Betawi: Upacara Mangkeng

Oleh Yahya Andi Saputra

Masyarakat Betawi memiliki berbagai kearifan lokal yang dipegangteguh turun-temurun. Kearifan itu tercermin dalam upacara adat. Salah satunya adalah Upacara Mangkeng. Upacara ini begitu penting dalam banyarakat Betawi, lantaran pelaksanaan ucapara ini berada pada etape krusial dalam siklus hidup masyarakat Betawi. Upacara ini diselenggarakan pada saat dilaksnakannya upacara akad nikah atau resepsi akad nikah atau upacara-upacara lain yang melibatkan publik dan berdurasi panjang.
“Mangkeng” berasal dari “Pangkeng”. Pangkeng adalah kamar atau ruangan di dalam rumah. Dalam satu bangunan rumah biasanya terdapat beberapa pangkeng, dan untuk membedakannya sering diberi keterangan tambahan. Pangkeng tamu ialah ruangan untuk menerima tamu. Pangkeng tengah yaitu ruangan yang berada di bagian tengah rumah, digunakan untuk bermacam keperluan. Pangkeng tidur adalah kamar tidur. Pangkeng pendaringan yakni tempat menyimpan pendaringan atau tempat beras. Karena itu pangkeng pendaringan disebut juga pangkeng pemberasan.
Upacara mangkeng dipimpin oleh dukun, yaitu Dukun Pangkeng. Kegiatan pemimpin upacara mangkeng (dukun pangkeng lebih banyak dilakukan di dalam pangkeng yaitu di pangkeng yang ada pendaringan), selama hajatan atau keriaan berlangsung, tetap berada di dalam pangkeng sambil berpuasa. Hanya sekali-kali saja keluar bila perlu, misalnya buang air atau sebentar pulang ke rumahnya. Dukun pangkeng tidak boleh mandi sepanjang menjalankan tugasnya. Puasa dukun pangkeng agak lain dengan puasa dalam ajaran Islam. Ia harus berpuasa di tempat orang hajatan atau keriaan akan tetapi boleh makan minum di rumahnya sendiri. Biasanya pada waktu tertentu sekitar jam dua belas malam hari. Karena kegiatan upacara itu banyak dikerjakan di dalam pangkeng, maka upacara itu disebut upacara “Mangkeng”.
Pekerjaan dukun pangkeng di dalam pangkeng lebih banyak dilakukan sambil duduk, namun ia tidak semata-mata duduk sambil berdiam diri. Sesudah membuka upacara, ia membantu pekerjaan lain. Dukun pangkeng diserahi pula pekerjaan mengatur makanan dan minuman untuk keperluan para tamu yang datang. Ia pun menjadi pusat penerima barang bingkisan atau hadian yang dibawa para tetangga maupun undangan. Ia juga yang mengatur mulangin, yaitu mengisi kue-kue dan sebagainya ke tempat bekas bingkisan yang akan dibawa kembali pulang oleh para tetangga dan undangan.
Dengan kemampuan jampe-japenya, Dukun pangkeng, akan berupaya menarik minat dan hati undangan untuk berduyun-duyun datang ke rumah orang yang punya hajatan. Selain itu, undangan dibuat sangat ingin menikmati santapan yang disediakan tuan rumah, namun apa yang dimakan sang tamu alakadarnya saja. dengan kata lain, nafsu makan undangan dapat dikendalikan oleh kemampuan jampe yang dirapal oleh Dukun Mangkeng.
Karena peran dan fungsinya, Dukung Pangkeng, sebenanrnya paling mengetahui kondisi kampungnya dan rahasia masyarakat kampungnya. Namun begitu, sebagai seoang yang dpercaya masyarakat, tentu saja ia menutup erat rahasia yang dimilikinya dari konsumsi publik. Sebab sekali saja aia membuka aib warga, maka integritasnya sudah tecemar. Ia tak lagi dipercaya.
Dalam melakanaka tugasnya, Dukun pangkeng dibantu oleh dukun air dan dukun masak. Dukun air menyediakan semua keperluan air untuk hajatan atau keriaan mulai dari menimba, memasak hingga menyajikannya. Dukun masak menyiapkan hidangan untuk para tamu maupun para pekerja. Pembantu dukun pangkeng tak cukup hanya seorang, biasanya paling sedikit tiga orang. Mereka harus bekerja sama dalam mengemban tugas yang dipercayakan agar tidak memalukan tuan rumah. Dukun pangkeng bertindak selaku pengatur dan para pembantunya sebagai pelaksana. Tanggung jawab tertinggi dipikul oleh dukun pangkeng.
Selama pesta berlangsung, tuan rumah sebaiknya tidak sering datang ke pangkeng pendaringan apalagi turut campur tangan mengatur hidangan. Bila hal ini dilakukan sering menimbulkan salah faham. Dukun pangkeng merasa tak dipercayai tuan rumah dalam melakukan pekerjaannya. Oleh karena itu tuan rumah lebih suka melalui perantara pembantu dukun pangkeng bila perlu menyarankan sesuatu. Yang sering berhubungan dan datang ke pangkeng hanyalah para pembantunya. Ada kalanya yang datang para tamu yang ingin tahu siapa dukun pangkengnya atau memang mereka sudah kenal sebelumnya.
Dukun pangkeng disebut juga “Dukun Dudukin” dan upacara magnkeng sama dengan menduduki pendaringan. Sebutan itu timbul karena dalam kenyataannya hanpir seluruh kegiatan atau pekerjaannya, dukun pangkeng melakukannya sambil duduk. Dudukin diartikan juga sebagai kias, untuk mendudukan persoalan di dalam masyarakat. Persoalan tentang kedudukan seseorang atau keluarga dalam masyarakatnya. Mendudukan atau memperlihatkan seseorang akan kepatuhannya terhadap adat. Mendudukan dalam arti menentukan tata cara penghormatan terhadap para makhluk halus di samping manusia.
Di daerah lain ada semacam dukun pangkeng yang sering disebut “Dukun Nyarang” atau “Dukun Nolak Ujan”. Pekerjaan pokoknya seperti dukun pangkeng yaitu menolak atau mengalihkan turunnya hujan, akan tetapi tidak merangkap mengurus hidangan. Sasaran pemakainya sering lebih luas, tidak hanya hajatan atau keriaan perorangan akan tetapi pesta-pesta masal seperti peringatan Hut Kemerdekaan RI, Maulid, dan HUT Kota Jakarta dan sebagainya. Dukun pangkeng umumnya wanita sedangkan dukun nyarang lebih sering laki-laki.
Di dalam masyarakat Betawi, profesi perdukunan sebagaimana diuraikan di atas, tentu saja masih ajeg. Memang upacara itu (Upacara Mangkeng) sifatnya sangat tertutup. Namun bagaimana pun tertutupnya, masyarakat mempercayai dan merasakan manfaat kehdiran dukun-dukun dimaksud.
Wallohu’alam bissawab.

Leave a Comment