YAHYA ANDI SAPUTRA

 

Himmah atau spirit kebetawian yang dimiliki Yahya dari waktu ke waktu kian membesar dan hal itu dipelihara serta dipupuknya dengan amat baik. Jika banyak orang memanfaatkan Betawi untuk berbagai tujuan dan kepentingan, Yahya justru lebih sering menjadi ’tukang cuci piring’ setelah berbagai pesta bernuansa kebetawian berlangsung. Sebagai peneliti kebudayaan, Yahya agaknya memahami benar karakter masyarakat Betawi.

Lahir di Kampung Gandaria Selatan, 5 Desember 1961, Yahya menamatkan studi pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya), Universitas Indonesia, tahun 1988. Kecintaannya kepada kesenian Betawi sudah muncul sejak anak-anak. Meski masih berusia sekitar sembilan tahun dan bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Al-Hurriyah, anak kedelapan pasanagan H. Rachmat bin Nisin dan Hj. Halifah binti H. Zainuddin, ini sudah ikut pementasan lenong. Jiwa seninya kian menggelegak saat remaja. Mulai menulis puisi, cerpen, resensi maupun opini sejak SMA. Tulisannya pernah dipublikasikan Media Indonesia, Bisnis Indonesia, Republika, Pelita, Majalah Panji Masyarakat, Jurnal Puisi, dan lain-lain.

Ayah satu putri ini pernah menjadi wartwan majalah periklanan, komunikasi, dan pemasaran Cakram. Sebelumnya pernah menjadi redaksi Majalah Kita Sama Kita dan Tabloid Bens, majalah FUHAB, dan majalah Jembatan. Ia pun aktivis Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Ketua Umum Badan Pemberdayaan Budaya Betawi (BPBB), dan Ketua Bidang Pariwisata dan Kebudayaan DPD Forkabi Jakarta Selatan.

Yahya telah menulis buku antara lain: Gelembung Imaji (kumpulan puisi, 1999), Siklus Betawi, upacara dan adat-istiadat. Bersama H. Irwan Sjafi’ie dan SM. Ardan (Dinas Kebudayaan DKI, 2000), Beksi, maen pukulan khas Betawi. Bersama H. Irwan Sjafi’ie (Gunung Jati, 2001), Ragam Budaya Betawi (Kelas III, IV, V, VI), buku penunjang bacaan muatan lokal untuk SD. Tim penulis bersama Ridwan Saidi, Maman S. Mahayana, dan Rizal (Dinas Kebudayan dan Permuseuman DKI Jakarta, 2002), Ragam Budaya Betawi (Kelas I, II, III), buku penunjang bacaan muatan lokal untuk SLTP. Tim penulis bersama Ridwan Saidi, Maman S. Mahayana, dan Rizal (Dinas Kebudayan dan Permuseuman DKI Jakarta, 2002), Upacara Daur Hidup Adat Betawi (Wedatama Widya Sastra, 2008), Pantun Betawi, Refleksi Dinamika, Sosial-Budaya, dan Sejarah Jawa Barat Dalam Pantun Melayu Betawi (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat, 2008), Profil Seni Budaya Betawi (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, 2009), dan Permainan Tradisional Anak-Anak Betawi (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, 2011). Menulis skenario Film Dokumenter, khusus tentang budaya Betawi, antara lain: “Ngelamar Care Betawi”, “Perkawinan Adat Betawi”, “Pergi Haji Care Betawi”, “Silat Beksi”, “Nisfu Sya’ban Betawi”, dan beberapa naskah sandiwara Betawi.

Karena kecintaannya kepada Betawi, anggota Komite Kebudayaan Bamus Betawi, ini tinggal selama tiga bulan di Jepang sebagai Visiting Reseach Fellow, Research Institute for Humanity and Nature (RIHN), Kyoto. Selama di Jepang, Yahya melakukan penelitian dan memberikan presentasi di beberapa universitas tentang kearifan lokal Betawi.

Selain aktif di organisasi kebetawian, Yahya menjadi pengurus MWC NU Cilandak dan menjadi staf pengajar pada SMP Yaspia serta dosen tidak tetap D3 Pariwisata, FISIP UI, Depok.

Selain itu, Yahya kerap diminta menjadi narasumber oleh berbagai media cetak dan elektronik, pembicara di berbagai seminar/lokakarya, dan menjadi juri berbagai kegiatan (Abnon, festival seni, dan sebagainya). Tak cukup hanya dengan itu, Yahya masih mengelola media maya atau website www.kampungbetawi.com dan www.lembagakebudayaanbetawi.com. Yahya menikah dengan Suli Setiawati dan dikaruniai seorang putri, Sausan Yusria. Bersama keluarganya, ia tinggal di Jalan Bahari raya No.5, Gandaria Selatan Cilandak Jakarta selatan (RD)

 

Leave a Comment