TABE | LANGKAN | TAMPANG | PLAMPANG | NANGGAP | GEROBOG
    Juma'at, 10 Sep 2010
     
Adonan
SOHIBUL HIKAYAT
BEBULAN
PITUAH
SISIK MELIK
DEDENGKOT
PENGULEKAN
BODOR




Longok


 
Dr. Siti Nurbaya: Betawi di Kancah Birokrasi
Oleh Suradi (Wartawan Sinar Harapan)

Image Kalau Anda pernah melewati jalan di sekitar Ujung Aspal, Pondok Gede atau sekitar Jalan Raya Hankam di dekat sana ada Jalan Haji Harun I, II, dan III. Dahulu, tanah di kawasan tersebut memang milik Haji Harun dan Siti Rohaya. Salah satu cucu engkong Haji Harun dan Nya Siti Rohaya adalah Siti Nurbaya, Sekjen Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Dari sedikit putera/puteri Betawi yang berjabatan tinggi, salah satunya Siti Nurbaya tadi. Sang engkong mengajarkan falsafah yang masih dipegangnya saat ini, “Cari Lu Dapet, Makan Lu Kenyang” falsafah hidup yang sederhana tapi mendalam ini artinya setiap orang harus berhati-hati dalam berbicara dan berbuat, karena akibatnya akan ke diri masing-masing.

Falsafah Betawi dari sang engkong dipadu dengan falsafah Jawa, falsafah Cina, dan ajaran kepemimpinan dan kekuasaan dari tokoh-tokoh dunia terkemuka yang didapat dari serangkaian literatur pilihan, menjadikan Siti Nurbaya kosmopolit dalam hal berfikir dan memimpin.

Bertemu dan berbincang dengan Siti Nurbaya, tidak terbayang kalau mantan Sekjen Departemen Dalam Negeri (2001-2004) adalah Orang Betawai Asli. Dalam bahasa pergaulan sehari-hari, orang Betawi disebut betokaw. Siti Nurbaya meruntuhkan gambaran atau stereotipe orang Betawi yang sering diidentikan dengan sikap tak mau kerja keras, senang ngobrol ketimbang membaca, pasrah pada nasib dan tak mau sekolah tinggi, apalagi stereotipe untuk perempuan, hanya bersandar pada suami.

Perjalanan Siti Nurbaya –baik dari sisi pendidikan dan pengalaman kerja- membalikkan semua stereotipe tersebut. Ia menyelesaikan jenjang pendidikan formal paling tinggi, doktor di IPB dan memegang sederet jabatan penting yang dilaluinya dari bawah di Kantor Pemerintah Daerah Lampung . Satu hal yang melekat sebagai orang Betawi; ia sangat terbuka dan ramah.

Pegawai Negeri Sipil (PNS) Teladan tingkat Nasional tahun 2004 ini adalah pekerja keras yang sampai saat ini masih sangat energik. Sepanjang karirnya sebagai PNS dilalui dengan berbagai pendidkan dan pelatihan, baik di dalam maupun di luar negeri.Tidak salah bila lembaga baru DPD melirik Siti Nurbaya untuk menjadi Sekjennya. Mengingat tugas Sekjen DPD yang cukup berat dengan ritme yang tinggi, pas dengan kualifikasi yang dimiliki anak Betawi ini.

Bobot Berfikir Menonjol Tugas yang diemban Siti Nurbaya sebagai Sekjen DPD (legislatif) berbeda ketika jabatan serupa dijabatnya di Depdagri (eksekutif) “Sekarang ini kretifitas harus lebih tinggi dan bobot berfikir lebih mengemuka ketimbang di eksekutif dulu yang lebih mengutamakan pemikiran solutif atas sebuah permasalahan.dengan demikian tantangannya berbeda,” ujar Siti Nurbaya di ruang kerjanya yang cukup nyaman di Lantai 5 Gedung DPD, Senayan, pekan lalu.

Tugas Sekjen DPD katanya, memberi dukungan keahlian dan administratif. Oleh karena itu Sekjen DPD harus mahir dalam mengikuti irama politik para anggota DPD dan lembaga DPD sendiri. Irama politik yang dimaksud adalah apa yang menjadi isu untuk menjadi agenda pembahasan dalam alat kelengkapan dan menjadi koridor yang benar untuk digodok,misalnya kasus lumpur Lapindo dan juga katering haji.”Tugas utama saya saat ini bagaimana memberi dukungan untuk para legislator mengangkut fungsi legislasi, budget, dan pengawasan, karena yang mengambil keputusan adalah para anggota DPD, bukan Sekjen” katanya.

Bagaimana melaksankan tugas dengan beban kerja yang tinggi dan ritme yang snagat dinamis? dibutuhkan daya kreatifitas dan daya khayal tinggi dan juga daya antisipasi tinggi atas setiap isu atau masalah di DPD. Untuk kelancaran itu semua, Siti Nurbaya tetap mengasah intuisi dengan banyak membaca, mendengar, berbagai pengalaman dengan pihak lain, termasuk dengan wartawan.

“Lebih dari itu saya sangat enjoy di DPD. Mengapa? Di sini lebih demokratis dan saya tak perlu khawatir berbeda pendapat dengan pimpinan DPD, baik di rapat pimpinan maupun di luar,” ungkap Siti Nurbaya.

Namun demikian, meski sebagai anak Betawi, Siti Nurbaya mendalami nilai-nilai budaya Jawa, terutama falsafah “Jangan mentang-mentang” sehingga dalam implementasi di lapangan tidak terjadi benturan. Dia kembali mengungkap falsafah Jawa, “Kalau mau diperhitungkan orang, otak harus encer. Tapi, juga harus berbicara yang benar.” Sungguh luar biasa.

Nominasi Menteri Dalam Negeri

Pekan ini (awal Agustus 2007, Red) nama Siti Nurbaya selalu dikaitkan dengan bursa calon Menteri Dalam Negeri (Mendagri) bersama sejumlah mantan militer seperti Gubernur DKI Sutiyoso, Ketua Komisi II DPR EE Mangindaan , Gubernur Jateng Mardiyanto, Sekjen Wantanas Letjen TNI M.Yasin dan beberapa nama lainnya. Mengapa tiba-tiba nama Siti muncul?

“Saya sendiri ngak tahu. Mungkin karena mereka melihat saya sebagai mantan Sekjen Depdagri dan puluhan tahun mengabdi di Depgadri,” katanya kepada SH, di ruang kerjanya, lantai 4 Gedung Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Senayan.

Siti Nurbaya yang baru saja mengikuti rapat paripurna DPD dalam rangka persiapan rapat pipinan MPR untuk memutuskan amendemen kelima UUD'45, tak mau berkomentar soal posisi yang ditinggalkan Mohammad Ma'ruf itu. “Saya tak mau berkomentar. Biarlah orang bicara soal Mendagri,” katanya singkat.

Ketika didesak bahwa dukungan terhadap dirinya datang dari berbagai kalangan, Siti Nurbaya juga tak tergoda. “Bagaimana kalau kita bicara bagaimana beratnya tugas Mendagri ke depan, bukan siapa yang pantas menjadi Mendagri,” ujarnya mengalihkan perhatian soal posisi Mendagri.

Berbincang dengan Siti Nurbaya akan membawa kita pada sosok perempuan yang gigih, energik, dan menguasai berbagai persoalan politik dalam negeri dan tak kenal lelah untuk terus menyumbangkan pemirannya bagi perbaikan bangsa ini ke depan.

Nama Lengkap : Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar

Tempat Tangal Lahir : Jakarta , 28 Agustus 1956

Alamat : Oma Regency, Kav 9, Mampang, Jakarta Selatan.

Pangkat Terakhir : Pembina Utama Golongan IV E

Pendidikan

Phd : Institut Pertanian Bogor (IPB), 1998

Master : International Institut for Aerospace Survei and Eart Science, Belanda

Sarjana : Institut Pertanian Bogor (IPB), 1979

SMA : SMA Negeri 8 Bukit Duri Jakarta Selatan, 1974

SMP : SMP Negeri 50 Slamet Riyadi, Jakarta Timur, 1971

SD : SD Muhammadiyah III Matraman Jakarta Timur, 1968

Penugasan ke Luar Negeri

- Studi Banding Parlemen Jepang, 2007

- Studi Banding parlemen Australia, 2006

- Studi Banding Pemilu Lokal dan Keuangan Daerah, Jepang, 2003

- Pimpinan Delegasi Dialog Perbatasan RI-Malaysia, Sabah-Malaysia, 2001

- Anggota Delegasi CGI Meeting, Tokyo, 2001

- Studi Desentralisasi Halfax, Canada, 1999

- Studi WHO, Jenewa, 1977

- Pertemuan Young Political Leader or East Asia, Kuala Lumpur, 1996

Keluarga:

Suami : Rusli Rahman (58)

Anak-Anak : Meita Mivida dan Ananda Tohpati





Copyright ©2006 kampungbetawi.Com. AllRights Reserved. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. Dilarang meng-copy seluruh atau bagian dari isi situs ini tanpa seijin kampungbetawi.com