|
Nonton Gambar Idup Tempo Doeloe
Dalam surat kabar Bintang Betawi, 30 November 1900, dipasang iklan begini bunyinya: “Gambar-gambar idoep dari banjak hal di dalam roemah di sebelahnja fabriek Kereta
Api dari Maatschppij Fuchs di Tanah Abang. Orang-orang perempoean dan lelaki tidak ditjampoer”.
Itulah iklan yang sekaligus pemberitahuan dibukanya rumah dimana ada permainan gambar-gambar idoep, kemudian hari dinamakan bioskop. Setelah iklan disiarkan,
bioskop sendiri baru beroperasi tanggal 5 Desember 1900. Bioskop di Tanah Abang itu merupakan bioskop pertama di Indonesia. Ketika itu film yang diputar bukan
film cerita, melainkan film dokumenter, semisal film tentang “Masoeknja Maharatoe Olanda bersama-sama jang moelia Hertog Hendrik ke dalam kota Den Haag” (1900).
Atau “Nikahnja Sri Baginda Wilhelmina, lagi laen-laen gambar jang adjaib dan bagoes-bagoes” (1903). Baru pada tahun 1905 muncul film cerita yaitu Boenga Mawar,
ceritanya pandjang sekali. Ini adalah film impor, walau judulnya Melayu. Pada tahun 1924 diimpor film dari Tiongkok. Film pertama “Li Ting Liang, satoe tjerita
waktoe revolutie di Tiongkok” (1924), kemudian film “Tiongkok Specia, satu perempoean jang boediman” (1924). Entah apa makna “special” di situ.
Film yang diproduksi di Indonesia dimulai tahun 1925. Namun cerita yang diangkat bertema legenda Tiongkok semisal Tit Pat Kai Kawin (1925), namun bahasa yang digunakan
bahasa melayu dialek Betawi tengah. Film mengangkat tema Indonesia muncul pada tahun 1926 yaitu Loetoeng Kasaroeng.
Kelas buat orang Slam dan Jawa aslinya disebut kelas III, kemudian populer dengan sebutan kelas kambing. Pengistilahan ini merupakan nisbat dari kelas-kelas dalam trem.
Penumpang kelas III dalam trem adalah Slam, Jawa dan Kambing. “Kaartjes buat orang Slam dan Djawa di kelas kambing 10 sen, orang Tjina di kelas stalles 25 sen,”
begitu bunyi pengumuman yang dipasang di papan pengumuman.
Orang Eropa tidak mau menonton bercampur baur dengan bangsa lain. Mereka mendirikan bioskop sendiri yang lux dimana lain-lain bangsa tidak boleh ikut menonton walau
mampu membeli karcis. Karcisnya pun mahal sekali, berkisar f 1.80 sampai f 2.40. Bioskop khusus bule itu adalah Decca Park (kini Monas), Capitol (depan Istiqlal)
dan di Bandung Concordia (kini Gedung Merdeka).
Syahdan, gambar idoep yang semula diputar di “rumah” biasa saja, kemudian naik kelas diputar di gedung bioskop khusus untuk non Eropa. Bioskop pertma adalah Rialto,
Senen kemudian Rialto Tanah Abang. Keduanya milik Tan Koen Yauw. Tuan Tan memilih mendirikan bioskop di dekat pasar. Boleh jadi di kedua pasar tersebut kalau malam
suasananya ramai sekali. Adapun penonton lelaki dan perempuan tidak dipisah lagi karena menyulitkan bila yang menonton itu pasangan suami isteri, karena bubar bioskop
terpaksa para penonton mencari isteri masing-masing. Nasib baik kalau sang isteri tidak digondol orang. Ketika masa pendudukan Jepang, untuk ambil muka, Jepang
hapuskan bioskop khusus. Namun lama-lama mereka menjadikan bioskop tertentu khusus buat bangsa Nippon semisal Tokyo (Jakarta), Ginza (Bandung), Nippon (Semarang),
Toa (Jogya), Njoei (Malang). Gedung bioskop yang dipakai adalah gedung yang sudah ada yang namanya dinipponkan (Berdasar sumber S.M. Ardan).
JIBRUT, Jago Ketek Dari Pasar Baru
Pantjoran pusat dagang dan pasar baru
Bermacam-macam barang ada disitu
Orang datang belanja ini dan itu
Ramai orang beribu-ribu
Lagu ini diciptakan oleh NN sekitar tahun 1931 setelah Hindia Belanda lepas dari resesi berkepanjangan sejak 1929. 25 tahun kemudian situasi Pasar Baru tidak
berubah meski, Belanda sudah pergi. Dari toko musik terdengar lagu empuk alunan Patty Page semisal Changing Partner. Selam 6 tahun, setiap hari penulis
melintas pasar baru untuk perg dan pulang dari SMP dan SMA. Berjalan-jalan di Basar Baru amat menyenangkan karena selalu ada hiburan gratis dari si Jibrut,
entah siapa namanya yang benar dan si Mariam.
Kalau Mariam suka ngaco, sering omong porno seolah baru main seks dengan tokoh dunia, tapi Jibrut lain. Jibrut cuman bercelana komprang dengan sebilah golok disoren.
Ia bukan jagoan, ia jago main ketek. Ketiak kiri dan kanannya dapat menerbitkan suara yang aneh, kadang misterius, bola digesek dengan telapak tangannya.
Pre-brut-pret-brut, begitu bunyinya kadang-kadang kwik-kwik-kwik, karena itu ia dipanggil si Jibrut. Ia meminta jasa atas hiburan yang ia sajikan kepada
pejalan kaki, tapi tidak memaksa.
Sebenarnya Jibrut membuat orang rikuh, ia menadahkan tangannya yang baru daja dipakai menggosok ketek. Jibrut tidak memahami perasaan orang. Tapi apa boleh
buat tangan manusia cuman dua. Di tahun 1950-an itu mungkin usia Jibrut 35, asalnya entah dari mana. Ia selalu berjalan tegap membawa tubuhnya yang gempal
serta nasibnya sebagai anak manusia. Sejak tahun 1970-an kabar tentang Jibrut tak lagi terdengar.
Kalau Jibrut beroperasi hanya di Pasar Baru, daerah operasi Mariam lebih luas lagi. Tatkala terbit orde baru, Mariam lebih suka beroperasi berjualan cerita
porno di daerah Salemba. Di Pasar Baru ia kurang pasaran, entah mengapa ada saja mahasiswa yang suka menanggapi kisah porno Mariam. Seperti halnya Jibrut,
Si Mariam pun lama tak terdengar beritanya lagi.
|