|
GANDARAN
Di dalam tradisi pernikahan di dalam masyarakat keturunan Arab di Jawa terdapat kebiasaan yang amat unik yang dinamakan gandaran. Gandaran adalah
proses menganar calon mempelai pria ke rumah calon isteri untuk menikah. Rombongan penganar membawa rupa-rupa antaran yang akan di persembahkan
kepada pihak perempuan baik itu pakaian, perhiasan, mau pun kue dan buah-buahan. Upacara mengantar penganten berjalan “normal” sejak dari rumah
hingga “mulut” jalan di mana calon mempelai perempuan bertempat tinggal.
Tiba-tiba saja terjadi keriuhan di tengah prosesi, calon penanten lelaki “dirusak” dandanannya. Dasinya dicopotin, kadang-kadang sepatunya juga.
Calon penganten laki-laki itu terlihat melawan, kemudian meronta-ronta. Apa lagi kalau adegan gandaran tiba pada adegan mendorong penganten lelaki
masuk comberan. Nah, pada saat inilah pihak keluarga dan kerabat calon penganten perempuan memberikan “pertolongan” demi “keselamatan” penganten laki-laki.
Pada upacara pernikahan, calon penganten laki-laki berhadapan dengan orang tua perempuan tanpa didampingi oleh calon penganten perempuan. Sebenarnya kebiasaan
seperti ini masih berlangsung di kalangan suku-suku bangsa lain di Indonesia. Hanya pada masa-masa terakhir ini saja penganten perempuan ikut “nongol” dalam
upacara pernikahan.
Usai upacara pernikahan, maka hidangan dikeluarkan yaitu nasi kebuli, marak (gulai kambing dengan aroma rasa yang strong), jeroan kambing goreng, asinan,
emping, buah nanas, dan air es. Hidangan biasanya dikonci dengan kopi jahe yang kental. Setelah hidangan diselesaikan, penganten laki-laki dan
rombongannya kembali pulang.
Pada acara perayaan pernikahan diadakan pesta yang disebut syamar. Syamar biasanya diadakan malam hari. Tamu-tamu yang berdatangan di malam hari adalah
laki-laki saja, tanpa pasangan. Tamu-tamu yang perempuan sudah mengalir sejak siang dan sore hari. Penganten laki-laki dan perempuan berbusana gaya Eropa.
Yang laki-laki memakai stelan jas lengkap, dan yang perempuan berbusana yang disebut gaya dardanela.
Syamar biasanya diiringi orkes gambus. Orkes gambus tidak memainkan lagu-lagu Arab saja melainkan sesekali mereka menampilkan lagu yang dinamakan “ekstra Melayu”.
Para tamu bergiliran menari syarah ketika gambus memainkan lagu-lagunya. Syamar baru berakhir lepas tengah malam.
ORANG BOMBAY
Gelombang pertama kedatangan orang India ke sini diduga pada awal abad Masehi, mereka dianggap pendiri kerajaan purba Tarumanagara. Gelombang
berikutnya datang pada abad 17 ketika VOC memerlukan banyak tenaga untuk membangun Hindia Belanda. Terutama pada masa Gubernur Van der Parra tahun 1740-an.
Mungkin karena warna kulitnya, mereka disebut orang Keling, ada juga yang menyebutnya Benggali mengacu pada kota Benggala.
Di jaman revolusi phisik, banyak anggota tentara Inggeris, (Komisi Tiga Negara), yang didatangkan ke Indonesia, ada yang India dan beragama Sikh. Mereka
memakai sorban, penduduk menyebutnya ubel-ubel, karena itu disebut tentara ubel-ubel. Tapi Indianya sendiri tidak disebut orang ubel-ubel.
Banyak WNI keturunan India tidak habis pikir mengapa mereka disebut orang Bombay, padahal orang India tidak datang dari Bombay saja. Sebutan orang Bombay baru
mencul setelah tahun 1930-an ketika banyak orang India membuka toko tekstil dan toko olahraga dimana mereka memberi nama tokonya: Toko Bombay. Walau orang India
ada yang berjualan martabak India, namun tetap saja panggilan yang paling populer adalah orang Bombay.
WNI keturunan India banyak yang terjun di bidang atletik, a.l. Daliph Singh, juara lari marathon PON II, lalu Gurnam Singh jago lari 5000 meter. Kini
“orang Bombay” terjun di rupa-rupa bidang: a.l. keilmuan, mis. Dillon, perfilman Ram Punjabi, dan politik Bilver Singh (PBI).
Ringkasnya, komposisi demografi kita memang beragam, itulah realita numerika yang kita harus belajar memahaminya. Tidak semudah mencerna aljabar atawa sevren, memang.
BAURAN MAKANAN
Cinta bisa datang lewat perut, karena itu Tuan dapat kawinken satu perampuan Perancis yang bekend dengen mereka punya kecantikan. Hellas, kenapa musti ke France
yang te ver en ongkos-ongkosan. Di sini kita orang boleh kasi senang kita punya hati dengan masakan Indonesia yang kemasupan pengaru Tionghoa, a.l. laksa dan ketoprak.
Old timers ada keluhkan laksa dan ketoprak jaman sekarang yang di jual dimana straat en pasar sudah kagak karuan rasah. “Laksa kok kuahnya kagak bisa diirup”,
gumamnya. Sudah begitu sambelnya bikinan pabrik. “Tupe gue bilang, payah, pe’, ketopraknye, bawang puti kagak berasa….”/tu apa kataku, payah, dik, ketopraknya,
tidak terasa bawang putih.
Laksa bukan sepuluh ribu, melainkan enam campuran, a.l. tauge, oncom, su’un, dan daon kemangi, dan bumbu-bumbuan. Ketoprak adalah nama yang menggambarkan betapa
kocaknya makanan ini, ada taoge dan bihun direbus, tapi bukan gado-gado, ada taohu goreng, bumbunya kacang pakai bawang puti. Bawang puti inilah yang menjadi sari
rasa ketoprak, tijpisch Chinezen punya bumbu. Kedua jenis makanan itu dimakan bersama ketupat yang khas Indonesia.
Sambel laksa tidak boleh ditumbuk halus, bahkan cangkrang cabe harus disertakan. Beda sekali dengan laksa jaman sekarang yang rasa pedasnya datang dari sambel botol.
Makan laksa musti sampe kita orang punya keringet pada ngocor. Ketoprak makanan soft sebab cabenya saja dikukus demi domestikasi rasa pedas. Meski begitu bumbu
kacangnya tidak boleh keliwat penetrasi sehingga aroma kecap jadi terkubur.
Makanan tempo dulu tak dapat lagi direvitalisasi, lihat saja asinan. Mana ada asinan sekarang yang pakai tikim, tahu mentah, goreng kacang yang rada angus? Belum
lagi bicara gado-gado.Mau ngejabanin apah gado-gado bumbu sirem Taman Sari punya? Pendekannya kita orang berani kasi voor setengah kalau gado-gado era komputer
punya nyali buat berhadepan. Jangan lagi dikata lumpia goreng, uda dah angguran ini tulisan gua kaja abis sampe di sini aja dah dari pada lu orang punya iler pada
ngetel (Ridwan Saidi).
|