Aneka Tari Dalam Topeng Betawi

Oleh Yahya Andi Saputra

Mula Kate

Pada masa lampau ketika Topeng Betawi masih menjadi pertunjukkan ngamen keliling, titik berat tontonannya adalah tari. Setelah menjadi pertunjukkan panggilan yang menetap di satu tempat, titik beratnya pada segi lakon, yang semula hanya dimaksudkan agar dapat mengikat penonton dalam pertunjukkan semalam suntuk. Sedemikian besarnya porsi lakon dalam pertunjukkan Topeng Betawi (memakan waktu lebih dari 2/3 dari seluruh jam pertunjukkan), sehingga ada kesan bahwa tariannya makin dipersingkat dan terburu-buru.

Mayoritas pertunjukkan tari dalam Topeng Betawi terdapat dalam pra lakon, sedangkan dalam tontonan intinya (Banyol atau Lakon) dan tontonan tambahan (Bapa Jantuk), segi seni tarinya terpadu dengan unsur teater.

Apabila dibandingkan dengan Teater Rakyat Betawi yang lain, Topeng Betawi termasuk yang paling kaya dengan unsur tari, baik dilihat dari segi keragaman fragmen tarinya dalam pra lakon, maupun kepekaan penampilannya dalam tontonan inti dan tontonan tambahan. Sejak Topeng Betawi masih dalam periode Ubrug Betawi, banyolan pendek, periode “Wayang Sarkawi” sampai lakon panjang sekarang, kepekaan menampilkan tari dalam lakon cenderung menurun.

Hanya dalam periode “Wayang Sarkawi” yang karena lakon yang dipertunjukkan kebetulan memceritakan kehidupan penari Ronggeng, sepanjang pertunjukkan lakonnya penuh dengan adegan “Tari Ronggeng” sehingga lakon ”Bapa Sarkawi” ini termasuk lakon yang paling kaya dengan unsur tari. Dalam tontonan tambahan setelah selesai lakon yakni “Bapa Jantuk” juga banyak diselipkan unsur tari, yang sejak dulu sampai sekarang relatif tidak pernah berubah.

Perlu kiranya kita menelaah sejauh mana pengaruh dan hubungannya dengan Tari Topeng Cirebon. Demikian pula perbandingan dengan kesenian Rakyat Jawa Barat yang alat musiknya hampir sama dengan Topeng Betawi, seperti Jaipong, Topeng Banjet dari Karawang dan tari dalam Ubrug dari Banten.

 

Tari Kembang dan Bodor

Dalam bahasa Betawi perkataan “topeng” dapat berarti tontonan, pertunjukkan teater, penari atau primadona. Pemain Topeng Betawi yang biasanya dianggap sebagai primadona grupa adalah penari Kembang Topeng, yang kostumnya paling unik, serba meriah dan gemerlapan. Pada tarian yang lain dalam Topeng Betawi, kostum pemainnya seadanya tergantung dari kemampuan grup yang bersangkutan sehingga antar pelbagai grup Topeng Betawi berbeda-beda. Dulu cukup banyak nama grup Topeng Betawi yang dinamakan menurut penari Kembang Topengnya, antara lain : Topeng Kinang, Topeng Kanah, Topeng Nacih, Topeng Enah, Topeng Nyimeh, dansebagainya.

Secara spiritual penari Kembang Topeng juga mendapat penghargaan yang setingkat lebih tinggi dari pemain yang lain. Dalam sesajian yang dibakarkan kemenyan (ngukup) sebelum acara dimulai sering disisipkan “pendeman” yakni sejumlah uang (di luar honorarium grup) yang dikhususkan bagi penari Kembang Topeng. Dalam upacara “Kaulan” penari Kembang Topenglah yang diberikan kehormatan bersama tuan rumah dan anak yang dikaul, bersama memegang piring yang berisi ketupat kaul atau ketupat lepas pada waktu “mantera” kaulan diucapkan.

Melihat kepada fungsi spiritual, nampaknya tari Kembang Topeng merupakan tari yang terpenting dan tertua dalam Topeng Betawi, yang sudah dikenal sejak kesenian ini masih menjadi kesenian yang ngamen keliling. Dugaan ini diperkuat dengan lirik lagu yang pertama kali dinyanyikan oleh penari Kembang Topeng yang sampai sekarang masih dinyanyikan , yakni:

“Ailo, jipati burung jiwana (2X), sayang disayang,

Aiih, ada sepasang di kembang lilin

Ailo, jantung hati ada dimana,

Aiih, panas kenceng jalan keliling”.

Sebangai sebuah tarian yang terpadu dengan unsur dialog, lagu dan musik, dalam kaitannya dengan Bodor, yakni pemain pria pasangannya yang berfungsi sebagai pelawak, maka Tari Kembang Topeng dan Bodor merupakan tarian yang terpanjang. Dari segi lawak itu sendiri, penari Kembang Topeng hanya merupakan pemberi umpan lawak, agar Bodor pria pasangannya dapat menelorkan tertawa penonton yang sebanyak mungkin. Namun dalam hal tari ia lebih tinggi, karena penari Kembang Topeng cenderung “serius” dan mempunyai sasaran keindahan, sedangkan tarian Bodor pasangannya mempergunakan tari sebagai alat untuk melawak saja.

Walaupun secara sepintas lalu antar pelbagai grup Topeng Betawi ada semacam keseragaman pada tari Kembang Topeng, namun secara detail perlu ditelaah bagian pertunjukkannya yang pasti ada segi perbedaan. Bagian pertunjukkan tari Topeng tersebut adalah mulai dari : tandakan ’Ailo’ pembukaan tandakan ’jalan kecrek dua’, tandakan ’Ucing-ucingan’ (dahulu ’Corik Jangkrik’), rangkaian gerakkan tari Bogor, tandakan kecrek dan kembali serta penutup.

 

Tari Topeng Kedok

Apabila dalam tari Kembang Topeng dan Bodor yang dianggap tertua, terpenting dan terpanjang dalam Topeng Betawi ternyata seluruh pemainnya justru tidak mempergunakan topeng penutup muka, maka dalam Tari Topeng Kedok pemainnya benar-benar berkedok. Mungkin tarian ini merupakan pengaruh yang datang kemudian yang merupakan penyederhanaan dari Topeng Cirebon. Ada dua macam Topeng Kedok dalam Topeng Betawi, yakni tari Topeng Kedok Tunggal dan Tari Topeng Kedok berpasangan yang merupakan tarian kreasi lama dan baru.

Yang sedikit ada kemiripannya dengan tari Topeng Cirebon adalah tari Topeng Kedok Tunggal, yakni dalam bentuk yang jauh lebih sederhana dalam keragaman pola gerak dan amat dipersingkat. Tari Topeng Cirebon mengenal lima reportoire yakni : Panji, Pamindo, Rumyang, Tumenggungan dan Minakjonggo, yang diiringi oleh lagu yang berlainan, dibawakan hampir semalam suntuk, dengan pola gerak tari yang kaya yang masing-masing mempunyai nama dan urutan tertentu. Bentuk kostumnya pun sudah sedemikian tertentu lengkap dengan “Rerawis”nya.

Tari Topeng Kedok tunggal dalam Topeng Betawi terdiri atas tiga kali pergantian kedok, yakni : Subadra, Srikandi atau Sencaki dan Jingga, yang hanya berlangsung beberpa menit, diiingi oleh satu atau dua lagu singkat, dengan pola gerak yang tidak terlalu banyak dan amat improvisatoris. Kostum dalam Tari Topeng Kedok Tunggal dalam Topeng Betawi cenderung seadanya, dan baru sekarang oleh beberapa grup Topeng Betawi kostum ini dibuat yang lebih lengkap, meriah dan kadang-kadang mengikuti tata warna yang sedang menjadi pilihan publik.

Pada masa lampau tari Topeng Kedok Tunggal yang dimainkan oleh seorang penari wanita dibawakan setelah selesai lakon (dalam tontonan tambahan) yakni sebelum Bapa Jantuk. Dewasa ini tari Topeng Kedok yang telah dirubah menjadi berpasangan pria dan wanita  (sepasang atau lebih), dibawakan sebelum lakon. Tentu saja di sini, kita masih perlu mengungkap dan menginventarisir keragaman pola gerak tari Topeng Kedok tunggal, yakni mulai dari tari Sembah Topeng, tari Topeng Subadra, tari Topeng Srikandi/Sencaki dan tari Topeng Jingga. Ini penting lantaran kita harus berangkat dari pola asli untuk sesuatu kreasi baru yang baik.

 

Tari Ronggeng Topeng

Dimaksudkan dengan tari Ronggeng Topeng, adalah tarian yang kostumnya “preman” saja (maksudnya hanya berkain dan kebaya biasa, tanpa “Sobrah”  Kembang Topeng atau mengenakan Kedok), baik dibawakan oleh pemain wanita saja atau pria wanita secara berpasangan. Pada setiap grup tarian ini berbeda dan dinamakan menurut lagu yang mengiringinya, antara lain : Tandakan Gapleh, Tandakan Kang Aji, Tandakan Gegot, Tandakan Sekoci, dsb.

Pada beberapa grup Topeng Betawi yang tidak mengenal tari Topeng Kedok, materi tari Ronggeng biasanya diperbanyak sebagai pengganti. Bahkan – dulu – dalam Topeng Betawi ngamen keliling (misalnya grup Topeng Betawi dari Babelan, Bekasi pimpinan Jabar), seluruh tarian yang  merupakan materi utama pertunjukkannya pada hakekatnya adalah tari Ronggeng Topeng.

 

Tari dalam lakon Topeng Betawi

Sebagai sebuah total teater, dalam lakon Topeng Betawi juga banyak disisipkan lagu dan tari. Tarian itu ada yang memang benar-benar memenuhi tuntutan cerita, dan cukup banyak pula yang hanya sekedar mengulur waktu agar pertunjukkan selesai semalam suntuk.

Sebagai tarian pengulur waktu, dewasa ini banyak ditampilkan (atas permintaan penonton atau tidak) lagu-lagu Dangdut, Pop, atau lagu-lagu Sunda Modern. Di luar tarian pengulur waktu, dalam lakon Topeng Betawi banyak disisipkan laku (acting) yang mengarah kepada gerak tari dan selalu diiringi musik, antara lain waktu berjalan memutari arena tiap pergantian adegan. Ini dapat dilihat dalam adegan silat dan juga dalam gerakan-gerakan yang punya maksud humor.

Ketika lakon Topeng Betawi masih merupakan “Banyolan Pendek” tiap adegan pertamanya selalu ditampilkan tari. Namun dalam periode “lakon panjang”, animo tarianya cenderung menurun mungkin dengan maksud agar pertunjukkannya lebih realistis. Perkecualian dari pada ini adalah lakon “Bapa Sarkawi” yang menyoroti kehidupan penari Ronggeng, adegan tarinya paling banyak, namun dalam lakon lain penyisipan tari termasuk sedang, dan ini sangat bermanfaat dalam menambah keakrabannya denga penonton.

 

Tari dalam “Bapa Jantuk”

Corak gerak tari yang terkandung dalam “Bapa Jantuk “ lebih sederhan polanya, dan tidak pernah berubah sepanjang masa. Sebagian besar merupakan gerakan jalan Bapa dan Mak Jantuk pada waktu memutari pusat arena (colen tiga sumbu atau obor) tiap pergantian adegan, yang mempunyai kecenderungan sebagai gerakkan tari. Juga perlu ditelaah tentang adegan ’Ngadu Goyangan’ dalam adegan cerai, yakni yang diiringi dengan lagu Serondeng dan setelah mereka rujuk kembali dalam tarian penutup dengan iringan lagu Oncom Lele.

Perlu juga diingat bahwa kemampuan panjak yang memerankan tokoh Jantuk memang memiliki multi talenta. Ia dapat menyanyi dengan suara yang bagus, menari dengan wiraga, wirasa, wirama yang tak tercela, berdialog dengan dialog pendek serta pantun yang memukau. Tersebab itu, grup kesenian topeng Betawi yang masih eksis sekarang ini, tak memiliki panjak dengan kualifikasi dan kompetensi sebagaimana panjak masa lalu.

Haruskah Bapa Jantuk pun merana sambil pelan tapi pasti menggali kuburannya sendiri?

Wallahu’alam bissawab!

Leave a Comment