H. NIRIN KUMPUL

H. NIRIN KUMPUL

Topeng Betawi Laksana Ngayun Anak

Topeng dalam bahasa Betawi mempunyai beberapa arti. Pertama berarti kedok  atau penutup wajah. Kedua berarti teater dan pertunjukan. Ketiga berarti primadona atau penari.

Topeng Betawi mulai tumbuh dan berkembang pada akhir abad ke-19. Daerah pertumbuhannya di pinggiran Jakarta. Karena tumbuhnya di pinggiran Jakarta, topeng dipengaruhi oleh kesenian Sunda. Waktu itu masyarakat mengenal topeng melalui pertunjukan ngamen keliling kampung. Ada yang berpendapat topeng Betawi berasal dari kesenian ubrug. Pendapat itu masih perlu diperdebatkan. Dahulu ubrug dan topeng Betawi hidup secara berdampingan.

Pada awalnya pementasan atau pertunjukan topeng tidak menggunakan panggung. Topeng mengadakan pentas di tanah. Bila perkumpulan topeng mengadakan pementasan, properti yang digunakan hanya colen (lampu minyak) bercabang tiga dan gerobak kostum  diletakkan di tengah arena. Awal 1960-an pertunjukan sudah dilakukan di atas panggung. Alat penerangnya bukan lagi colen, tetapi lampu petromaks atau listrik. Di panggung dipasang layar polos ditambah properti lain berupa sebuah meja dengan dua buah kursi.

Pertunjukan topeng diiringi oleh musik yang disebut tabuhan topeng. Tabuhan topeng terdiri atas rebab, kromong tiga, gendang besar, kulanter, kempul, kecrek, dan gong buyung. Lagu yang dimainkan lagu Sunda Gunung namun khas daerah pinggir Jakarta. Nama lagunya antara lain : Kang Aji, Sulamjana, Lambangsari, Enjot-enjotan, Ngelontang, Glenderan, Gojing, Sekoci, Oncom Lele, Buah Kaung, Rembati, Lipet Gandes, Ucing-Ucingan, Gegot, Gapleh, Karantangan, Bombang, dan lain-lain.

Pertunjukan topeng biasanya diadakan sehubungan dengan pesta perkawinan, hitanan, dan nazar. Pertunjukan yang dimaksudkan membayar nazar ditandai dengan upacara ketupat lepas. Ada upacara yang harus dikerjakan sebelum pementasan topeng. Upacara ini bertujuan agar pertunjukan selamat dan agar alam tidak marah yang dapat membinasakan manusia.

Pertunjukan topeng Betawi berjalan semalam suntuk. Pertunjukan dibagi dalam tiga bagian. Bagian pertama pra-lakon. Bagian kedua lakon atau cerita inti. Bagian ketiga Jantuk. Pra-lakon dimulai setelah shalat Isya dengan menampilkan lagu instrumentalia. Instrumentalia ini disebut Arang-Arangan dan Tetalu yang berfungsi mengumpulkan penonton. Setelah instrumentalia dilanjutkan dengan tari Topeng Kedok atau Topeng Tunggal yang dimainkan oleh penari wanita berbusana gemerlap dan indah. Topeng tunggal ini dimainkan dalam tiga karakter, yaiu Srikandi, Subadra, dan Pajingga. Di tengah tarian muncul Bodor dimainkan seorang pria dengan busana sederhana namun kelihatan lucu. Pasangan yang kontras ini manari, menyanyi, dan melawak.

Lakon atau cerita inti dimulai hampir tengah malam. Jika lakon yang dibawakan pendek, dalam satu malam dimainkan dua atau tiga lakon. Jika lakon panjang, hanya satu lakon. Lakon panjang antara lain berjudul : Bapak Sarkawi, Jurjana, Mandor Dul Salam, Pendekar Kucing Item, Tuan Tanah Kedaung, Lurah Barni dari Rawa Kalong, Lurah Murja, Rojali Anemer Kodok, Asan Usin, Daan Dain, Waru Doyong, Aki-Aki Ganjen, dan sebagainya. Ciri khas lakon itu mengisahkan tokoh-tokoh yang akrab dan dikenal masyarakat. Bahasa yang digunakan yaitu bahasa Betawi pinggir atau disebut juga bahasa Betawi Ora.

Setelah lakon inti selesai,bagian penutup dimulai. Bagian ini berisi lakon Bapak Jantuk. Lakon Bapak Jantuk berlangsung sampai datangnya waktu subuh. Lakon Bapak Jantuk dimainkan oleh pemeran Bapak Jantuk, Mak Jantuk, dan anak mereka yang berupa boneka yaitu Si Jantuk. Tokoh lain yaitu mertua Jantuk yang biasanya dimainkan oleh pemusik paling senior sambil tetap duduk. Bapak Jantuk berkedok hitam dengan muka sembab, jidat (dahi) nongnong (menonjol).

Cerita Bapak Jantuk berkisar sekitar Pak Jantuk yang gembira sambil menimang anaknya. Kegembiraan Bapak Jantuk terhenti ketika ia mencari lauk kesukaannya, hilang dimakan kucing. Bapak Jantuk marah kepada istrinya, Mak Jantuk. Mak Jantuk tidak menerima perlakuan Bapak Jantuk. Mereka bertengkar. Puncak pertengkaran Bapak Jantuk menceraikan Mak Jantuk.

Hidup sebagai duda membuat Bapak Jantuk sadar. Atas saran mertuanya, Bapak Jantuk mengajak rujuk Mak Jantuk. Mak Jantuk juga bersedia rujuk. Akhirnya keluarga Jantuk rukun kembali.

Inti cerita Bapak Jantuk adalah nasehat berkeluarga. Jangan membesar-besarkan masalah kecil. Jangan terlalu cepat mengambil keputusan yang akhirnya merugikan. Persoalah harus diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Nasehat itu disampaikan dengan sederhana dan penuh humor.

Dalam perkembangannya, topeng tidak lagi main semalam suntuk. Keterbatasan waktu menyebabkan bagian pra-lakon dan bagian Bapak Jantuk tidak dimainkan. Akibatnya saat ini tidak ada seniman topeng yang mampu membawakan tokoh Bapak Jantuk dengan baik. Kondisi ini cukup menghawatirkan bagi kelangsungan hidup episoda Bapak Jantuk.

Menyisakan H. Nirin Kumpul

Sepeninggal H. Bokir Jiun, H. Kisam, dan H. Dalih Jiun, praktis seniman Topeng Betawi paling senior saat ini adalah H. Nirin Kumpul (60 tahun). Dengan begitu, sanggar Topeng Betawi yang dipimpin H. Nirin, di Kampung Gandaria, Pekayon, Jakarta Timur menjadi salah satu kiblat penggodogan dan regenerasi seniman Topeng Betawi. Tiap hari Minggu, rumah H. Nirin, yang difungsikan sebagai sanggar latihan, dipenuhi puluhan remaja putra putri yang berlatih Topeng Betawi (tari, lagu, dan lakon).

H. Nirin memang menurunkan darah kesenimanan topeng Betawi dari keluarga. Keluarga besarnya, mulai kakek sampai bapak, adalah seniman topeng Betawi. H. Nirin mengaku menjadi seniman topeng sejak orok. Sebab ketika orang tuanya (Kumpul bin Modo dan Mani binti Masim) melakukan pementasan, dia selalu dibawa.

Menurut H. Nirin, orang tuanya jatuh bangun membangun topeng Betawi sejak tahun 1930-an. Saat itu seniman topeng Betawi yang menjadi kiblat adalah pasangan Jiun dan Mak Kinang dari Cisalak. Orang tua Nirin pun sempat menimba ilmu topeng dari Jiun dan Mak Kinang.

Nirin mengaku, sejak muda ia termasuk bintang panggung yang sering ditungu pengemarnya. Lantaran kebintangannya itulah, ia sering diminta memperkuat perkumpulan topeng dari berbagai kampung. Terlalu sering dibon (main di grup lain), membuat Nirin kurang perduli dengan grup keseniannya sendiri. Akhirnya dia menyadari kekeliruan langkahnya. “Saya sadar, kok warung orang dirawatin, warung sendiri ditinggalin,” begitu kenang Nirin menyadari kekeliruannya. Sejak saat itu dia pulang ke kampung Gandaria, Pekayon dan menata kembali sanga keseniannya.

Dalam pandangan H. Nirin, pementasan topeng Betawi itu sesungguhnya penceminan dari perilaku sehari-hari manusia. Semua orang, menurut H. Nirin, sebenarnya tak luput dari mengenakan topeng dalam hidupnya. Ada yang berupa topeng polisi, guru, tukang sayur, dosen, kyai, hakim, tentara, dan sebagainya. “Coba dah buka semua baju, pasti manusia bentuknya begitu. Yang bedain paling-paling kurus ama gemuknya doang,” tutur Nirin. Orang yang nonton topeng, sebenarnya nonton dirinya sendiri. Begitu hakekat Topeng Betawi.

Pertunjukan topeng Betawi yang asli, menurut H. Nirin, sebenarnya diawali dengan penari yang mengenakan topeng (tari topeng tunggal) dan diakhiri dengan pemain yang mengenakan topeng juga (lakon Jantuk). “Dulu waktu ada upacara sedekah bumi, topeng seperti itu. Lakon mah sebenernya buat manjangin waktu, biar ampe pagi,” kata H. Nirin.

Salah satu bagian terpenting justru ada lakon Jantuk. Menurut H. Nirin, Jantuk itu kan intinya menimang anak. Penonton diajak berpikir, menimang anak itu sama dengan mencari semua dan memanfaatkan waktu untuk digunakan menjadi berguna, tidak sia-sia. “Nimang anak itu kan ngayun anak. Kita kudu kreatif menciptakan kesempatan dalam hidup ini. Begitu Jantuk kasih perumpamaan,” ungkap H. Nirin.

Topeng Betawi, menurut H. Nirin, sangat khas. Kekhasannya dapat ditemui dengan penggunaan topeng yang empat karakter. “Topeng Cirebon kan tarian dan topengnya satu.  Kita mah Betawi pake empat topeng. Ada lagu, ada tari, ada lakon,” ungkap H. Nirin.

Memang H. Nirin dikenal juga sebagi seniman serba bisa. Keahlian utamanya di topeng Betawi, ditopang dengan kemampuan menyanyi, main musik, menari, dan menciptakan carita. Belakangan, lantaran banyak orang datang meminta nanggap lenong, maka H. Nirin pun membuka sanggar lenong. Menurut H. Nirin, masyarakat memang masih belum dapat membedakan antara topeng dan lenong. Masyarakat mengenal seni teater tradsional Betawi yang pentas mengunakan bahasa Betawi, diangap lenong. Padahal tidak begitu.

Dulu di pertengahan tahun 1970-an, ketika almarhum SM. Ardan, D. Jayakusuma, Soemantri Sosrosoewondo mengembangkan lenong di Taman Ismail Marzuki (TIM), semua seniman tanpa dibedakan latar belakang jenis seninya, direkrut dan diajak main lenong. Maka ketika H. Bokir dan H. Nasir naik daun lewat lenong di TIM, maka mereka tidak dikenal sebagi seniman topeng Betawi. “Ini awal kesalahan mengapa topeng tidak populer di tengah masyarakat,” tutur H. Nirin.

Namun setidak populer apa pun topeng Betawi, bagi H. Nirin saat ini ia sudah sangat merasa berkah dalam merawat topeng Betawi. Hampir seluruh kota besar di nusantara, pernah disinggahinya untuk mementaskan topeng Betawi. Dari topeng Betawi inilah namanya kian meroket di dunia hiburan, khususnya di dunia film dan layar. Kehidupannya boleh dibilang relatif cukup sejahtera. H. Nirin antara lain pernah membinangi Hantu Biang Kerok, Pepesan Kosong, Bang Jagur, Sok Kenal Sok Deket, Perawan Syaraf, Juragan Lenong, Julia Anak Gedongan, Kolor Sakti, dan lain sebagainya.

H. Nirin mengaku hubungnnya dengan seniman dan selebritis papan atas dipelihara dengan baik. Bahkan dengan orang nomor satu rumah produksi Multivision, Raam Punjabi, hubungannya sangat baik. “Sya jaga hubungan baik, saya nggak mau mengecewakan. Saya main sebaik-baiknya,” aku H. Nirin. Lantaran begitu, H. Nirin kerap dipercaya memainkan peran utama dalam film maupun sinetron.

Meski nama H. Nirin di blantika hiburan seni tradisi dan modern menjulang tingi, namun ayah tujuh anak dan sembilan cucu ini, tetap lowfrofile, tak menunjukkn sifat arogan. Ia tak merasa diri paling tinggi dan paling memahami seni topeng Betawi. Jika ada tanggapan di kampung, ia tetap turun tangan membereskan panggung dan bemain total sebagaimana seharusnya. Bahkan melalui sanggarnya, ia ingin menggembleng anak didik menjadi seniman mahir. Melalui mereka nantinya topeng Betawi menyebar ke seluruh Indonesia, sebab sebagian besar anak didiknya berasal dari berbagai etnik, bukan hanya Betawi.

Topeng Betawi, menurut H. Nirin, adalah kesenian milik masyarakat, dan masyarakat mempunyai hak merawatnya juga (Y A S).

Leave a Comment