Pohon kelor dan sente hitam dianggap mampu menangkal santet yang dikirimkan oleh oknum yang berniat jahat. Sementara telor bebek/angsa busuk pun dapat menangkal santet. Jika santet dating, telor buuk itu akan meledak dan mengusir santet berbalik menyerang pengirimnya.

 

Dukun Perayaan

Dalam masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat Betawi, peran dukun masih sangat dominan, kendati modernisasi bukan sesuatu yang baru. Berbagai keriaan atau perayaan penting yang melibatkan ribuan massa dan berdurasi panjang, keahlian dukun tetap dianadalkan, terutama jika keriaan diselengarakan pada musin hujan. Mulai keriaan resepsi pernikahan, festival budaya, acara resmi pemerintah maupun swasta, dan sebagainya.

Peran utama dukun pada perayaan-perayaan itu tidak lain bertindak sebagai pawang hujan, yaitu menahan turunnya hujan atau memindahkan hujan ke tempat lain. Memang kebanyakan panitia merasa aman jika telah melibatkan dukun dalam kegiatannya. Bahkan orang yang dianggap paling modern pun, seperti orang-orang yang bergerak di bisnis event organizer, tak dapat melepaskan diri dari keahlian pawang hujan.

Sampai saat ini, belum ada bahasan ilmiah bagaimana upaya dukun atau pawang hujan memiliki kemampuan memindahkan atau menghentikan hujan. Seperti ilmu gaib lainnya, dukun atau pawang hujan melakukan aktivitasnya dibantu kekuatan makhluk halus, baik jin atau makhluk halus lainnya. Metode menangkal hujan yang dilakukan pawang hujan bervariasi, begitu pun media perantara yang dibutuhkan. Mereka sering melakukan puasa dan berzikir untuk menjaga dan meningkatkan kemampuannya[12].

Sebelum melakukan tugasnya, pawing hujan harus memenuhi syarat tertentu. Seperti tidak boleh mandi selama tiga hari dan puasa dua hari sebelum hari pelaksanaan keriaan. Lalu pada hari pelaksanan keriaan, dukung mulai ritual dengan mengamati awan disekitar lokasi. Disiapkan sajen, karena sajen merupakan penguat dan ‘kendaraan’ bagi jampe atau doa mereka. Bentuk sajian ini berbeda-beda. Ada yang memakai cabe dan bawang merah yang ditusuk kesebatang lidi, atau menyebarkan garam dan beras ke atap rumah. Maksudnya agar hujan yang turun dari atas tidak segera turun. Ada yang menggunakan pendupaan berisi kemenyan, garam, lisong, kapur, pinang, dan sirih. Ada juga yang memakai cabe merah dan kepala ayam yang masing-masing ditaruh di mangkuk terpisah, menancapkan golok atau keris ke tanah, menaruh pakaian dalam calon pengantin ke atap rumah. Ada pula yang menggunakan sajen makanan lengkap termasuk bekakak ayam (ayam panggang utuh) dan payung hitam[13].

Saat prosesi berlangsung, ada yang membutuhkan tempat khusus seperti kamar untuk berkonsentrasi dan untuk menaruh sajen. Selama prosesi berlangsung, tidak diperbolehkan ada satu orang pun masuk ke kamar itu. Pawang yang tingkat ilmu lebih tinggi, dapat melakukan tugas dibeberapa tempat sekaligus. Ia cukup mewakilkan dirinya dengan payung hitam di tempat yang tidak dapat ia datangi dan meletakannya di kamar atau tempat khusus dengan sajen lengkap.

Di kalangan pondok pesantren, diajarkan cara-cara atau doa-doa untuk mendatangkan dan menolak turunnya hujan. Semua berasal dari doa ajaran Nabi Muhammad. Uap dari laut yang kena panas matahari akan naik menjadi sinar laki-laki dan uap air dari penguapan dedaunan menjadi sinar perempuan. Dengan berdoa mengucapkan asmaul husna (nama-nama suci Allah), akan terbentuk sinar lelaki dan sinar perempuan. Doa itu mengeluarkan energi, dan aura.  Aura yang bersifat feminin akan menjadi hujan, sedangkan aura maskulin akan membubarkan awan hujan. Tergantung doa apa yang diucapkan, energi yang keluar menyertai doa itu akan mendatangkan atau menahan hujan.

Secara tradisi, masyarakat awam memiliki cara tersendiri untuk menangkal hujan, yaitu mengikatkan celana kolor pada tiang rumah. Cara lainnya dengan membalikkan sapu lidi dan diujung tiap lidi ditancapkan bawang merah dan cabai merah. Meskipun cara itu dipakai, namun tidak urung masih mengandalkan keampuhan dukun hujan. Jelas bahwa keberadaan dukun atau pawang hujan sampai saat ini masih dianggap penting untuk memperlancar dan mensukseskan sebuah keriaan yang berskala besar.

Secara umum, masyarakat Indonesia bersandar kepada kepiawaian dukun pada tiap pelaksaan upacara atau perayaan. Seluruh etape dalam kehidupannya, mulai menikah sampai kembali ke liang kubur, selalu ada dukun di sampingnya. Jenis dan bentuk upacara, akan dijelaskan pada bagian lain.

 

Dukun Patah Tulang

Musibah yang dialami manusia bermacam-macam bentuknya. Salah satunya adalah kecelakaan yang mengakibatkan tulang menjadi patah. Banyak cara mengobati atau merhabilitasi tulang yang patah. Namun dalam masyarakat trdisional upaya penyembuhan tulang yang patah itu dipercayakan kepada dukun patah tulang.

Saat ini pun, ketika kemajuan teknologi ilmu kedokteran sudah semakin canggih, tak sedikit penderita patah tulang mengandalkan kemampuan dukun patah tulang. Bagi masyarakat kelas menengah bawah, alasan mengunakan jasa dukun patah tulang karena terbentur biaya perawatan. Proses penyembuhan patah tulang memakan waktu cukup panjang. Orang-orang miskin tentu tak memiliki persediaan biaya untuk membayar dokter dan rumah sakit. Bagi orang-orang kaya, mempercayakan penyembuhan kepada dukun patah tulang karena keyakinan bahwa ilmu gaibnya dukun mampu menyambung dan menyembuhkan patah tulang.

Seorang dukun patah tulang memperoleh kemampuannya karena belajar di samping memang ada dukun yang mewariskan ilmunya kepada keturunannya. Pada tahun 1970-an, di Kampung Cilandak Tengah, Jakarta Selatan, ada dukun patah tulang yang sudah sangat terkenal, yaitu H. Muhammad Naim. Ketika ia meninggal, usaha perdukunannya dilanjutkan oleh putra-putranya, yaitu H. Abdul Razak, H. Zainuddin, dan H. Hasanuddin.

Kemampuan menyembuhkan patah tulang yang dimiliki H. Abdul Razak, sebagaimana diakuinya, terturun begitu saja. Untuk mengasah ilmu keturunan itu, ia pun melakukan upaya tirakat yaitu penahanan hawa napsu dengan berpuasa dan mengamalkan doa-doa sebagaimana kepatutan keislaman. Menurut H. Abdul Razak, semua penyakit ada obatnya, semua musibah ada penangkalnya. Ia dan mungkin adik-adiknya hanya mengamalkan mantera atau doa-doa yang sesuai dengan ajaran kanjeng Nabi Muhammad. Dalam tirakatnya, ia melazimkan wirid basmalah, alfatihah, dan ayat kursi. Jika ia memulai praktik penyembuhan, terlebih dahulu membaca doa andalannya adalah[14],

Bismillahirrahmanirrohiem

Bismilahi syafii bismillahi kafii

Bismilaahi maafii

Bismillahilladzii laa yadhurru ma’asmihi syaiun

Fil ardhi walaa fissama’i wahuwassamii’ul bashiir

Cara penyembuhan yang dilakukan dukun patah tulang berbeda-beda antar satu dengan lainnya. Tapi media utama yang digunakan berupa ramuan minyak kelapa untuk mempermudah pengurutan. Sebelum diurut, dukun member telor ayam kampung mentah dan memeriksa dengan cara meraba bagian-bagian tulang yang patah atau retak. Dengan meraba, dukun sudah mengetahui seberapa parah tulang-tulang itu. Barulah kemudian tulang –tulang yang patah itu disambung dengan mengurut dan menarik untuk menempatkan pada posisi semula. Jika posis tulang dianggap sudah pada posisinya, dilakukan pembebatan dengan bantuan dua buah bambu tipis sebagai penopang dan dibebat sampai kuat.

Proses penyembuhan tergantung seberapa parah kondisi tulang yang patah. Jika terlalu parah, pengobatannya cukup lama. Umumnya dukun patah tulang penyediakan kamar perawatan bagi pasien yang ingin dirawat intensif. H. Abdul Razak misalnya, sengaja membangun rumah khusus untuk menampung pasiennya yang ingin dirawat inap. Begtu juga dukun lain, seperti Guru Singa, di Kampung Pondok Kelapa, Jakarta Timur atau Bapak Gopli, di Kampung Pondok Aren, Tangerang Selatan, menyiapkan kamar untuk pasiennya[15].

Di luar Jakarta, Cimande menjadi tempat terkenal karena dukun patah tulangnya. Bahkan minyak Cimande, yang konon sudah dijampi-jampi, sering digunakan masyarakat umum untuk pijat atau urut.

Selain dukun patah tulang, ada dukun yang khusus pijat atau urut saja. Dukun pijat atau urut tidak dapat menangani pasien patah tulang. Dukun-dukun ini hanya mengangani pasien keseleo atau terkilir atau pijit karena badan kurang segar dan urut bayi.

Tak sedikit bayi atau anak-anak balita (di bawah usia lima tahun), mengalami sakit yang tiba-tiba. Bayi atau balita seperti itu biasanya gelisah, menangis, dan tidak dapat tidur. Tentu orang tuanya kebingunan dan panic, terutama jika hal itu terjadi tengah malam. Sebelum dibawa ke puskesmas atau poliklinik, umumnya masyarakat membawa anaknya ke dukun urut. Jika hanya keseleo atau sumeng (deman karena berbagai sebab, misalnya tumbuh gigi atau sariawan), maka dukun akan mengurut dan membuatkan obat popol[16] atau obat boreh[17].

 

Kerokan dan Jamu

Oleh ilmu kedokteran, masuk angin pada mulanya tidak diklasifikasikan sebagai jenis penyakit. Tapi oleh masyarakat diangap panyakit. Masuk angin jika tidak ditangani dan diobati akan berakibat fatal. Semula mual-mual, lalu perut kembung, badan panas dingin, muntah-muntah, dan lebih parah lagi tidak dapat buang angin. Salah satu upaya penyembuhannya dengan kerok atau kerik yaitu mengosok badan dengan mata uang logam yang diberi minyak.

Setelah dikerok, bagian badan yang dikerok terlihat merah padam. Pada umumnya setelah proses kerokan selesai, maka sembuh atau hilanglah angin yang menyerang kadan kita.

Tapi masyarakat tradisional memiliki kemampuan mengenali jenis tanaman yang dapat menyebuhkan masuk angin. Mereka mengenali manfaat bangle, sirih,cengkeh, angsana, asam jawa, kuyit, kencur, asam jawa, jahe, brotowali, jambu biji, dan lain-lain. Semua tumbuhan itu dapat dijadikan obat ramuan yang menyembuhkan masuk angin, deman, dan sebagainya.

Berdasar kebiasan masyarakat itulah kemudian dikembangkan obat-obatan alami berbentuk jamu, kini dikenal dengan herbal, untuk berbagai kebutuhan penyembuhan, penyegar badan, vitamin serta suplemen lainnya dalam bentuk cair dan serbuk.

Pengrajin rumahan memproduksi jamu yang dijual keliling kampong oleh ibu-ibu penjual jamu. Jamu yang dijual keliling itu masih terbatas ragamnya, misalnya pegal linu, beras kencur, kinir asem. Kemudian bertambah variannya seperti sehat laki-laki, sari rapet, keputihan, dan lain-lain.

Memang beradad-abad lalu, jamu sudah dibuat dan dikenal. Ahli-ahli jamu masa lalu biasanya berkhidmat untuk keraton atau kesultanan. Raja-raja Jawa abad-abad lalu diketahui menjadi pemula bagi produksi jamu. Racikan atau resep keraton itu tentu sangat istimewa, sehingga tidak boleh beredar di masyarakat umum. Seiring kemajuan jaman, orang-orang lingkungan keraton mulai mengajarkan meracik jamu kepada masyarakat di luar keraton sehingga jamu berkembang pesat dalam masyarakat[18].

Home industry pun bermunculan dan untuk masa-masa selanjutnya perusahaan besar perjamuan mengambil peran. Jumlah usaha kecil yang terlibat dalam pembuatan jamu meledak di akhir 1980-an dan 1990-an. Pada tahun 1998, hampir 700 perusahaan membuat obat tradisional terdaftar di Departemen Kesehatan. Tujuh puluh sembilan dari mereka digolongkan sebagai industri yang tepat, sisanya industry kecil. Jumlah ini tidak termasuk industry rumah tangga dan perusahaan kecil yang beroperasi secara tradisional.

Tapi tentu saja produk jamu didominasi oleh perusahaan modern berskala besar. Memang perusahaan seperti ini awalnya pun dimulai sebagai bisnis keluarga. Seiring perkembangan jaman, berkembang menjadi industri modern manufaktur jamu baik untuk pasar domestik dan ekspor. Perusahaan-perusahaan paling awal adalah Jamu Cap Jago yang didirikan pada 1918 dan Jamu Cap Potret Nyonya Meneer yang didirikan pada tahun 1919. Perusahaan utama lainnya adalah Sido Muncul (1951), Air Mancur (1963), dan perusahaan baru seperti Mustika Ratu (1975), dan Sari Ayu (1979)[19].

 

Kehadiran jamu sangat membantu rakyat mendapatkan obat. Sebab obat-obatan non jamu masih mahal sehingga rakyat lebih memilih jamu. Perusahaan jamu pun kian menambah variasi maupun produksinya. Yang semula hanya berbentuk serbuk dan cair, lalu ditingkatkan menjadi pil/kapsul. Variasi terbaru berupa minuman berenergi atau dapat disebut obat kuat. Bahkan bentuk kemasannya pun kian canggih, mengundang masyarakat untuk mencoba keampuhan khasiatnya.

Dukun-dukun Betawi, khususnya dukun beranak, masih mengandalkan jamu sebagai salah satu obat. Ada dua jenis jamu yang paling diandalkan untuk mengembalikan kebugaran seorang perempuan sehabis melahirkan, yaitu sari rapet atau galian singset dan jamu godogan. Jamu sari rapat dapat diproduksu oleh perusahaan besar jamu. Tapi jamu godogan yang bentuk penyajiannya sangat sederhana, masih merupakan prosuk industry rumahan (home industry).

Jamu godogan disebut juga jamu babakan adalah jamu yang dibuat dari ramuan berbagai batang dan akar yang dicacah atau dipotong kecil-kecil, daun, dan rempah-rempah yang tidak dihancurkan yang dikemas dalam kantong platik. Jika ingin disajikan, jamu godogan direbut sampai mendidih. Air rebusan itulah yang diminum. Karena rasanya yang sungguh pahit, kebanyakan perempuan tidak menyukainya. Mereka lebih memilih jamu galian singset. Namun oleh dukun jamu itu harus diminum, karena akan menormalisasikan rahim, urat, persendian dan bentuk tubuh menjadi ideal kembali.

Pada saat krisis ekonomi, saat harga obat begitu tinggi, ditambah kesadaran masyarakat betapa penting menggunakan obat-obatan alamiah, sering disebut herbal, maka jamu menjadi pilihan utama. Dua decade terakhir, pemerintah mendorong masyarakat menggunakan jamu. Jamu dan obat-obatan tradisional didorong pula menjadi komoditi unggulan yang dapat memberikan sumbangan positif bagi meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat, memberikan peluang kesempatan kerja, dan mengurangi kemiskinan.

 



[1] Menginginkan sesuatu (makanan dan lain-lain) pada waktu mulai hamil.

[2] Surat kabar Bintang Batavia, 12 Djoeni 1906.

[3] Wawancara dengan Hj. Halifah (dukun bayi, 85 tahun), Kampung Gandaria, Cilandak, Jakarta Selatan, 10 Februari 2011.

[4] Upacara Nujuh Bulan adalah upacara yang berkaitan dengan usia kehamilan yang sudah memasuki tujuh bulan. Lihat Yahya Andi Saputra, Upacara Daur Hidup Adat Betawi. Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2008, hal.  91-100.

[5] Menggunakan air atau ramuan dari akar dan daun yang dimantrai dan disemprotkan ke anak yang sakit atau dibuat untuk kompres.

[6] Tanda putus merupakan kesepakatan antara pihk calon pengantin laki-laki dan pihak calon pengantin perempuan pelaksanaan akad nikah.

[7] Wawancara dengan Hj. Annisa Sitawati (perias pengantin, 54 tahun), Kampung Kemayoran Gempol, Jakarta Pusat, 19 Februari 2011.

[8] Paso, sejenis bejana terbuat dari tanah liat untuk menampung air.

[9] Yahya Andi Saputra, Opcit, hal. 48-50.

[10] Wawancara dengan M. Iqbal (ahli hikmah, 35 tahun), Kampung Limo, Cinere, Depok.

[11] Majalah Tempo, 20 ktober 1998.

[12] Wawancara dengan Bapak Zainudin (Pawang hujan, 55 tahun) Kampung Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, 5 Februari 2011.

[13] Surat Kabar Kompas, 25 Januari 2009.

[14] Wawancara dengan H. Abdul Razak (dukun patah tulang, 56 tahun), Kampung Cilandak Tengah, Jakarta Selatan, 9 Februari 2011.

[15] Wawancara dengan Ahmad Sibli (seniman dan pasien patah tulang, 35 tahun), Kampung Sunter, Jakarta Utara, 13 Februari 2011.

[16] Obat ramuan terbuat dari bangle, kencur, beras, ditumbuk halus dan ditempelkan pada ubun-ubun bayi yang sakit.

[17] Obat ramuan atau burat berbahan kecur, bangle, asam jawa  campur air ditumbuk halus mirip bedak basah (cair) digunakan untuk obat pelumas badan.

[18] www.nyonyameneer.com

[19] Margot L. Lyon, “Jamu for the Ill of Modernity”,

Leave a Comment