TABE | LANGKAN | TAMPANG | PLAMPANG | NANGGAP | GEROBOG
    Juma'at, 10 Sep 2010
     
Adonan
SOHIBUL HIKAYAT
BEBULAN
PITUAH
SISIK MELIK
DEDENGKOT
PENGULEKAN
BODOR




Longok


 
H. Margani : Gemar Membaca

Image Pria tinggi kekar ini bernama lengkap H. Margani M. Mustar, M.Sc, SE. Lahir di Jakarta 12 Maret 1952. Kini ia menjadi orang nomor satu di Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Provinsi DKI Jakarta. Alias berpangkat Kepala Dinas. Sejak kecil ia telah menanamkan prinsi ikhlas menerima yang diperoleh, melaksanakan yang terbaik, dinamis, dan rendah hati. Oleh karena itu, tak berlebihan jika ia mematrikan komitmen mengabdi kepada rakyat secara tulus dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. "Jabatan adalah amanah yang harus benar-benar dipertanggungjawabkan, baik di hadapan manusia maupun Tuhan Yang Maha Esa," kata Margani.

Margani menjalani masa kecil dengan kondisi yang biasa-biasa saja, jauh dari kehidupan yang serba glamour, tumbuh seperti layaknya anak-anak kampung, bermain di sawah dan berkejar-kejaran di padang rumput. Namun, yang lebih khas pada Margani, sejak keci dia terbilang `kutu buku.` Tiada hari yang terlewatkan tanpa membaca.

Dia menyelesaikan pendidikan dasarnya di Sekolah Rakyat Nasional, Jakarta tahun 1963. Di sana, Margani sudah dikenal sebagai anak yang cerdas dan disiplin. Bukan hanya itu, dia juga anak yang saleh. Bekal keagamaan diperoleh dari didikan kedua orang tuanya, M. Mustar dan Ny. Marhamah. Nilai-nilai keagamaan itu begitu erat tertanam dalam dirinya. Setiap aktivitas dilakoninya dengan restu orang tua.

Perhatiannya dalam belajar sangat tinggi, sehingga tak heran bila di sekolahnya dia sering menggondol juara kelas. Begitu pun ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama di SMPN VII, Jakarta. Tahun 1966, peraih penghargaan Terbaik I Kursus Kesekretarisan DKI Jakarta dan tahun 1974 ini juga berhasil lulus dengan nilai rata-rata mengagumkan.

Namun, kehidupan keluarganya terbilang sederhana. Margani hidup dalam lingkungan keluarga yang memegang prinsip-prinsip dasar keagamaan yang kuat. Ayahnya, M. Mustar hanya seorang pedagang dan mengajar mengaji. Namun selalu disyukuri sehingga senantiasa memberi keberkahan dalam kehidupan rumah tangganya.

M. Mustar adalah seorang pengelana dan banyak menggali pengalaman merantau baik dari seantero nusantara hingga ke negeri Jiran. Pengalamannya merantau sangat mempengaruhi kehidupannya dan bahkan cara mendidik putra-putrinya.

Sebagai putra Betawi asli, ayahnya selalu mengutamakan pendidikan. Dari pengalamannya, ia belajar bahwa orang-orang yang sukses didapat dari pendidikan yang disandangnya. Menurut bapaknya, orang yang tidak berpendidikan bakal susah dalam hidupnya. Untuk itu, dirinya tidak mau jika anaknya susah cuma gara-gara tidak berpendidikan.

Saking bela-belain putranya agar terus sekolah, pernah murid-murid mengajinya disuruh pulang, diliburkan. Orang tuanya berpesan untuk terus bersekolah. Karena orang yang maju dan berhasil didapat dari pendidikannya. Pesan ini yang terus terngiang di telinganya dan menjadi motivasi dirinya. Ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat tinggi, memang sudah menjadi cita-citanya sejak kecil.

Lulus dari SMA Sumbangsih, Jakarta tahun 1969. Margani mendapat cobaan. Orang tuanya sakit-sakitan. Padahal, mereka merupakan harapan dan sumber semangat hidupnya. Namun pria yang hobi olahraga renang ini pantang putus semangat. Di kampungnya, Dukuh Atas, terbilang banyak orang kaya. Tapi sayang, mereka jarang yang melanjutkan pendidikan. Mereka lebih senang lantang-lantung, nongkrong tidak karuan.

Hal ini sama sekali tidak mempengaruhi kebiasaannya yaitu belajar. Penggemar musik melayu mendayu ini terus bersemangat. Tahun 1971, dia berhasil menyelesaikan pendidikan Akademi Penilik Kesehatan, Jakarta. Kepedulian sosialnya memang tinggi, terutama dalam bidang kesehatan lingkungan.

Saking bersemangatnya belajar, kursus-kursus dan pelatihan yang lagi ramai di masa itu digeluti semuanya. Kesekretarisan, Manajemen, Akuntansi, Biostatistik, Kepemimpinan hingga Bahasa Inggris. Sehingga jangan heran, jika mantan Staf Seksi Kesehatan Lingkungan tahun 1973-1980 ini cukup mahir dalam ber-cas-cis-cus Inggris.

Margani juga pernah tertunda menyelesaikan bangku pendidikannya di UI karena skripsinya sempat terlunta-lunta karena ulah dosen pembimbingnya. Upaya dan kerja keras akhirnya menuai hasil. Menakjubkan. Margani bukan hanya kelar kuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) tahun 1981, tapi menjadi yang terbaik. Ia berhasil menyabet gelar cum laude.

Belum puas dengan hasil yang dicapai dan karena masih ingin terus belajar, ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Tahun 1982, lulus Program Pasca Sarjana Kesehatan Lingkungan, FKM UI dengan prestasi memuaskan.

Tahun 1988/1989, pria yang pernah mengikuti Kursus National Training on Hospital Sanitation di Bangkok ini memperoleh kesempatan mengikuti program Post Graduate Course on Sanitary, IHE, DELFT Netherlands.

Menyandang sebagai yang terbaik, tidak menyebabkan dirinya lantas sombong dan berbangga diri. Margani tetap pada prinsipnya pintar memposisikan diri.

Buku-buku pengetahuan memang telah menjadi santapan sehari-harinya. Bukan itu saja, bahkan buku-buku komik juga menjadi sarapan menjelang tidurnya. Sehingga jangan heran, jika Margani hampir hafal semua komik yang pernah dibacanya. Berbagai macam jenis buku dan komik kini menjadi koleksi pribadinya. Sebut saja seperti karya-karyanya Mashadi dan Buya Hamka (Sumber dikmenti.go.id)





Copyright ©2006 kampungbetawi.Com. AllRights Reserved. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. Dilarang meng-copy seluruh atau bagian dari isi situs ini tanpa seijin kampungbetawi.com