CAMBUK DAN TIANG GANTUNGAN TRAGEDI CINTA SARAH SPECK

NYAI DASIMA-1Naskah sandiwara

Oleh Yahya Andi Saputra

SINOPSIS

Pemerintahan Jan Pieterzoen Coen periode kedua sebagai Gubernur Jenderal di Batavia (30 September 1627 – 20 September 1629), dikejutkan oleh peristiwa menggemparkan yang berlangsung di dalam kasteel megah dan selalu dijaga serdadu VOC siang malam. Peristiwa menggemparkan itu tak lain adalah percintaan sepasang muda-mudi yang berakhir tragis.

Coen terkenal sebagi seorang pimpinan yang tegas. Siapa yang bersalah, dihukum. Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu, semua orang sama kedudukannya di mata sang dewi keadilan. Tidak peduli apakah seseorang anak pejabat atau anak petani, orang kaya atau miskin. Memang itulah prinsip yang harus dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat yang adil dan beradab. Prinsip itu dijalankan Gubernur Jenderal Indië, Jan Pieterszoon Coen.

Salah satu kisah kerasnya pemerintahan Coen dalam menegakkan hukum dialami Sarah Specx, putri seorang pejabat tinggi Vereeniging Oost Indische Compagnie (VOC), Jacques Specx. Sebelum datang ke Batavia, Jacques Specx menjadi pemimpin tertinggi VOC di Hirado Jepang antara tahun 1609-1613 dan 1614-1621.

Karena cukup lama menjadi pemimpin VOC di Jepang, Specx sempat diketahui menjalin hubungan dengan wanita Jepang. Dari hubungan itu lahirlah seorang anak gadis bernama Sarah Specx. Dapat dibayangkan bagaimana rupa Sarah Specx yang merupakan percampuran darah Jepang-Belanda.

Pada 1629 Jacques Specx ditugaskan sebagai pejabat tinggi VOC di Indië dengan jabatan de Eerste Raad Ordinair van Indië. Karena urusan administrasi, Specx harus kembali dahulu ke negeri Belanda. Sementara anak gadisnya Sarah Specx berangkat lebih dahulu ke Batavia, karena pada waktu itu anak di luar perkawinan resmi sesama orang Belanda tidak diakui dan tidak boleh dibawa ke negeri Belanda. Sarah yang merupakan anak pejabat tinggi VOC, di Batavia tinggal dan dititipkan di rumah penguasa Batavia saat itu Jan Pieterszoon Coen di dalam lingkungan kastil juga merupakan benteng kota Batavia.

Sarah masih belia, 14 tahun. Senang dan bahagia tinggal di rumah Gubernur Jenderal. Seperti halnya di masa sekarang, rumah penguasa nomor satu Batavia itu dijaga oleh prajurit-prajurit pilihan yang gagah dan tampan. Kawasan Batavia di sekitar benteng Belanda di masa itu sangat rawan. Pihak kesultanan Banten, Demak dan Mataram tidak menyukai keberadaan Belanda. Mereka berulang kali berusaha menyerang benteng tersebut. Karena kondisi itu maka kehidupan orang-orang Belanda Batavia kebanyakan hanya dihabiskan di dalam lingkungan benteng. Demikian pula yang terjadi pada Sarah Specx di Batavia.

Karena tinggal di lingkungan rumah Jan Pieterszoon Coen yang dikelilingi prajurit penjaga yang gagah, Sarah lama kelamaan jatuh hati pada salah satu prajurit muda dan tampan penjaga kastil Batavia yang bernama, Pieter J. Cortenhoeff. Syahdan keduanya terlibat hubungan asmara secara diam-diam. Sang Gubernur Jendral yang mendengar kabar angin mengenai hal tersebut tidak ambil pusing karena masih banyak urusan lain yang lebih penting di Batavia. Ia lebih mementingkan urusan pertahanan benteng Batavia dari gempuran pasukan Mataram daripada memikirkan hal tersebut.

Pada awalnya hubungan asmara keduanya berjalan lancar hingga pada suatu malam sebuah peristiwa menggemparkan terjadi di lingkungan kastil Batavia. Hubungan asmara Sarah dengan Pieter sampai pada puncaknya. Pada suatu malam Sarah dengan diam-diam mengijinkan sang pujaan hatinya masuk ke kamarnya yang notabene adalah rumah sang Gubernur Jenderal. Lingkungan kastil yang indah pada waktu itu ditambah dengan desiran angin laut membuat suasana menjadi semakin romantis dan membuat mereka berdua menjadi semakin lupa diri. Sarah pun jatuh dalam pelukan hangat Pieter. Selanjutnya entah bagaimana, tak disangka-sangka kejadian itu ternyata diketahui Coen.

Sang Gubernur Jenderal menjadi sangat murka. Ia tidak terima kediamannya dinodai oleh perbuatan zinah Sarah dan anak buahnya. Seketika itu pula sang penguasa Batavia ini langsung memerintahkan untuk mendirikan tiang gantungan bagi keduanya. Namun untunglah pimpinan Dewan Pengadilan Batavia atau Raad van Justitie langsung turun tangan menengahi masalah tersebut dan menyatakan hal tersebut harus dibawa dahulu ke meja pengadilan.

Setelah proses pengadilan dan Raad van Indie akhirnya pada 18 Juni 1629 keduanya tetap dinyatakan bersalah melakukan perzinahan. Prajurit muda penjaga kastil Cortenhoeff dieksekusi mati, digantug pada 19 Juni 1629 di depan umum di halaman balai kota atau Stadhuisplein Batavia (kini taman Fatahillah). Sarah dijatuhi hukuman cambuk di hadapan umum di depan gerbang balaikota Batavia. Hukuman tetap dilaksanakan!

Tokoh :

Jan Pieterzoen Coen (Gubernur Jenderal, 45 tahun)

Sarah Speck (anak Jacques Speck, 14 tahun)

Dr. Bontius (dokter VOC, 50 tahun)

Letnan Cortenhoeff (prajurit VOC, 25 tahun)

Heuvel (staf Dewan Kehakiman, 25 tahun)

Nyonya Eva Ment (istri JP. Coen, 35 tahun)

Jacques Speck (Petinggi VOPC, Gubernur Jenderal setelah JP. Coen, 50 tahun)

Dayang-dayang

Algojo dan Serdadu

BABAK I : PERGUNJINGAN

1

Malam. Cahaya temaram. Terlihat kesibukan serdadu VOC melakukan pergantian tugas menjaga kastil. Tersisa tiga prajurit yang tetap siaga di pos. Lonceng kota Batavia berdentang sembilan kali, saat pintu-pintu gerbang ditutup dan penjaga kian memperketat tugasnya.

Dua sosok lelaki berjalan tergesa-gesa. Postur tubuh yang satu terlihat langsing dan yang lain agak gendut. Yang langsing ternyata lelaki muda berusia 25 tahun bernama Heuvel. Yang agak gemuk berusia sekitar 50 tahun, bernama Dokter Bontius.  Keduanya baru saja menghadap Gubernur Jenderal untuk melaporkan urusan rutin. Langkah kaki mereka bergitu cepat karena mereka tidak biasa pulang berlambat-lambat.

Meski tergesa-gesa, keduanya tampak berbicara serius. Bergunjing soal-soal kehidupan di dalam kastil.

Bontius : “Jangan ngomong kalo beritanya belum jelas, Heuvel!” Kata Bontius setengah menasihati kawannya. “Kau yakin lelaki itu bernama Cortenhoeff?” Lanjut Bontius.

Heuvel : “Yakin, Pak.”

Bontius : “Ceweknya?”

Heuvel : “Sarah.”

Bontius : “Aku tetap tidak percaya,” sungut Bontius.

Mereka sampai di Prinsentraat, jalan yang mengarah ke Stadhuis (sekarang Museum Sejarah Jakarta). Tepat di halaman gedung itulah mereka digertak tiga serdadu sambil menodongkan senapan. Tepat saat itu, muncul seorang lelaki, komandan serdadu itu, Cortenhoeff.

Cortenhoeff : “Tunggu. Mereka kawan-kawan kita.”

Serdadu menahan serangannya. Serdadu itu tak bisa disalahkan, sebab keadaan dalam kota Batavia masih sangat rawan.

Cortenhoeff : “Darimana Dokter Bontius?”

Bontius : “Maafkan kami, kami sangat tergesa-gesa. Kami baru saja menghadap Gubernur Jenderal.”

Heuvel tidak ditanya. Setelah senyum kepada Cortenhoeff, mereka melanjutkan langkah dengan cepat.

Bontius : “Semula aku ingin bertanya tentang Sarah kepada Corntehoeff. Kupikir kurang tepat, kurang enak suasananya. Akan kucari waktu tepat. Lagi pula aku masih kurang yakin dengan ceritamu.”

Heuvel : “Teserah tuan saja.”

Keduanya menghilang di kegelapan malam.

2

Sampai menjelang pagi, Heuvel termenung. Sebenarnya ia menaruh hati kepada Sarah. Namun Sarah acuh tak acuh, karena Sarah menjalin asmara dengan Cortenhoeff. Heuvel mencari-cari cara untuk memisahkan asmara itu. Dokter Bontius yang dianggap sahabat baiknya, tidak mempercayainya. Heuvel sedang mencari jalan tepat. Tiba-tiba muncul pikiran, bagaimana kalau ia menghadap Gubernur Jenderal untuk melaporkan kisah asmara Sarah dan Cortenhoeff.

3

Suatu hari Dokter Bontius sengaja menemui Cortenhoeff.

Bontius : “Aku mendengar pergunjingan yang kurang baik. Aku ingin mendapat penjelasan darimu, Letnan. Benarkah pergunjingan itu?”

Cortenhoeff : “Apa salahnya jika aku jatuh cinta pada Sarah, Dokter?”

Bontius : “Tentu tidak salah. Hanya kenapa mesti sembunyi-sembunyi, sehingga menimbulkan pergunjingan kurang sedap.”

Cortenhoeff : “Apa yang seharusnya saya lakukan, Dokter?”

Bontius : “Jangan sembunyi seperti perampok. Lebih baik secara baik-baik sehingga semua orang tidak menaruh curiga dan menimbulkan pergunjingan memfitnah.”

Keduanya saling tatap. Lampu gelap.

*****

BABAK II : KEMESRAAN

1

FLASHBACK

Cortenhoeff adalah seorang serdadu gagah berani. Dia menghalau musuh (pasukan Mataram) yang menyerang kota Batavia. Beberapa prajurit Mataram yang memanjat tembok dijatuhkannya, sehingga tentara Maratam kalah. Karena keberanian itulah, Cortenhoeff mendapat perlakuan istimewa dari Gubernur Jenderal. Ia bebas keluar masuk kastil setiap saat. Saat itulah dia bertemu Sarah, gadis berusia 14 tahun, cantik dan lincah.

(VISUALISASI DENGAN TARIAN LINCAH, RIANG GEMBIRA, MEMBARA)

2

Sarah adalah bunga kastil. Pekerjaan sehari-harinya menemani dan membantu Nyonya Eva, istri Gubernur Jenderal. Jika kegiatannya selesai, Sarah langsung masuk kamar. Cortenhoeff sudah mengetahui semua kegiatan Sarah. Apa salahnya kalau sesekali dia mencoba masuk dan berbincang-bincang dengan Sarah. Tentu menyenangkan.

Pembantu atau dayang yang menjadi abdi di kastil mulai mengetahui hubungan Sarah dan Cortenhoeff. Mereka suka berdehem jika melihat perwira muda itu asyik bercakap-cakap dengan Sarah. Lama-kelamaan dayang-dayang itu terbiasa melihat cengkerama kedua insan yang jatuh cinta. Dayang-dayang tidak tega mengganggunya.

3

Sarah dan Cortenhoeff memadu kasih asmara. Lupa diri, lupa suasana. Meluap dalam semangat muda.

(KEMESRAAN DI SINI APAT DIVISUALISASIKAN DENGAN GARAK TARI, BAIK TARI SOLO, DUET ATAU GRUP).

*****

BABAK III : KEPERGOK

1

Di sudut ruangan. Remang. Di balik layar silhuet, sejoli berkasih mesra.

Cortenhoeff : “Seluruh jiwa ragaku untukmu selalu, Sarahku.”

Sarah mendesah.

Cortenhoeff : “Aku ingin serius. Banyak orang menggunjingkan kita. Bahkan ada yang memfitnah. Aku ingin menihakimu, Sarah.”

Sarah : “Aku hanya anak titipan. Sabar dulu. Aku ingin bicara dengan Tuan Coen, agar merestui hubungan kita, Kanda. Lain halnya jika ayahku ada di Batavia.”

Cortenhoeff : “Baiklah jika kau ingin menunggu beberapa waktu, sampai mendapat restu. Aku selalu siapa setiap waktu, kapanpun kau setuju.”

Cortenhoef mencumbu Sarah

2

Lama antaranya, tiba-tiba layar hilang, cahaya terang. Muncul sosok lelaki tegap, wajah keras. Dialah Jan Pieterzoen Coen. Diikuti Heuvel dan beberapa serdadu. Coen memergoki Coretenhoeff sedang mencumbu Sarah. Keras wajahnya menjadi beringas.

Kepergok sedang bercumbuan, Cortenhoeff dan Sarah pucat pasi. Mengkerut.

Coen : “Jadi, beginilah perbuatanmu selama ini, Cortenhoeff?! Tidak salah jika orang menggunjing kalian!!!”

Coen amat marah. Dia langsung menyuruh serdadu membawa dua orang yang sedang berpelukan itu. Tak ada tempat lain bagi pembuat mesum, selain bui bawah tanah.

Coen : “Selesaikan prosesnya, Heuvel!” perintahnya.

Tanpa banyak bicara dan komentar, Heuvel melaksanakan perintah dengan cepat dan tangkas.

Coen : “Sarah, apa kata ayahmu, jika ternyata aku tidak dapat melindungimu. Selama ini ayahmu selalu berkirim surat menanyakan halmu. Aku katakan, akau menjamin keselamatan dan kehormatanmu. Kau harapan ayahmu satu-satunya. Apa jadinya jika sudah begini? Akan aku katakana apa jika ayahmu menanyakan keadaanmu. Aduh… seungguh aku kehilangan gairah hidup. Malu, Sarah! Malu…!!!”

Coen berbicara sambil menggebrakkan kaki dan mengibaskan tangannya ke segala tempat.

Coen : “Kau, letnan, kaulah yang merusak semuanya. Merontokkan cita-cita luhur orang tua Sarah. Kau merusak kehomatanku padamu. Kau mencoreng mukaku. Kau merusak persaudaraanku kepada ayah Sarah. Kau memang bajingan!!!”

Coen menghilang masuk.

3

Di panggung hanya tinggal Heuvel dan Bontius. Saling bertatapan. Heuvel senyum kemenangan.

Bontius : “Kau sungguh keterlaluan, Heuvel. Kasihan, Sarah. Bagaimana perasaan ayahnya jika mengatahui kejadian ini.”

Heuvel : “Perbuatan nista, bagaimanapun ditutupinya, akan ketahuan juga, Tuan.”

Bontius : “Bukankah ada cara lain selain tangkap tangan? Memanggil letnan dan mengintrogasinya? Aku melihat jelas niat burukmu.”

Heuvel : “Sudahlah, Dokter. Aku mau ke pengadilan mengurus proses hukumnya.”

Heuvel berkelebat meninggalkan Bontius sendirian. Black out.

*****

BABAK IV : CAMBUK DAN TIANG GANTUNGAN

1

Siang. Halaman sebuah rumah. Orang ramai lalu-lalang. Ada juga kumpulan orang yang sedang ngobrol. Obrolan utama tentu sekitar peristiwa ‘tangkap basah’ Cortenhoeff – Sarah Speck.

Orang 1 : “Sekarang Cortenhoeff baru tahu rasa. Letnan itu memang bajingan.”

Orang 2 : “Kenapa bilang begitu?”

Orang 1 : “Cortenhoeff suka bermain-main dengan risiko. Wajahnya yang ganteng itu digunakan untuk memikat perempuan. Banyak istri pejabat kastil yang dikerjainya. Tidak sedikit dayang dan pembantu perempuan di kastil yang dilecehkan.”

Orang 2 : “Heeem… rupanya keluguan Sarah dimanfaatkannya. Aku memahami jika Gubernur jenderal sangat berang.”

2

Di beranda rmah Gubernur Jenderal.

Dokter Bontius memcoba membujuk Gubernur Jenderal agar memaafkan perbuatan tersangka.

Bontius : “Aku mohon agar tuan memaafkan mereka. Terutama menyelamatkan Sarah. caranya dengan meresmikan mereka menjadi suami istri. Kebijaksanaan seperti ini akan menyelamatkan ikatan persaudaraan Tuan dengan Tuan Speck.”

Coen tampak tersinggung dan gelisah.

Coen : “Aku bersumpah tidak akan menarik kembali kata-kataku, Dokter!! Apa nanti kata masyarakat Batavia?! Mentang-mentang putri sahabat, mentang-mentang putri angkat, mentang-mentang Cortenhoeff perwira berjasa, maka aku membedakannya. Tidak, Dokter!!! Apalagi setelah kuterima kelakuan Cortenhoeff. Aku muak mempunyai perwira bobrok dan tidak terhormat.”

Bontius : “Tapi, Tuan…”

Coen : “Tidak ada tapi-tapian, Dokter!!! Cortenhoeff amat tercela. Memasuki kamar perempuan, putriku sendiri, putri sahabatku. Lihatlah perut Sarah. Sarah hamil. Tercorenglah mukaku. Orang yang telah mencoreng mukaku harus mendapat hukuman seberat-beratnya!!!”

Coen memang galau. Speck sahabat terbaiknya. Sarah, diserahkan kepadanya untuk dididik semata-mata sebagai lambang persaudaraan supaya kian kokoh.

Bontius : “Apakah keduanya harus dihukum, Tuan. Ampunilah Sarah. Hukumlah dengan ringan, Aku mohon, Tuan.”

Coen : “Apa kau kira Sarah harus mendapat perlakuan istimewa? Karena dia putriku, hah…!! Perzinahan itu terjadi karena Sarah juga mau, tanpa kemaun Sarah tidak akan terjadi peristwa yang tidak senonoh itu.”

Bontius : “Apakah harus….”

Coen : “Dokter!!! (Coen membentak) Setan hidung belang telah muncul dalam tembok kastil. Setan itu telah menjebol tembok moral yang aku junjung tinggi. Setan itu bernama Cortenhoeff, orang yang dulu berjasa saat perang, dan anakku sendiri, Sarah. Aku tidak perduli, hukum harus aku tegakkan. Siapapun yang melanggarnya!!! Jika aku memaafkan Sarah dan menghukum gantung Contenhoeff, ternyata mereka berdua melakukannya, Batavia akan tetap kotor. Hanya nyawa mereka yang dapat membersihkannya. Tiang gantungan, hukuman buat mereka! Titik!!!”

Bontius membelalak. Demikian pula masyarakat Batavia yang mendengarnya.

3

Di sudut penjara. Sarah menangis. Cortenhoeff lesu menunduk sambil memegangi tangan Sarah.

Cortenhoeff : “Ampuni aku, Sarah. Kau seharusnya tidak menanggung dosa ini. Ayahmu pun tidak. Sekarang dia telah mendengar. Betapa hancur hatinya… Maafkan aku, ampuni aku.”

Sarah terus menangis. Air matanya bercucuran. Sarah tidak kuat mengucapkan sepatah kata. Wajahnya hanya sedih duka tak terungkapkan. Mereka berpelukan.

4

Pagi, 18 Juni 1629. Halaman landraad. Tiang gantungan. Warga Batavia yang sudah mendengar pelaksanaan hukum gantung atas Cortenhoeff dan Sarah ramai berdatangan. Gubernur Jenderal duduk di balkon, dengan wajah gelisah yang tak dapat disembunyikan.

Selang beberapa saat, empat serdadu menggiring Cortenhoef dan Sarah menuju tiang gantungan.

Gubernur Jenderal berdiri memandang ke depan dan member isyarat.

Terompet ditiup. Algojo menggunakan tutup muka hitam telah mendapat perintah. Lonceng berkumandang.

Tiba-tiba saja Cortenhoef sudah digantung. Kelojotan. Melemah. Lunglai.

Sarah yang menyaksikan peristiwa itu jatuh pingsan.

Orang ramai. tak bersuara. Hanya desah napasnya.

Dokter Bontius menghadap Gubernur Jenderal.

Bontius : “Tuan Gubernur Jenderal, aku dan warga Batavia memohon agar Tuan mengampuni Sarah. Janganlah Sarah dihukum gantung. Carilah hukuman lainnya. Aku mohon, Tuan…”

Orang-orang : “Iya, Tuan. Ampunilah…”

Gubenrnur Jenderal menatap para pemohon.

Coen : “Baik, aku ampuni. Sarah dihukum cambuk!!!”

Orang-orang : “Oooo…”

Setelah siuman, Sarah digiring empat algojo menuju tempat hukum cambuk. Sarah dicambuk dengan rotan sebanyak 40 kali.

(SILHUET DI BELAKANG KAIN LAYAR PUTIH, PENCAMBUKAN SARAH).

Warga yang menyaksikan berekspresi aneka ragam. Ada yang mengaduh. Ada yang melenguh. Ada yang termangu.

Belum selesai hukum cambuk terhadap Sarah, warga meninggalan lokasi satu demi satu. Ruang kosong. Panggung gelap. Hanya silhuet pencambukan yang dilakukan algojo terhadap Sarah. Algojo terus mencambuk. Pelan-pelan lampu redup dan gelap.

TAMAT

Jakarta, Februari 2012

(The Author)

View all articles by
Social Links: →

Leave a Comment