|
Kombinasi Batak – Jawa
Moh. Husni Thamrin sempat menjadi anggaota Gemeenteraad Batavia (Dewan Kota Praja Batavia, setingkat DPRD sekarang),
dan kemudian diangkat menjadi anggota Volskraad (Dewan Perwakilan Rakyat sama dengan DPR). Salah satu kesuksesannya
di Volksraad, berhasil menggugurkan Peraturan Punale Sanctie yang banyak memberikan penderitaan bagi buruh yang
berasal dari Pulau Jawa. Mereka bekerja di perkebunan-perkebunan Sumatera Utara. Sehingga dikenal panggilan negatif
terhadap orang-orang Jawa yang bekerja di perkebunan itu dengan sebutan Zakon (Zawa atau Jawa Kontrak). Kini mereka
telah beranak pinak di Sumatera Utara.
Dalam rangka pembauran antar suku bangsa di Indonesia, sebagaimana yang dianjurkan oleh Pemerintah, maka ada sepasang suami
istri yang berlainan suku, membentuk sebuah rumah tangga. Suami berasal dari Sibolga atau orang Batak bernama Tahanuji
Sinaga sedangkan istri orang Jawa dari Klaten bernama Sawitri binti Ngadimun.
Ketika Sawitri melahirkan anak pertama, ternyata kembar yang keduanya laki-laki. Runding punya runding akhirnya masing-masing
memberikan nama pilihan. Pihak suami memberikan nama dengan kebiasaan leluhur orang Batak. Yaitu menggunakan nama depan
diawali dengan huruf MA, misalnya : Mangara, Maraden, Manahan, Maruba, dan seterusnya. Sang istri pun mengikuti kebiasaan
orang Jawa dengan huruf depan NG. Seperti nama depan bapak kandungnya Ngadimun, Ngumar, Ngadiran atau Ngadirun.
Maka suami istri sepakat memberikan nama untuk kedua anak kembarnya, agar di kemudian hari kelak saling sayang dan tolong-menolong.
Maka mereka diberikan nama:
Anak Pertama Manasin Sinaga (ala Batak).
Anak Kedua NGademin Sinaga (ala Jawa).
HORAS MANASIN! HORAS NGADEMIN!
**************
Bank Keabisan Duit
Pembangunan besar-besaran di Jakarta dan sekitarnya menmyebabkan banyak orang Betawi menjadi kaya uang, karena tanahnya yang
rata-rata cukup luas diganti rugi oleh pemerintah atau dibeli oleh perusahaan swasta dengan harga yang cukup lumayan.
Bayangkan, misalnya, seseorang mempunyai tanah 5000 meter saja, permeter diganti sejuta, maka uangnya sudah 5 miliar.
Kalau tanahnya 10000 meter atau lebih, tentu lebih banyak lagi. Sayangnya kebanyakan dari mereka tidak tahu bagaimana
mengelola uang yang banyak itu. Kasihannya lagi, tidak ada orang (termasuk pejabat pemerintah) yang memberi tahu
bagaimana cara mengelola uang itu. Yang banyak adalah orang-orang yang ingin memorot uang mereka.
Memang mereka tahu menyimpan uang di bank lebih aman daripada menyimpan di rumah. Namun, bagaimana mengelola uang tetap
saja mereka tidak tahu. Maka hamppir tiap hari mereka pergi ke bank, mengambil uang untuk membeli barang yang seringkali
sebenarnya tidak mereka perelukan. Akibatnya, saldo mereka makin berkurang dan lama-lama habis. Sayangnya, mereka pun tak
memahami bahwa uang mereka bisa habis.
Suatu pagi, Haji Jalil, yang sudah tiga kali perhi haji dan lima kali umrah, dating ke bank, mengisi formulir penarikan 10 juta,
katanya untuk suatu keperluan. Ketika petugas bank menyatakan bahwa saldo uangnya tidak cukup 10 juta, dia bertanya.
“Saldo itu apa, Neng?”
“Saldo itu sisa uang Bapak yang ada di bank ini. sekarang tinggal empat juta. Jadi tidak bisa diambil 10 juta,”
petugas itu menjelaskan.
Karena tidak mengerti masalahnya, Haji Jalil dengan setengah membentak berkata.
“Ini kan bank, masa kehabisan duit? Saya sudah nyetor ratusan juta!”
******************
Akal Tukang Koran
Dua hari menjelang tahun baru, seorang tukang Koran melompat masuk ke dalam bus kota yang padat penumpang.
Dengan suara agak keras ia berteriak menawarkan dagangannya.
“Yang ingin bermalam tahun baru dengan artis terkenal, silakan. Pilih saja, ada Tamara, Krisdayanti,
Inul, Sarah Azhari, Cut Keke, dan masih banyak lagi artis yang lain. Tinggal pilih. Alamatnya ada di majalah ini,
siapa mau? Persediaan sedikit. Ayo, Cuma dua ribu rupiah.
****************
Dokter Gila
Komar, pasien di rumah sakit jiwa pada suatu pagi menemukan tiga potongan besi di halaman rumah sakit.
Kemudian ketiga potongan besi itu di tanam berdiri sebagaimana layaknya orang menanam pohon. Pagi dan sore “tanaman”
itu disiram sebagaimana layaknya orang menyiram tanaman.
Beberapa hari kemudian, seorang dokter yang selalu memperhatikan perbuatan Komar, bertanya, “Komar, apakah tanamannya sudah tumbuh?”
“Dokter, apa dokter sudah gila,” jawab Komar dengan tenang, “Mana mungkin besi ditanam bisa tumbuh?”
|