TABE | LANGKAN | TAMPANG | PLAMPANG | NANGGAP | GEROBOG
    Juma'at, 03 Sep 2010
     
Adonan
SOHIBUL HIKAYAT
BEBULAN
PITUAH
SISIK MELIK
DEDENGKOT
PENGULEKAN
BODOR




Longok


 
Barongsay dan Persaingan Tiongkok – Taiwan


Di jaman liberal (1950-1957) dimana parpol memegang tampuk kekuasaan, secara bergantian, tak mudah dilupakan orang, termasuk pengamat kebudayaan, karena pada waktu itu (tahun 1954) Walikota Jakarta Sudiro melarang pertunjukan open air barongsay dan liang liong, serta melarang pengamen beroperasi di rumah WNI keturunan di dalam rangka perayaan imlek. Alasan yang diutarakan adalah mengamen di waktu imlek dengan imbalan angpau merendahkan harga diri bangsa. Sedang tentang larangan terhadap barongsay dan liang liong tidak dikemukakan. Larangan ini menimbulkan pro kontra, apapun beda pendapat dalam masyarakat nyatanya barongsay mengalami masa pingsan selama 46 tahun. Dan Presiden Abdurrahman Wahid menghidupkannya kembali, di samping dengan alasan kebudayaan, ada kesan dimensi politiknya juga menonjol. Orang tahu pemerintah menginginkan kembalinya modal “non pri” yang lari ke luar akibat tragedi Mei 1998, orang juga tahu kita mengincar investasi RRC.

Jika kita tengok ke belakang, pertunjukan barongsay dan liang liong menimbulkan persaingan antar grup, dan persaingan mana sering mempunyai latar belakang politis, yaitu ada grup yang didukung Kou Chantang dan ada yang Kou Mintang. Dengan demikian Indonesia menjadi ajang persaingan skala minor dari apa yang terjadi di Tiongkok. Tentu yang sedemikian menyulitkan WNI yang tidak merasa lagi mempunyai afiliasi kultural, apalagi politis, dengan Tiongkok daratan atau Taiwan. Menghidupkan kembali barongsay, dari segi kebudayaan amat menyulitkan karena para pendukung barongsay sudah menipis apalagi generasi baru WNI sudah bergeser orientasi gaya hidupnya ke Jepang atau Barat.

Bahkan dari segi politis usaha revitalisasi barongsay dapat menyulitkan WNI keturunan yang berjiwa kebangsaan sejati karena pertunjukkan barongsay menimbulkan persaingan, dan persaingan itu mudah diwarnai politik dari luar.

Jika kita amati tontonan barongsay sekarang dengan tempo doeloe jauh berbeda, minimal dari segi kostum. Kostum pemain kini sangat bernuansa Tiongkok, sedang dulu napas pribuminya masih terasa baik dari segi kostum maupun perbauran pemain. Wajah barongsay kini berbeda misalnya dengan gambang kromong yang merupakan adonan musik Cina dan Betawi, barongsay sekarang berwajah impor.

Apapun, faktanya barongsay dihidupkan kembali dengan sambutan lumayan pada perayaan imlek di halaman Meseum Jakarta, dimana terlihat antusiasme ribuan orang menyambut barongsay dan liang liong. Tetapi apakah ribuan orang yang hadir itu mencerminkan perasaaan mayoritas WNI keturunan? Mari kita amati (Ridwan Saidi).

Usup Bangke

Usianya sekitar 40-an. Tubuhnya atletis, kulitnya gelap. Tinggi sekitar 180 cm, dan beratnya boleh jadi 80 kg. Rambutnya selalu dipotong pendek. Ia tidak suka berbicara. Wajahnya keras, tapi tidak sangar. Orang Sawah Besar di tahun 1950-an itu tidak tahu dari mana asal Usup. Ia tidak pernah mengatakannya. Usup tidak gila, ia tidak menggangu orang, tidak tertawa sendirian. Kami di Sawah Besar amat terbantu oleh Usup. Tanpa ada yang menyuruh Usup membersihkan sampah di gang, selokan, dan kali kecil Asem Reges. Tanpa ragu sering ia menggaruk sampah dengan tangannya sendiri. Jangan keliru, Usup bukan pegawai haminte (DPU).

Pukul 6 pagi Usup sudah muncul di kampung kami lengkap dengan peralatan pembersih sampah. Ia sejenak berkeliling kampung, mungkin mengobservasi. Lalu ia terjun ke lapangan. Ia berhenti bekerja menjelang lohor, setelah membawa sampah yang dikumpulkannya ke tempat pembuangan di Asem Reges. Setelah itu Usup pergi, entah kemana.

Usup tidak menolak disuruh membersihkan pekarangan orang, bahkan sekalian mengangkut sampah dari rumah orang. Diupah, atau tanpa diupah. Tapi penduduk umumnya mengupah Usup, dengan sepiring nasi, atau uang.

Jika Usup tidak ada yang memberi makan atau upah, Usup tidak mencuri, bahkan haram meminta-minta walau segelas air. Lalu apa yang dilakukan Usup untuk memenuhi keperluan biologisnya? Usup terjun ke kali mencari bangkai ayam. Bangkai ayam itu dibawanya pergi. Karena itu Usup diberi julukan si Bangke, atau Usup Bangke.

Sekitar tahun 1962 kami tidak lagi melihat Usup Bangke, juga kami tidak mendapat kabar apa-apa tentang dia. Kami kehilangan Usup Bangke. Kemane ente, Sup? (Ridwan Saidi).



Copyright ©2006 kampungbetawi.Com. AllRights Reserved. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. Dilarang meng-copy seluruh atau bagian dari isi situs ini tanpa seijin kampungbetawi.com