Burhanuddin

BURHANUDIN (BOLON)

Nama : Burhanuddin

TTL : Jakarta, 13 Oktober 1967

Pendidikan terakhir : SMU

Pekerjaan : Seniman

Alamat : Jl. Gandaria IV RT. 012/09 No. 4, Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Pecinta sinetron Islam KTP sudah kenal akrab dengan sosok yang memerankan tokoh namanya sendiri namun lebih sering meniru gaya dan suara Raja Dangdut, Rhoma Irama. Ya, dialah Burhanuddin alias Burhan dan sering pula dipanggil Bolon. Kepiawaiannya berakting di depan kamera, menurutnya, karena sejak orok sudah terbiasa tampil dalam pergelaran kesenian tradisional, khususnya lenong. Sejak orok? Iya, tentu saja. Karena mulai dari buyutnya Modo, kakeknya Samad lalu ibunya Ani dan ayahnya Rojali adalah seniman lenong. Jadi darah kesenimanan itu didapatkan turun-temurun.

Burhan dilahirkan di kampung Pekayon, Jakarta Timur,13 Oktober 1967. Anak ke lima dari 12 bersaudara ini merasa mampu berkesenian begitu saja. Artinya tanpa belajar formal. Kemampuannya memainkan alat musik gambang kromong atau membawakan karakter dalam lakon lenong sangat piawai, baik lenong denes maupun lenong preman.

Bagi Burhan, berkesenian khususnya gambang kromong dan lenong sudah makanan sehari-hari. Nama musik gambang kromong diambil dari nama alat musik yaitu gambang dan kromong. Selain gambang dan kromong, alat musik lainnya : kongahyan, tehyah, sukong, gendang, kempul, gong, gong enam, kecrek, dan ningnong. Umumnya gambang kromong menjadi pengirin pertunjukan lenong dan tari cokek. Sebenarnya gambang kromong dapat tampil secara mandiri. Artinya tampil membawakan lagu-lagu instrumentalia dan vokal.

Lenong mulai berkembang  akhir abad ke-19. Sebelumnya masyarakat mengenal komedi stambul dan teater bangsawan. Hampir di semua wilayah Jakarta ada perkumpulan atau grup lenong. Lenong bukan cuma sekadar hiburan saja, tetapi juga sarana ekspresi perjuangan dan protes sosial. Lakonnya mengandung pesan moral, menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela. Hampir dalam semua lakonnya selalu muncul seorang yang berjiwa kesatria untuk membela rakyat kecil yang tertindas. Lenong ada dua jenis: preman dan denes. Burhan mampu memainkan lakon-lakon yang sering dibawakan kedua jenis lenong itu. Lenong denes menyajikan cerita-cerita kerajaan dalam pementasannya, antara lain : Indra Bangsawan, Jula-Juli Bintang Tujuh, dan cerita Cerita 1001 Malam. Pementasan lenong denes menggunakan bahasa Melayu tinggi. Contoh kata-kata yang sering digunakan antara lain : tuanku, baginda, kakanda, adinda, beliau, daulat tuanku, syahdan, hamba. Dialog dalam lenong denes sebagian besar dinyanyikan. Adegan-adegan perkelahian dalam lenong denes tidak menampilkan silat, tetapi tinju, gulat, dan main anggar (pedang).

Lenong preman kebalikan dari lenong denes. Lenong preman membawakan cerita drama rumah tangga sehari-hari, disebut juga lenong jago. Disebut demikian kerena cerita yang dibawakan umumnya kisah para jagoan, antara lain : Si Pitung, Jampang Jago Betawi, Mirah Dari Marunda, Si Gobang, Pendekar Sambuk Wasiat, Sabeni Jago Tenabang,  dan lain-lain. Dengan begitu diketahui cerita tentang kepahlawanan dan kriminal menjadi tema utama lakon lenong.

Dengan menjadi seniman lenong, Burhan merasa semakin terkenal dan banyak teman. Kemudian bersama Bolot dan Malih membentuk grup komedi bernama BBM (Bolot, Burhan, Malih). Dengan BBM ini, Burhan sering melanglangbuana memenuhi permintaan manggung di berbagai daerah. Dari dunia kesenian tradisional, Burhan merambah ke duania layar kaca. Tahun 1992 untuk pertama kali, suami Hendrawati, ini terjun ke dunia layar kaca dalam sinetron berjudul Mandor Darip. Sudah puluhan sinetron dimainkan Burhan. Yang booming antara lain Mandragade, Pocong Mumun, Juleha Anak Gedongan, Tarsan, Unjuk Gigi, Sok Kenal Sok Dekat, Kolor Ijo, Terajana, Hidayah, dan Doa.

Ayah tiga putri ini memandang bahwa keperdulian pemerintah dan masyarakat pada umumnya terhadap kebudayaan (Betawi). Contohnya menurut Burhan, dapat dilihat dari nasib seniman-seniman tua. Nasib seniman Betawi, persis seperti kata pepatah ”habis manis sepah dibuang”. Ketika muda dan bertenaga, seniman Betawi diperas dan dipuja, tapi ketika tua dan tidak menarik lagi, ditendang dari lingkungan publik panggung. Oleh sebab itu Burhan tidak menganjurkan anaknya menjadi panjak seperti dirinya. Dibiarkan anaknya memilih dunia dan karier yang diminatinya, karena nasib seniman tidak menentu (Yahya Andi Saputra).

Leave a Comment