|
Batavia 1625 Sihir Merajalela
Syahdan mahasejarawan Dr. H.J. de Graaf dalam artikelnya yang menarik di majalah Tong-Tong berjudul ”De Zwarte Kunst in Oud Batavia” mengisahkan betapa
dalam abad ke-17 Batavia menjadi tempat yang amat menyeramkan karena praktek ilmu hitam yang dilakukan orang Betawi. Dalam persoalan ini, menurut de Graaf,
orang Betawi melakukan gerakan tutup mulut. Kendati begitu, terendus juga oleh orang Belanda.
Jasa perdukunan bukan main larisnya. Mereka yang berpraktek dukun itu adalah pendatang dari Bengali, Rohingya (Burma), dan orang-orang Cina.
Perempatan jalan di Batavia senantiasa bertabur bunga, karena tempat ini dianggap paling berbahaya. Orang sangat yakin bahwa prapatan jalan
di bawah gugus kendali makhluk halus, iblis, longga-longa, setan kicik, setan bekatul, setan perumputan, setan keder, dan lain sebagainya.
Sampai dengan berakhirnya abad 17, bunga belum bertabur di kuburan. Artinya orang-orang yang ziarah belum membawa kembang untuk ditaburkan di
atas kuburan. Sejarah tampaknya malas mencatat sejak kapan kebiasaan menaburkan bunga di kuburan dimulai.
Gereja buakn main geramnya mendapat laporan bahwa jemaatnya yang Belanda totok ada juga yang main guna-guna, ilmu hitam alias praktik paranormal.
Tidak urung Gubernur Jendral Van Diemen dilapori dan berjanji akan perintahkan aparatnya untuk membasmi ilmu hitam. Namun perintah ini sia-sia belaka,
karena hamba wet itu sering dikadali para dukun. Dukun-dukun itu terutama dukun Cina, bukan main lihainya beragumentasi. Gereja tidak berdiam diri,
saban kali laporan masuk bahwa ada jemaat main ilmu tiup, maka anggota jemaat itu dipanggil dan dihadapkan pada majlis para pendeta.
Adalah Nyonya Barbara yang pada tahun 1625 dalam status janda, punya pacar seorang kapiten Jepang (seperti diketahui VOC pernah menyewa serdadu Jepang
untuk membantu mangamanan teritorial). Tapi hubungan cinta kasih berbeda etnik itu dilarang kerajaan Belanda. Karena penasaran oleh larangan itu, Barbara
pergi ke dukun ingin memantau nasibnya di kemudian hari, apa akan kejadian dia naik ke ranjang pengantin dengan kapiten Jepang, atau ia sebenarnya tercemplung
dalam permainan cinta palsu.
+++++ +++++ ++++ +++++ +++++
Jibrut, Jago Ketek Dari Pasar Baru
Pantjoran pusat dagang dan pasar baru
Bermacam-macam barang ada disitu
Orang datang belanja ini dan itu
Ramai orang beribu-ribu
Lagu ini malai didengar rakyat Batavia sekitar tahun 1931 setelah Hindia Belanda lepas dari resesi berkepanjangan sejak 1929.
Penciptanya tidak diketahui alias NN. Meski Belanda sudah angkat kaki, 25 tahun kemudian situasi pasar baru tidak berubah.
Dari toko musik terdengar lagu empuk alunan Patty Page semisal Changing Partner. Berjalan–jalan di pasar baru amat menyenangkan
karena selalu ada hiburan gratis dari si Jibrut, entah siapa namanya yang benar dan si Mariam.
Kalau Mariam suka ngaco, sering omong porno seolah baru main seks dengan tokoh dunia, tapi Jibrut lain. Jibrut cuman berkaos oblong dan
bercelana komprang dengan sebilah golok disoren.
Ia bukan jagoan, meski sari-sari petantang-petenteng bawa golok. Keahlian utamanya main ketek. Ketiak kiri dan kanannya dapat menerbitkan suara yang aneh,
kadang misterius, bila digesek dengan telapak tangannya. Pret-brut-brot, pret-brut-brot, begitu bunyinya. Kadang-kadang malah kwik-kwik-kwik atau
ngung-ngung-ngung. Karena kemahirannya itulah ia dipanggil Si Jibrut. Ia meminta jasa atas hiburan yang ia sajikan kepada pejalan kaki, tapi tidak memaksa.
Boleh dikatakan Si Jibrut adalah salah seorang pengamen paling awal dalam sejarah perngamenan.
Sebenarnya Jibrut membuat orang rikuh. Betapa tidak, ia menadahkan tangannya yang baru saja dipakai menggosok ketek. Jibrut memang orang yang polos apa adanya.
Jibrut tidak memahami perasaan orang. Tapi apa boleh buat tangan manusia cuman dua. Di tahun 1950-an itu mungkin usia Jibrut 35, asalnya entah dari mana.
Ia selalu berjalan tegap membawa tubuhnya yang gempal serta nasibnya sebagai anak manusia. Sejak tahun 1970-an kabar tentang Jibrut tak lagi terdengar.
Kalau Jibrut beroperasi hanya di pasar baru, daerah operasi Mariam lebih luas lagi. Tatkala terbit Orde Baru, Mariam lebih suka beroperasi berjualan cerita
porno di kawasan Salemba-Senen. Di Pasar Baru ia kurang pasaran. Entah mengapa ada saja mahasiswa yang suka menanggapi kisah porno Mariam. Seperti halnya
Jibrut, Si Mariam pun lama tak terdengar beritanya lagi.
|