|
Ki Dalang : Pemberontakan 1924 Oleh Yahya Andi Saputra
Arsip tentang tanah partikulir dan perihal kehidupan di dalamnya relative tersimpan dengan baik. Namun saya ingin menambah khazanan fakta sejarah drai folklore
yang hidup dan dipertahankan masyarakat. Kisah berikut diturunkan H. Atang (lahir tahun 1916) asal kampung Kosambi, Tangerang, sekitar pemberontakan rakyat yang
dipimpin dlang wayang kulit bernama Kaiin atau Kalin atau Jiah bin Bayah bulan Februari 1924 di kampung Pangkalan, Teluknaga, Tangerang.
Kalin, sering juga dipanggil Jiah, diperkirakan lahir tahun 1884 di kampung Pangkalan. Bapaknya bernama Kayah sedang ibunya tak diingat namanya. Masa kanaknya
tak banyak diketahui. Masuk usia muda ia menjadi bujang sawah (buruh tani).
Sehari-hari ia menumpang di rumah empo (kakak perempuan)-nya, Maiah. Lalu ia membangun rumah ditanah empo-nya. Ia bergaul dengan orang alim sampai orang lalim.
Lantaran itu ia belajar maen pukulan (silat) Betawi aliran Beksi. Saat itulah ia banyak elajr agama dan tarekat. Kalin mengikuti prose situ sampai tamandan
mendapat ijazah dari gurunya.
Ilmu maen pukulan itu rupanya yang membuat Kalin agak disegani, baik oleh tuan tanah maupun “kompeni.” Terbukti dari tak diusiknya Kalin ketika tak mengerjakan
“kompenian.” Bahkan tahun 1909 ia diangkat menjadi mandor di kebun sutra milik seorang tuan tanah Cina. Tiga tahun ia menjadi mandor, lalu keluar karena konflik
dengan tuannya itu. Tidak lama ia pun dipercaya menjadi pembantu polisi di Teluknaga. Merasa tidak betah, ia merantau ke Batavia dan menjadi opas komisaris polisi.
Namun pekerjaan itu pun hanya bertahan tiga bulan.
Ia pulang kampung dan tertarik seni pedalangan. Ia menjadi asisten dalang wayang kulit dan belajar mendalang kepada seorang Cina peranakan di Mauk. Kalin cepat
menguasai seni pedalangan. Ia pun dilantik jadi dalang. Kerja ini disenangi Kalin.
Tahun 1922 Kalin menikah dengan seorang janda kaya beranak satu bernama Tan Teng Nio, yang di-poyokin (digelari) Nyonya Banten. Sejak itu ia menjadi pendiam dan
suka merenung. Ia mulai sering berziarah ke tempat keramat, ke Keramat Mangga Dua (makam Ateng Kartadriya) dan Ujung Keramat (Ujung Harapan Bekasi). Ia pun kerap
berhubungan dengan “orang tarekat,” seperti H. Riun,Sairin (orang ini diketahui pernah menjadi tokoh penting pemberontakan petani Condet tahun 1916), dan orang-orang
dari Jembatan Lima (Abdul Murod, Merin, dan Raden Mangunsaria).
Suatu malam Kalin mimpi bertemu seroang tua berjubah putih yang menyerahkan tongkat sambil berkata “Terima ini tungked. Mulain ini tempo angkau menjadi wali dan
memimpin angkau punya rakyat.” Dalam mimpi itu ia pun mendapat gelar Pangeran Arjuna dan Prabu Rabbul Alamin.
Oktober 1923, Kalin mendapat panggilan mendalang di pesta perkawinan anak sahabat kentalnya. Ia membawakan lakon Sukmawijaya yangmengisahklan perjuangan
seorang pangeran keturunan Prabu Siliwangi. Persis tengah malam Kalin tiba-tiba ini trance. Dlam keadaan tak sadar ia berkata “Saudara-saudara, Prabu
Sukmawijaya itu sebenarnya riwayat hidup saya. Saya ini keturunan Prabu Siliwangi. Saya telah selesai bertapa selama 17 tahun. Maka mulai saat ini saya
akan memakaigelar yang menjadi hak saya, yaitu Ratu Rabbul Alamin atawa Sanghyang Tunggal. Sekarang tiba saatnya saya mendirikan kerajaan dan besok nusa kita
bersama pergi ke gunung Salak untuk mendirikankerajaan itu. Kita bangun istana besar, masjid besar, saluran-saluran air untuk sawah-sawah. Mulai saat ini
saudara-saudara ikut ajakan saya. Saya akan pimpin dan selamatkan saudara. Besok nusa akan dating bencana banjir besar dan semua akan hancur.
Saudra pasti tahu dan sadar akan perbuatan kaum pendatang, orang Cina danorang Kompeni. Orang-orang itu sudah rebut dan kuasai tanah-tanah kita. Hasil tanah-tanah
itu mereka ambil semuanya sehingga kita jadi miskin dan kekurangan. Sadarilah saudara, itu tanah kita, itu padi kita, maka kita harus ambil, kita minta pulangkan
hak kita kembali, yang dari asal pulang ke asal. Akan kita usir mereka agar meninggalkan kampung kita. Percayalah, mereka akan hancur dan kita akan berkuasa
menggantikan orang Belanda.”
Menjelang hari perlawanan tehradap Belanda dan antek-angeknya, Ki Dalang dan pembantu setianya makin sering berziarah ke tempat-tempat keramat sambil mengadakankontak
denganpenyokong di luar Tangerang. Kesibukan di rumah Ki Dalang pun meningkat 100%. Banyak yang mempersiapkan golok atau tombak sebagai senjata yang akan digunakan.
Parapengikut memakai pakaian putih dan tudung cetok terbuat dari anyaman bamboo khas Tangerang. Pembantu dekat Ki Dalang, seperti Merin, Siban, Minah, dan H. Riun,
memberikan pengarahan. Sementara Sairin menulis wafak di kain putih ikat kepala dan emmberikannya kepada pengikut.
Tanggal 10 Februari 1924 seusai sembahyang subuh Ki Dalang mengumpulkanpengikutnya yang dikelompokkannya menjadi lima. Kelompok utama diketuai Ki Dalang.
Kelompok dua diketuai Merin, Kelompok tiga diketuai Siban, kelompok empat diketuai H. Riun, dan kelompok lima diketuai Minah.
Ki Dalang kembali berpidato: “Saudara semuanya harus yakin, kita perjuangkan hak kita. Jangan ragu atawa takut. Nanti kita akan dibantu Yang Kuasa dan
langit jadi gelap gulita. Orang-orang di kampung yang tidak ikut, sebaiknya jangan dibiarkan keluar, sebab bahaya bat mereka. Mari kita ambil kembali hak kita.
Kita usir orang-orang kafir yang serakah itu.”
Serempak terdengar Ki Dalang dielu-elukan pengikutnya. Mereka pun berangkat menuju tempat-tempat musuh. Di perjalanan rombongan ini men-sweeping orang asing
atau kaki tangan tuan tanah. Seroang pedagang kelontong Thio A Pang ditangkap kemudian dilepaskan setelah berjanji tak lagi membantu kompeni.
Seroang tukang timbang padi bernama Sahir ditangkap. Sahir dikatakan menjual padi kepada tuan tanah.shir disiksa sampai tak berdaya.
Massa terus bergerak. Jam 07.30 WIB sampai di rumah kosong tuan tanah di kampung Pangkalan. Mereka lalu beralih menyerbu rumah tuan tanah di Kampung Melayu.
Tuan rumah tak ada dan mereka menangkap administrator tanah partikelir Him Po Lim. Po Lim disiksa lalu dibebaskan setelah berjanji akan meninggalkan tanah partikelir.
Massa bergerak terus dan menduduki kantor Kongsi di Kampung Melayu. Karena kantor ini kosong, mereka menghancurkan buku dan surat-surat “kompenian”.
Kemudian massa mendatangi rumah Asisten Wedana Teluknaga. Asisten Wedana dikepung oleh anak buah Ki Dalang dengan senjata terhunus, namun ia tak sampai dilukai.
Ki Dalang bertolak pinggang dan berkata keras, “Tuan Asisten, saya Prabu Rabbul Alamin sengaja dating mau dapat jawab dengan jelas.”
“Jawaban apa rupanya? Sekira aku mengarti akan aku jawab dengan sebenernya,” kata Asisten Wedana sambil mengerutkan dahi mencoba memahami.
“Apa mau bela pada orang-orang kafir apa tidak? Sebab saya mau sabilullah dan mau cari keadilan,” kata Ki Dalang.
“O…. itu. Sebelonnya aku jawab, sebaiknya masuklah dulu dan kita duduk. Tiada enak bicara sambil bediri. Ayo, masuk semua,” lanjut Asisten Wedana sambil mempersilakan.
Ki Dalang duduk berhadapan dengan Asisten Wedana. Asisten Wedana berkata, “Kalau soal oran gkafir, sejak dulu aku tiada pernah mau bela. Buat apa membela pada orang kafir.”
Mendapat jawab itu wajah Ki Dalang jadi teduh. Mereka ngobrol sambil minum the. Ini salah satu upaya Asisten memperlambat geraka Ki Dalang sebab ia sempat melaporkan
kejadian melalui telefon ke kantor kontrolir Tangerang, kantor polisi Tangerang dan Wedana Mauk. Asisten menasehati agar niatnya menyerang Batavia diurungkan.
Ia tak menggubris.
Pukul 11 siang massa menuju Batavia. Satu rombongan kecil diutus ke Buitenzorg untuk menghadap Gubernur Jenderal. Massa pimpinan Ki Dalang tak bias memasuki Batavia,
sebab sesampainya di kampung Tanah Tinggi, Tangerang, mereka dihadang pasukan Belanda. Ki Dalang bersama 19 pengikutnya mati ditembak, 24 orang lainnya ditangkap.
Begitlah klimaks pemberontakan Ki Dalang.
|