TABE | LANGKAN | TAMPANG | PLAMPANG | NANGGAP | GEROBOG
    Juma'at, 10 Sep 2010
     
Adonan
SOHIBUL HIKAYAT
BEBULAN
PITUAH
SISIK MELIK
DEDENGKOT
PENGULEKAN
BODOR




Longok


 
Kombinasi Batak – Jawa


Moh. Husni Thamrin sempat menjadi anggaota Gemeenteraad Batavia (Dewan Kota Praja Batavia, setingkat DPRD sekarang), dan kemudian diangkat menjadi anggota Volskraad (Dewan Perwakilan Rakyat sama dengan DPR). Salah satu kesuksesannya di Volksraad, berhasil menggugurkan Peraturan Punale Sanctie yang banyak memberikan penderitaan bagi buruh yang berasal dari Pulau Jawa. Mereka bekerja di perkebunan-perkebunan Sumatera Utara. Sehingga dikenal panggilan negatif terhadap orang-orang Jawa yang bekerja di perkebunan itu dengan sebutan Zakon (Zawa atau Jawa Kontrak). Kini mereka telah beranak pinak di Sumatera Utara.

Dalam rangka pembauran antar suku bangsa di Indonesia, sebagaimana yang dianjurkan oleh Pemerintah, maka ada sepasang suami istri yang berlainan suku, membentuk sebuah rumah tangga. Suami berasal dari Sibolga atau orang Batak bernama Tahanuji Sinaga sedangkan istri orang Jawa dari Klaten bernama Sawitri binti Ngadimun.

Ketika Sawitri melahirkan anak pertama, ternyata kembar yang keduanya laki-laki. Runding punya runding akhirnya masing-masing memberikan nama pilihan. Pihak suami memberikan nama dengan kebiasaan leluhur orang Batak. Yaitu menggunakan nama depan diawali dengan huruf MA, misalnya : Mangara, Maraden, Manahan, Maruba, dan seterusnya. Sang istri pun mengikuti kebiasaan orang Jawa dengan huruf depan NG. Seperti nama depan bapak kandungnya Ngadimun, Ngumar, Ngadiran atau Ngadirun.

Maka suami istri sepakat memberikan nama untuk kedua anak kembarnya, agar di kemudian hari kelak saling sayang dan tolong-menolong. Maka mereka diberikan nama:

Anak Pertama Manasin Sinaga (ala Batak).

Anak Kedua NGademin Sinaga (ala Jawa).

HORAS MANASIN! HORAS NGADEMIN!

**************

Bank Keabisan Duit

Pembangunan besar-besaran di Jakarta dan sekitarnya menmyebabkan banyak orang Betawi menjadi kaya uang, karena tanahnya yang rata-rata cukup luas diganti rugi oleh pemerintah atau dibeli oleh perusahaan swasta dengan harga yang cukup lumayan. Bayangkan, misalnya, seseorang mempunyai tanah 5000 meter saja, permeter diganti sejuta, maka uangnya sudah 5 miliar. Kalau tanahnya 10000 meter atau lebih, tentu lebih banyak lagi. Sayangnya kebanyakan dari mereka tidak tahu bagaimana mengelola uang yang banyak itu. Kasihannya lagi, tidak ada orang (termasuk pejabat pemerintah) yang memberi tahu bagaimana cara mengelola uang itu. Yang banyak adalah orang-orang yang ingin memorot uang mereka.

Memang mereka tahu menyimpan uang di bank lebih aman daripada menyimpan di rumah. Namun, bagaimana mengelola uang tetap saja mereka tidak tahu. Maka hamppir tiap hari mereka pergi ke bank, mengambil uang untuk membeli barang yang seringkali sebenarnya tidak mereka perelukan. Akibatnya, saldo mereka makin berkurang dan lama-lama habis. Sayangnya, mereka pun tak memahami bahwa uang mereka bisa habis.

Suatu pagi, Haji Jalil, yang sudah tiga kali perhi haji dan lima kali umrah, dating ke bank, mengisi formulir penarikan 10 juta, katanya untuk suatu keperluan. Ketika petugas bank menyatakan bahwa saldo uangnya tidak cukup 10 juta, dia bertanya.

“Saldo itu apa, Neng?”

“Saldo itu sisa uang Bapak yang ada di bank ini. sekarang tinggal empat juta. Jadi tidak bisa diambil 10 juta,” petugas itu menjelaskan.

Karena tidak mengerti masalahnya, Haji Jalil dengan setengah membentak berkata.

“Ini kan bank, masa kehabisan duit? Saya sudah nyetor ratusan juta!”

******************

Akal Tukang Koran

Dua hari menjelang tahun baru, seorang tukang Koran melompat masuk ke dalam bus kota yang padat penumpang. Dengan suara agak keras ia berteriak menawarkan dagangannya.

“Yang ingin bermalam tahun baru dengan artis terkenal, silakan. Pilih saja, ada Tamara, Krisdayanti, Inul, Sarah Azhari, Cut Keke, dan masih banyak lagi artis yang lain. Tinggal pilih. Alamatnya ada di majalah ini, siapa mau? Persediaan sedikit. Ayo, Cuma dua ribu rupiah.

****************

Dokter Gila

Komar, pasien di rumah sakit jiwa pada suatu pagi menemukan tiga potongan besi di halaman rumah sakit. Kemudian ketiga potongan besi itu di tanam berdiri sebagaimana layaknya orang menanam pohon. Pagi dan sore “tanaman” itu disiram sebagaimana layaknya orang menyiram tanaman.

Beberapa hari kemudian, seorang dokter yang selalu memperhatikan perbuatan Komar, bertanya, “Komar, apakah tanamannya sudah tumbuh?”

“Dokter, apa dokter sudah gila,” jawab Komar dengan tenang, “Mana mungkin besi ditanam bisa tumbuh?”



Copyright ©2006 kampungbetawi.Com. AllRights Reserved. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. Dilarang meng-copy seluruh atau bagian dari isi situs ini tanpa seijin kampungbetawi.com