|
Perjuangan Ulama Betawi
Sejak abad ke-17 ulama Betawi telah melakukan perlawanan terhadap Belanda. Tokoh ulama Betawi seperti Syekh Junaid al Batawi bahkan membangun kontingen pemukiman asal Betawi di kota suci Mekah. Guru Mansyur salah seorang yang pernah mukim di Mekah.
Guru Mansyur
Guru Muhammad Mansyur dilahirkan di kampung Jembatan Lima Jakarta Barat pada tahun 1875. Ayahnya bernama Abdul Hamid Damiri al Batawi, sedangkan ibunya bernama Rofi’ah binti H. Margan. Sejak kecil ia mengaji dengan ayahnya sendiri. Pada usia remaja Mansur mukim di Mekah. Gurunya di Mekah antara lain Syekh Umar bin Muhammad Rasyidi Sembawa, Syekh Mujtaba bin Ahmad al Batawi. Di Betawi gurunya antara lain H. Muhamamad Saleh bin Syarbini al Batawi dan Syekh As’ad al Junaid al Batawi.
Guru Mansyur sewaktu-waktu hadir dalam majelis ta’lim Said Usman bin Abdullah pengarang kitab Sifat Duapuluh.
Guru Mansyur menguasai ilmu falak Guru Mansyur memelopori penggunaan ilmu hisab dalam menentukan awal Ramadhan dan hari raya Idul Fitri di Betawi. Selama hayatnya Guru Mansyur menulis 19 buah kitab. Semuanya mengenai ilmu falak.
Guru Mansyur mendalami ilmu falak karena dulu di Betawi orang menetapkan awal Ramadhan dan hari lebaran dengan melihat bulan. Kepala penghulu Betawi menugaskan dua orang pegawainya untuk melihat bulan. Jika bulan terlihat, maka pegawai tadi lari ke kantornya memberi tahu kepala penghulu. Kepala penghulu meneruskan berita itu kepada mesjid terdekat. Mesjid terdekat memukul bedug bertalu-talu tanda esok lebaran tiba. Kanak-kanak yang mendengar bedug bergembira, lalu mereka berlarian ke jalan raya sambil bernyanyi lagu dalam bahasa Sunda.
Lebaran Tong lebaran
Iraha Tong iraha
Isukan Tong isukan
Tetapi banyak juga orang yang tidak mendengar pemberitahuan melalui bedug. Akibatnya lebaran dirayakan dalam waktu yang berbeda.
Guru Mansyur memahami permasalahan ini. Karena itu Guru Mansyur mendalami ilmu falak. Setiap menjelang lebaran Guru Mansyur mengumumkan berdasarkan perhitungan ilmu hisab lebaran akan jatuh dua hari lagi, umpamanya.
Dalam adat Betawi Guru orang yang sangat alim, ilmunya tinggi , menguasai kitab-kitab agama, dan menguasai secara khusus keilmuan tertentu. Di atas Guru dato’. Dato’ lebih dari Guru, dan Dato’ menguasai ilmu kejiwan yang dalam. Di bawah Guru mu’alim. Mu’alim ilmunya masih di bawah Guru. Di bawah Mualim ustazd. Ustadz pengajar pemula agama. Di bawah Ustadz guru ngaji. Guru ngaji mengajar mengenal huruf Arab.
Guru Mansyur terlibat langsung dalam perjuangan kemerdekaan. Ketika Jakarta diduduki Belanda tahun 1946, Guru Mansyur memerintahkan agar di menara mesjid Jembatan Lima dikibarkan bendera merah putih. Belanda memerintahkan bendera diturunkan, Guru Mansyur menolak. Tentara Belanda menembaki menara mesjid. Guru Mansyur tidak berubah pendirian.
Melihat kekerasan hati Guru Mansyur, Belanda bertukar siasat. Belanda menyerahkan hadiah berupa uang kertas satu kaleng biskuit. Guru Mansyur langsung menolak sambil berkata: “Gue kagak mau disuruh ngelonin kebatilan”
Guru Mansyur pemberani, namun hatinya mulia. Guru Mansyur wafat pada tanggal 12 Mei 1967. Jenasahnya dimakamkan di halaman mesjid Jembatan Lima. Orang Betawi senantiasa ingat akan pesannya: “Rempug! Kalau jahil belajar. Kalau alim mengajar. Kalau sakit berobat. Kalau jahat lekas tobat”.
|