KARTINI

MAESTRO TOPENG BETAWI

Maestro Tari Topeng Betawi ini lahir di kampung Asem, Cijantung, Jakarta Timur, 5 Maret 1960. Orang tuanya, Kisam – Nasah, dan kakek- neneknya, Jiun – Kinang, adalah seniman topeng Betawi. Jiun – Kinang dikenal sebagai generasi pertama, yang menurunkan pelanjut kesenian topeng Betawi hinga saat ini. Dengan begitu, anak pertama dari 11 bersaudara, ini jelas menurunkan darah seni dari kakek nenek dan ayah ibunya.

Istri H. Rahmat Ruchiyat ini saat kecil berbeda dengan anak seusianya. Di usia yang masih amat belia, 10 tahun, ia mengikuti langkah kakek dan neneknya. Kakek, nenek, dan cucu itu selalu menghabiskan hari-harinya, mengitari kampung-kampung sekitar Jakarta bahkan sampai wilayah Jawa Barat, bermain Topeng Betawi.

Sambutan pun luar biasa. Pertunjukan Topeng Betawi menjadi primadona masyarakat Jakarta dan sekitarnya kala itu. Hajatan seakan tak lengkap tanpa Topeng Betawi, yang biasanya terdiri atas musik, lakon, dan tari. Lantaran banyaknya permintaan, ”Bisa seminggu tidak pulang (ke rumah),” ujar Kartini, mengenang masa-masa keemasan Topeng Betawi.

Awalnya, Kartini kecil hanya duduk di pinggir panggung pertunjukan, menyaksikan kakek dan neneknya bermain Topeng Betawi. Ia masih belum tertarik dengan aktivitas sang kakek dan nenek, meski ia sudah mulai belajar menari.

Tahun 1973, sekitar tiga tahun setelah aktif mengikuti kegiatan kakek-neneknya di panggung-panggung pertunjukan, ia diminta mengikuti sebuah festival di Bandung, mewakili daerah Bogor. Seperti juga neneknya, Kartini menjadi salah seorang penari dalam festival itu. ”Dari situ saya mulai suka,” jelasnya.

Apa boleh buat, aktivitas kesenian harus ia bayar ‘mahal’. Ikut pertunjukan dari panggung ke panggung membuatnya tak punya waktu yang cukup mengenyam bangku pendidikan formal. Ia hanya tamat SD (Sekolah Dasar).

Topeng Betawi adalah salah satu jenis kesenian tradisional Betawi yang tumbuh dan berkembang di wilayah budaya Betawi,  yang meliputi daerah Provinsi DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, dengan rincian  Propinsi DKI Jakarta, Kabupaten Tangerang, Kotamadya Tangerang, Kabupaten Bekasi, Kotamadya Bekasi, Kotamadya  Depok, dan sebagian daerah Kabupaten Bogor.

Dalam bahasa Betawi perkataan “topeng” berarti tontonan, pertunjukan, teater, penari atau primadona. Sedangkan topeng penutup muka dalam bahasa Betawi disebut kedok. Tidaklah aneh bila dalam pertunjukan topeng Betawi, justru bagian pertunjukan atau pemain yang mempergunakan kedok hanyalah “Tari Topeng Kedok” pada bagian pra lakon dan Bapa Jantuk pada bagian tontonan tambahan setelah selesai lakon.

Menurut babad Sanghyang Siksakanda-Ng Karesyan (ditulis tahun 1518 atau 1440 saka), pertunjukan sejenis topeng diperkirakan sudah eksis sejak abad ke-16. Pada bab 10 dari babad itu, dikatakan dengan tegas sebuah kata, yaitu ’tapukan’ yang arti harfiahnya adalah tari topeng. Arti kata itu dipertegas pula oleh Dr. Th. Pigeaud dalam bukunya berjudul Javaanse Volksvertonngen (terbit ahun 1938), bahwa kata ’tapukan’ artinya adalah tari topeng.

Perjalanan waktu membuatnya kian matang menarikan Topeng Betawi. Pertunjukan demi pertunjukan dijalaninya. Tak hanya di dalam negeri, seperti Jawa, Bali Sumatera, Kalimantan, dan Nusa Tenggara, tapi juga sampai ke mancanegara. Hongkong, Singapura, Nigeria, dan Mesir sudah dijelajahinya, mementaskan Topeng Betawi. Setiap kali tampil di luar negeri, sambutan yang dia rasakan sungguh luar biasa. Tepuk tangan panjang selalu menyertai tiap kali mengakhiri sebuah tarian. Sambutan itu mengharukan. Dia menganggapnya sebagai obat, penghilang lelah.

Kartini merasa cemas. Kini, hampir tak ada lagi masa-masa yang menyenangkan, masa keemasan. Masa-masa itu telah berlalu. Kisaran tahun 1970-1985, menurut Kartini, hampir tiap hari Topeng Betawi dipentaskan. Setelah itu, permintaan sepi. Penanggap sepi, apresiasi masyarakat berkurang. Tepuk tangan penonton tak meriah lagi. Tapi, di usianya yang ke-50 saat ini, Kartini tak patah arang. Topeng Betawi telanjur menyatu dalam jiwanya, menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Topeng Betawi yang dirintis orang tuanya, masih ia kibarkan.

Kini aktivitas ibu seorang anak dan seoang cucu ini, selain mengajar tari di SD, SLTP, dan SMU, juga melatih di beberapa sanggar tari, seperti Sanggar Setu Babakan dan Sanggar Widyarini. Ratusan murid yang belajar, bukan hanya orang Betawi, tapi dari berbagai etnik yang ada di Indonesia dan tinggal di Jakarta. Ini yang membuat hatinya berbunga-bunga. Ia membaangkan seni tari Betawi akan sangat maju dan tersebar ke selurh Indonesia.

Kartini telah memperoleh Penghargaan Anugerah Budaya dari Dinas Kebudayaan, Gubernur DKI Jakarta tahun 2005, dan anugerah Maestro Seniman Topeng Betawi dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemntrian Pariwisata dan kebudayaan RI tahun 2008 (YAS).

Leave a Comment